Kocak - Kacik
KOCAK KACIK
KARYA ARIFIN C NOER
Darim mencari Darim
Di hutan sana di hutan sini
Di bukit sana di bukit sini
Di lembah sana di lembah sini
Di kota sana di kota sini
Di des asana di desa sini
Begitu menderita Darim mencari Darim
Dan badai membanting-bantingnya!
Sementara itu sekuat tenaga dan dengan berbagai cara Eroh menginsyafkannya, bahwa ia Darim tapi Darim tetap mencari Darim.
Darim
: Darim! Darim!
Eroh
: Darim! Darim!
Darim
: Darim! Darim!
Eroh
: Darim! Darim!
Darim
: Kau jangan mengejek. Aku bukan Darim
Eroh
: Darim
Darim
: Aku bukan Darim
Eroh
: Darim, kau Darim, yakinlah.
Darim
: Aku ingat aku pernah Darim tapi sekarang tidak lagi. Aku kehilangan Darim.
Darim! Darim!
Eroh
: Tanyailah pohon-pohon, daun-daun, batu-batu, atau tanyailah langit, mereka pasti mengatakan kau Darim.
Darim
: Mereka semua berdusta. Semuanya malah berkomplot menggerogoti Darimku, sehingga setiap aku menyadari kehilanganku semakin berlipat-lipat.
Beberapa waktu yang lalu aku masih bisa berhasil membujuk setiap Darim menghindar, tapi kemarin Ketika aku bangun aku tidak lagi bisa menemuinya. Aku tahu ia pergi tapi aku tidak tahu kemana. Aku dapat membaca jejaknya tapi aku tidak menemukannya.
Pelayan tua yang memang sudah sangat tua itu sedang menyapu lantai kotor yang sangat luas itu. Ia menyapu lantai itu bersih sekali seolah-olah kedua matanya masih tajam.
Setelah selesai ia lalu duduk di salah satu kursi karena waktu itu masih pagi benar dan para pegawai belum satupun yang dating. Kemudian pelayan tua membuka dompet tembakaunya dan lalu membuat rokok dengan suatu keasyikan yang mencerminkan ketenraman hidup. Lalu dinyalakannya dan dihisapnya rokoknya nikmat sekali. Juga diserimpitnya minumannya yang masih hangat itu.
Lalu ia menyapu lantai itu lagi seperti sebelumnya.
Lalu ia duduk, bikin rokok dan isap rokok dan nyerimpit wedangnya.
Begitulah seterusnya. Dan Darim menyaksikannya dengan rasa kagum mula-mula, tapi lama-lama bosan juga dan Darim saat ini mengenakan pakaian zorro komplit dengan pedangnya.
Darim
: Pak Tua! Pak Tua!
Pelayan Tua
: Saya kira siapa.
Darim
: Darim, pak
Pelayan Tua
: Tahu saya. Tapi kok pakai pakaian mainan anak-anak begitu?
Darim
: Pakaian zorr pak. Saya telah bersumpah akan melenyapkan korupsi di segala lapisan masyarakat pak.
Pelayan Tua
: Lalu dari mana kamu dapat pakaian itu?
Darim
: Pinjam punya anak tetangga pak.
Pelayan Tua
: Ya, cocok. Lucu ya? Pakaian anak kecil kok bisa cocok? (ketawa)
Darim
: Justru saya berjuang demi mereka pak.
Kembali badai mengamuk dan menyebabkan semua yang ada berlarian, juga pohon-pohon, bukit-bukit, sungai-sungai. Semua berlarian tak tentu arah taktahu cara bagaimana menghindari malapetaka.
Dan Darim dan istrinya tengah mencari Darim.
Darim
: Darim! Darim!
Eroh
: Darim! Darim!
Darim
: Darim, ayolah kita pulang, Darim. Aku sudah punya rumah yang bagus, taman yang bagus, kursi-kursi yang bagus, tempat
tidur yang bagus, bantal yang bagus dan mulus. Darim dimana kau, Darim, Pulang Darim.
Eroh
: Darim! Darim! Kupukul kau, Darim, kalua kau terus-terus begitu, Berhenti teriak berhenti teriak, Darim
Darim
: Darim, kau boleh hmerajuk tapi jangan tinggalkan aku. Kalau kau pergi seperti sekarang ini kepada siapapun kau titipkan aku ini ? Aku tidak mau digondol wewe, aku tak mau dipelihara serigala!
Eroh
: Darim, aku sudah tak bisa sabar lagi.
Lalu Eroh memukuli Darim suaminya seperti ia sedang memukuli anaknya dan Darim pun seperti anak kecil yang sedang dipukuli ibunya.
Dan sementara itu pohon-pohon, bukit-bukit, sungai-sungai, semua sama meratap. Suatu saat Darim sempat melepaskan diri Ketika ia melihat ada mayat di antara daun-daun kering. Segera saja ia mendekati dan membersihkannya dari timbunan daun-daun.
Darim
: Kau pasti Darim. Kenapa kau mati Darim?
Eroh
: Tak mau juga kau berhenti gila-gilaan kau Darim ?
Darim
: Sebaiknya jangan mati kau Darim.
Lalu mayat itu bangkit dan menggelengkan kepalanya. Mayatnya ternyata bisu nanti.
Darim
: Terimakasih, kau hidup lagi. Gila, kau lebih muda daripada waktu tahun lalu.
Mayat itu cuma melebarkan senyumnya
Eroh
: Darim, saya akan pulang dan saya akan tunggu kau sampai jam delapan malam. Kalau sampai jam Sembilan kau tidak pulang malam nanti juga saya akan ke tempat penghulu minta cerai, dan kau tahu apa artinya itu : kau akan kebingungan.
Tapi darim nggak perduli, asyik dengan mayatnya. Erohpun lalu pergi
Darim
: Kenapa kau tinggalkan aku, Darim ?
Mayatpun ngelengos kayak banci ditawar.
Darim
: Kau cemburuan.
Lagi mayat melebarkan senyumnya.
Darim
: Bicara, Darim, bicara!
Lagi mayat melebarkan senyumnya.
Darim
: Apa artinya kau tanpa bicara ? Bicara, ayo bicara apa saja!
Lalu mayat meneteskan air matanya dan harus diakui keadaannya memang cukup memilukan.
Darim
: Kenapa kau ngga mau bicara atau tidak bisa bicara ?
Mayat Darim Cuma meneteskan air mata. Dan dari Cuma melihat saja Ketika mayat berdiri dengan air matanya untuk melanjutkan berjalan kea rah lembah sana dan mendaki gunung sana setelah jauh sekali jarak antara mereka baru Darim menyadari.
Dan Darim kini menangisinya. Dan pohon-pohon dan bukit-bukit dan sungai-sungai dan lembah-lembah dan semua menangisinya.
Guru
: Kau akan selalu kecewa, muridku selama kau masih hidup dalam alam dongeng-dongeng dan alam permainan anak-anak. Lelaki yang baru saja sirna itu kecewa dan sedemikian banyak rasa kecewa yang dialaminya sehingga ia tak hendak lagi mau bicara. Taka da desa taka da kota. Semua orang sama saja. Saat ini bumi sedang diliputi kata-kata yang banyaknya sangat menjijikan seperti sedang dikerumuni singat-singat.
Lalu guru berhenti dan duduk di batu.
Guru
: Saya anjurkan supaya kau jangan terlalu banyak menangis. Selama ini kau terlalu cengeng. Kalua kau toh tak mampu berbuat apa-apa lebih baik diam seperti lelaki tadi.
Lalu tiba-tiba bagai kesetanan Darim berdiri dengan wajahnya yang bagai kawah menyala.
Darim
: (Teriak hebat sekali) Darim!
Kembali badai mengamyk. Semua kini mencari Darim dengan teriakkan yang sama dahsyat seperti Darim. Pada akhirnya semua kecapean dan rebah.
Adalah sepi
Adalah bayi
Adalah kelam
Adalah lampu-lampu
Adalah suling
Darim
: Anakku, tak kau tahu lagi/tentu/ aku di mana seperti juga aku takt ahu kau akan kemana. Beberapa menit yang lalu masih menyayup adzan subuh dan sekarang sudah mulai terasa bumi bau matahari sementara kau masih nyenyak tiduran. masih malas bangun. Dalam suasana seperti ini ingin sekali aku menceritakan betapa aku dulu, betapa aku.
Anakku, kini baru aku tahu aku keliru. Langkahku tidak seperti umumnya orang. Bicaraku tidak seperti umumnya orang. Aku tidak dianggap cocok dengan masyarakat. Aku dianggap bloon namun sekaligus konon membahayakan.
Anakku, setiap menjelang kau akan bangun tidur aku akan menyempatkan bercerita kepadamu, tapi jangan sekali-kali kamu menanyakan di mana kini aku tinggal karena ini akan bisa menyebabkan perpisahan. Nah, sampai besok pagi lagi, anakku.
Penyanyi
: Pada mulanya
Langit tidak berwarna
Angin menyanyikan doa tak henti-hentinya
Tiba-tiba, yaduh tiba-tiba
Purnama dan sang Surya
Bersetubuh di alam raya
Maka lahirlah ia
Maka lahirlah ia
Maka lahirlah ia
Maka lahirlah ia
Seribu bayi lahir dan sama mengea, sedemikian rupa sehingga keheningan mulai digantikan sedikit demi sedikit dengan kesibukan atau kehangatan.
Menghadapi bayi-bayi itu, sang Surya dan sang Purnama betul-betul jadi kewalahan tapi juga sekaligus merasa senang bukan buatan.
Surya
: Anak kita ganteng, cakep, pintar, cerdas, tangkas, aduh hidungnya, aduh pipinya…
Kembali bayi-bayi mengea dan Kembali membuat orang tua mereka kewalahan. Betul-betul mereka kewalahan karena bayi-bayi tak mau berhenti mengea. Baru bayi-bayi berhenti mengea ketika Sang Surya memberikan tembakan peringatan tigakali. Tapi sebentar kemudian mengea lagi malah lebih hebat. Bagaimana bayi-bayi itu berhenti mengea? Bayi-bayi berhenti mengea karena nyanyian sang Purnama.
Purnama
: (Nyanyian)
Anak nangis banyak sebabnya
Kalua dikerasin makin keras bunyinya
Anak nangis banyak sebabnya
Kalua dinyanyiin menurun volumenya
Surya
: Bukan main, bukan main cara kau meredakan.
Purnama
: Memang, memang, hanya sayangnya sangat sedikit orang bisa menyanyi. Jadi tidak mungkin ada penyelesaian
Penyanyi
: Yadumu, yaduh saying tidak banyak orang bisa berdendang
Purnama
: Kalau besar mau jadi apa saying ?
Bayi-bayi
: Jadi orang.
Surya
: Cakep, cakep. Kalua jadi orang ?
Bayi-bayi
: Makan orang.
Yang satu menangis.
Purnama
: Ada apa sayang?
Yang satu
: ada uap panas dalam tubuh.
Surya
: itu Namanya lapar.
Purnama
: Kalau lapar, makan.
Surya
: Kalau tenggorokan kering, namanya haus.
Purnama
: Kalau haus, minum.
Lalu semuanya minta makan dan minta minum khewani!
Penyanyi
: Alam jadi hangat
Setelah nyaris lumutan
Dan hampir berkarat
Yang dua nangis
Purnama
: Ada apa, sayang?
Yang satu
: Titit keluar airnya.
Surya
: Biarin keluar airnya, nak.
Purnama
: Biarin! Kasih tahu dong apaan tuh!
Surya
: Itu Namanya kencing.
Lalu semuanya kencing sehingga mereka kewalahan lagi. Dan tiba-tiba yang tiga nangis lagi.
Purnama
: Ada apa sayang?
Yang tiga
: Anus keluar ingusnya.
Surya
: Biarin keluar ampasnya, nak, sehat.
Purnama
: Biarin! Kasih tahu dong apaan tuh!
Surya
: Itu Namanya berak.
Lalu semuanya berak. Dan tiba-tiba yang empat nangis.
Purnama
: Kenapa, sayang?
Yang empat
: Mata rasanya lengket.
Surya
: Itu Namanya ngantuk.
Purnama
: Tidur, ya?
Lalu bayi-bayi minta lonceng. Lalu si babe setelah menenangkan mereka mulai mendongeng.
Surya
: Pada suatu hari adalah si Polos dan si Pakaian
Purnama
: Si polos itu manusia, si Pakaian itu orang
Surya
: Kalau manusia makhluk hina, tapi orang makhluk mulia
Penyanyi
: Yadu bintang-bintang berkedipan di mana-mana
Kata-kata berloncatan di mana-mana
Purnama
: (Menyanyi) Kalau si Polos segala-galanya polos
Kalau lapar bilang lapar
Haus bilang haus
Kalau pengen kencing bilang kencing
Berak bilang berak
Kalau marah kelihatan marah
Sedih kelihatan sedih
Nafsu kelihatan nafsu
Surya
: Kalau si pakaian tidak begitu. Rapi.
Serta ditutupi (Lalu menyanyi)
Kalua lapar tidak bilang lapar
Haus tidak bilang haus
Kebelet kencing tidak bilang kencing
Kebelet berak tidak bilang berak
Kalua merah tidak bilang merah wajahnya
Kalua bernafsu kayaknya lagi berdoa
(Selanjutnya tidak nyanyi)
Singkat kata: Tahu sopan santun!
Purnama
: Jadi siapa yang mau jadi orang ?
Sambil menguap mereka mengacung
Surya
: Rapi. Asal pintar berpakaian rapi. Asal pintar menutupi. Latihlah suara dalam berbagai variasi. Latihlah urat wajah dalam berbagai ragam kerut-merut. Dan camkan bahwa manusia itu tidak lebih sebatang pohon, sedangkan orang lebih mulia dari sebungkah batu.
Sambil menguap mereka : Pohon dan batu
Lalu bayi-bayi tidur.
Surya
: Tidur yuk, bu?
Purnama
: Ayuk, asal nggak gituan.
Surya
: Emangnya kenapa ?
Purnama
: Emangnya kenapa ? Emangnya kalua anak tambah banyak piring ikut beranak, dunia tambah melar ?
Surya
: Yakinlah akan teori keseimbangan, bu
Segala sesuatu di alam semesta ini senantiasa saling menyesuaikan, saling tahu diri. Kalua penduduk tambah
banyak tidak usah kuatir sebab perang dan bencana masih ada.
Bayi-bayi menangis
Purnama
: Ada apa, sayang?
Bayi-bayi
: Mimpi.
Surya
: Mimpi apa, sayang ?
Bayi-bayi
: Mimpi perang.
Surya
: Belum, sayang, sabar.
Bayi-bayi minta perang sekarang.
Surya
: Nanti, sayang, nanti…
Bayi-bayi
: Sekarang saja perangnya, penduduk sudah banyak.
Purnama
: Kasih morfin mereka, pak, segera!
Lalu bayi-bayi tidur lagi ketika diberi morfin.
Suling.
Purnama
: Omong-omong, siapa nama anak kita, pak ?
Surya
: Darim.
Bayi-bayi
: (Nyahut) Ya, pak.
Surya
: Nggak dipanggil kok nyahut?
Bayi-bayi
: Habis disebut-sebut.
Kembali mereka tidur.
Suling.
Surya
: Kita tinggalkan mereka, bu ?
Purnama
: Kemana ?
Surya
: Bersembunyi dan mengintip mereka.
Purnama
: Kita mainkan mereka?
Surya
: Yak
Purnama
: Lucu, yuk.
Lalu melayanglah keduanya.
Suling.
Penyanyi
: Ketika purnama dan sang surya sirna
Melayang entah kemana
Malam pun jadi padang kelana
Yang tak jelas batas-batasnya.
Satu
: (Bangun) Pak? Bu?
Dua
: Idem
Tiga
: Idem.
Lalu semuanya menangis cari orang tua mereka. Ada yang pergi ke hutan. Ada yang pergi ke gunung. Ada yang pergi ke Samudra. Ada yang pergi ke dalam gua dsb. Menyayat hati sekali keadaan mereka.
Lalu salah seorang melihat orang tuanya nempel. Di langit lalu yang lain-lainnya. Semua sama melohok. Dan adalah sisa tangis mereka.
Lalu adalah lapar
Lalu adalah pencarian
Lalu adalah amarah
Lalu adalah istilah
Lalu adalah sekolah
Guru
: Selamat pagi anak-anak.
Semua
: Selamat pagi, pak guru.
Guru
: A
Semua
: A
Guru
: B
Semua
: B
Guru
: Cukup. Ganti pelajaran. Satu tambah satu sama dengan dua.
Semua
: Satu tambah satu sama dengan dua.
Guru
: Ganti pelajaran lagi. Sopan-santun
Semua
: Sopan-santun
Guru
: Permisi.
Semua
: Permisi
Guru
: Ada pertanyaan?
Tujuh
: Apakah sopantun itu?
Guru
: Apakah sopantun itu?
Guru
: Sopantun adalah sopantun.
Tujuh kelana.
Guru
: Kok ketawa?
Tujuh
: Simpel.
Guru
: Coba. Apakah sopan santun itu?
Tujuh
: Sopan santun adalah sopan santun
Guru
: Brilyan-brilyan. Sekarang pelajaran kewiraan. Para Darim sekalian.
Semua
: Ya, Pak guru.
Guru
: Seni-hidup-sejati adalah membunuh tanpa jejak pembunuhan, membenci tanpa wajah kebencian.
Seni-hidup-bermasyarakat adalah aktif berpartisipasi dalam kebohongan Bersama.
Pendek kata….
Semua
: Sopan santun.
Darim
: (Nangis)
Guru
: Kenapa nangis?
Darim terus alias pemain yang akan memainkan tokoh darim selama sandiwara ini terus menangis.
Guru
: Kenapa, sayang?
Darim
: Nggak ngerti sopan santun.
Guru
: Oh, nggak usah nangis. Sebentar nanti juga ngerti. Dengar ya? Sopan santun adalah sopan santun. Coba.
Darim:
: Sopan santun adalah (Nangis) Saya juga nggak ngerti seni hidup.
Guru
: Begitu gampang.
Lalu Darim-Darim lain memaki.
Guru
: Darim, murid-muridku sekalian. Sesuai keputusan siding guru, maka Darim yang bloon tadi dikeluarkan dan dinasihatkan supaya dimasukkan di sekolah luar biasa.
Lalu Darim pun berjalan dan terus menangis di antara Darim-Darim lain yang terus belajar dan belajar. Dan Darim yang bloon itu semakin dewasa dalam kebloonannya.
Penyanyi
: (Tidak menanyi) Sekali lagi saya minta maaf karena saya mesti mengentikan lagi permainan sandiwara ini untuk perkenalan para pemain.
Lalu semua pemain, laki-perempuan memperkenalkan dirinya masing-masing dengan nama Darmin tapi tiba-tiba meraung sirine Panjang yang menyebabkan suasana jadi tegang setelah itu, dalam ketegangan yang tak jelas pangkalnya muncul. Seorang polisi dengan bende dan membunyikannya.
Polisi
: Pengumuman 3x
Menurut takwil mimpi nama Darim membahayakan karena nama Darim menggoda orang untuk jadi bloon dan yang paling penting tidak memiliki ketahanan mental demi membina kebohongan Bersama.
Maka mulai saat ini setiap orang diwajibkan menanggalkan Namanya dan selanjutnya supaya menggantikannya dengan nama-nama yang daftarnya ada di kelurahan.
Lalu berdesakanlah orang-orang antre depan sebuah kantor. Bahwa ada calo-calo dsb. Terserah sutradara yang pasti setelah beberapa saat nanti muncul seorang anak kecil menuntun seorang lelaki ( perempuan juga boleh) yang sangat tua sekali dan Nampak sangat lemah sekali
Anak
: Kasihan, pak, bapak ini mau mati.
Seseorang
: Mau mati kek mau apa kek pokoknya kalua mau ganti nama antre di belakang sana.
Anak
: (Kepada yang lain) Tolong, pak.
Lalu yang dimintai tolong tanya kepada yang di belakangnya dan rupanya kagak setuju dan begitulah seterusnya.
Anak
: Tolong, pak, orang ini mau mati.
Yang lain
: Betul, pak, mau mati?
Si tua
: Ya nak, rasanya kok aneh.
Yang lain
: Kalau memang mau tidak usah ganti nama. Ini hanya permainan di sini, sedangkan di akherat nanti kita tidak memerlukan nama karena kita akan sama lebur.
Yang lain
: Apa boleh buat, pak
Si tua
: Apa boleh buat apa, nak?
Yang lain
: Apa boleh buat bapak baris saja di belakang.
Lalu dengan terbungkuk si tua menuju eroh barisan yang kira-kira jauhnya sekitar tujuh kilometer
Dan sementara itu Darim terus keluar dari barisan untuk selanjutnya kencing dan tidur setelah lebih dulu menggeliat menguap secara nikmat sekali.
Lalu barisan batu Bersama, system suara Bersama dan terakhir nyanyi Bersama.
Nyanyian
: Tidaklah penting itu kepribadian
Yang penting hanya keselamatan
Tidaklah penting itu kejujuran
Yang penting hanyalah keamanan.
Lalu barisan menguap Bersama dan kemudian tidur Bersama. Dan beberapa detik kemudian adalah seekor macan kumbang yang besar dan panjangnya melampui ukuran normal. Sedemikian rupa ia bagaikan utusan malam yang sedang mengancam. Lalu muncul berpuluh macan-macan lain melakukan hal yang sama. Dan macan-macan itu kemudian memperebutkan Darim yang tidur. Sedemikian ributnya macan-macan itu memperebutkan Darim sehingga para penonton ikut kebisingan.
Tentu saja yang berhasil. Menguasai Darim adalah macan gede dan macan gede langsung membawanya pada mulutnya ke sebuah bukit dengan hambatan macan-macan lain. Lalu macan gede itu melepaskan Darim sehingga jatuh ke bawah jurang yang penuh batu-batu kali. Di bawah Darim berlumuran darah dsb. Sudahlah jelas tapi perlu duelaskan bahwa betapapun keadaan Darim namun ia masih hidup. Teristimewa Ia hidup karena alam secara serempak menyerukan Namanya gegap gempita.
Darim
: Pembunuhan itu secara sadar, tuhan. Sadar, siang hari dan di pengadilan, tepat ketika hakim mengumumkan istirahat untuk makan siang.
Lalu Darim diseret oleh macan gede itu lagi dan diarak beramai-ramai. Dan terakhir ia dijebloskan ke suatu ruangan pengadilan.
Darim
: Pengadilan apa lagi ini, tuhan?
Dan macan-macan tadi semuanya telah lenyap entah kemana dan sekarang yang ada adalah hadirin siding pengadilan. Seorang yang mengaku Bernama hakim kayaknya macan gede tadi, muncul. Dia tidak membawa palu melainkan sepucuk pistol seperti juga para saksi, pembela, jaksa dan para hadirin.
Hakim
: Para hadirin sekalian, saya merasa bangga sekaligus terharu
Saya dipercaya melaksanakan peran hakim dalam lakon yang luar bias aini, karena berarti focus perhatian akan jatuh pada diri saya yang tampan ini sekaligus terpenuhilah kepuasan rohani saya sebagai seorang actor, lebih-lebih lagi sebelumnya saya harus memainkan peranan seekor macan kumbang yang sangat besar. Maka terlebih dahulu, sebelum saya mainkan peran hakim ingin lebih dulu saya menyampaikan pidato singkat seorang actor kepada sang sutradara sebagai ucapan terimakasih yang tak tertahankan.
(Lebih dulu menahan tangis dan keharuan) Para hadirin, sebagai seorang actor, sebagai seorang seniman saya adalah suci karena saya sama besar dengan hidup dan alam ini. Menjadi actor-aktor atau seniman bukanlah karena honorarium atau ideologi atau kebenaran atau karena politik tertentu atau agama tertentu atau lain-lainnya yang tertentu, tetapi didorong oleh factor kesadaran akan keunikan sebagai jantung masyarakat atau kepuasan Nurani masyarakat atau Nurani sendiri.
Saya minta maaf kalua karena pidato say aini permainan sandiwara ini agak sedikit terganggu. Selanjutnya izinkanlah saya mainkan peran hakim.
Panitra
: Bapak hakim akan memasuki ruangan, para hadirin harap tenang dan kami minta berdiri.
Para hadirin Sebagian bangkit berdiri tapia da juga yang nggak. Maka panitra jadi keki.
Panitra
: Saya ulangi lagi kepada para hadirin diminta berdiri karena hakim akan memasuki ruangan.
Tinggal seorang yang tidak mau berdiri dan
Panitra
: Saudara tidak mau berdiri?
Saudara
: Tidak.
Panitera
: Artinya saudara tidak patuh, membangkang kepada masyarakat.
Lalu panitera menembak orang tadi dan selanjutnya siding dimulai.
Panitra
: Hakim ketua memasuki ruangan!
Semua hadirin dan hakim ketua muncul untuk selanjutnya menempati kursinya.
Hakim
: (Dengan gagah) Ada yang berani kepada saya?
Mau coba adu kekuatan?
Semua diam.
Hakim
: Diam. Apa kalian? Diam dendam atau diam sakit?
Semua
: Diam takut, hakim ketua.
Hakim
: Betul lho ya? Awas kalua tiba-tiba ada yang coba-coba.
Semua saling berpandangan.
Hakim
: Terdakwa mana?
Polisi-polisi
: Ini, pak.
Hakim
: Kok berdiri di situ? Kenapa di situ?
Darim
: Kursi yang itu banyak bangsatnya, pak.
Hakim
: Polisi, coba periksa.
Kursi diperiksa.
Polisi
: Ternyata benar, pak Hakim. Banyak sekali bangsatnya.
Hakim
: Tangkapi semua bangsat-bangsat itu dan langsung penjarakan. Apa mereka kira Cuma orang saja yang bisa dipenjarakan? Coba korek api.
Lali pak hakim menyalakan pipa cangklongnya.
Hakim
: Boleh saya mulai?
Darim diam saja.
Hakim
: Diperlukan sopan malah jadi bingung. Baik. Ayo mulai. Panitera, siap!
Panitera
: Siap, pak.
Hakim
: (Pukul palu) Semua saksi memberatkan
Jaksa jelas-jelas paling memberatkan
Para pembela hanya bisa kebingungan
Maka saya sebagai hakim ketua tak mau ketinggalan dalam memberatkan hukuman.
Dan kalua perlu lebih berat daripada apa yang pernah dibayangkan.
Jadi vonis: Hukuman gantung 7 hari 7 malam.
Mayatnya diikat dan dipenjara selama-lamanya.
Darim
: Saya tidak terima, Tuan Hakim. Saya mau naik banding.
Hakim
: Silahkan protes, saya mau makan dulu.
Eroh
: Darim, suamiku yang tak kucintai, kau hanya bisa bebas kalua kau tidak Bernama Darim.
Darim
: Tapi nama saya Darim.
Eroh
: Tapi what is a name ?
Darim
: saya juga menyesal kenapa orang tua saya memberi nama saya Darim, padahal masih banyak nama lain yang mirip juga dengan nama itu, seperti Kasim, Rahim, Salim…
Eroh
: Kalau begitu kenapa kau tidak ganti nama saja dengan nama Ahang misalnya, atau Ahing atau Ahong atau apa.
Darim
: Tapi dalam KTP sudah terlanjur..
Eroh
: KTP Kamu kan beli, hilangkan saja dan beli lagi yang baru dengan nama yang baru.
Darim
: Tetangga bagaimana?
Eroh
: Darim, Suamiku yang bloon
Semua orang adalah pedagang
Beri saja mereka sogokan.
Darim
: Tapi Darim bagaimana?
Eroh
: Darim, Darim, Darim, Darimkan kamuu?
Darim
: Lha iya, Kalau Darim sendiri tidak mau ?
Eroh
: Ya tolol Namanya, ya bodoh Namanya.
Darim
: Ya dibilang tolol ya biar, dibilang bodoh ya biar, pokoknya saya Darim
Eroh
: Nah, gantilah namamu!
Darim
: (Bloon) Kalau saya ganti nama lalu saya lupa bagaimana?
Kalua kamu panggil saya lalu saya tidak nyelinguk bagaimana?
Eroh
: Ya Latihan! Lama-lama kamu tentu akan biasa dengan nama lain. Kita ambil saja nama yang sederhana. Dakocan misalnya.
Darim
: Apa? Nama saya Dakocan?
Eroh
: Iya, kan bagus?
Lalu setengah pingsan alias setengah sadar, Darim nari-nari kayak Dakocan.
Eroh
: Kok berhenti, kenapa?
Darim
: Nggak enak jadi Dakocan. Bosan. Masak begini-begini terus.
Eroh
: Lalu jadi apa?
Darim
: Jadi Darim.
Tiba-tiba seseorang menembaknya dan terpentalah Darim untuk selanjutnya terbanting dan akhirnya terkapar mati. Eroh jelas terkejut dan segera meraba luka suaminya. Dan terakhir ia sadar suaminya sudah jadi mayat. Begitu sadar suaminya sudah mati, ia jadi bingung apa yang seharusnya dilakukan.
Eroh
: Aduh, apa yang mesti saya lakukan ?
Aduh, apa yang lebih dulu saya harus lakukan? Untung, untung bukan saya yang menembak. Aduh, tulung-tulung tunjukan saya apa yang harus saya lakukan.
Lalu ia minta tolong kepada beberapa orang tapi orang-orang itu tak paham apa yang dimaksud. Karena jengkel eroh menggelepar-gelepar, penyakit ayannya kumat dan segera orang-orang memberikan pertolongan dan
A
: O, Ternyata dia ayan
B
: Ya, maksudnya tadi ia minta supaya kita melakukan sesuatu sebelum dia kumat.
C
: Saya sebenernya sudah mengerti apa yang diharapkannya tapi saya diam saja karena saya paling senang menyaksikan orang ayan.
A
: Begitu, kan bu, maksud ibu tadi?
Eroh
: Bukan, Maksud saya, maksud saya, maksud saya.
C
: Kok jadi bingung?
Eroh
: Ya, itu maksud saya, Bingung! Saya tidak tahu apa pertama sekali saya harus kerjakan kalua suami mati?
B
: O, itu gampang. Ibu cinta nggak sama suami ibu?
Eroh
: Nggak.
A
: Itu lebih gampang lagi. Ludahi saja keningnya atau hidupnya.
Eroh
: Saya tidak punya ludah lagi karena selama berumah tangga setiap pagi saya meludahi wajahnya
C
: Kalau begitu pura-pura menangis. Pura-pura menangis
B
: Ya, pura-pura menangis juga sudah setaraf dengan meludahi.
Hakim
: Kurang ajar! Kurang ajar! Siapa yang menembak? Ngaku! Siapa yang nembak? Tidak tahu aturan! Dan celakanya dia belum menandatangani segala sesuatunya. Kamu ya?
A
: Bukan Pak Hakim.
Hakim menembaknya.
Hakim
: Kamu ya?
B
: Bukan, pak Hakim.
Eroh
: Kalau A bukan, B bukan, maka kemungkinan terakhir cuma C. Tentu.
C
: Bukan, bukan, bukan C, Pak.
Hakim
: Begitulah Logikanya.
Hakim Menembaknya.
Eroh
: Bapak masih ingat ame saye?
Hakim
: Tidak perduli siapa kamu yang penting kamu daging, maksud saya perempuan.
Eroh
: Tidak Cuma itu Bapak, daging yang segar, montok
Hakim
: Kurang ajar, kamu montok sekali, Singkatkan saja segala sesuatunya, kamu perlu apa atau butuh apa?
Eroh
: Saya istri Darim?
Hakim
: Perlu apa ? Diperingan hukumannya? Dibebaskan?
Eroh
: (Menggeleng-geleng sambal lebih agresip)
Hakim
: Lalu apa? Cepetan dong.
Eroh
: Berilah Darim kebebasan hukum.
Hakim
: Jadi! Ayo dong, buruan.
Eroh
: Darim, bangun! Kamu bebas.
Darim
: Bebas? Kamu jangan main-main. Saya tahu nanti malam saya akan digantung.
Hakim
: Jadi! Ayo dong, buruan.
Eroh
: Darim, bangun! Kamu bebas.
Darim
: Bebas? Kamu jangan main-main. Saya nanti malam saya akan digantung.
Hakim
: (Mengumumkan) Sidang pengadilan yang terhormat, karena ada kerusakan pada computer maka perlu diadakan koreksi atas vonnis yang terdahulu dan sekarang saya umumkan, bahwa dasar dasar pertimbangan-pertimbangan terhormat terdakwa Darim dibebaskan dari segala tuntutan, baik untuk yang sudah-sudah maupun yang akan dating.
Semua
: Hidup Darim! Hidup Darim!
Darim
: Emoh, emoh! Saya emoh bebas kalua istri saya digituin
Eroh
: Jangan rewel, Darim yang penting kamu bebas.
Darim
: (Mewek) Tapi saya cemburu
Eroh
: Kamu akan cemburu kalua kamu melihat, sekarang pejamkan saja matu nanti kamu tidak lagi merasa cemburu.
Hakim
: Buruan dong!
Eroh
: Merem, Darim.
Darim merem ragu-ragu.
Eroh
: Tabahkan, suamiku, demi cintamu padaku, yakinlah, nanti lama-lama kamu biasa.
Hakim sudah akan meniduri Eroh. Dan Darim mulai memperdengarkan tangisnya
Eroh
: Tabah, suamiku tabah. Setiap perjuangan memerlukan pengorbanan.
Darim makin keras tangisnya ketika hakim dan Eroh mulai bergumul. Dan dia terus menangis.
Seseorang
: Maaf, para penonton sekalian. Berhubung niat sopan-santun tidak menginginkan, maka adegan persetubuhan terpaksa harus kami akhiri dari segala penjuru.
Lalu hakim dan Eroh ditabiri kain. Dan Darim terus menangis. Kemudian terdengar suara-suara mereka. Lama. Tiba-tiba terdengar jeritan dan kemudian Eroh yang terus menjerit lari. Orang-orang segera mengerumuninya. Kasih minum dsb.
Eroh
: Hakim itu menghembuskan nafasnya yang penghabisan tepat saat ia pada puncak kenikmatannya.
Lalu satu demi satu menjauhi perempuan itu.
Eroh
: Bukan saya yang salah.
Orang-orang tetap menuduhnya dengan pandangannya.
Eroh
: Tolong kuburkan mayat itu sebelum polisi datang.
Orang-orang sama menggelengkan kepala.
Eroh
: Mau ini? (Menunjukan pada barangnya)
Orang-orang sama menganggukan kepala.
Lalu satu demi satu bersetubuh dengan perempuan itu dengan cara kilat. Tabiri dan satu demi satu merasa puas sekali. Lalu polisi datang dengan peluitnya ketika orang-orang siap akan menguburkan mayat itu.
Polisi
: Mayat siapa itu?
Lalu seseorang membawa polisi it uke balik Tabir dan selanjutnya penguburan disegerakan. Lalu muncul lagi polisi.
Polisi
: Sudah beres semua, kan? Ayo bubar! Lanjutkan kerja masing masing.
Lalu orang-orang bubar membiarkan Darim sendirian menangis kayak anak kecil.
Guru
: Kamu saksikan sendiri? (Darim mengangguk-ngangguk)
Kamu tidak berbuat apa apa? (Darim mengangguk)
Kamu jelek.
Darim mengangguk. Lalu guru menembak kepalanya sendiri dan mati. Dan Darim menangisinya. Dan Darim menyeretnya.
Share to Infrastructure Team
Bagikan dokumentasi teknis ini melalui jalur koordinasi.