Logo Teater Saphalta  Komunitas Seni Pertunjukan & Teater Jakarta

Teater Saphalta

Berkarya melalui seni pertunjukan

we are part of Teater Sapta

Beranda Tentang Artikel Berita Galeri Sekretariat
Masuk
Beranda Tentang Artikel Berita Galeri Sekretariat
Masuk
Back to Knowledge Base

Tengul

Published: Sabtu, 11 April 2026
Author: aisyah
Tengul

Sandiwara ini dimulai dengan lampu auditorium yang masih menyala  terdengar gemuruh suara orang-orang yang mengelu-elukan tokoh pujaan. Gemuruh suara itu semakin mendekat. kemudian seseorang muncul di depan penonton. ia melambai-lambaikan tangannya kepada orang-orang yang terus mengelukan namanya , kemudian setelah orang orang bubar dan tak terdengar lagi suara lagi, orang itu menghadap penonton.

Orang itu bernama Sampulung yang lincah dan tangkas dalam berbicara dan menciptakan suasana. Pendek kata ia adalah seorang aktor uang unggul. Sebelum ia bertanya kepada usher atau doorman lebih dulu ia menanggalkan kostum dan riasnya. Maksud saya kalau ia memiliki kostum dan rias khusus.

SAMPULUNG :

Sudah masuk semua? barangkali masih ada beberapa penonton yang masih diluar? baiklah ( seseorang memberikan segelas air putih berkembang, lelaki yang enak dipandang mata itu meneguknya tiga kali. Selanjutnya ia berkata kepada penonton )

 Terima kasih saya ucapkan atas kehadiran saudara saudara dan selamat malam. Saya kira semua yang berada disini memegang karcis masing masing kecuali sudah tentu yang hadir disini tanpa karcis atau gratis. Dengan senang hati saya beritahu bahwa nomor nomor karcis yang diundi sebelum pertunjukan berlangsung. Kepada kelompok gratis, maaf kalau ada, saya persilahkan menghayalkan nomor nomor mujurnya. 

Berbicara mengenai hadiah hadiah, terusterang saya agak sedikit malu karena besar dan nilainya  tidak sebesar yang seperti saudara-saudara bayangkan. Juga dengan menyesal saya umumkan bahwa hadiah-hadiah hanya akan terdiri dari tiga pemenang saja, yaitu pemenang pertama, pemenang kedua, dan pemenang ketiga, maaf tidak ada pemenang hiburan. tetapi sebaiknya dengan rasa bangga saya umumkan bahwa hadiah-hadiah langsung akan diberikan mala mini juga dan ditempat ini juga.

Kita akan mulai. Supaya suasana lebih meriah seseorang akan membunyikan tambur pada tiap tiap pemutaran angka.

( kepada sesorang yang ada di belakang panggung )                                                                       Silahkan angka angka diputar

Suara tambur, suara gemuruh putaran mesin raksasa. suara sejuta manusia menjerit bersama-sama, sangat memeriakan telinga. Dipuncak nada jerit tiba tiba semua lampu padam. Gelap beberapa detik . Kemudian spot lampu  pada Sampulung (wajahnya)

SAMPULUNG:

Hadiah pertama jatuh kepada angka …..

SUARA :

KOSONG!!!

SAMPULUNG :

Buat manusia kosong, tapi nasib selalu tahu angka berapa yang disukainya. (DENGAN SENYUM YANG MENARIK SEKALI) Hadiah pertama saya berikan kepada pemegang karcis nomor 1 2 3 4 5 !!!..

SESEORANG YANG AGAKNYA PEMILIK KARCIS TERSEBUT MENJERIT KERAS KEGIRANGAN.

SAMPULUNG : 

Hadiah pertama berupa uang tunai sejumlah seratus tujuh puluh lima setengah juta rupiah ditambah ……

GEMA SUARA TABUH

SAMPULUNG : 

Hadiah ketiga jatuh kepada nomor berapa ya (sebentar menimbang) Saya kira enak nomor 6 7 8 9 0 !

SESEORANG : 

Bajingan

SAMPULUNG : 

Pemenang itu tidak bisa membuktikan dirinya  sebagai pemenang karena tidak punya karcis, dan nomornya , nomor khayalan

SUARA PEREMPUAN MENJERIT

SAMPULUNG : 

Kemudian pemenang itu membunuh istrinya lantaran jengkel, dan ia sendiri mati, tertubruk mesin giling ketika melarikan diri.

LAMPU-LAMPU KEMUDIAN MENYALA SEPERTI SEBELUMNYA.

SAMPULUNG : 

Menjadi tokoh nasib itu sama sekali tidak ada enaknya, karena selalu dicemooh oleh hati, namun berlangsungnya lakon tak dapat dihalangi, silahkan mencaci den mencemoh diri, sudah tentu setelah ini, saudara-saudara memuja-muja dan menjilat-jilat saya.

SEMUA LAMPU PADAM DAN DAN SAMPULUNG EXIT

LAYAR DI ANGKAT. TABIR MERAH DARAH SEDIKIT

MENGANDUNG WARNA HIJAU. BEBERAPA ORANG ADA DI MUKA TABIR ITU. MEREKA SEPERTI BERADA DI DALAM RUMAH IBADAH, KEMUDIAN DATANG LAGI YANG LAIN. GEMUK BERDIRI DEKAT SAJEN SAMBIL MAKAN KWACI . DIA ITU ADALAH BANDAR.

SEORANG LELAKI KURUS MENARI-NARI SEPERTI KESURUPAN.

BANDAR:

Jan dua belas kurang sepuluh menit.

SESEORANG MUNCUL MEMBAWA SENAPAN. BEBERAPA

ORANG MEMERIKSA SENAPAN ITU. KEMUDIAN

SESEORANG YANG LAIN MEMEGANG SENAPAN ITU DAN BERDIRI DISUATU TEMPAT SIAP MENEMBAK. SEMENTARA ITU LELAKI KURUS TADI SEMAKIN BERSEMANGAT MELAKUKAN UPACARA SEMBAHYANG UNTUK KEMENANGAN BANDAR. SEBALIKNYA PUBLIK SEMAKIN BERSEMANGAT BERDOA UNTUK KEMENANGAN DIRINYA MASING-MASING.

KOREP:

Apa yang akan kau lakukan kalau menang malam ini?

TURAH :

Besok pagi pagi, tanpa mandi terlebih dahulu saya akan menuju sebuah toko emas. Saya akan membeli dua puluh perhiasan yang paling mahal. Dari sana lima belas set langsung saya pakai pulang. Dirumah saya akan bercermin seharian menikmati perhiasan yang melakat pada pakaian saya.

KOREP :

Sesiang itu kau tidak makan sesuap nasi?

TURAH :

Kenapa, dan bagaimana saya bisa mengisi perut, padahal sudah buncit oleh kenikmatan menimang-nimang perhiasan. Tidak, paling-paling saya hanya, merokok atau kalian mungkin menghisap madat atau ganja.

KOREP :

Pada hari kedua ?

TURAH : 

Sama sekali tidak mau beranjak dari depan toilet. Dan saya kira kamu telah menyelesaikan tugasmu sebagai seorang suami, melengkapi rumah dan sebagainya. juga tidak lupa kamu mempekerjakan lima orang sebagai pelayan kita.

KOREP :

Pada hari ketiga ?

TURAH :

Saya akan jalan-jalan memamerkan kekayaan kiita sambil menyemprotkan ke sekitar pekarangan. Tepat tengah hari saya akan menyerahkan beberapa orang yang sanggup mengumpulkan beberapa gumpal mega agar tetap berada di atas rumah kita                              (TERIAK KENCANG) 

KOREP :

Kamu sudah mulai berbahaya 

TURAH ;

Karena impian-impian saya ?

KOREP :

Lebih baik kita hentikan semua ini.

TURAH :

Kenapa?

KOREP :

Saya takut.

TURAH :

Takut apa?

KOREP :

Takut kaya

TURAH :

Betul betul budak

KOREP :

(SAMBIL MENCEKIK TURAH) saya kira kita sudah cukup bahagia dengan apa yang sudah ada di rumah

TURAH :

Saya bisa memahami ketakutan kamu. Sederhana sekali soalnya, kamu terbiasa miskin dan prihatin dan pada dasarnya kamu hanya takut kecewa dan malas. Seperti banuak orang, kamu merasa cukup puas dengan ala kadarnya dan hasil ala kadarnya. Bahkan seperti petapa! korep, kecaplah sedikit kekayaan niscaya kamu akan ketagihan dan kamu segera akan bisa merasakan bagaimana kekayaan melecut darah, sehingga wajahmu selalu berwarna merah.

BANDAR :

 Jam dua belas kurang enam menit!

ORANG YANG SIAP MENEMBAK :

Lebih baik orang lain yang menembak. Saya tidak bisa tenang

ORANG LAIN MENGGANTIKAN LELAKI ITU.

TURAH : Mata kamu seolah-olah melihat raja pada jaman dahulu kala, cahaya yang sebenarnya tidak ada, cahaya yang sebenarnya tercipta oleh rasa takut dan lapar.

KOREP :

Saya tidak pernah merasa lapar

TURAH :

Bukan tidak lapar, kebal. Lantaran kamu selalu menahan lapar, lantaran kamu selalu puasa. Saya yakin kamu juga bisa lupa akan rasa sakit kalau kamu mau melatih dirimu dipukuli setiap pagi dan pada akhirnya kamu akan bingung nanti membedakannya antara hidup dan mati. Percayalah, kamu masih seperti raja raja yang mengajarkan keprihatinan, sementara istananya dan candi candinya bercahaya oleh harta permata. Rupanya kamu masih percaya bahwa sikap prihatin dan menahan nafsu hidup dapat dijalani dengan dengan sempurna, suatu ajaran dari raja-raja yang menghendaki rakyatnya menjadi fakir yang siap tidur diatas ranjang paku, sementara mereka sendiri tidur di atas kasur yang empuk dan wangi 

KOREP :

kamu terlalu penuh dengan purbasangka

TURAH :

Purbasangka? saya sedang mencoba menjelaskan suatu persoalan dengan fikiran bebas, sebaliknya kamu menyangka sedang berpurbasangka. Kalau saya bilang soal cita-cita, kamu bilang saya penuh nafsu. Tapi sudahlah. Pendeknya dengan penjelasan saya tadi kamu bisa mengerti kenapa saya ingin supaya kita bisa kaya. Kalau kamu keberatan dengan tugas semacam ini, silahkan ke kantor pengadilan dan urus perceraian kita.

KOREP :

Saya tidak bisa

TURAH :

Sudah tentu karena kamu mencintai saya. Iya toh, kalau begitu marilah kita berusaha menjadi orang kaya

BANDAR :

Jam dua belas kurang tiga menit menit

TABIR MERAH DARAH TU KEMUDIAN DISINGKAP DAN TAMPAK PAPAN ROLET DENGAN ANGKA-ANGKANYA YANG AGAK KABUR OLEH ASAP KEMENYAN. KECUALI ITU TAMPAK PULA SAMPULUNG DENGAN SENYUMNYA. IA BARU SAJA MEMBENAHI RAMBUTNYA.

SAMPULUNG:

Tiga menit lagi atau seratus delapan puluh detik lagi. Dari sekian banyak detik, hanya satu detik yang benar-benar kita perlukan. (LEBIH DULU MELIHAT WAJAHNYA DALAM CERMIN) Bagaimana saudara-saudara? Angka berapa pasaran malam ini?

SEBAGAIAN BESAR ORANG:

Dua tujuh.

SAMPULUNG:

Dua tujuh. Kalian yakin angka dua tujuh akan keluar sebagai angka mujur malam ini?

SEMUA ORANG HANYA SALING MEMANDANG.

SESEORANG :

(PADA DIRI SENDIRI) Yakin ya Allah!!..Yakin, Amiinn

TURAH : 

Percayalah angka itu tidak akan keluar, Tidak ada Bandar yang bodoh, yang tidak suka menyogok sang nasib. Kalau sampal angka dua tujuh keluarpasti Bandar akan melarikan dirinya, karena tidak akan mampu menbayar pemasang - pemasang yang ribuan Jumlahnya. Diantara sekian banyak orang orang yang nempertaruhkan nasibnya pada angka dua tujuh bukan tidak mungkin terselip pemasang pemasang jagoan dengan uang pasangan yang besar

SAMPULUNG :

ada diantara kallan, yang suka angka kembar mala mini?

BEBERAPA ORANG BERTERIAK GEMBIRA MENGATAKAN

TURAH:

Kau lihat sendiri ,tepat hitungan saya. Pasti kembar.

SAMPULUNG:

Sebelas misalnya.

BEBERAPA ORANG BERTERIAK SETUJU

SAMPULUNG :

Kalau dua dua?

KELOMPOK LAIN DERSORAK

SAMPULUNG :

Tujut-tujuh ?

KELOMPOK LAIN DERSORAK

SAMPULUNG :

Kembar delapan?

KELOMPOK LAIN LEBIH RAMAI

SAMPULUNG

Tiga-tiga ?

SUNYI

SAMPULUNG:

Tidak seorang pun yang memasang tigatiga?

SESEORANG MENGANGKAT TANGANNYA

SAMPULUNG:

Cuma tiga orang ? Cuma tiga orang?

SUNYI

SAMPULUNG : 

Bolek saya ingin tahu?

SESEORANG TERNYATA BISU

SAMPULUNG : 

Coba yang lainnya. Berapa pasanganmu?

TERNYATA YANG SEORANG LAGI TULI

SAMPULUNG : 

Kamu pasang berapa?

SI TULI

Sepuluh rupiah

YANG BISU KETAWA DAN MENGANGGUK-ANGGUK

SAMPULUNG : 

Kamu?

YANG SEORANG LAGI KAYA PANDIR, (MENYEMBUNYIDKAN KERTAS LOTRENYA)

SAMPULUNG :

Berapa

BEBERAPA ORANG MEMAKSA DENGAN KERAS AGAR SI

PANDIR MEMPERLIHATKAN KERTAS LOTERENYA.

SI TULI

Sepuluh rupiah

SI PANDIR MENGANGGUK-ANGGUK

SAMPULUNG:

Jadi kalau mujur, kamu akan memenangkan sepuluh ribu rupiah kali tujuh puluh, tujuh ratus rupiah. Buat apa uang itu?

KETIGA ORANG ITU TIDAK TAHU APA HARUS DIKATAKAN. BINGUNG

SAMPULUNG:

(DENGAN LANTANG) Kemenangan yang tujuh ratus nanti buat apa?

SI TULI:

Buat beli truck. Saya akan beli truck. Saya akan mengemudikan truck itu sendiri.Perusahaan angkutan sangat menguntungkan

SAMPULUNG:

Bagaimana mungkin?

SI TULI:

Saya tuli tapi saya tidak pandir. Kalau tuan malam ini berpihak kepada saya dan saya peroleh tujuh ratus rupiah, maka saya sangat optimis akan rancangan-rancangan saya. Dua ratus dari Pada kemenangan ltu akan saya belikan beras, selebihnya saya pasangkan buat besok malam, jadi lusa saya akan mendapatkan uang sebesar tiga puluh lima ribu rupiah yang akan memenangkan uang sebesar.... tuan sendiri tahu. 

SI TULI CS TERTAWA

SAMPULUNG : 

Inl pertama kali buat kamu?

TULI :

Haaa? 

KURUS:

Ini pertama kali kamu pasang lotere?

SETELAH MENDENGAR APA YANG DIKATAKAN, SI TULI CS TERTAWA.

SI TULI :

Saya kira saya ini terkenal. Ternyata tidak. Maafkan barangkali tuan sangat tersinggung oleh cara saya ketawa tadi. Tapi terus terang pertanyaan itu sangat menggelikan hati. Tuan bertanya kepada saya apakah pasangan saya malam ini untuk kali yang pertana. Baiklah saya jelaskan. Dulu telinga saya baik. Begini ceritanya. Dulu saya seorang Bandar. Suatu malam... (SAMPULUNG MENGANGGUK-ANGGUK) Ya, Tuan ingat sekarang siapa saya. Seperti tuan sendiri tahu malam itu tuan berfihak kepada angka pasaran dan seperti tuan sendiri sakskan dengnn dingin, waktu itu saya mendapat Mata kamu seolah-olah melihat raja pada jaman dahulu kala, cahaya yang sebenarnya tidak ada, cahaya yang sebenarnya tercipta oleh rasa takut dan lapar.

KOREP :

Saya tidak pernah merasa lapar

TURAH :

Bukan tidak lapar, kebal. Lantaran kamu selalu menahan lapar, lantaran kamu selalu puasa. Saya yakin kamu juga bisa lupa akan rasa sakit kalau kamu mau melatih dirimu dipukuli setiap pagi dan pada akhirnya kamu akan bingung nanti membedakannya antara hidup dan mati. Percayalah, kamu masih seperti raja raja yang mengajarkan keprihatinan, sementara istananya dan candi candinya bercahaya oleh harta permata. Rupanya kamu masih percaya bahwa sikap prihatin dan menahan nafsu hidup dapat dijalani dengan dengan sempurna, suatu ajaran dari raja-raja yang menghendaki rakyatnya menjadi fakir yang siap tidur diatas ranjang paku, sementara mereka sendiri tidur di atas kasur yang empuk dan wangi 

KOREP :

kamu terlalu penuh dengan purbasangka

TURAH :

Purbasangka? saya sedang mencoba menjelaskan suatu persoalan dengan fikiran bebas, sebaliknya kamu menyangka sedang berpurbasangka. Kalau saya bilang soal cita-cita, kamu bilang saya penuh nafsu. Tapi sudahlah. Pendeknya dengan penjelasan saya tadi kamu bisa mengerti kenapa saya ingin supaya kita bisa kaya. Kalau kamu keberatan dengan tugas semacam ini, silahkan ke kantor pengadilan dan urus perceraian kita.

KOREP :

Saya tidak bisa

TURAH :

Sudah tentu karena kamu mencintai saya. Iya toh, kalau begitu marilah kita berusaha menjadi orang kaya

BANDAR :

Jam dua belas kurang tiga menit menit

TABIR MERAH DARAH TU KEMUDIAN DISINGKAP DAN TAMPAK PAPAN ROLET DENGAN ANGKA-ANGKANYA YANG AGAK KABUR OLEH ASAP KEMENYAN. KECUALI ITU TAMPAK PULA SAMPULUNG DENGAN SENYUMNYA. IA BARU SAJA MEMBENAHI RAMBUTNYA.

SAMPULUNG:

Tiga menit lagi atau seratus delapan puluh detik lagi. Dari sekian banyak detik, hanya satu detik yang benar-benar kita perlukan. (LEBIH DULU MELIHAT WAJAHNYA DALAM CERMIN) Bagaimana saudara-saudara? Angka berapa pasaran malam ini?

SEBAGAIAN BESAR ORANG:

Dua tujuh.

SAMPULUNG:

Dua tujuh. Kalian yakin angka dua tujuh akan keluar sebagai angka mujur malam ini?

SEMUA ORANG HANYA SALING MEMANDANG.

SESEORANG :

(PADA DIRI SENDIRI) Yakin ya Allah!!..Yakin, Amiinn

TURAH : 

Percayalah angka itu tidak akan keluar, Tidak ada Bandar yang bodoh, yang tidak suka menyogok sang nasib. Kalau sampal angka dua tujuh keluarpasti Bandar akan melarikan dirinya, karena tidak akan mampu menbayar pemasang - pemasang yang ribuan Jumlahnya. Diantara sekian banyak orang orang yang nempertaruhkan nasibnya pada angka dua tujuh bukan tidak mungkin terselip pemasang pemasang jagoan dengan uang pasangan yang besar

SAMPULUNG :

ada diantara kallan, yang suka angka kembar mala mini?

BEBERAPA ORANG BERTERIAK GEMBIRA MENGATAKAN

TURAH:

Kau lihat sendiri ,tepat hitungan saya. Pasti kembar.

SAMPULUNG:

Sebelas misalnya.

BEBERAPA ORANG BERTERIAK SETUJU

SAMPULUNG :

Kalau dua dua?

KELOMPOK LAIN DERSORAK

SAMPULUNG :

Tujut-tujuh ?

KELOMPOK LAIN DERSORAK

SAMPULUNG :

Kembar delapan?

KELOMPOK LAIN LEBIH RAMAI

SAMPULUNG

Tiga-tiga ?

SUNYI

SAMPULUNG:

Tidak seorang pun yang memasang tigatiga?

SESEORANG MENGANGKAT TANGANNYA

SAMPULUNG:

Cuma tiga orang ? Cuma tiga orang?

SUNYI

SAMPULUNG : 

Bolek saya ingin tahu?

SESEORANG TERNYATA BISU

SAMPULUNG : 

Coba yang lainnya. Berapa pasanganmu?

TERNYATA YANG SEORANG LAGI TULI

SAMPULUNG : 

Kamu pasang berapa?

SI TULI

Sepuluh rupiah

YANG BISU KETAWA DAN MENGANGGUK-ANGGUK

SAMPULUNG : 

Kamu?

YANG SEORANG LAGI KAYA PANDIR, (MENYEMBUNYIDKAN KERTAS LOTRENYA)

SAMPULUNG :

Berapa

BEBERAPA ORANG MEMAKSA DENGAN KERAS AGAR SI

PANDIR MEMPERLIHATKAN KERTAS LOTERENYA.

SI TULI : Sepuluh rupiah

SI PANDIR MENGANGGUK-ANGGUK

SAMPULUNG:

Jadi kalau mujur, kamu akan memenangkan sepuluh ribu rupiah kali tujuh puluh, tujuh ratus rupiah. Buat apa uang itu?

KETIGA ORANG ITU TIDAK TAHU APA HARUS DIKATAKAN. BINGUNG

SAMPULUNG:

(DENGAN LANTANG) Kemenangan yang tujuh ratus nanti buat apa?

SI TULI:

Buat beli truck. Saya akan beli truck. Saya akan mengemudikan truck itu sendiri.Perusahaan angkutan sangat menguntungkan

SAMPULUNG:

Bagaimana mungkin?

SI TULI:

Saya tuli tapi saya tidak pandir. Kalau tuan malam ini berpihak kepada saya dan saya peroleh tujuh ratus rupiah, maka saya sangat optimis akan rancangan-rancangan saya. Dua ratus dari Pada kemenangan ltu akan saya belikan beras, selebihnya saya pasangkan buat besok malam, jadi lusa saya akan mendapatkan uang sebesar tiga puluh lima ribu rupiah yang akan memenangkan uang sebesar.... tuan sendiri tahu. 

SI TULI CS TERTAWA

SAMPULUNG : 

Inl pertama kali buat kamu?

TULI :

Haaa? 

KURUS:

Ini pertama kali kamu pasang lotere?

SETELAH MENDENGAR APA YANG DIKATAKAN, SI TULI CS TERTAWA.

SI TULI :

Saya kira saya ini terkenal. Ternyata tidak. Maafkan barangkali tuan sangat tersinggung oleh cara saya ketawa tadi. Tapi terus terang pertanyaan itu sangat menggelikan hati. Tuan bertanya kepada saya apakah pasangan saya malam ini untuk kali yang pertana. Baiklah saya jelaskan. Dulu telinga saya baik. Begini ceritanya. Dulu saya seorang Bandar. Suatu malam... (SAMPULUNG MENGANGGUK-ANGGUK) Ya, Tuan ingat sekarang siapa saya. Seperti tuan sendiri tahu malam itu tuan berfihak kepada angka pasaran dan seperti tuan sendiri sakskan dengnn dingin, waktu itu saya mendapat

pukuIan dari beberapa orang đan seperti tuan sendiri tahu kemudian saya dipenjara, mungkin tuan tidak tahu, saya insyaf, saya Ingin memuai lagi hidup ini dengan usaha dan cara lain. Timbul lah rancangan saya tentang perusahaan angkutan umun tadi.

SAMPULUNG :

kemudđian kamu mulai pasang sepuluh rupiah.

SI TULI :

Tidak, tujuh ribu rupiah dan kalah. Keluar dari penjara saya mendapat bantuan beberapa puluh ribu rupiah dari beberapa kenalan saya. Dengan uang bantuan itu saya mulai mewujudkan rancangan saya tadi, yařtu dengan berjudi seperti biasanya. Beberapa kali saya kalah beberapa kali saya menang. Nah, belakangan ini saya sedang kalah besar, sampai-sampai hari ini saya tidak mampu membeli makanan,karena saya Cuma punya uang seratus rupiah. Tidak heran tuan, karena dengan sengaja saya malam ini pasang Cuma sepuluh rupiah, Sembilan rupiah lagi saya simpan buat hal-hal yang tak terduga. Demikianlah riwayat hidup saya.

SAMPULUNG :

Kamu suka kalau malam ini angka tiga-tiga yang keluar?

SI TULI :

(SETELAH DIJELASKAN) Terserah

SAMPULUNG :

Suka tap terserah. Kalau tuan mau keluarkan silahkan. Kalau tidak jangan keluarkan. Saya professional tuan, biasa menanggung kalah dan menang. Biasa menanggung kalah dan menang. Tapi paling sedikit terima kasih atas perhatiannya.

KURUS :

Kandungan alam malam ini mau muntahkan isinya…. PUAH!! (KEPADA SAMPULUNG) kalau boleh angka tiga tiga.

SAMPULUNG :

Berapa?

SI KURUS :

Tiga tiga. Kasihani mereka

SI TULI CS MENGANGGUK-ANGGUK DAN SEMUA TERTAWA

SAMPULUNG:

Karena Cuma tiga orang yang pasang tiga-tiga, begitu? Benar- benar angka baik buat Bandar. Lalu apa yang akan terjadi atas diri orang-orang yang sedemikian banyak percaya pada angka dua tujuh, yang barangkali ada diantara mereka telah menjual seluruh miliknya untuk uang pasangannya? 

SEBAGIAN BESAR ORANG MENYAMBUT GEMBIRA

PERTANYAAN ITU.

BANDAR:

Kedengarannya sang nasib suka memperhatikan kita manusia. Padahal ia sebenarnya tak lebih satu kekuatan yang tak terkendalikan bahkan oleh dirinya sendiri. Sebagai Bandar saya punya pengalaman puluhan tahun dan selama itu tidak pernah saya saksikan nasib berfihak kepada orang banyak, sekali waktu ya, tapi itu sangat jarang sekali, dan itupun suatu kekeliruan barang kali. Justru karena itu pekerjaan sebagai Bandar sangat menarik hati saya. 

KURUS:

Benar-benar kalian menghendaki angka dua tujuh malam ini dan menghendaki Bandar bangkrut, lalu melarikan diri membiarkan kalian menggigit jari

BEBERAPA SAAT TIDAK ADA JAWABAN

Kalau memang itu yang kalian inginkan Ini suatu kekeliruan. Pertarna, kalian tetap tak akan Menerimna uang kernenangan karena Bandar tidak mampu, ketua, Bandar akan melarikan diri atau mati karena kallan pukul, Coba, apa untung kalian

BEBERAPA ORANG

Bandar mati

KURUS:

Tapi tahu kalian apa akibatnya kalau Bandar mati? Sejak itu takan Pernah ada lagi permainan yang mengasyikkan ini. Bandar-bandar akan jera,mereka akan ganti pekerjaan. Lalu bagaimana dengan kalian?

SEMUA ORANG CUMA KEBINGUNGAN.

KURUS:

Pada siapa lagi kalian bisa menyandarkan harapan kallan yang terakhir? Apa kalian sanggup menghentikan impian-impian dan angan-angan kalian dan seketika mengubah diri kalian jadi lempengan-lempengan baja?

KEMBALI ORANG-ORANG PLANGA-PLONGO

KURUS:

Tidak bisa bukan? Saya tahu kemana impian dan angan-angan kalian sebagai rakyat kecil, pedagang-pedagang kecil,petani-petani kecil,pengemis pengemis kecil, dan saya memahaminya sebagai impian dan angan-angan yang wajar, yang manusiawi. Apakah tidak wajar kalau-kalau kalian punya angan-angan orang kaya pada suatu ketika? Sudah jelas itu sangat wajar karena kalian bukan kerbau atau babi. Apakah tidak wajar kalau kalian meminpikan rumah yang bagus, karena kalian pernah lihat ada sesama lain yang memiliki rumah semacam itu? Apakah tidak wajar kalau kalian memimpikan pakaian yang bagus, kendaraan, perabot yang layak, kesemnpatan berekreasi, karena kalian juga pernah tahu ada sesama lain, tetangga kalian barangkali yang memiliki semua itu?

KEMBALI ORANG-ORANG PLANGA-PLONGO

KURUS:

Tapi dengan penghasilan kalian yang kadangkala sangat kurang, jangankan untuk berpakaian, bahkan untuk makan pun kalian kurang, dapatkah kalian sampaí pada impian dan angan-angan kalian? Jelas tidak. sekarang kalian mengerti kedudukan kalian dan kedudukan bandar. Kalian bisa hidup kalau Bandar hidup,demikian pula sebaliknya. Jelas.

SUNYI

KURUS:

Saya hanya tidak bisa membayangkan apa yang akan kalian kerjakan apabila Banda-bandar dengan permainannya yang sangat alamiah ini lenyap. Sebagai orang yang berurusan dengan kemenyan dan bunga-bunga dan segala roh yang gentayangan, saya berusaha seobjektif mungkin berdoa. Barangkali dengan rengek kalian sang Nasib akan bisa terharu dan terbujuk untuk memenangkan angka dua tujuh.                   (KEPADA SAMPULUNG) Barangkali tuan sendiri suka angka dua tujuh malam ini sebagai angka mujur.

SAMPULUNG:

Saya tidak suka meramal apa yang akan saya putuskan.

SESEORANG:

Bagainana kalau memenangkan angka pasangan saya? Saya punya alasan yang cukup menarik,sehingga angka pasangan saya layak dimenangkan. Pertama saya adalah penganut soleh dari agama... 

BANDAR:

Inilah kekeliruan terbesar. Nasib tidak pernah tahu apa itu agama.

SESEORANG YANG LAIN :

Terus terang saya amatir dalam soal judi, baru malam ini saya pasang. Ini pun karena mendapat ancaman dari calon istri saya isteri saya yang meminta mas kawin berupa uang setengah juta rupiah dan...

BANDAR :

Tepat jam dua belas.

SAMPULUNG :

Sebentar ! (PADA TURAH) Perempuan

SUDAH TENTU BEBERAPA PEREMPUAN MERABA DIRINYA

SAMPULUNG :

Maksud saya, Turah!

TURAH :

Nama saya turah, tuan

SAMPULUNG :

Saya tahu

TURAH:

Dia tahu nama saya. Kau dengar sendiri dia tahu nama saya.SAMPULUNG :

Angka berapa pasanganmu1

TURAH:

Ah tuan, saya yakin tuan sudah tahu.

SAMPULUNG :

Kau cantik, Turah.

TURAH:

(KETAWA) Kau dengar lagi. Dia bilang saya cantik. Apa kata Saya? Saya cantik. Sebenarnya tidak perlu saya sadari saya sudah cantik.

SAMPULUNG:

Kau betul-betul bercahaya. Sedemikian rupa cahaya dirimu sehingga kamu sendiri silau dan tak pernah lihat apa-apa.

TURAH :

Sekarang kamu baru yakin berapa harga dan nilai saya.

BANDAR:

Saya ulangi , tepat pada jam dua belas.

TURAH :

Percaya saja, pasti malam ini kita punya, kalau tidak

lebilh baik kamu tidak usah pulang malam ini.

KOREP :

Lalu saya tidur dimana 

TURAH :

Di bawah pohon.

KOREP :

Banyak nyamuk.

BANDAR :

Putar

PAPAN ROLET DI PUTAR.

BANDAR :

Satu... dua.... Tembak !!

ORANG YANG SIAP MENEMBAK :

Tidak bisa. saya tidak tahu bagainana cara menembak !

SUDAH TENTU SEMUA ORANG MEMAKI.

BANDAR : 

Baiklah kita ulangi.siap Tbaiklah putar !

KEMBALI PAPAN ROLET DIPUTAR.BANDAR :

Satu... DOR !!

Aduh, gua ketembak ! Ada yang main main nih !

KEMUDIAN BANDAR ITU REBAH SETELAH MERASAKAN PELURU ITUMASUK KE PINGGIR JANTUNGNYA .

TURAH :

Jangan biarkan Bandar mati. Jangan biarkan Bandar mati "

SESEORANG :

Permainan belum selesai .

SESEORANG :

Panggil dokter 

BEBERAPA YANG LAIN JUGA SETUJU SUPAYA BANDAR JANGAN MATI DULU.

Jangan biarkan Bandar mati. Jangan biarkan Bandar mati "

KURUS :

Saya bangunkan dia. Bos ,bangun,bos. Malu dong!

SEMENTARA ITU SAMPULUNG MASIH MAIN MATA DENGAN TURAH .

BANDAR :

(SETELAH BERDIRI) Saya akan mencoba bertahan sampai permainan selesai . Tapi sebelum nya saya kutuk orang yang menembak tadi. 

SESEORANG :

si penembak iseng telah di serahkan kepada yang berwajib

BANDAR :

Jangan Tupa tanyakan motif nya. Kalau ternyata orang itu bernama Swis Link Panas, Panas. ( SEPERTI TAK BISA  MENAHAN RASA SAKIT )

ORANG -ORANG :

Bantu dia Segera ! jangan biarkan dia mati begitu saja 

KURUS : 

Tabah ,bos. Tabah bos ,Tabah.

BANDAR :

Jangan kuatir. Akan saya selesaikan tugas mulia ini.Terus terang kematiam serupa ini saya idam-idamkan sejak lama kematian dalam bertugas .

ORANG -ORANG :

Beri jalan ! Dokter datang !

BANDAR :

Tidak, tidak perlu. Saya akan sanggup bernapas sampai selesai,  saya membagikan uang buat pemenang-pemenang .

ORANG -ORANG :

Orang besar dia. Mulia orang itu. Hebat !

BANDAR : 

(BERSERU) Young lie! 

SESEORANG :

Ya oom

BANDAR :

Bagi yang adil dan semestinya ya

SESEORANG :

Ya, oom

BANDAR : 

Upacara penguburan tetap seperti rencana semula, Sudah tentuperubahan-perubahan boleh diadakan seperlunya

SUARA 1

Soal penguburan belakangan. Gampang !

BANDAR :

Tolong mintakan maaf Oom yang sebesar besar nya kepada handai tolan yang merasa Oom sakiti hatinya ya.

SUARA:

Saya maafkan. Beres. Sekarang percepat saja pemutarannya!! 

TURAH MEMBERIKAN ISYARAT KEPADA SAMPULUNG YANG DI TERIMA DENGAN PENGERTIAN . SEMENTARA ITU KOREP TELAH LAMA TIDUR.

BANDAR :

Tepat jam dua belas senapan supaya di periksa . apakah betul betul senapan angin.

SENAPAN DI PERIKSA KEMUDIAN DI PEGANG OLEH ORANG YANG AKAN MENEMBAK.

BANDAR :

Rolet silahkan di periksa PAPAN ROLET DI PERIKSA

BANDAR :

Satu dua . Tembak !!!

ANEH. PAPAN BULAT LAMA SEKALI BERPUTAR HAMPIR

BARU TERJADI PERUBAHAN PAPAN ITU BERHENTI

BERPUTAR.

SESEORANG :

Nol ...nol... Aias nol kembar !

RUPANYA TAK SEORANG PUN YANG KENA

SI TULI

Tepat. tepat.Saya sudah tahu . Kalah lagi. 

TURAH :

Bagaimana mungkin. bagaimana mungkin !! (TAMPAK SANGAT SERAM DAN KECEWA SEKALI )

SEMENTARA ORANG- ORANG MENINGGALKAN PENTAS KURUS DAN DUA TIGA ORANG MENGURUS MAYAT SI BANDAR.

TURAH:

Tuan tidak seharusnya menipu dengan cara kasar seperti itu.

SAMPULUNG :

Saya sudah memenuhi permintaan kamu. kamu minta nol

TURAH:

Saya minta delapan kembar sesuai dengan isyarat mu semalam dalam mimpi saya. Siang tadi tuan juga mengisyaratkan angka itu lewat nomor truk yang menabrak seorang laki-laki tua yang berusia delapan-delapan di depan rumah bernomor delapan-đelapan.

SAMPULUNG :

Saya kira kamu tidak bisa menangkap Isyarat-isyarat saya, đan tadi kamu mengisyaratkan nol dua kali (DENGAN ISYARAT JARI ).

TURAH :

Maksud saya delapan kembar.(KEMUDIAN MENANGIS) 

SAMPULUNG :

Sudahlah Turah. 

TURAH :

(TERUS MENANGIS ) Saya telah menjual semuanya ....saya telah kehilangan semua nya......

SAMPULUNG :

Semua nya? 

TURAH:

Saya telah menjual cincin dia... Saya telah menjual cincin saya, Saya telah menjual subang saya... Saya telah menjual kalung saya

SAMPULUNG :

Cuman itu? 

TURAH:

Banyak lagi. Tapi saya malas menyebutkan nya...

SI TULI :

(SEMENTARA ITU BERSAMA KAWAN-KAWANNYA ASYIK MEMPERHATIKAN ) Lainya, apa lainnya? yang paling akhir? 

TURAH :

Saya telah menjual sarung dia , saya telah menjual kain

SI TULI :

Mulai berbahaya

TURAH :

Saya telalh menjual kesenangan dia,, saya telah menjual kehormatan saya 

SI TULI :

Persis dugaan saya.

SAMPULUNG :

Kepada siapa ?

TURAH :

Kain saya jual kepada tukang loak..

SAMPULUNG :

Bukan. Kehormatan kamu!

TURAH :

saya jual kepada tukang loak..

SI TULI :

Akhirnya, Akhirnya? 

TURAH :

Saya kehilangan semuanya, saya tidak mendapatkan apa-apa

SAMPULUNG :

Nanti dapat..... jangan kuatir, sayang....

TURAH :

Dia tidak punya apa-apa lagi untuk dijual... saya juga tidak punya apa-apa lagi untuk dijual....

SAMPULUNG :

Kehormatan kamu, sayang

SI TULI : 

Satu dua tahun masih bisa.

KAWAN-KAWANNYA MENGANGGUK-ANGGUK.

SI TULI :

Kasihan dia.

KAWAN-KAWANNYA JUGA MERASA IBA SAMBIL MENGHAPUS AIR MATANYA.

SI TULI :

Mari kita beli,

TURAH

Tuan pikir begitu.

SAMPULUNG :

Dalam keadaan darurat perdagangan serupa ini bisa dimaklumi.

TURAH:

(SEPERTI MENJAJAKAN KUE) Kehormatan ! Kehormatan... 

KOREP:

(SAMBIL TIDUR MENGIGAU) Ssst, jangan bilang... 

TURAH EXIT DENGAN MENJAJAKAN KEHORMATANNYA DAN SAMPULUNG LEBIH DAHULU MENUTUP TABIR MERAH DARAH BIRU EXIT JUGA. BARU SETELAH ITU TULI CS EXIT

BABAK II

KOREP :

(MELAKUKAN SESUATU SECARA IMAJINER ) Jangan ada suara, Sssst jangan ada suara .

SETELAH BEBERAPA SAAT KOREP TERJAGA DARI TIDURNYA. BEBERAPA DETIK KEMUDIAN IA MEMASTIKAN KEADAAN DI SEKITARNYA. KEMUDIAN IA MENCARI SESUATU DI DALAM SAKU BAJUNYA. IA MENGELUARKAN SEPOTONG ROKOK DAN MENYALAKAN NYA.DENGAN BEGITU IA MERASA LEBIH HANGAT. 

SEMENTARA ITU ORANG-ORANG PEMASANG TADI MUNCUL SEPERTI AKAN MEMULAI ADEGAN SEBELUMYA.

ORANG-ORANG YANG MUNCUL BERTAMBAH BANYAK. JUGA BANDAR. JUGA L.KURUS.

KEMUDIAN SATU DEMI SATU LALU DUA DEMI DUA DAN SETERUSNYA KEMBALI EXIT, DAN KOREP MASIH MEROKOK. DAN ROKOK KEDUA DIDAPAT TIDAK JAUH DARI TEMPAT IA DUDUK, KEMBALI MEREKA MUNCUL. MEREKA MAKIN BANYAK, JUGA BANDAR, JUGA KURUS.

KEMBALI MEREKA EXIT SATU DEMI SATU DUA DEMI DUA DAN SETERUSNYA, DAN KOREP MASIH MEROKOK. KETIKA KOREP AKAN MEMUNGUT ROKOK KETIGA YANG AGAK JAUH DARI TEMPAT IA DUDUK MUNCUL SI TULI CS.

  SI TULI : Sssst jangan ribut saya akan buka satu rahasia. 

SI TULI CS MENDEKATI KOREP YANG BENGONG DENGAN SEDIKIT TAKUT

KOREP :

Siapa kamu ?

SI TULI:

Kuno betul pertanyaan kamu! kalau kamu masih juga pusing dengan pertanyaan kekanak-kanakan itu, kamu juga harus menjawab pertanyaan saya.Siapa kamu ?

KOREP :

Saya ? Korep. Kamu?

SI TULI:

Akuew (MEMPERKENALKAN KAWAN-KAWANNYA) Ini Jlbun dan ini Bok Jien

SI TULI :

Yang seorang , yang bernama Jibun bukan saja tuli tapi dikaruniai bisu.

KOREP  :

Syukur. Lalu yang satu lagi ?

SI TULI :

Tuli kepala , maksud saya tuli otak alias pandir.

KOREP :

Anugrah yang tidak kepalang tanggung.

SI TULI:

Terima kasih .sekarang bersiap-siaplah untuk mendengarkan sebuah rahasia. Saya harap, kamu tidak perlu terkejut.

KOREP :

Jangan kuatir. Saya bukan orang yang gampang terkejut. Saya penganut ajaran keselarasan alam.

SI TULI :

Baiklah. Siapa nama isterimu ?

KOREP:

Turah.

 SI TULI :

Ia telah menjual kehormatanya.

KOREP :

Maksudmu ?

SI TULI :

ia telah menjual kesenangan kamu.

KOREP :

Maksud mu ia telah menjadi seorang pelacur ?

SI TULI : 

Ya.

KOREP :

(SETELAH AGAK LAMA) Kamu tidak berbohong ?

SI TULI:

Ha ?

KOREP :

Kamu Sungguh -sumgguh ?

SI TULI:

Saya kira dia sungguh-sungguh,jadi pelacur.

KOREP:

Kau dapat kesan saya terkejut mendengar rahasia itu ?

SI TULI:

Tidak sama sekali

KOREP :

Saya bangga sekali bisa bersikap tenang sekalipun mendengar berita serupa itu.

SI TULI :

Memang kamu tabah seperti sebungkah batu

KOREP :

Tapi saya kira saya agak tersinggung.

SI TULI :

Tersinggung ? lalu apa yang akan kamu lakukan ?

KOREP :

Saya tidak suka onar. Lebih baik saya akan ambil jalan aman.

SI TULI:

Saya kira itu jalan yang baik

KOREP:

Secara baik-baik kami akan bercerai dan saya alkan kawin lagi.

SI TULI :

Kalau ternyata isterimu yang baru melacur lagi ?

KOREP :

Kami akan bercerai lagi dan saya akan kawin lagi.

SI TULI :

Kalau ternyata isterimu melacur lagi ?

KOREP :

Kamí akan bercerai lagi dan kemudian saya akan mati karena tua.

SI TULI :

Kalau begitu kamu tidak sedikit pun memiliki rasa cinta.

KOREP:

Beberapa menit yang lalu saya masih berkobar-kobar dengan rasa cinta, tapi sekarang saya insyaf bahwa ternyata saya selama ini hanya asyik bermain dengan khayalan sendiri.

SI TULI :

Benar dan selain itu kamu dihina oleh isterimu karena takut kaya.

KOREP :

Kalau kamu percaya sebenarnya saya Cuma putus asa selain menganggap hidup sederhana lebih kaya dari hidup kaya. Jangan dikira saya tidak pernah bercita-cita atau punya angan-angan mewah, memiliki rumah mewah, pakaian mewah, pangan mewah, kendaraan ,kesempatan rekreasi dan segala aneka kesenangan badan. Pernah seperti umumnya orang. Bertahun tahun lamanya saya duduk di atas kursi dan meja yang sama. sementara kepala kepala saya berpindah-pindah dari satu kursi ke kursi yang lain. Diatas kursi dimana saya sering melamun dan. mengantuk daripada menunaikan tugas kemudian saya menentramkan diri saya dengan suatu ketetapan bahwa hidup di suatu negeri yg kordp, di swatu masyarakat yang anti akal waras lebih baik bersikap masa bodoh atau jadi pemberontak sekali. Untuk yang terakhir ini saya tidak cukup punya keberanian dan ambisi.

SI TULI : 

Jadi kamu bersikap masa bodoh ?

KOREP :

Alangkah idealnya kalau bisa jadi sebongkah batu, tapi saya tidak bisa, atau sebaliknya alangkah idealnya kalau bisa jadi seorang pemberontak atau tokoh tragedy, tapi saya tidak bisa. Akhirnya jadilah saya satu tokoh batu

SI TULI :

Dan isterimu ?

KOREP :

Sejak bulan pertana berumah tangga, saya mengenalnya sebagai satu bungkah semangat yang tidak pernah padam. Seluruh hidupnya hanya ingin berbakti kepada nafsunya. Impian dan anganangan tentang kemewahan tidak pernah luntur dan ia percaya suatu ketika akan mendapatkannya. Tapi ia sadar kemewahan itu tak kunjung tiba selama mengharapkan dari kantor dimana saya kerja sebagai pegawai negeri rendahan,sebagai juru arsip. Mau menabung ? apa yang di tabung ? mau korupsi ? apa yang di korupsi? satu-satunya jalan adalah pasang lotre .

SI TULI :

Dan tidak pernah menang.

KOREP : 

Dan tidak pernah menang.

KETIGANYA KETAWA.

KOREP :

Apa yang Iucu ?

SI TULI : 

Kamu ini terbelakang sekali. Sementara perampok-perampok Sudah bosan dengan perampokannya, pencuri pencuri sudah bosan dengan pencuriannya, sementara mereka mengalihkan usaha dan kegiatannya dalam bentuk-bentuk lain,yang lebih sopan, tiba-tiba bagai kilat di siang bolong kamu ingin jadi peramnpok primitive dengan seblah pisau dapur karatan.Selainitu pada jaman sekarang cuma sekitar nol koma nol satu persen perampokan individual yang sukses, sedangkan pada perampokan kolektif angka keberhasilan hampir mendekati angka delapan puluh persen. Dengan lain perkataan kamu memerlukan bentuk organisasi, model dan sudah tentu tenaga personil yang memnenuhi syarat

KOREP :

Lalu apa kamu pikir lebih baik saya menggabung diri dengan gerombolan yang sudah ada ?

SI TULI :

Bisa juga begitu. Tapi nasib kamu tidak akan lebih baik daripada sekarang sebagai juru arsip. Untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak daripada hasil yang kamu peroleh sebagai pegawai kecil sangat bodoh kalau kamu memilih pekerjaan sebagai perampok kecil. Percayalah untuk itu kamu harus menjadi pegawai besar atau perampok besar. Tapi sementarajtu barangkali kamu tahu ada jalan lain)kecuali jalan pembesar-pembesar,dan jalan ini jalan pendek para dewa.

KOREP:

Menarik, Jalan macam apa itu?

SI TULI:

Tapi sebelum terlalu jauh tidakkah lebih dulu kamu ingin tahu siapa kami sesungguhnya ? 

SI TULI CS MEMANDANG ANEH KEPADA SI KOREP. 

KOREP :

(SETELAH AGAK BEBERAPA LAMA) Persetan! saya tidak

perduli siapa kalian sesungguhnya !

SI TULI:

(SETELAH AGAK LAMA) Kamu mulai maju korep.

KEMUDIAN SI TULI CS BERUNDING SECARA RAHASIA.

SI TULI : 

Jangan sekali-kali tanyakan kenapa selalu malam. Kita memang akan memasuki malam demi malam. Jangan sekali-kali tanyakan kenapa selalu gelap. Kita memang akan memasuki gelap demi gelap.

MEREKA BERJALAN MEMASUKI MALAM.

SI TULI:

Dalam gelap kita akan merasa lenyap, bersatu tanpa setahu kita

Terjalin oleh anyaman,cahaya di luar kita, Korep...korep...korep...korep!

SI PANDIR DAN SI BISU IKUT JUGA IKUT MEMANGGIL-MANGGIL.

SI TULl : 

Kamu setia, Korep. Mari lanjutkan perjalanan.

LANGKAH-LANGKAH MERASA SEMAKIN LAMBAT. MEREKA MENGHENTIKAN LANGKAH MEREKA. 

SI TULl:

40 hari 40 malam kita lalui sudah. sekarang kita seberangi tujuh lautan,dengan sampan angin dengan dayung nafas. Kita sibak malam demi malam.

MEREKA BERJALAN DIATAS LAUTAN.

TURAH MUNCUL MEMBAWA SENTER.

TURAH :

Korep ! Korep!

SI TULI:

Gemersik daun-daun di daratan jangan hiraukan.

TURAH :

Korep ! Korep!

SI TULI :

Lambainya menghalangi pandang.

TURAH:

Kamu jangan seperti bocah Ingusan marah tidak karuan. kamu sudah cukup dewasa untuk nengerti kenapa saya menjualkehomatan. Tidak seharussym menimpakan kesalahan kepada saya.

KOREP :

Kamu tidak salah.

TURAH :

Sudah pasti. Kamu yang salah.

KOREP : 

Baiklah, saya yang salah. Sekarang pulanglah. Segera saya akan pulang juga

TURAH:

Sendirian ? kamu biarkan saya pulang sendirian ?

KOREP :

Tentu saja tidak! kamu bisa mencari Seorang laki-laki dan bawalah kerumah. Di rumah kanu akan leluasa berzinah. Kalau para tetangga bertanya, katakan Saja bahwa lelaki itu paman kamu yang lama hilang, bekas romusha. Kalau petugas-petugas keamanan masih tidak percaya dan mereka akan mengintip beri saja mereka uang sogokan. Atau kalau kamu nau lebih aman kamu juga bisa berzinah dengan petugas-petugas itu, kemudian dengan tetangga-tetangga, kemudian dengan semua orang, termasuk para hakim, polisi dan jaksa. Juga guru-guru dan pembesar-pembesar. Dengan begitu semua orang serentak akan percaya bahwa lelaki itu adalah pamanmu dan bukan tidak mungkin orang-orang itu akan membuatkan patung peringatan buat Romusha.

TURAH: Kamu sendiri

KOREP :

Segera akan pulang.

MUNCUL SESEORANG.

KOREP :

Percayalah sekarang saya tidak takut kaya.

SESEORANG :

Turah....

TURAH :

Paman. Tidak sangka kita akan bertemu kembali. Mari pulang

TURAH DAN ORANG ITU BERPELUKAN.KEMUDIAN EXIT.

SI TULI : 

Sebentar lagi kita akan berjalan dalam lumpur.

SI BISU MENANGIS

SI PANDIR :

(MENYANYI) 

Kuburan dimana-mana mengang.

Kuburan dimana-mana menganga.

Bangkai-bangkai babi di sela-selannya.

Mayatnya lari entah kemana.

SI BISU :

(MENANGIS)

Kain kafan terhampar kemana-mana.

Kain kafan terhampar kemana-mana.

Wanginya cendana menyebar kemana-mana.

Mayat nya lari entah kemana.

SI BISU MENANGIS.

KOREP :

Saya mulai merasa haus.

SI TULI :

Sebentar lagi korep, sebentar lagi kamu akan mendapatkan semuanya. Setelah kita melewati hutan Iumpur nanti kamu akan menemukan sungai nanah dan kamu boleh minum sepuas puas kamu. Beres, korep. Tapi kamu perlu bersabar.

KOREP :

Betul-betul saya merasa haus. Bibir saya serasa pecah-pecah

SI TULI :

Untuk meníkmati kelezatan nanah tidak cukup bibir pecah tapi hangus, Korep, hangus. Kamu masih perlu belajar menahan napsu, baru apabila cukup padat, hamburkan sehingga kamu terbiasa rakus,

SI BISU MENANGISS 

PANDIR :

(MENYANYI)

Padang berambut hitam alangkah lebatnyna

Kutu-kutunya menyusut di tlap helainya

SI RISU BERHENTI MENANGIS DAN MENGATAKAN

SESUATU DENGAN GERAKAN. 

SI TULI : 

Iya, indah, memang indah. Bagaimana tidak indah suatu padang rambut lebat dengan beberapa kolam darah sementara udara penuh đengan nyamuk.

SI PANDIR :

(MENYANYI) 

Rawa aneka segala najis terhampar sampai cakrawala.

Singgat singgat. Segala macam ulat, melapisi permukannya

SI BISU MENGATAKAN SESUATU YANG MENYENANGKAN HATINYA.

SI TULI :

Ya, harum, memang harum, Betapa tidak wangi kalau segala macan bau dihimpun dalan satu wadah.

KOREP :

Lapar. Saya kira saya lapar.

SI TULI :

Haa? 

KOREP :

Lapar ! lapar !

SI TULI :

Sabar Korep. Sabar,korep. Segera kamu akan peroleh anugrah santapan yang selama hidup belum pernah kau nikmati. Supaya lahap bersantap nanti tahanlah napsu mu. Jangan khawatir. Kamu nanti boleh menyendok adonan najis sebanyak kamu mau: Lezat Korep. Lezat, tapi sabar. Kecuali itu,kamu juga boleh bebas memilih berbagai jenis campuran najis manusia,dengan cirik

ayam misalnya, atau lainnya. Sabar Korep, sabar. 

KOREP :

Perut saya terbakar panas, perih.

SI TULI :

Untuk menjadi perakus tidak cukup perut panas, tapi biarkan terus terbakar hangus, biarkan sampai terjadi kebocoran supaya kamu bisa makan non-stop.

MUNCUL BEBERAPA ORANG DENGAN KOSTUM SEPERTI

ABDI DALEM KRATON JAWA. SELAIN ITU MULAI

TERDENGAR SUARA GENDING TERTENTU YANG AMAT MAGIS.

SI TULI :

Sampai kita. 

KOREP :

Kita ke warung dulu. Saya sudah tidak tahan.

SI TULI :

Kenapa ke warung ? dalam beberpa detik nanti kamu akan di jamu dalam suatu acara kerajaan. Tapi sebelum itu mari kita istirahat sebentar.

MEREKA DUDUK. 

SI TULI :

Biarkan kita terlelap sebentar

MEREKA BERPEJAM.

KOREP :

 Dengan siapa kita akan bertemu ?

SI TULI :

Batu hitam

KOREP : 

Saya harap saja dia ramah.

SI TULI :

Ramah dan tidak ramah. Saya harap saja kamu tidak mudah tersinggung, krna beliau betul-betul batu dan nama beliau batu Hitamn.

SI BISU DAN SI PANDIR TELAH TERTIDUR PULAS.

KOREP :

Saya rasa saya mulai tidur

SI TULI:

Bagus. Saya sudah tidur sejak tadi.

KOREP :

Sama sekali saya tidak lagi bisa mendengar apa-apa

SI TULI :

Sekarang kamu tau,bagaimana rasanya menjadi orang tuli. Saya Sudah biasa.

KOREP : 

Dalam tidur ini saya tidak bermimpi apa-apa.

SI TULI :

Saya juga

SESEORANG YANG SEPERTI ABDI DALAM MENDEKATI KEEMPAT ORANG ITU.

SESEORANG :

Kami persilahkan Mas Korep dengan pengiring-pengiringnya masuk.

KOREP :

Terima kasih. Beliau tidak sibuk ?

SESEORANG :

Tidak

KOREP :

Syukur 

KEMUDIAN DENGAN DI ANTAR OLEH ORANG TADI

MEREKA MASUK ALIAS EXIT.

SESEORANG :

Silahkan bersantap đulu

KEMUDIAN MEREKA MUNCUL LAGI. MEREKA MENGAMBIL TEMPAT DUDUK MASING-MASING. KEMUDIAN BEBERAPA ORANG MUNCUL MENYAJIKAN MAKANAN YANG AGAKNYA BANYAK SEKALI JENISNYA.

SI TULI :

Kamu percaya sekarang kita akan makan besar ?

KOREP :

Sambal Goreng apa itu ? betapa lezat nya.

SI TULI :

Sambal goreng lintah dari tujuh muara sungai. Bumbu yang merah itu dibuat dari darah borok para pengemis yang mati di selokan-selokan.

KOREP :

Alangkah mahalnya

SI TULI :

Kau lihat tunpeng itu ?

KOREP :

Masih menggempulkan asap

SI TULI :

Seseorang haji yang kaya selama hidupnya menderita oleh penyakit mencret dan kemarin meninggal di kakus. Dan tumpeng itu adalah najisnya selama dua hari terakhir.

KOREP : 

Mudah mudahan haji itu massk surga, sampai menjelang matinya iya masih juga bersedekah.

SI TULI :

Dan mie-kuah itu kanu tau dibuat dari seals macam jenis cacing Yang di kumpulkan setiap malam jumat dari kepulauan Karimunjawa. Orang Cirebon bilang, mie dengan cara masak seperti itu mie koclok. Kuah nya agak kental karena campuran dahak dengan kencing kucing.

KOREP : 

Dendeng solo tidak ada artinya dengan dendeng ini

SI TULI :

Hati orang yang mampus, karena kecelakaan lalu lintas

KOREP :

Luar biasa.

SI TULI :

Sudah kenyang ?

KOREP :

Saya sudah lupa apa artinya kenyang.

SI TULI:

Maju, maju, Korep. Kamu berbakat jadi lintah darat. Kamu tahu minunan apa yang kamu minum ?

KOREP:

kalau tidak salah arak dari Berkonang.

SI TULI :

air kencing perawan tua, yang di awetkan selama 100 hari. Dan kerupuk yang tidak abis-abis kamu makan,itu tujuh cabik telinga ibu bawang putih dan bawang merah.

SESEORANG :

Embah yang cantik telah menunggu di dalam.

KEMUDIAN MEREKA EXIT.

SEKELOMPOK ORANG-ORANG TADI KINI TELAH BERUBAH MENJADI SEBUNGKAH BATU RAKSASA HITAM DENGAN SEDIKIT MENGANDUNG WARNA HIJAU LUMUT. BATU RAKSASA ITU KELIHATANNYA BERNAPAS

KOREP CS MUNCUL.

BATU HITAM:

Malam telah menempa kamu dengan ujian-ujian dan cobaan- cobaan dan kamu telah mampu memasuki hutan lumpur dan rawa segala aneka najis. Kamu telah bisa menikmati makanan segala aneka najis. Kamu siap jadi orang kaya, Korep ?

KOREP:

Terimakasih mbah

BATU HITAM :

Jangan terburu-buru berterimakasih. Benar kamu berani menjadi orang kaya ? Sakit lho jadi orang kaya

KOREP:

Hamba berani, mbah, benar-benar berani.

BATU HITAM :

Lalu apa yang akan kamu pertaruhkan sebagai modal ? Anak ?

KOREP :

Hamba belumn punya anak, mbah. Kecuali itu hamba sangsi akan bisa punya anak

BATU HITAM :

Lalu istri?

KOREP : 

Hamba kira, mbah.

BATU HITAM:

Kamu benar-benar akan menjadikan isterimu tumbal dan membiarkan istrimu mati ?

KOREP :

Bukan saja istri, mbah, anak pun hamba bersedia kalau hamba Punya anak. Juga kalau mungkin hamba persembahkan para tetangga.

BATU HITAM :

Kamu benar-benar siap, Korep. Benar-benar kamu bersedia kalau kamu mati roh mu akan selalu mengabdi kepada mbah ?

TIBA-TIBA BATU HITAM BERGERAK DAN MENCENGKRAM KOREP PADA TANGAN DAN KAKI DAN RAMBUTNYA.

KOREP :

Tanganku lepas.

BATU HITAM :

Kamu tidak lagi punya tangan.

KOREP :

Kakiku

BATU HITAM :

Bukan lagi milikmu.

KOREP :

Kepalaku juga lepas.

BATU HITAM :

Kamu tidak punya apa-apa lagi, korep.

KOREP :

Aneh, saya merasa enteng.

BATU HITAM:

Orang kaya kamu!!!!

SEMENTARA ITU BATU HITAM MENDERA DAN MEMUKULI TUBUH KOREP. DIA MERASAKAN SIKSAAN ITU SEBAGAI SUATU KEMATIAN YANG ANEH.

BABAK III

SUATU UPACARA PENGƯBURAN. KOREP YANG KAYA RAYA MEMAKAI KACA MATA HITAM.

KOREP :

Pada sore gerimis rincis-rincis seperti ini, upacara penguburan sempurna sekali seperti adegan dalam sebuah Film -garapan seorang sutradara yang cermat dan suka menyanyi. Bahkan bunga-bunga kamboja yang berserakan di tanah begitu rapih komposisinya, sementara tidak seekor cacing pun yang menodai keindahannya, sehingga tanah seolah-olah menjadi sehelai permadani buatan itali. Diatas, langit yang memercikan hujan gerimis menyelimuti dirinya dengan warna kelabu rata. Angin menahan diri. Pohon-pohon kaku meneduhi kuburan-kuburan yang bisu. para hadirin menundukkan kepala masing-masing, tapi kepala saya justru menoleh ke kanan ke kiri, ke atas dan ke bawah, bak seorang bintang film yang tidak berbakat.

SESEORANG MENYUARAKAN ADZAN. KEMUDLAN LIANG LAHAT PUN DI TUTUP DENGAN TIMBUNAN TANAH. SEMENTARA ITU MUNCUL SAMPULUNG. BEBERAPA SAAT IA MEMPERHATIKAN PERISTIWA ITU KEMUDIAN EXIT.

KOREP:

Betapa ingin saya mencucurkan air mata seirama dengan cucur gerimis, tapi saya tidak bisa, saya adalah bintang film yang sial selama dua belas tahun saya telah menguburkan dua belas orang istri tanpa sebab selain sebab ajal yang disegerakan sengaja oleh penguasa ajal. Sedemikian sering upacara semacam ini saya selenggarakan yang rata-rata memakan biaya kurang sedikit pada pesta perkawinan sehingga terasa mulai rutin, sementara tidak akan lama lagi saya akan menyelenggarakan lagi hal yang sama. Pada upacara yang sebelas ketika saya menguburkan istri saya yang paling bawel, istri saya yang tidak pernah berhenti bicara kecuali ketika tidur, saya masih sempat menangis sekalipun sebelum nya lama, saya persiapkan dengan cara mengundang dan mengumpulkan ingatan emosi saya ketika ibu saya meninggal, tapi pada sore hari ini seekor burung cemani telah menyampaikan

sehelai sapu tangan berbunga-bunga orange sambil membisikan ketelinga saya bahwa sudah waktu nya saya tidak perlu bersedih atau mencucurkan air mata baik asli maupun buatan, lantaran tanda-tanda tua telah tiba, tanda waktu bersuka ria. Kecuali itu seekor burung yang lain dengan nyanyian erotik nya mengabarkan bahwa dirumah telah menanti perempuan yang ketiga belas, yang lebih muda, lebih cocok dan amat cocok sebagai seorang istri seorang duda kaya raya seperti saya.

SEKETIKA UPACARA PENGUBURAN BERUBAH MENJADI PESTA PERKAWINAN. MUNCUL PENGANTIN PEREMPUAN DENGAN PENGIRING-PENGIRING NYA LANGSUNG DUDUK DI KURSI PENGANTIN.

SI TULI:

Kau puas, Korep?

KOREP:

Tidak kurang tidak lebih seperti yang dijanji kan. Upacara demi upacara, pesta demi pesta. Diantara bunga demi bunga saya bagai si tolol yang menyaksikan sukma saya terlepas melayang-layang dalam upcara hampa.

SI TULI:

Tapi kau lebih berwarna, Kore lebih berwarna.

KOREP: 

Mungkin lantaran terlalu banyak bunga di sekitar saya. Ya, saya kira emang lebih baik mengenakan kemeja dengan warna mencolok dari pada buru-buru berselimut kain kafan. Menari secape-cape nya dari pagi ke pagi kemudian barulah hening diam di bawah tanah.

SI TULI CS:

(MENYANYI) Bersama kami. Bersama kami,

MUSIK

HADIRIN BERJOGED. SI PANDIR MENYANYI LAGU MELAYU.

SESEORANG

Pengatin pidato. Pengatin pidato.

ORANG-ORANG:

Ya, pidato. Pidato.

SESEORANG:

Jangan seorang pun mau mewakili pengatin pidato. Selama tiga belas kali ia kawin ia selalu diwakili, kali ini ia harus mewakili diri nya sendiri.

SESEORANG:

Ya, kalau tetap ingin di wakili, saya bersedia, asalkan dini hari nanti saya juga tetap mewakili pengantin lelaki menyobek selaput perawan pengatin perempuan.

SEMUA ORANG BERSORAK.

KOREP:

Sebenarnya saya senang sekali kalau ada seseorang yang mewakili saya berpidato, tapi sayang ongkos nya kelewatan. Karna itu baik lah saya akan pidato supaya dini hari nanti saya leluasa sarapan berdua di atas ranjang, SEMUA ORANG BERSORAK

For art.

KEMBALI TERCIPTA UPACARA PENGUBURAN. SESEORANG MENYERUKAN ADZAN. SEMENTARA ITU SI TULI CS MENARI MELINGKARI PENGANTIN PEREMPUAN YANG KEMUDIAN MEREKA BAWA MENYELUSUP DIANTARA GEROMBOLAN ORANG-ORANG. JUGA SAMPULUNG MUNCUL LAGI, MEMPERHATIKAN MEREKA SEJENAK, LALU EXIT

KOREP:

Betapa ingin saya mencucurkan air mata seirama dengan cucuran gerimis, tapi saya tidak bisa, saya adalah bintamg film yang sial, selama tiga belas tahun saya telah menguburkan tiga belas orang istri tanpa sebab-sebab ajal yang jelas selain sebab ajal yang di sergapkan secara sengaja oleh penguasa ajal. Sedemikian sering upacara semacam ini saya selenggarakan, yang rata-rata memakan biaya sedikit dari pada pesta perkawinan, sehingga mulai terasa rutin, sementara tidak akan lama lagi saya percaya saya akan menyelenggarakan hal yang sama. Pada upacara yang kedua belas ketika saya menguburkan istri saya yang paling menjengkelkan, terus terang sampai saat ini penguburannya saya masih belum puas memaki-makinya, saya mulai membiasakan tidak menangis, tidak mencucurkan air mata meskipun saya telah berusaha payah mengenangkan segala peristiwa-peristiwa yang paling menyedihkan, dan pula sore ini juga seperti upacara yang baru lalu seekor burung gagak cemani telah menyampaikan pada saya sehelai sapu tangan bebola-bola orange sambilmembisikkan ke telinga saya bahwa sudah waktunya saya tidak perlu bersedih atau mencucurkan air mata baik asli maupun buatan, lantaran tanda-tanda tua telah tiba, tanda waktu bersuka ria. Kecuali itu seekor burung yang lain dengan nyanyian nya yang mengandung syahwat mengabarkan bahwa dirumah telah menanti perempuan yangb keempat belas yang lebih muda, lebih ranum dan amat serasi bersanding di sisi seorang duda kaya raya seperti saya.

KEMBALI TERCIPTA PESTA PERKAWINAN. SI TULI CS MENARI MENGITARI PENGANTIN PEREMPUAN YANG KEEMPAT BELAS.

KOREP:

Terima kasih saya ucapkan kepada saudara-saudara sekalian yang telah dengan setia dan murah langkah selalu hadir pada setiap upacara yang saya selenggarankan, baik upacara kematian maupun perkawinan seperti malam ini. Kemudian perkenankanlah saya memperkenalkan dengan bangga istri saya yang sudah bisa saya pastikan akan saya cintai secara berlebihan dan tidak kepalang tanggung lebih dari yang sudah-sudah. Dengan bahagia saya ingin mengatakan juga bahwa berbeda dengan istri-istri saya yang telah di kuburkan, istri saya kali ini lebih lincah, lebih suka lenggok-lenggok dan murah ketawa.

ISTRI NYA KETAWA.

KOREP:

Tidak salah, bukan? saudara-saudara saksikan sendiri dengan telinga dan kepala sendiri. Ia ketawa begitu gampang seperti bocah berusia dua tahun.

SESEORANG:

Sungguh-sungguh ketawa? ISTRI NYA KETAWA.

SESEORANG:

Tidak di buat-buat?

ISTRI NYA KETAWA.

SESEORANG:

Luar biasa.

SESEORANG:

Istri ideal.

SESEORANG:

Manusia teladan.

SESEORANG:

Orang seperti dia betul-betul tahu bagaimana harus hidup.

SESEORANG:

Nah. habat ya? Tidak cape? (Rame)

ISTRI NYA KETAWA MAKIN MENJADI-JADI.

KOREP:

Sudah, sayang.

IA MASIH KETAWA.

KOREP:

Sudah cukup, sayang, lebih dari cukup.

IA MASIH KETAWA.

KOREP:

Lihat kangmas, sayang. (KETAWA)

Istri saya berhenti ketawa kalau saya ketawa.

MELIHAT KOREP TERTAWA MENDADAK ISTRI NYA BERHENTI KETAWA.

ISTRI:

Minum...

KOREP:

(SAMBIL MELAYANI ISTERINYA) Iya sayang, minum, minum, saying. Kecuali itu perlu saya beritahukan dengan sangat suka cita dan rasa syukur bahwa pengantin perempuan sedang keadaan hamil tiga bulan.

ISTRI:

Makan. Saya lapar.

KOREP:

Makan, sayang? sebentar ya?

ISTRI:

Sekarang.

KOREP:

Ya, sekarang. (KEPADA SESEORANG) Gombloh, sediakan makan buat Nyonya. Jangan lupa pete bakar dan sambalnya.

ISTRINYA TIBA-TIBA MENJERIT.

KOREP

Ada apa sayang?

ISTRI:

Saya tidak mau lalap pete hakar.

KOREP:

Timun rebus, sayang?

ISTRI:

Emoh.

KOREP:

Kacang panjang yang paling panjang?

ISTRI:

Saya tidak suka yang panjang-panjang.

KOREP:

Kita potong-potong, sayang.

ISTRI:

Saya tidak suka yang di potong-potong.

KOREP:

Terong utuh?

ISTRI:

Tidak baik buat syahwat.

KOREP

Kubis?

ISTRI:

Emoh.

KOREP:

Kangkung?

ISTRI:

Saya tidak suka jadi penidur.

KOREP:

Lalu apa sayang?

Istri:

Pete bakar.

GOMBLOH SEGERA MELAYANI ISTRI KOREP

KOREP:

Sekali lagi saya ulangi. Dengan sangat bangga saya umumkan penonton bahwa perempuan yang molek ini sedang dalam kaeadaan hamil tiga bulan. Mulai saat ini dengan sengaja saya hanya akan memperistrikan gadis-gadis hamil yang di tinggalkan suaminya, karena pengalaman menunjukkan jarak antara kursi pengantin dengan lobang kuburan luasnya kurang lebih tujuh delapan bulan. Akibat nya istri-istri saya tidak pernah mendapatkan waktu dan kesempatan yang cukup untuk melahirkan anak.

SI TULI:

Untuk keempat belas kali ini kamu boleh tidur bersama istrimu lebih lama dari pada yang sudah-sudah, Korep. Begitu kata Embah.

KOREP:

Terima kasih kalau itu benar. Sambil lalu dari pada lupa. Saya minta agar kamu membuat peti-peti dengan ukuran khusus karena istri saya yang molek ini mempunyai ukuran khusus.

SI TULI:

Beres, Korep, soal peti-peti soal sepele

ISTRI:

(SAMBIL MAKAN) Soal sepele memang. Tapi saya yang akan menempatinya bukan barang sepele. Saya tidak mau menempati peti-peti dengan model itu-itu juga. Setidak-tidaknya saya memerlukan hiasan lebih banyak. Juga jangan pergunakan kayu sembarangan hingga pada minggu ketiga di bawah tanah nanti wajah saya sudah penuh oleh cacing, ulat, dan rayap. Dan saya minta supaya agak luas sedikit sehingga saya lebih bebas bergerak.

KOREP:

Makan saja yang enak, sayang, soal peti mati biarlah kangmas urus sendiri. Bagaimana dengan sambel nya sayang?

TIBA-TIBA ISTRINYA MENJERIT LAGI.

KOREP:

Pedas, sayang? pedas?

ISTRI:

Nggak. Pelayan kurag ajar itu lupa membawa sambel dan sejak tadi rupanya saya tidak sadar makan pete bakar dengan sambel khayalan.

KOREP:

(BERSERU KERAS) Gombloh...!

GOMBLOH: 

Saya majikan.

KOREP:

Masak sambel buat ndoro putri.

GOMBLOH:

Maksud majikan saya harus membuat sambel lagi?

KOREP:

Dimana kamu letakkan sambel itu?

GOMBLOH:

Di meja makan. Dan....

ISTRI:

Kau mau memfitnah saya?

GOMBLOH:

Tidak, ndoro putri, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya telah meletakkan sambal itu di meja makan dan saya tidak tahu siapa yang menghabiskan nya.

KOREP:

Saya juga tidak tahu siapa yang menghabiskan sambal itu.

ISTRI:

Saya juga tidak tahu, kecuali kalau benar saya yang memanfaatkannya.

Iyem:

Saya sendiri tidak begitu heran karena peristiwa-peristiwa ganjil seperti ini bukan sekali dua kali terjadi dirumah ini. Selama saya kerja saya telah mengalami peristiwa ganjil sebanyak tujuh kali rata-rata setiap hari. Karena itu apa yang ganjil di rumah ini buat saya tidak ganjil sama sekali. Beberapa minggu yang lalu pak Kusno, petugas khusus untuk segala macam burung kesayangan ndoro kakung.

PAK KUSNO:

Saya yang beranama pak Kusno, ndoro putri.

GOMBLOH:

Pak Kusno tiba-tiba hilang ketika sedang memanjat tiang burung nomor 199 di pekarangan belakang Eatsiigga. Bukan begitu, pak Kusno?

PAK KUSNO:

Ya, ndoro putri, saya tiba-tiba kok bisa hilang dan semua orang mencari saya. Selama hilang saya ingin sekali salah seorang di antara mereka segera menemukan saya, tapi mereka sukar menemukan saya

ISTRI:

Apa yang ganjil selain itu? 

COMBLOH:

Tidak ada seperti kata saya tadi karena semua yang ada dirumah ini serba ganjil. Saya tidak tahu apakah ganjil kalau ada seseorang lelaki menjerit-jerit pada suatu tengah malam karena tiba-tiba betisnya yang kanan hilang.

ISTRI:

Betisnya hilang selama-lamanya?

GOMBLOH:

Betisnya hilang tapi Cuma beberapa jam.

PAK KUSNO:

Yang pernah kehilangan betis dirumah ini ndoro kakung ndoro putri.

KOREP:

Itu tidak benar sayang. Itu hanya kekeliruan semata-mata.

Maksud saya tidak benar saya kehilangan betis saya yang kanan malam itu. Yang sebenarnya.... Yang sebenarnya.....

SI TULI:

Betis saya Cuma kesemutan

KOREP:

Betis saya Cuma kesemutan. Cuma itu.

GOMBLOH

Lalu ketika pagi-pagi buta ndoro berteriak-teriak kehilangan kepala?

SI TULI

sebenarnya kepala saya Cuma pusing.

KOREP:

Sebenarnya kepala saya Cuma pusing.

GOMBLOH:

Dulu ndoro tidak bilang begitu. Bahkan sore-sore kemarin ndoro masih suka menjerit-jerit seperti anak kecil yang bosan dongeng mainannya tapi tak jelas apa yang di minta nya. Dan sehari sebelumnya kami semua heboh karena tiba-tiba ndoro tenang tertidur di wuwungan rumah.

SI TULI MEMBISIKKAN SESUATU KE TELINGA KOREP.

 

KOREP:

Ketika muda saya pernah bercita-cita menjadi pemain sandiwara dan sore kemarin tøiba-tiba kesekian kali nya saya ingin mencoba lagi bakat yang terpendam, itulah sebabnya saya menjerit-jerit seperti anak kecil. Sedangkan di atap rumah sama sekali saya tidak tidur, kamu memang tidak paham, tapi saya sedang mandi matahari.

PAK KUSNO EXIT DENGAN SANGKAR BURUNG DI TANGAN.

GOMBLOH:

Lalu apa yang terjadi seminggu yang lalu, ndoro ?

KOREP:

(DENGAN SUARA SI TULI) Kamu kira saya terjebak telanjang bulat nongkrong di bawah pohon sawo?

GOMBLON: 

Bukan saja nongkrong telanjang tapi ndoro juga menyanyi.

KOREP:

(DENGAN SUARA SI TULI) Kamu kira orang itu saya

GOMBLOR:

Setidak-tidaknya begitulah pengakuan mata saya. Tapi sambil lalu kenapa tiba-tiba suara ndoro berubah?

KOREP:

Telingamu banyak tahinya sehingga kurang stabil.

GOMBLOH:

Ndoro?

KOREP:

Kenapa?

GOMBLO:

Cuma mau ngecek apa betul suara ndoro dan ternyata betul. Kalau tentang yang nongkrong sambil menyanyi itu ndoro.

Kalau bukan ndoro siapa

KOREP:

(DENGAN SUARA SI TULI) Rupanya bukan saja kupingmu yang

penuh dengan tahi tapi juga matamu ternyata belekan sebesar kaca mata. Dengar!

GOMBLOH

Nanti dulu.

KOREP

Apa?

GOMBLON: 

Sebentar, ndoro...

KOREP:

Ada apa kamu sebenarnya?

GOMBLOH:

Benarb memang telinga saya tidak stabil. Jadi bagaimana orang yang nongkrong tadi, ndoro?

KOREP:

(DENGAN SUARA SI TULI) Orang itu bukan saya. Orang itu adalah kamu sendiri!

GOMBLOH:

Saya?

KOREP MEMBERI UANG PADA GOMBLOH

GOMBLOH:

Oya saya. Memang saya. Sekarang saya baru ingat. Mata saya belekan.

KOREP:

(DENGAN SUARA SI TULI) Betul-betul ingat kamu!

GOMBLOH:

Mmm...(SETELAH MENERIMA UANG LAGI) Oya ingat, ingat, selalu ingat.

KOREP

(DENGAN SUARA SETULI) Sama sekali tidak ada keganjilan dan keanehan dalam rumah ini, bukan?

GOMBLOH:

(SAMBIL MENERIMA DAN MEMERIKSA UANG PEMBERIAN MAJIKANNYA ). Tidak ada. Sama sekali, fitnah. Hanya orang arang dengki saja, orang-orang iri pada kekayaan ndere vans suka menyebar-nysbarkan berita busuk seperti itu. Bukan begitu, ndoro?

KOREP:

Memang begitu (MENDEKATI ISTERI) Nah aman eskarang sama sekali tidak benar semua keganjilan-keganjilan yang banyak di ceritakan tentang rumah ini.

BEBERAPA ORANG MENGGANTIKAN PERABOT RUMAH IT DENGAN PERABOT YANG BARU,

GOMBLOH:

Maafkan, ndoro, saya masih ingin bertanya tentang kejadian sebelas hari yang lalu ketika...... (SI TULI OS MEMUKULNYA) Aduh, ada yang pukul saya! Ada yang pukul saya! (SI TULI CS BERHETI MEMUKUL)

ISTRI:

Apa yang terjadi?

GOMBLON

Tiba-tiba saya di keroyok, Kepala saya di pukuli.

KOREP:

Lebih baik...

ISTRI:

Saya ingn tahu siapa yang memukul kamu?

GOMBLOH:

Bagaimana saya tahu!

ISTRI:

Lalu bagaiman kamu tahu kamu di pukuli?

GOMBLOH

Kepala saya sakit berkali-kali.

KOREP:

Sayang....

ISTRI:

Lalu siapa yang memukuli kepala yang sial itu?

GOMBLOH: 

Saya tidak tahu. Yang saya tahu kepala saya di pukuli tapi saya tidak tau siapa yang memukuli.

ISTRI:

Aneh.

GOMBLOH:

Itulah di sebut-sebut cerita ganjil. (SI TULI CS MEMUKUL LAGI)

GOMBLOH:

Aduh saya di pukul lagi!

ISTRI

Dia dipukuli lagi! dia dipukuli lagi! sakit?

GOMBLOH:

(SETELAH MENERIMA UANG) Tidak sama sekali tapi saya memang sakit. (TERIMA UANG LAGI) Sakit ingatan. Ya memang kadang kala saya suka gila

ISTRI:

Jadi kamu tidak di pukuli?

GOMBLOH:

Siapa bilang ada yang di pukuli?

ISTRI:

Ha? (MENANGIS)

KOREP:

Kenapa, sayang?

ISTRI:

Bingung. (MENANGIS) tadi dia bilang dipukuli, sekarang dia bilang dia gila. (MENANGIS)

KOREP:

Tidak usah bingung, sayang. Memang dia gila.

ISTRI:

Tapi saya lebih suka dia dipukuli hantu.

KOREP:

Lain kali, sayang, lain kali, kali ini biarkan dia gila (KEPADA COMBLOH) cukup, Gombloh. Sekarang pimpin orang menyusun peralatan baru.

GOMBLOH:

Baik, ndoro

KOREP

Sekarang mari kita atur perabotan rumah baru ini sesuai dengan selaramu, sayang. Saya sudah bisa memastikan seleramu adalah selera orang-orang menteng, itu keliahatan pada caramu memainkan alis mata.

ISTRI:

Kang mas genit, tau bagaimana membikin saya meluap-luap.

KOREP:

Kang mas bersumpah lama dalam hati ingin selalu membahagiakan kau, sayang, ketika dulu kita bersanding dikursi pengantin kang mas telah memutuskan untuk mencintaimu secara berlebihan

ISTRI:

Luar biasa kang mas.

KOREP:

berep manggil kacung

(KEPADA SESEORANG) bilang pada tokeh bahwa kami tidak memerlukan tempat tidur yang baru, karena yang dia kirim tahun lalu masih kokoh. 

ISTRI:

Tarepa

Tapi saya mau yang baru.

KOREP:

Saya kira sama saja, sayang. Ranjang baru dengan tehnik lama tidak ada artinya sama sekali.

ISTRI:

Tapi saya ingin yang baru.

KOREP:

Alasan nya, sayang

ISTRI:

Saya mau, saya ingin.

KOREP:

sebentar

Meyakinkan.alasan paling jitu. Segera, sayang.

ISTRI:

(MENGGELIAT) selain itu...

KOREP:

Kenapa tiba-tiba kamu mengeliat-geliat seperti cacing

ISTRI:

Saya punya tehnik baru.

KOREP:

Istriku. Istriku. Kenapa itu tidak kau pamerkan ketika kita berbulan madu dulu?

ISTRI:

Tehnik ini hasil dari permainan rutin kita dan pengalaman dengan pacar saya dulu,

KOREP:

Cung, segera kembali ke toko dan entah dengan cara apa kamu bawa secara kilat sebuah tempat tidur yang baru

SESEORANG:

Sekarang juga, tuan?

KOREP:

Dalam waktu satu jam ini dan langsung di pasang. Segera akan kami pergunakan

SESEORANG:

Baik, tuan.

ISTRI:

Tapi kamu lupa, kangmas

KOREP:

Lupa apa? apa kamu punya ide lain untuk menggantikan kasur dengan rumput?

ISTRI:

Bukankah istri mu sedang mengandung?

KORE

(SETELAH LAMA DIAM KEMUDIAN MENGANGGUK-ANGGUK)

ISTRI:

Tempat tidur baru itu akan kita pergunakan tahun depan.

Kangmas bisa bersabar, bukan?

KOREP:

Sebenarnya tidak, tapi mau apalagi?

SESEORANG:

Tuan, tuan suka sofa ini?

KOREP

Tanya kan nyonya

SESEORANG:

Maaf, nyonya suka sofa ini? saya kira kemewahan sofa ini sangat sebanding dengan keindahan wajah nyonya.

ISTRI

Saya suka. Semuanya saya suka. Menakjubkan. Semua kemewahan, angan-angan disusun diruangan ini. Luar bisa.

SESEORANG:

Mengenai warna nya nyonya?

ISTRI:

Menyegarkan. menyegarkan. Dalam ruangan seperti ini rasanya waktu tertegun hanya pada keindahan. Tidak ada siang dan tidak ada malam.

SESEORANG:

Boleh saya padamkan lampunya, nyonya?

ISTRI:

Cobalah, sekalipun saya sudah bisa membayangkan keindahan akan berlipat dua tiga kali.

BEBERAPA LAMPU PADAM. DISUDUT-SUDUT KAMAR EMBAH CANTIK DAN PASUKANNYA.

ISTRI:

Tanpa wewangian saya yakin keindahan ruangan ini mampu menyebarkan aroma yang halus memasuki pernafasan kita. Dan wajah bopengan akan berubah menjadi wajah cantik lantaran pengaruh sekitar ini (TIBA-TIBA MEMELUK SUAMINYA ). Terima kasih kangmas, terima kasih.

KOREP:

Tidak perlu kamu berterima kasih, sayang, semua ini memang kepunyaan mu. kangmas sudah merasa sangat bahagia sekali apabila kamu puas dengan semua ini.

ISTRI:

Terima kasih, karna saya boleh tidak berterimakasih. Tapi maafkan saya tetap berterimakasih. Jauh dalam hati saya sebelumnya saya telah mengucapkan terima kasih pada tuhan.

SUNYI. (Ketawa)

TIBA-TIBA ISTRI LARI DAN DUDUK.

ISTRI:

saya mau berbaring (BERBARING) saya mau jongkok (JONGKOK) saya mau melompat-lompat (MELOMPAT) saya mau lari-lari (LARI SAMBIL KETAWA KEKANAK-KANAKAN).

ISTRI terus berlari

KOREP:

Mengagumkan sekali. Belum pernah saya bertemu dengan orang seperti dia. Rupanya waktu tidak pernah menyiksa dia perempuan itu. Sesekali saya pernah melihat ia bersedih, malah menangis, tapi sedikitpun tidak berbekas pada wajah dan lakunya. Benar-benar menakjubkan.

ISTRI:

(SAMBIL LARI) kangmas! kangmas! tolong! saya lari kencang sekali, terlalu kencang barangkali! tolong! saya tidak bisa berhenti! Tolong Tolong

KOREP MENANGKAP ISTRI NYA SEHINNGA MEREKA BERPELUKAN. BEBERAPA SAAT MEREKA BERPELUKAN SAMBIL MEMANDANG. KOREP BERFIKIR KERAS.

BATU HITAM:

Barangkali inilah persembahan kamu yang paling sempurna. Seorang perempuan muda, hampir hampir tanpa dosa, hampir hampir bocah.

KOREP:

Tapi juga barangkali inilah persembahan saya yang tidak disertai ketulusan saya.

BATU HITAM:

Embah tidak akan pernah merasa rugi karna hatimu tidak tulus. Tapi sungguh persembahan kali ini betul-betul mulus. Sudah lama sekali embah jatuh hati pada sekumtum bunga di sebuah hutan di selatan tapi tidak pernah mendapat jambangan yang sebanding dengan keindahan aromanya, terimakasih Korep, kamu telah mempersembahkan jambangan yang saya cari. Jangan kamu kira embah tidak tahu kamu berat melepaskan jambangan yang berharga ini, tapi embah kira kamu juga mendapatkan kekayaan yang sebanding sebagai ganti nya. Belum pernah kamu sekaya seperti sejak kamu bersanding dengan hambangtan bunga saya kekayaan sekarang hanya bisa di sertai oleh tokoh-tokoh dongeng. begitu pun juga pengorbanan kamu tidak kepalng tanggung dan tidak masuk akal

KOREP:

Saya tidak pernah bisa melupakanya.

 

BATU HITAM:

Buat apa lupa? kamu tidak perlu berusaha melupakannya sebab ia toh tetap ada, kalau kamu kangen datanglah ke tempat embah. Di salah satu kamar embah, kamu bisa menikmati puncak keindahan seni dari sebuah jambangan bunga dan dialah istri mu.

KOREP:

Saya tidak pernah habis mengerti bagaimana kamu bisa begitu tenang menghadapi kematian.

ISTRI:

Lalu apa ada cara lain?

KOREP:

Ketika kamu menghembuskan nafas mu yang penghabisan kamu masih dalam keadaan ketawa.

ISTRI:

Saya bertanya apa ada cara lain? sambil menangis begitu? mungkin saja ada beberapa orang yang menghembuskan nafas nya yang terakhir justru ketika sedang menangis tapi pasti punya alasan yang kuat. Saya juga punya alasan yang kuat kenapa saya melepaskan nyawa saya justru saat saya ketawa, dengan tidak lupa mempertimbangkan agara kau sebagai suami nhahagia menguburkan jenazah saya.

BATU HITAM:

Betul-betul jambangan yang paling sempurna.

KOREP:

Apa alasan itu? Karna saya suka ketawa.

KEDUANYA KETAWA.

ISTRI:

Lampu masih padam

KOREP:

Lampu.

KEMBALI LAMPU TERANG SEPERTI SEBELUMNYA.

BATU HITAM:

(SAMBIL EXIT) anakmu lucu sekali, Korep!

KOREP:

Betul-betul kamu senang dan puas sayang?

ISTRI: 

Senang, puas, mantep, marem. Kangmas sendiri senang dan puas atas kepuasaan saya.

KOREP:

Senang, puas, mantep, marem.

ISTRI:

Rasanya hidup tidak perlu bernafas dalam ruangan yang mewah indah ini.

KOREP:

Boleh kang mas Tanya lagi.

ISTRI:

Jangan Tanya, yang lain pun boleh.

KEMBALI KEDUANYA TERTAWA.

ISTRI:

Tanya apa?

KOREP:

Bagaimana perasaan mu sekarang setelah hidup berlimpah kekayaan dan kemewahan?

ISTRI:

Bagaimana ya? (KETAWA) bagaimana perasaan saya setelah saya hidup berlimpah kekayaan? terus terang pertanyaan ini tidak begitu menarik. Tidak istimewa. (LAMBAT)) bagaimana perasaan saya setelah saya hidup berlimpah kekayaan?

KOREP

Bagaimana?

ISTRI:

Biasa.

KOREP:

Biasa bagaimana?

ISTRI:

Biasa, biasa.

KOREP:

Maksud kangmas, kamu ntidak punyan rasa senang misalnya?

ISTRI:

Ada. Punya.

KOREP:

Barangkali juga rasa bangga?

ISTRI:

Ya, bangga.

KOREP:

N....

ISTRI:

Lalu apa? perasaan-perasaan semacam itu sama sekali tidak istimewa. Saya memiliki semua yang saya miliki sekarang sejak saya menangis dan tertawa di dunia ini pernah saya hidup dalam keadaan miskin yang tidak kepalang tanggung toh saya tidak pernah kehilangan perasaan-perasaan itu. Pendeknya saya tidak pernah mau berubah hanya karena soal-soal sepele. Saya suka ketawa, dan kesukaan saya ini tidak mengenal waktu dan tempat.

KOREP:

Apa kamu tidak pernah memiliki atau mengalami semacam perasan sedih atau menderita atau...

ISTRI:

Suatu pagi seekor burung kesayangan mu tidak menyanyi sama sekali, menyimpang dari biasanya. Hal itu telah menyebabkan pak Kusno seharian murung. Menurut kangmas apa yang terjadi sebenarnya?

KOREP:

Burung itu sedang merindukan kembali kebebasannya.

ISTRI:

Kangmas terlalu mengada-ada seperti penyair berdarah bangsawan. Yang pasti burung sedang sakit. lya, kan?

KOREP:

Saya kira.

ISTRI:

Memang burung itu sedang sakit dan sementara sakit burung itu mengalami suatu kenikmatan yang lain. Kenikmatan itu kadarnya hampir sama dengan yang pernah ia alami, ketika sedang menyanyi tapi ia tidak begitu suka krna kenikmatan yang terbit dari kesedihan terlalu banyak memakan energy selain merusak keanggunan nya sebagi burung. Semua itu sama sekali tidak berbeda dengan saya. Dan esok nyapak Kusno makan siang lebih dari porsi nya karena paginya burung itu kembali menyanyi merdu sekali. 

KOREP: 

Luar biasa.

ISTRI:

Sama sekali tidak. Semua itu sangat wajar sekali, kecuali buat orang yang telah kehilangan kewajaran nya selama hidup rupanya kangmas Cuma bermimpi sehingga tidak pernah merasa pasti dan selalu kehilangan ukuran.

SI TULI CS MENARI-NARI SAMBIL MENYANYI SEBUAH LAGU YANG "ANEH" DENGAN ALAT MUSIK NYA.

ISTRI:

Kamu goyah, kangmas. Dulu kamu ingin bertahan seperti rohaniawan, kemudian tiba-tiba oleh alasan yang sepele kamu berubah menjadi seorang hartawan tapi selama itu kamu lupa menempatkan diri.

TIBA-TIBA PENTAS PENUH ORANG, TERMASUK ISTRI ISTRINYA YANG TELAH DI KUBURKAN MEREKA SEDANG MENGUCAPKAN SESUATU KEPADA PENONTON ΤΑΡΙ MEREKA TAK PUNYA SUARA. SEMENTARA ITU SI TULI CS MENYUSUK-NYUSUK DIANTARA MEREKA SAMBIL MENYANYI.

KOREP:

Istri ku, siapa nama mu?

ISTRI:

Kangmas kadang tidak sopan. Baru menjelang saya masuk kelubang kuburan kangmas Tanya nama saya. Nama itupun hanya kangmas butuhkan Cuma untuk seminggu saja.

KOREP:

Sumpah, saya butuh nama mu buat selama-lamanya.

ISTRI

Jangan berlebih-lebihan. Tanpa sumpah pun saya akan beritahu nama saya,

KOREP:

Siapa?

ISTRI:

Turah.

KOREP:

Turah?

ISTRI:

Kenapa?

KOREP:

Tidak. Turah. Terima kasih. (TIBA-TIBA) sialan! tiba-tiba bibir saya kesemutan.

ISTRI:

Kamu tidak tahu belakangan ini kamu telah kehilangan arti dari setiap kata-kata yang kau ucapkan. Keadaan mu sungguh-sungguh menyayat hati, kangmas.

KOREP:

Jangan tinggalkan saya,

ISTRI:

Selalu permintaan mu yang tidak tidak. Bagaimana mungkin saya tidak meninggalkan kamu atau sebaliknya?

KOREP:

Setidak-tidaknya...

ISTRI:

Setidak tidaknya tidak usah dikuburkan begitu di balsem. Begitu.

KOREP:

Tidak tahu. Tapi saya mohon jangan tinggalkan saya.

ISTRI:

Kamu menderita sekali parti. Selalu permintaan mu anch-anth. Bagaimana mungkin kamu mengharapkan pohon mangga berubah kepala kucing

Turah.....

KEMUDIAN ORANG-ORANG BERGERAK MENUTUP KEDUANYA DAN KEMUDIAN LAGI MEREKA SEMUANYA KECUALI KOREP EXIT KESATU ARAH DI SUDUT. KETIKA ORANG-ORANG DAN ISTRI EXIT SI TULI CS MASIH DI SANA DAN TIDAK LAGI MENTANYL KOREP BERADA DI TEMPAT BIASANYA IA MENGUCAPKAN PIDATO.

KOREP:

Terima kasih

(MENYAPU AIR MATA DENGAN SAPU TANGAN) KOREP TURUN DARI MIMBAR ITU. BEBERAPA SAAT IA DUDUK KEMUDIAN MUNCUL KUSNO DAN GOMBLOH.

GOMBLOH:

Maaf, ndoro....

KOREP SANGAT KAGET MELIHAT ORANG ITU MEMBAWA BUNGKUSAN.

KOREP:

Kamu?

KUSNO:

Ya,ndoro, kami mau minta diri.

GOMBLOH:

Maafkan, ndoro. Barangkali selama saya kerja disini saya melakukan kekeliruan-kekeliruan dan telah kelalaian-lalaian.

KOREP:

Sebentar dulu. Kamu jangan pergi begitu saja. Siapa yang akan memelihara burung-burung saya?

KUSNO:

Jangan khawatir. Anak saya akan menggantikan posisi saya.

GOMBLOH:

Juga anak saya akan menggantikan tempat saya dekat dapur ndoro

KUSNO:

Permisi ndoro.

GOMBLOH:

Selamat tinggal ndoro.

KOREP:

Baiklah. Tolong anak-anakmu suruh segera masuk.

GOMBLOH:

Segera, ndoro. Mereka sudah berada di pekarangan depan.

KEMUDIAN MEREKA EXIT. KEMUDIAN MEREKA MUNCUL KEMBALI.

GOMBLOH:

Perkenalkan saya ndoro, putra pak Gombloh.

KUSNO:

Saya anak dari pak kusno pemelihara burung.

KOREP:

(MELOTOT) langsung!

KEDUANYA EXIT LAGI

GOMBLOH:

!!! (MUNCUL) saya, ndoro.

KOREP:

Siapkan kendaraan.

GOMBLOH:

Saya ndoro. (EXIT)

SI TULI:

tempat biasa, korep?

KOREP

Ya.

KEMUDIAN DENGAN MUSIK NYA MEREKA MENGITARI KOREP.

MUNCUL TURAH MEMBAWA SENTER.

TURAH:

Korep! korep!

SI TULI:

Gemerisik daun-daun di daratan jangan dihiraukan.

TURAH:

Korep korep!

SI TULI

Lambai nya menghalangi pandangan.

TURAH:

Korep.....

KOREP:

Turah.....

Turah.....

TURAH:

Korep.....

KOREP:

Turah.....

KOREP:

 Torah.....

SI TULI:

Korep! korep!

TURAH:

Korep....

KOREP:

Biarkan saya bicara sebentar. Menyingkirlah kalian.

SI TULI:

Urung ketempat embah?

KOREP:

Jadi, tapi sebentar saya mau bicara dengan torah lebih dulu. Ayo, menyingkirlah.

SI TULI:

turah?

KOREP:

Ya.

SI TULI:

Kayu bakar, maksudmu?(KETAWA)

BERSAMA KAWAN-KAWAN NYA KETAWA. LALU MENYUDUT SEPERTI BIASANYA.

KOREP:

Turah?

TURAH DIAM SAJA.

KOREP:

Kenapa kau tolak cintaku? bicaralah turah, bicara! kau desak saya mewujudkan dengan angan-angan dan kemudian kau tinggalkan saya. Bicara, turah, bicara !!! sekarang bukan saja kau, bukan saja kau yang meninggalkan saya. Semua orang meninggalkan saya. Seorang demi seorang, lahir dan batin, orang-orang meninggalkan saya dan saya akhirnya terpojok tua penuh dengan beban penyesalan dan kecewa. Bicara, turah, bicara!!!

TURAH:

Korep... korep...

TURAH EXIT DENGAN MEMANGGIL-MANGGIL KOREP.

MAKIN LAMA MAKIN HILANG.

KOREP:

Turah.... Turah.... (KOREP MELIHAT MEREKA, TULI CS KETAWA 

Share to Infrastructure Team

Bagikan dokumentasi teknis ini melalui jalur koordinasi.

Bagikan ke WhatsApp

Jelajahi Lebih Lanjut

Temukan lebih banyak

Tentang Kami

Sejarah & pencapaian kami

Berita Terkini

Info terbaru kegiatan kami

Galeri Foto & Video

Dokumentasi kegiatan kami

Sekretariat

Kontak & info organisasi

Logo

Teater Saphalta

Berkarya melalui seni pertunjukan

Ikuti Kami

Instagram YouTube TikTok Facebook

Bagikan Halaman

WhatsApp
Teater Saphalta Teater Saphalta

Panggung kami adalah ruang bagi para seniman untuk bercerita, berekspresi, dan menghidupkan setiap karakter dengan jiwa.

Halaman

  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Galeri
  • Artikel & Materi
  • Sekretariat

Konten

  • Sejarah
  • Pencapaian
  • Riwayat Pementasan
  • Album Foto
  • Video
  • Kontak Kami

Semangat Kami

"Setiap pertunjukan adalah jiwa yang hidup di atas panggung."

— Teater Saphalta
Hubungi Kami
© 2026 Teater Saphalta. All Rights Reserved.
Beranda · Kontak · Privacy Policy · Ketentuan Layanan