Merawat tradisi, mengeksplorasi kreasi, dan berkarya sepenuh hati melalui seni pertunjukan.
Perjalanan dan jejak langkah kami
Jakarta adalah sebuah kota metropolitan yang sangat padat penduduknya, kurang lebih 3.5 juta jiwa penduduk dengan berbagai macam karakter, sebab banyaknya warga pendatang yang ingin mengadu nasib dijakarta. Di dalam kota metropolitan ini ada sebuah daerah yang bernama Kampung Rawa, terletak di Kelurahan Galur/ Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. Di tengah hiruk-pikuk dan banyaknya konflik sosial, di daerah tersebut ada sekumpul anak muda tergabung dalam Karang Taruna yang memikirkan untuk mendirikan perkumpulan seni. Sekumpul anak muda yang tergabung dalam karang Taruna ini mendirikan perkumpulan seni karena melihat situasi kampung halaman yang rawan akan adanya peredaran narkoba, tauran, dan konflik sosial lainnya. Dengan melihat kondisi ini, dan mencoba memahami situasi, sekumpul anak muda ini ber-inisiatif membuat sebuah grup seni yang mungkin nantinya bisa diminati oleh para anak muda kampung rawa ini. Setelah mengalami beberapa tahap hingga pengajuan ke pihak RW setempat, alhamdulillah ternyata keinginan ini-pun disambut baik oleh pihak Rw 7 daerah kampung kami berada. Oleh karena itu akhirnya kami bentuk suatu Teater yang dinamakan dengan TEATER SAPTA. Nama tersebut menjadi pilihan bersama sebab hasil dari pencarian yang kami lakukan, menurut bahasa sansekerta SAPTA berarti 7, yang secara sengaja ditujukan untuk melambangkan lokasi wilayah berdirinya teater ini. Berawal dari sinilah akhirnya Teater Sapta pada akhir 2024 sepakat mencetuskan mini projectnya dengan nama Teater Saphalta untuk dipiloti oleh pelaku junior dari Teater Sapta.
Penghargaan dan prestasi Teater Saphalta
Koleksi produksi dan pementasan karya Teater Saphalta
Dalam kesempatan silaturahmi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Teater Jakarta Pusat (ATAP), Teater Saphalta bersama dengan Teater Sapta melakukan kolaborasi pementasan sebagai pengisi acara dengan membawakan sebuah kisah yang dalam tentang pengertian daripada hidup beragama dengan judul Robohnya Surau Kami yang diadaptasi dari sebuah Cerpen asli tanah minang karya dari seorang Seniman bernama A.A. Navis. Pada kesempatan produksi kali ini, pementasan Robohnya Surau Kami digarap langsung oleh Sutradara M. Fahmi Abdul Rasul yang juga tidak lain adalah Sutradara Teater Sapta serta pembina bagi Teater Sapta dan juga Teater Saphalta “Robohnya Surau Kami” mengisahkan ironi getir seorang manusia yang mengabdikan seluruh hidupnya pada ibadah, tenggelam dalam kesunyian doa dan keyakinan akan keselamatan akhirat, namun luput menautkan diri pada denyut penderitaan di sekitarnya; hingga pada suatu titik, kesalehan yang ia banggakan menjelma cermin retak yang memantulkan kehampaan—bahwa pengabdian tanpa empati hanyalah gema tanpa makna. Dalam runtuhnya surau itu, yang sesungguhnya roboh bukan sekadar bangunan rapuh, melainkan kesadaran akan hakikat beragama itu sendiri: bahwa iman seharusnya hidup, bergerak, dan berpihak pada kemanusiaan, bukan berdiam dalam sunyi yang menjauhkan diri dari dunia. Lebih jauh, kisah ini menyingkap luka sunyi dari kealpaan kolektif—tentang bagaimana manusia dapat terjebak dalam ilusi kesalehan personal, sementara di luar dinding-dinding doa, ketidakadilan dan penderitaan dibiarkan tumbuh tanpa sentuhan. Ia menjadi pengingat pahit bahwa langit tidak hanya menilai dari seberapa khusyuk kepala tertunduk, tetapi juga dari seberapa jauh tangan terulur untuk sesama. Dan pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya puing-puing surau yang lapuk dimakan waktu, melainkan gema pertanyaan yang tak kunjung usai di dalam batin: apakah arti ibadah jika ia tak mampu menumbuhkan kasih, dan untuk siapa sebenarnya kesucian itu dipertahankan, jika dunia di sekelilingnya dibiarkan runtuh tanpa kepedulian.
Pada produksi kali ini, Teater Saphalta berkolaborasi dengan Teater Sapta dalam sebuah pementasan yang diselenggarakan dalam rangka Festival Kanal oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Kolaborasi ini menjadi bentuk kerja bersama antar kelompok teater dalam mengangkat kembali karya sastra teater Indonesia, khususnya naskah “Kapai-Kapai” karya Arifin C. Noer. Pementasan ini disutradarai oleh M. Fahmi Abdul Rasul dengan mengusung konsep teater rakyat yang dikemas melalui penggunaan panggung arena. Pemilihan bentuk panggung ini bertujuan untuk menciptakan kedekatan antara pemain dan penonton, sehingga interaksi serta penyampaian emosi dapat dirasakan secara lebih langsung. Pertunjukan dilaksanakan di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sebagai salah satu ruang pertunjukan yang mendukung eksplorasi artistik tersebut. Kisah Kapai-Kapai berfokus pada tokoh Abu, seorang pesuruh kecil yang hidup dalam tekanan ekonomi dan kondisi sosial yang serba terbatas. Kehidupannya dipenuhi oleh pekerjaan kasar yang terus menerus, tanpa memberikan perubahan berarti terhadap taraf hidupnya. Situasi ini menggambarkan realitas kemiskinan dan keterbatasan yang dialami oleh sebagian masyarakat. Dalam menghadapi kenyataan tersebut, Abu menciptakan dunia khayalnya sendiri sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup. Imajinasi tersebut berpusat pada sebuah dongeng yang pernah diceritakan oleh Emaknya, yaitu tentang “Cermin Tipu Daya”—sebuah benda keramat yang diyakini mampu mengubah nasib seseorang secara instan menjadi kaya dan bahagia. Keyakinan terhadap cerita ini perlahan menjadi obsesi yang memengaruhi cara pandang dan tindakan Abu terhadap realitas. Melalui pementasan ini, kolaborasi Teater Saphalta dan Teater Sapta berupaya menghadirkan interpretasi yang relevan terhadap isu sosial yang diangkat dalam naskah. Pendekatan teater rakyat yang digunakan tidak hanya menekankan aspek hiburan, tetapi juga penyampaian pesan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Unsur permainan aktor, penataan ruang, serta dinamika panggung dirancang untuk mendukung penyampaian cerita secara efektif dan komunikatif. Produksi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih luas kepada penonton mengenai realitas sosial yang diangkat, sekaligus membuka ruang refleksi terhadap harapan, keterbatasan, dan cara individu menghadapi tekanan hidup.
Dalam produksi yang disutradarai oleh M. Akbar Saffari ini, Teater Saphalta mengangkat naskah “Tengul” karya Arifin C. Noer dalam rangka partisipasi pada event tahunan Festival Teater Jakarta. Pementasan ini menjadi bagian dari upaya eksplorasi artistik sekaligus interpretasi ulang terhadap karya sastra teater Indonesia yang sarat akan kritik sosial. Cerita berfokus pada tokoh Sang Korep, seorang rakyat jelata yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan tekanan lingkungan sosial. Ia digambarkan sebagai sosok yang naif, namun memiliki ambisi besar untuk mengubah nasib dan menjadi “orang kaya”. Dalam perjalanan hidupnya, Korep dihadapkan pada realitas masyarakat yang dipenuhi kepalsuan, ketimpangan, serta sistem birokrasi yang tidak rasional dan cenderung menindas. Seiring berkembangnya cerita, ambisi Korep semakin mendorongnya menjauh dari realitas yang rasional. Ketidakmampuannya menghadapi kondisi hidup yang keras membuatnya mencari jalan pintas melalui dunia pesugihan—sebuah praktik yang merepresentasikan keputusasaan sekaligus kritik terhadap mentalitas instan dalam masyarakat. Pilihan tersebut menjadi titik balik yang membawa Korep masuk ke dalam konflik batin dan konsekuensi moral yang semakin kompleks. Melalui pementasan ini, Teater Saphalta tidak hanya menyajikan alur cerita, tetapi juga menekankan penggambaran karakter, dinamika emosi, serta suasana panggung yang mendukung pesan yang ingin disampaikan. Pendekatan artistik yang digunakan berfokus pada penyampaian realitas sosial secara langsung kepada penonton, dengan penekanan pada interaksi antar tokoh dan visualisasi situasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Produksi ini diharapkan dapat menjadi media refleksi bagi penonton terhadap kondisi sosial yang ada, sekaligus membuka ruang diskusi mengenai ambisi, realitas, dan pilihan-pilihan yang diambil individu dalam menghadapi tekanan hidup.
Temukan lebih banyak dari Teater Saphalta
Bergabunglah bersama kami dan ekspresikan kreativitasmu melalui seni pertunjukan teater yang penuh makna.