Mainan Gelas
BIOGRAFI PENGARANG
Tennessee William, lahir tanggal 26 Maret 1911 di Columbus Missouri. Nama sebenarnya Thomas Lanier Williams. Setelah lulus dari Universitas Iowa tahun 1938, ia mulai menulis. ‘American Blues’ merupakan naskahnya yang pertama mendapat perhatian di Amerika. Pengarang ini sangat produktif karena hampir lebih dari satu naskah dibuat dalam satu tahun. Di samping menulis drama juga ia menulis puisi dan novel. Tema dramanya kebanyakan tentang isolasi dan keterasingan manusia. Sering mendapat kritik karena banyak melukiskan kekerasan dan kelainan seksual. Namun nada dramanya selalu lembut dan penuh perasaan. Tennessee banyak sekali menerima ‘the drama critics circle award’, dan dua kali pula menerima hadiah ‘Pulitzer’, yaitu untuk ‘A Streetcar Named Desire’ (1947) dan ‘Cat On Hod a Hot Tin Roof’ (1955), drama ini diterjemahkan menjadi ‘Jalan Bernama Birahi’ dan ‘Kucing Di Atas Atap Panas’. Drama-dramanya yang lain diantaranya ‘you Touch Me’ (1945), ‘Summer And Smoke’ (Asap Dan Musim, tahun 1948), ‘Tato Mawar’ (The Rose Tatto, tahun 1951), ‘Camino Real’ (1953), ‘suddenly Last Summer’ (1958), ‘Sweet Bird Of Youth’ (1959), ‘Period Of Ad jusment’ (1960), ‘The Night Of Iguana’ (1961), ‘Orpheus Descending’ kemudian menjadi ‘The Fugitive Kind’ (1957) pernah dipentaskan dan diadaptasi menjadi ‘Jangan Biarkan Pagi Datang’ dan dipentaskan oleh Studiklub Teater Bandung (1988). ‘Mainan Gelas’ (The Glass Menagerie) mulai dipentaskan 31 Maret 1945, merupakan dramanya yang paling terkenal.
Banyak unsur nonrealistis dihadirkan dalam drama-dramanya. Unsur simbolisme selalu hadir dalam tiap dramanya, seperti terlihat dari judul dramanya. Setting panggungnya fragmentaris, seringkali interior dan eksterior sebuah bangunan diperlihatkan sekaligus. Waktu juga mengalir bebas dalam drama-dramanya. Untuk menggambarkan ingatan seseorang tokoh, ia dapat mengundang kejadian-kejadiaian masa lampau (flasback) di panggung. Pelukisan wataknya masih realisme, dalam arti memaparkan tingkah laku yang bisa diamati. Psikologi Freud banyak mendasari pembangunan karakter tokoh-tokoh dramanya.
MAINAN GELAS
KARYA: TENNESSEE WILLIAMS
KARENA CERITA INI SEBUAH KENANGAN, MAKA DEKORNYA TIDAK REALISTIS, TEMARAM, SAMBUR LIMBUR, BAHKAN PUITIS. KEBASAN PUITIS DIMUNGKINKAN OLEH SUATU KENANGAN. ADA DETAIL-DETAIL YANG DILEBIH-LEBIHKAN, ADA PULA YANG DIHILANGKAN, TERGANTUNG PADA NILAI PERASAAN BENDA YANG DIJAMAHNYA. UNSUR KENANGAN LEBIH BANYAK TERCERMIN PADANYA. TEMPAT TINGGAL KELUARGA WIRAATMAJA, ADALAH SEBUAH RUMAH BESAR. LETAKNYA PADA SEBUAH LORONG DI DAERAH PERTENGAHAN KELAS DUA. DINDING BELAKANG RUMAH INI BERHADAPAN DENGAN GANG SEMPIT, YANG DI PENTAS SEJAJAR DENGAN FOOTLIGHT. DI KIRI DAN KANAN JUGA ADA GANG SEMPIT.
PANGGUNG DEPAN: KAMAR MUKA, SEBUAH MEJA KECIL DIMANA TERLETAK BARANG-BARANG PERHIASAN/MAINAN DARI GELAS. ADA POTRET SANG AYAH, MUDA DAN TAMPAN, TERSENYUM SEAKAN BERKATA: “AKU AKAN SENANTIASA TERSENYUM”. PANGGUNG BELAKANG: RUANG MAKAN, TEMPAT TIDUR TAUFIK.
BABAK I
ADEGAN I
MUNCUL TAUFIK BERPAKAIAN KELASI KAPAL DAGANG DARI GANG KIRI KE PANGGUNG MUKA, MENUJU KE TANGGA DEPAN PINTU MASUK. DI SINI IA BERHENTI, LALU MENYULUT ROKOK, BICARA PADA PENONTON.
TAUFIK : Sakuku berisi muslihat-muslihat. Banyak sekali tipuan-tipuanku. Tapi aku kebalikan dari tukang sulap. Tukang sulap memberikan tipuan, dibungkus dalam kebenaran. Aku memberikan kebenaran yang mengenakan samaran, yang menyenangkan dari sebuah tipuan. Aku kembali dengan mengembalikan waktu….(MUSIK).
Aku adalah orang yang bercerita dalam sandiwara ini. Tapi juga memegang peranan. Peranan-peranan lainnya adalah ibuku Arini, kakakku Liswati dan seorang tamu yang muncul pada adegan akhir. Tamu ini adalah peran yang paling realistis dalam cerita ini. Ia adalah utusan dari dunia nyata, di mana kami nampak terasing. Tapi karena aku memiliki kelemahan-kelemahan seorang penyair terhadap lambang-lambang, aku menggunakan watak tamu ini sebagai lambang pula. Ia adalah sesuatu dalam hidup kita, sesuatu yang selalu dinanti-nantikan, tetapi datangnya terlambat.Ada peran ke lima yang tidak muncul pada sandiwara ini ia hanya tampil melalui sebuah foto yang tergantung di dinding. Tolong ingat-ingai, bahwa dia adalah ayah kami, yang telah meninggalkan kami. Ia adalah seorang pegawai telepon,yang jatuh cinta kepada ‘interlokal’ dalam kata lain: dunia pengembaraan. Ia berhenti dari pekerjaannya di kantor telepon….dan meninggalkan kota ini….Terakhir ia mengirim berita melalui sebuah kartu pos bergambar dari Singapura, dengan tulisan: “Salam….selamat tinggal”….Cuma tiga kata dan tanpa alamat….
Nah,….kukira adegan selanjutnya akan menjelaskan segalanya….
KAMAR MAKAN TERANG. ARINI MENGHADAP PENONTON, SEDANGKAN LISWATI DAN TAUFIK NAMPAK DARI SAMPING. MAKAN DILAKUKAN HANYA DENGAN GERAK GERIK YANG MEMBERIKAN KESAN. ARINI DAN LISWATI SUDAH DUDUK DI MEJA MAKAN.
ARINI : (MEMANGGIL) Taufik….!
TAUFIK : Ya, bu….
ARINI : Lekas makan!
TAUFIK : Ya, bu….(MENGHAMPIRI RUANG MAKAN, KINI IA BERPAKAIAN BIASA).
ARINI : (KEPAD TAUFIK) Nak, jangan suka menjejal-jejal makan dengan jari, kalau makananmu perlu kau jejal, doronglah dengan kerupuk….dan kunyahlah, kunyah! Binatang mempunyai kelenjar dalam perut mereka yang memungkinkan mereka mencerna makanan, tampak mengunyahnya terlebih dahulu. Kunyahlah, makan dengan tenang! Makanan yang dimasak dengan baik, mengandung rasa yang harus dinikmati dulu di mulut, jangan dilulur begitu saja! Kunyahlah makananmu! Beri kesempatan kelenjar ludahmu untuk bertugas! (TAUFIK DENGAN SENGAJA MELETAKKAN SENDOKNYA DI ATAS MEJA. MENDORONG KURSINYA KE BELAKANG).
TAUFIK : Sedikitpun aku belum dapat menikmati makananku. Ibu tak henti-hentinya memberi petunjuk, bagaimana aku harus makan….Dengan perhatian seperti seekor elang, ibu memperhatikan setiap gigitanku! Ini yang membuat aku buru-buru menelan makananku….Memuakan semua omongan ini! Omong kosong perut binatang….omong kosong kelenjar ludah….omong kosong memamah biak….omong kosong, omong kosong….(MENJAUH….MENGELUARKAN ROKOK).
ARINI : Lagakmu….seperti bintang film saja! Kau belum boleh meninggalkan meja!
TAUFIK : Aku mau merokok.
ARINI : Kau merokok terlalu banyak.
LISWATI : (BANGKIT) Aku ambilkan pepaya….
ARINI : (BANGKIT) Tidak sayang, jangan, duduklah! Hari ini aku jadi pelayan dan kau nyonya besarnya.
LISWATI : Saya sudah berdiri.
ARINI : Duduk, duduklah sayang! Kau harus nampak segar dan cantik bagi tamu-tamu priamu.
LISWATI : Saya tidak menunggu tamu pria manapun.
ARINI : (BERBERES) Enaknya, mereka datang tanpa disangka-sangka….Aku ingat….Suatu sore ketika aku masih gadis di Jatiwangi….(MASUK).
TAUFIK : (KEPADA LIS) Aku tahu lanjutannya.
LISWATI : Ya, tapi biarkan saja ibu bercerita.
TAUFIK : Pasti itu-itu lagi.
LISWATI : Biarkan saja, ibu senang menceritakannya. (ARINI MASUK MEMBAWA PEPAYA)
ARINI : Aku ingat, sore itu aku menerima tujuh belas tamu pria. Sampai-sampai kursi yang ada tidak cukup dan aku harus menyuruh pelayan untuk meminjam kursi lipat.
TAUFIK : Bagaimana ibu menghadapi tamu-tamu itu?
ARINI : Aku tahu cara menghadapinya.
TAUFIK : Pasti, pasti!
ARINI : Gadis-gadis pada zamanku tahu betul seni bercakap-cakap!
TAUFIK : Ya, lalu?
ARINI : Mereka tahu bagaimana menghadapi tamu-tamu pria. Wanita tidak cukup hanya memiliki wajah cantik atau raut tubuh yang menarik saja. Dalam ke dua hal itu, aku tidak kurang sama sekali. Dia juga harus bijak dan punya lidah yang siap menghadapi segala kemungkinan.
TAUFIK : Apa saja yang diperbincangkan?
ARINI : Kejadian-kejadian penting yang terjadi di dunia! Tak pernah soal-soal yang biasa, apalagi soal-soal konyol dan kampungan. Tamu-tamuku adalah pria baik-baik, diantaranya ada tuan-tuan tanah muda dari delta ujung Dermayu. Tuan tanah dan putra tuan-tuan tanah….! Ada, ee….Muhtar….ya, M. Muhtar yang sekarang jadi Direktur Bank di Jakarta….Willem Rennenberg yang malang tenggelam di danau waktu berenang, ia meninggalkan istrinya dan obligasi negara….Winata, Wedana Karangampel….dan adiknya Wisaca….ya, Wisaca, ia adalah salah seorang pacarku, ia berkelahi mati-matian dengan Sujana yang pemberang….ya, Wisaca mati tertikam, ia mati dalam ambulance saat diangkut ke kota. Jandanya tak kekurangan, diwarisi tanah luas. Sebetulnya perkawinan mereka dipaksakan oleh orang tuanya. Wisaca sama sekali tidak mencintai istrinya, bahkan pada malam ia meninggal di sakunya ditemukan potretku….Lalu ada seorang Raden Suryo Martonegoro, ia gagah dan pintar. Ia lah pemuda idaman setiap gadis di Indramayu….
TAUFIK : Berapa banyak warisan untuk jandanya?
ARINI : Dia tak pernah menikah! Masya Allah, kau bicara seolah semua bekas pacarku meninggal dunia semua.
TAUFIK : Yang pertama ku dengar masih hidup.
ARINI : Ia ke luar negeri beberapa tahun. Kata orang segala yang ia jamah menjadi emas. Kini ia mempunyai beberapa perusahaan export import di Surabaya….Aku hampir jadi Nyonya Suryo Martonegoro, kau tahu? Tapi…. Aku pilih ayahmu!
LISWATI : Bu, biar saja, saya yang membersihkan meja.
ARINI : Tidak manis, jangan! Kau harus duduk di depan sambil menghapal pelajaran mengetikmu, atau latihlah stenomu! Kau harus tetap segar dan cantik. Sebentar lagi tamu-tamu priamu akan datang. Menurut pendapatmu, kira-kira berapa orang tamu yang akan datang sore ini? (TAUFIK).
LISWATI : Saya kira, tak satu pun bu!
ARINI : Apa? Tak satu pun? Kau melucu! (LIS TERTAWA GUGUP. IA LALU DENGAN CEPAT PERGI KE KAMAR DEPAN) Tak satu tamu pun? Tidak mungkin! Seharusnya ramai….! Apa ada topan atau banjir?!....
LISWATI : Bukan karena topan, bukan karena banjir, bu….! Saya tidak cukup menarik bagi kaum pria, tidak seperti ibu di Jatiwangi….(TAUFIK MENGGERAM, LIS BERUSAHA TERSENYUM KE ARAH TAUFIK, SEPERTI MINTA MAAF) Ibu takut saya menjadi perawan tua….?
(FADE OUT / MUSIK THEMA)
ADEGAN 2
CAHAYA MULAI TERANG. MUSIK MENGHILANG. DI KAMAR DEPAN LIS SEDANG MEMBERSIHKAN MAINAN KACA. KETIKA MENDENGAR IBUNYA DATANG BURU-BURU IA LETAKKAN MAINANNYA. LALU PURA-PURA BELAJAR, MEMANDANGI PELAJARAN MENGETIKNYA. ARINI MENJENGUK KE DALAM. BIBIRNYA DIKATUPKAN DALAM-DALAM, MATANYA DIBUKA LEBAR-LEBAR, KEPALANYA DIGELENG-GELENGKANNYA, LALU PERLAHAN IA MASUK. LIS MEMANDANG WAJAH ARINI YANG MURAM, IA PUTUS ASA DAN HAPIR BENGONG. ARINI MEMAKAI KEBAYA DARI BAHAN MURAH YANG NAMPAK MAHAL. DENGAN SELENDANG MELILIT DI LEHERNYA, MEMBAWA TAS KECIL DAN BUKU CATATAN BESAR. IA SELALU MEMAKAI PAKAIAN RESMI, KALAU PERGI KE RAPAT-RAPAT.
LISWATI : Apa kabar, bu….Saya baru saja….
ARINI : Aku tahu (SINIS) kau lagi latihan mengetik….
LISWATI : Ya.
ARINI : Pura-pura….Tipuan….Terkecoh….
LISWATI : Bagaimana rapatnya, bu? (MENGELUARKAN SAPU TANGANNYA LALU MEMBERSIHKAN HIDUNG DAN BIBIRNYA) Apa ibu tidak jadi rapat?
ARINI : Tidak aku jadi pergi rapat. Aku tak tahan, aku tak punya keberanian untuk ke sana, semangatku hilang….! Aku ingin mencari lubang dalam tanah, merangkak….Dan tinggal di sana selamanya. (IA MEROBEK GAMBAR BADAN MESIN TIK LALU MELEMPARKANNYA).
LISWATI : Bu, mengapa dirobek….? (ARINI MEROBEK LAGI CATATAN STENO) Kenapa bu….?
ARINI : Kenapa, kenapa….! Liswati, berapa umurmu?!
LISWATI : Ibu kan tahu….
ARINI : Selama ini aku mengira kau sudah dewasa, tapi ternyata dugaanku keliru (MEMANDANG TAJAM KE ARAH LISWATI)
LISWATI : Jangan memandang begitu, bu….(MENUTUP MATA, MENUNDUK).
ARINI : Apa yang harus kita lakukan? Apa maumu? Bagaimana jadinya kelak….?
LISWATI : Apa yang terjadi, bu….? Ada apa….?!
ARINI : Diamlah….aku bingung. (HENING)….Oh, kenyataan hidup ini….
LISWATI : Bu, katakanlah apa yang terjadi?
ARINI : (MENGHELA NAFAS)….Kau tahu….sore tadi aku akan dilantik menjadi anggota pengurus Rukun Wanita….Aku mampir dulu ke sekolahmu untuk memberi kabar, bahwa kau slesma, sekalian bertanya tentang kemajuan di sekolah!
LISWATI : Oh….?!
ARINI : Ku temui guru mengetikmu, ku perkenalkan diri sebagai ibumu. Anehnya ia tidak kenal kau….Wiraatmaja, katanya tidak ada siswa yang bernama Liswati Wiraatmaja, terdaftar di sekolah ini….! Aku yakinkan bahwa kau mulai mengikuti pelajaran sejak awal Januari! Mungkin yang ibu maksud, katanya….! Gadis pemalu yang tak pernah muncul lagi setelah beberapa kali pertemuan?!....Tidak, kataku. Liswati anakku pergi ke sekolah setiap kali ada pelajaran dalam sepuluh minggu ini!....Maaf, katanya. Ia ambil buku absensi dan namamu hitam di atas putih tercantum di sana.tiap kali pula kau tidak masuk, hingga mereka berpendapat bahwa kau sudah ke luar. Aku masih berkata: ‘tidak mungkin pasti ada kekeliruan. Pasti catatan ini keliru!’….Tapi ia menegaskan lagi: ‘tidak, saya ingat dia, tangannya selalu gemetar, ia tak bisa menekan huruf dengan tepat. Pertama kali, kami beri dia tes kecepatan….Ia sangat gugup….Ia sakit perut dan kami harus menolongnya ke kamar mandi! Kami mengirim kartu pos, tapi tidak mendapat jawaban….Tentu kau yang menerimanya ketika aku ke Jakarta….Oh, aku jadi lemah hampir tak bisa berdiri! Terpaksa aku duduk saja, mereka menuangkan segelas air untukku. Uang pelajaran sebanyak Rp 7.500,00 sebulannya….Seluruh rencana kita….harapan dan semangatku untukmu….hilang….hilang begitu saja….(LIS MENARIK NAFAS, BERDIRI CANGGUNG MENUJU GRAMOPHONE KUNO, MEMUTARNYA….) Kau mau apa?
LISWATI : Ooh….! (MELEPASNYA LAGI, KEMBALI KE ASAL).
ARINI : Lis, kemana saja kau? Apa kerjamu setiap pergi? Pura-pura sekolah….!
LISWATI : Jalan-jalan….
ARINI : Bohong!
LISWATI : Betul, bu. Saya hanya jalan-jalan….
ARINI : Jalan-jalan, jalan-jalan! Di musim hujan begini? Sengaja cari penyakit dengan pakaian tipismu?....Kemana kau pergi jalan-jalan?
LISWATI : Kemana saja….Biasanya pergi ke taman-taman umum.
ARINI : Juga setelah kau pilek begitu?
LISWATI : Ini yang terbaik, bu….saya tak bisa kembali ke sekolah, setelah aku muntah-muntah di hadapan orang banyak, di lantai.
ARINI : Supaya aku yakin, bahwa kau pergi sekolah, maka kau pergi ke taman, dari pukul setengah sembilan sampai pukul dua belas? Hujan-hujanan lagi!
LISWATI : Tidak, bu, tidak hanya itu! Saya juga pergi ke tempat-tempat lain supaya tidak kehujanan….!
ARINI : Kemana?
LISWATI : Saya pergi ke musium dan melihat burung-burung manyar di kebun binatang….sewaktu-waktu, Sabtu sore saya nonton bioskop….akhir-akhir ini saya sering ke kebun bibir melihat bunga-bunga dari berbagai daerah….!
ARINI : Semua itu kau lakukan untuk membohongi aku? Menipu aku? Mengapa-mengapa?
LISWATI : (MENCOBA MEMANDANG ARINI)….Bu, jika ibu kecewa, jika ibu menderita….wajah ibu seperti wajah Kristus di Gereja….!
ARINI : Husss!
LISWATI : Saya tak sanggup menghadapi semua ini!....(HENING) (MUSIK).
ARINI : Lantas, apa yang harus kita lakukan kemudian, sampai akhir hidup kita? Diam di rumah sambil melihat orang berlalu lalang di jalanan? Memuaskan diri dengan mainan gelasmu, sayang? Tak henti-hentinya memutar piringan hitam kuno peninggalan ayahmu, kenangan-kenangan pedihnya? Tidak ada pekerjaan yang dapat kita lanjutkan, karena kita sakit perut kegugupan? (TERTAWA PAHIT)….Apalagi yang tersisa selain hidup yang tergantung pada orang lain sepanjang hidup kita? Aku tahu betul apa yang terjadi dengan wanita….wanita yang tidak kawin dan tidak mempunyai sesuatu pegangan….! Aku sering melihat hal-hal demikian. Hal-hal yang patut dikasihani….Perawan-perawan tua yang hidup di bawah anugerah cemburu suami adik atau kakaknya. Tersaruk dalam sebuah kamar sebesar perangkap tikus, di dorong-dorong ipar yang satu untuk menjungjung ipar-ipar yang lainnya. Makhluk kecil seperti burung dalam sangkar, memakan kerak kerendahan hati seumur hidupnya….! Itukah hari esok yang kita rencanakan? Demi Tuhan, aku tidak menemukan jalan lain lagi….(PAHIT)….Jalan yang tidak begitu menyenangkan bukan? (MENETRALISIR DIRI) Tentu saja, ada juga gadis-gadis yang kawin. (ARINI MENCOBA TERSENYUM. SEMENTARA LIS MEMILIN-MILIN JARINYA) Anakku, pernahkah kau menyukai seorang pemuda?
LISWATI : ….Pernah….Sekali….baru saja saya temukan potretnya!
ARINI : Ia memberi potretnya padamu?
LISWATI : Tidak, tapi ada di majalah sekolahan….!
ARINI : (KECEWA) Oooh, anak SMA!
LISWATI : Ya, namanya Yunus (MENGAMBIL MAJALAH) ini, dia dalam ‘Bajak Laut Andalas’.
ARINI : Apa?
LISWATI : Sandiwara yang dipentaskan oleh murid-murid kelas tertinggi. Suaranya bagus, kami duduk bersebrangan tiap Senin dan Jum’at di Aula….Ini dia dengan piala yang dimenangkannya dalam lomba berdebat! Besar senyumannya!
ARINI : Pasti besar bakatnya!
LISWATI : Ia memanggil saya ‘MAWAR BIRU’.
ARINI : Mengapa?
LISWATI : Ketika dulu saya sakit radang paru-paru, ketika saya masuk lagi, ia bertanya: “Sakit apa?” Saya jawab, radang paru. Entah mengapa, dia mengira saya mengatakan mawar biru. Sejak itu dia memanggil saya demikian. Tiap kali melihat saya, ia selalu berseru: “Hai, Mawar Biru!”….Pacarnya bernama….Emma, saya kurang kenal….Emma adalah gadis yang berpakaian paling mentereng di sekolah. Tapi ku kira dia orang yang kurang tulus. Di majalah ini disebutkan, mereka bertunangan. Itu sudah enam tahun yang lalu. Pasti sekarang mereka sudah kawin!
ARINI : Ya, gadis-gadis yang tak mempunyai bakat menjadi wanita karir, sebaiknya kawin dengan pemuda baik-baik….! Kau pun pasti akan kawin, sayang! (LIS TERSENYUM GUGUP, LALU MENGAMBIL SALAH SATU MAINAN GELASNYA).
LISWATI : Tapi, bu….
ARINI : Ya….? (MENUJU POTRET SUAMINYA)
LISWATI : Saya pincang, bu….!
ARINI : Apa? Omong kosong….! Jangan kau pakai kata-kata itu, nak! Siapa bilang! Kau tidak pincang, kau hanya punya cacat kecil, hampir tidak kelihatan….! Orang-orang yang mempunyai kekurangan seperti itu harus memelihara dan mengembangkan yang lain untuk mengimbangi kekurangannya. Kau harus menumbuhkan pribadimu, kelincahanmu, cerialah! Hal ini akan jadi daya tarikmu! Ya, daya tarikmu, satu-satunya yang dimiliki ayahmu, daya tarik. (ARINI DUDUK, LISWATI BERJALAN SAMBIL LAMPU FADE OUT. MUSIK MASUK).
ADEGAN 3
TAUFIK BICARA DI TANGGA, DIMUKA RUMAH.
TAUFIK : Setelah gagal di sekolah mengetik itu, pikiran tentang tamu pria untuk Liswati tambah berperan lebih penting dalam angan-angan ibu. Malahan merupakan sebuah obsesi. Sebagai contoh utama dari khayalan universal, bayangan tamu lelaki menghantui kamar-kamar kami yang sempit. Tidak semalam pun yang luput dari khayalan ini….harapan ini. Bahkan meski tidak di sebut, khayalan itu hadir dalam sikap Liswati yang semakin tersudut dan semakin merasa kecil. Khayalan itu hadir bagai sebuah hukuman yang dijatuhkan atas keluarga Wiraatmaja….Tetapi ibuku bukan saja wanita yang banyak omong, juga banyak bekerja. Ia mulai merancang langkah-langkah ke arah impiannya itu….! Yakin bahwa diperlukan uang tambahan untuk menghiasi sangkar dan merawat burungnya.ia menjadi agen majalah wanita. Ia mulai beraksi, membujuk kenalannya agar mau menjadi langganan….!
ARINI : Tien! Hallo, ini arini! Mengapa kau tidak datang pada rapat kita Senin yang lalu? Teman-teman menanyakanmu….Aku bilang, mungkin kau sakit encok lagi….Bagaimana, sudah baik?....Ya, ampun, kasihan kamu!....Kamu benar-benar orang sholeh, sungguh, kau orang sholeh, Tien!....Oh, ya, Tien, bagaimana tentang langganan majalah ‘Bina Wanita’ itu? Jadi?....Justru, akan dimulai bulan ini. Artikelnya bagus-bagus lho….! Banyak….Ada tulisan tentang ngadi sliro, ngadi busana, tentang kelompok pengajian wanita,ee….Tentang arisan gaya baru. Oh, ya, jangan salah ada cerita bersambung yang wajib dibaca leh kaum wanita, hebat deh….Karangan siapa? Oh, pengarangnya sastrawan yang terkenal di zaman ini, di negeri ini….Itu Saini KM….! Apa, masakan hangus? Oh, manis, lekas lari ke dapur, aku menunggumu….Heh! Tien, hallo! Sudah ia putus….!
TAUFIK : Ibu mau apa?
ARINI : Aku mau menyelamatkan matamu! (MEMPERBAIKI LAMPU) Matamu hanya sepasang, kamu harus menjaganya baik-baik. Aku tahu si sofyan buta, tapi….Kalau ia jenius, bukan karena ia buta.
TAUFIK : Biar kuselamatkan dulu pekerjaanku, bu!
ARINI : Apa kau tidak bisa duduk tegak? Supaya punggungmu tidak bungkuk seperti udang!
TAUFIK : Alah, bu, kerjakan yang lain saja. Aku sedang menulis!
ARINI : Aku pernah membaca sebuah buku kedokteran. Apa akibatnya kalau duduk seperti kau pada organ tubuhmu. Perut menekan dada, dada menekan paru-paru dan jantung. Akibatnya ke duanya takkan bisa berfungsi dengan baik untuk peredaran darahmu. Kau tahu akibat yang lebih buruk lagi?....
TAUFIK : Ah, persetan….!
ARINI : Taufik! Jangan bicara seperti itu padaku!
TAUFIK : ….Apa yang harus aku katakan?!
ARINI : Apa yang harus kau katakan? Pikiran warasmu telah hilang, rupanya!
TAUFIK : Ya, ibu yang menghilangkannya!
ARINI : Apa? Kenapa kau ini? Tolol!
TAUFIK : Ya, kini di rumah ini tak satupun yang tinggal yang dapat ku sebut punyaku!
ARINI : Jangan berteriak-teriak begitu!
TAUFIK : Kemarin ibu merampas buku-bukuku. Ibu berani….
ARINI : Ya, aku kembalikan buku-buku keparat itu ke perpustakaan. Buku karangan penulis gila itu! (TAUFIK TERTAWA MENGEJEK) Memang, aku tak bisa melarang orang menerbitkan buah pikiran gila itu atau orang-orang lain membacanya! (TAUFIK TERTAWA LEBIH KERAS LAGI) Tapi aku tak mengijinkan kotoran nazis itu masuk ke dalam rumahku!....Tidak, tidak, tidak!
TAUFIK : Rumahku, rumahku! Siapa yang membayar sewaannya, yang sudi jadi budak untuk….
ARINI : Kau? Berani kau barkata….
TAUFIK : Ya,ya,ya, aku tak boleh mengatakan apa-apa, aku hanya boleh….
ARINI : Tahukah kau….
TAUFIK : Aku tak mau dengar apa-apa lagi….!
ARINI : Kau harus dengarkan aku!
TAUFIK : Tidak, aku tak mau dengar apa-apa lagi. Aku mau pergi!
ARINI : Taufik! Kembali, aku belum selesai bicara!
TAUFIK : Ah, sudahlah!
LISWATI : (PUTUS ASA) Taufik!!!
ARINI : Kau dengar dan jangan berlaku kurang ajar lagi! Kesabaranku mulai berkurang!
TAUFIK : (KE ARAH IBUNYA) Dan aku? Ibu kira kesabaranku bisa terus bertahan?....Aku tahu, aku tahu! Apa yang aku lakukan kini, tidak penting untuk ibu. Apa yang sebenarnya ingin aku lakukan, antara keduanya adalah perbedaan, ibu tidak akan pernah mengira bahwa….
ARINI : Ku kira kau telah melakukan sesuatu yang membuatmu malu! Karena itu kau marah-marah. Aku tak percaya kau nonton bioskop setiap malam. Tak seorang pun yang pikirannya waras, nonton bioskop setiap malam seperti kau….siapa yang mau nonton bioskop tengah malam? Bioskop mana yang berakhir jam dua pagi? Kalau pulang seperti orang mabuk, ngomong sendiri seperti orang edan! Tidur hanya dua jam lalu pergi bekerja….oh, bisa kubayangkan tampangmu di tempat kamu bekerja….Ngantuk, menguap, loyo, karena kau kecapean!
TAUFIK : (LIAR) Ya, aku, memang capek!
ARINI : Jangan kau sia-siakan pekerjaanmu! Itu sumber penghasilanmu, sumber hidup….
TAUFIK : Dengar! Ibu kira aku senang di sana? Ibu kira aku jatuh cinta pada toko sepatu itu? Ibu kira aku betah dan bersedia menghabiskan umurku di ruang bau kulit itu?....Demi Tuhan, lebih baik kepalaku dihantam dengan besi daripada harus kembali ke sana setiap pagi!....Tapi aku selalu kembali lagi….setiap kali ibu masuk ke kamarku, dan meneriakkan kata-kata keparat itu: “Bangun ceria, bangun ceria.”….Kadang-kadang aku berpikir, alangkah bahagianya orang mati….! Tapi aku bangun juga, pergi juga untuk Rp. 15.000,00 sebulan. Aku singkirkan semua….impianku, tentang apa yang ingin sekali aku lakukan, dan menjadi sesuatu kelak. Tapi ibu masih berkata, bahwa aku hanya memikirkan diriku sendiri….Tahukan ibu, kalau aku hanya memikirkan diriku sendiri, maka aku sudah berada dimana dia berada, sudah lari! (MENUJU POTRET AYAHNYA) Pergi sejauh mungkin dengan angkutan umum (TAUFIK MAU PERGI, ARINI MENARIK TANGANNYA) Jangan tahan aku, bu!
ARINI : Mau kemana kau?
TAUFIK : Nonton bioskop!
ARINI : Aku tidak percaya, kau dusta!
TAUFIK : (MENGHAMPIRI IBUNYA DENGAN TAJAM, ARINI MUNDUR) Ya, ibu benar. Aku akan pergi ke rumah-rumah mesum, menghisap ganja, ke sarang penjahat dan orang-orang liar, bu! Aku adalah anggota gerombolan ‘Samber Nyawa’. Aku seorang pembunuh bayaran, aku selalu membawa pistol dan clurit….namaku Raja Tega, ya, Taufik si Raja Tega!....Aku hidup di dua dunia, pegawai toko sepatu yang sederhana di siang hari, gembong perampok yang ditakuti di malam hari! Aku pergi ke rumah perjudian memakai kaca mata hitam, pakai kumis palsu, kadang-kadang juga janggut panjang. Di tempat-tempat itu aku dikenal sebagai Mat Item!....Oh, aku bisa ceritakan lebih banyak lagi, sehingga ibu takkan bisa tidur….Musuh-musuhku merencanakan untuk meledakkan tempat ini! Suatu ketika kita akan terlempar setinggi langit!....Aku akan senang sekali, bahagia sekali, ibu juga! Ibu akan terbang berkendaraan gagang sapu, lewat Jatiwangi bersama tujuh belas tamu lelakimu! Nenek-nenek cerewet, banyak omong….Dasar kuntilanak!
(IA MELAKUKAN GERAKAN KERAS, KIKUK SAMBIL MEMEGANG JACKETNYA BERJALAN KE PINTU,MEMBUKANYA DENGAN KASAR. ARINI BENGONG, TANGAN TAUFIK TERSANGKUT PADA LENGAN JACKETNYA, WAKTU IA BERUSAHA MENGENAKANNYA, BEBERAPA SAAT IA KEPAYAHAN, LALU DISENTAKKANNYA SEHINGGA BAHU JACKETNYA SOBEK. TAUFIK MELEMPARKAN JACKETNYA. LEMPARANNYA MENGENAI MAINAN GELAS, TERDENGAR BUNYI MAINAN GELAS PECAH. LISWATI MEMEKIK)
LISWATI : Oh,….mainan gelasku! (IA MENUTUP WAJAHNYA, BERPALING).
ARINI : Kalau kau tidak minta maaf, aku tak sudi bicara lagi denganmu….! (PERGI. LISWATI TERSANDAR LEMAH PADA SOFA. TAUFIK MEMANDANGNYA DENGAN IBA, LALU MENUJU MEJA KECIL, MEMUNGUT PECAHAN MAINAN GELAS SAMBIL MEMANDANG LIS, SEOLAH HENDAK BERKATA, TAPI TAK BISA) (MUSIK – FADE OUT).
ADEGAN 4
GELAP. CAHAYA TEMARAM DI LORONG. TERDENGAR BUNYI LONCENG 3 KALI. SETIAP DENTANG DIIKUTI BUNYI MAINAN YANG DIGERAKKAN TAUFIK, SEPERTI HENDAK MENEGASKAN KEKECILAN MANUSIA DI HADAPAN YANG MAHA ESA. DARI TINDAK TANDUKNYA TAUFIK NAMPAK AGAK MABUK. LISWATI MUNCUL DALAM PAKAIAN TIDURNYA IA MELIHAT TEMPAT TIDUR TAUFIK KOSONG. TAUFIK MENCARI-CARI KUNCI DI SAKUNYA SAMBIL MENGELUARKAN BERMACAM-MACAM BENDA. KARCIS-KARCIS BIOSKOP DAN BOTOL MINUMAN. AKHIRNYA KUNCI DITEMUKAN, TAPI KETIKA HENDAK DIMASUKKAN KUNCI ITU TERJATUH, IA MENCARI-CARINYA DENGAN KOREK API, MERANGKAK DI SEKITAR PINTU….
TAUFIK : (DENGAN PAHIT) Sekali pukul, runtuh pintu ini! (LISWATI MEMBUKAKAN PINTU).
LISWATI : Taufik, sedang apa kau?
TAUFIK : Cari kunci….
LISWATI : Dari mana saja?....Semalaman!
TAUFIK : Nonton bioskop!
LISWATI : Nonton bioskop?
TAUFIK : Filmnya panjang….Filmnya Yati Ocktavia, Rhoma Irama, film-film perjalanan dan cuplikan film yang akan diputar minggu depan. Iklan, ada juga yang minta sumbangan korban banjir dan nyonya gemuk berkelahi dengan calo….!
LISWATI : (TULUS) Kau lihat semua itu?
TAUFIK : Tentu! Oh, aku lupa, aku juga nonton tukang sulap di Alun-alun, pandai sekali. Banyak sekali sulapannya. Ia bisa menuangkan air luar biasa cepatnya dari tempat satu ke tempat lainnya, bolak-balik….Air jadi anggur, jadi bir, jadi arak….Aku tahu, betul-betul arak, karena ia perlu seorang pembantu dari penontonnya, akhirnya aku maju….Ia sangat baik, ia memberi hadiah….Aku dapat ini….Selendang ajaib. (MENUNJUKKAN SELENDANG BERWARNA BIANGLALA) Ini buat kau, Lis!....Jika kau lambaikan di atas sangkar burung, kau dapat ikan mas dalam bak kaca. Jika kau lambaikan lagi di atas ikan masnya, burung dalam sangkar akan kembali….Tapi yang paling hebat sulapan peti matinya. Kami memakunya di dalam peti mati, tapi dia dapat ke luar tanpa satu paku pun dicabut! (SUDAH DI DALAM RUANGAN) Sulap ini paling jitu untuk keperluanku….Untuk ke luar dari kandang ini! (TERJATUH DI TEMPAT TIDURNYA).
LISWATI : Ssstt!
TAUFIK : Apa?
LISWATI : Nanti ibu bangun….!
TAUFIK : Itu baru adil! Ya, sebagai imbalan atas ‘bangun cerianya setiap pagi’ (MEREBAH)….Sungguh tidak diperlukan kepandaian khusus untuk dipaku dalam peti mati, Lis. Tapi bagaimana caranya ke luar tanpa satu pun paku tercabut….?
(CAHAYA MEREDUP, SEMENTARA POTRET AYAHNYA BERSINAR, SEOLAH MENJAWAB, MENYUSUL BUNYI LONCENG ENAM KALI, SUARA BEKER DI KAMAR PUN BERDERING….BEBERAPA SAAT KEMUDIAN TERDENGAR SUARA ARINI).
ARINI : (DARI DALAM) Bangun, ceria! Bangun, ceria! Lis, katakan kepada saudaramu supaya lekas bangun, ceria! (TAMBAH TERANG).
TAUFIK : (BANGKIT DARI TIDURNYA) Aku bangun, tapi tidak ceria!
ARINI : Lis, katakan pada saudaramu, kopinya sudah tersedia! (LISWATI MASUK KE KAMAR TAUFIK).
LISWATI : Sudah hampir jam delapan, jangan bikin ibu gelisah! (TAUFIK MEMANDANG LIS, SEOLAH MEMOHON) Taufik, bicaralah pada ibu! Cobalah kau berbaik padanya, mintalah maaf, bicaralah padanya!
TAUFIK : (BANGKIT) Ia juga tidak mau bicara padaku. Ia mulai main bisu-bisuan!
LISWATI : Kalau kau minta maaf, ibu pasti akan mau bicara!
TAUFIK : Kalau ibu tak mau bicara, apakah itu merupakan tragedi besar?
LISWATI : Ayolah, Taufik!....
ARINI : (DARI DALAM) Lis, kau mau melakukan apa yang kuminta apa tidak? Atau aku harus berpakaian, lalu pergi sendiri?
LISWATI : Ya, bu segera….saya ambil mantel dulu! (MENGENAKAN MANTEL) Minyak,….dan apa lagi, bu?
ARINI : (MUNCUL DARI KAMAR MAKAN) Minyak saja, katakan , bayar belakangan!
LISWATI : Bu, mereka suka cemberut kalau kita berhutang….
ARINI : Tongkat dan batu bisa mematahkan tulang kita, tapi tampang Babah Asiong takkan menyakitkan kita….Katakan kepada saudaramu kopinya keburu dingin! (MASUK).
LISWATI : Akan kau lakukan apa yang kuminta? Iya, kan….? (TAUFIK BUANG MUKA).
ARINI : (DARI DALAM) Lis, kamu mau pergi apa tidak?
LISWATI : (BERGEGAS) Ya, iya, saya pergi! (DI LUAR LIS MENJERIT….TAUFIK LARI KE LUAR, ARINI MENYUSUL)
TAUFIK : Lis!
LISWATI : Aku tak apa-apa, hanya terpeleset….
ARINI : (SAMBIL MEMANDANG LIS YANG MENJAUH) Kalau ada yang patah kaki karena tangga itu, yang punya rumah harus mengganti kerugian sepenuhnya….(IA INGAT BAHWA IA SEDANG TIDAK BICARA DENGAN TAUFIK. DENGAN LESU TAUFIK MENGAMBIL KOPINYA, ARINI MEMBUANG MUKA. CAHAYA YANG JATUH KE WAJAHNYA YANG TUA TAPI KEKANAK-KANAKAN, TAJAM DAN SATIRIS, SEPERTI LUKISAN DAUMIER. TAUFIK MENGANTAI BODOH, LALU DUDUK DEKAT MEJA MAKAN, IA MENGHIRUP KOPINYA. PANAS SEKALI, DISEMBURNYA KEMBALI KE DALAM CANGKIR, TERENGAH-ENGAH IA. ARINI MENAHAN NAFAS, MENAHAN DIRI DAN BERPALING. SAMBIL MENIUP KOPINYA TAUFIK MENCURI PANDANG. ARINI BERDEHEM TAUFIK JUGA. TAUFIK BANGKIT LAGI, DUDUK LAGI, IA MENGGARUK KEPALA, BERDEHEM LAGI. ARINI BATUK, TAUFIK JUGA, MENIUP KOPINYA, MENCURI PANDANG. PERLAHAN IA LETAKKAN KOPINYA DENGAN RAGU-RAGU, IA BANGKIT, CANGGUNG SEKALI….)
TAUFIK : (SERAK) Bu, aku minta maaf, bu….! (IBUNYA MENARIK NAFAS DENGAN CEPAT DAN MENGGIGIL, MUKANYA MENGERUT, IA MENANGIS SEPERTI ANAK-ANAK) Aku menyesali segala yang telah aku ucapkan, bukan maksudku begitu, bu….!
ARINI : (ARINI TERSEDU) Ketaatanku menjadikan aku kuntilanak, demikian, aku bikin diriku dibenci oleh anak-anakku….!
TAUFIK : Tidak, bu, bukan begitu….
ARINI : Terlalu banyak yang kupikirkan….Kurang tidur….Aku menjadi gelisah!
TAUFIK : (BIJAKSANA) Aku mengerti bu!
ARINI : Bertahun-tahun aku harus berjuang untuk bisa berdiri sendiri….Dan kau adalah tangan kananku….jangan sia-siakan aku, jangan runtuh….
TAUFIK : Akan kucoba, bu. (BIJAK).
ARINI : (MULAI SEMANGAT) Berusahalah, kau pasti berhasil! (TAK TERBENDUNG) Lihat saja….kau….kau penuh bakat! Anakku kedua-duanya, anak-anak yang istimewa….kau kira aku….tak tahu? Aku sangat bangga, sangat bahagia….dan aku merasa harus berterima kasih banyak….janjikanlah satu hal nak!
TAUFIK : Apakah itu, bu?
ARINI : Berjanjilah padaku….bahwa kau tidak akan jadi pemabuk!
TAUFIK : (TERSENYUM) Baiklah, aku berjanji tidak akan pemabuk.
ARINI : Itulah, aku takut kalau kau menyukai minuman keras….minumlah sedikit!
TAUFIK : Kopi saja, bu!
ARINI : Sedikit nasi goreng?
TAUFIK : Tidak bu, cukup kopi saja….
ARINI : Tidak mungkin kau dapat menghadapi pekerjaan sehari penuh dengan perut yang kosong. Masih ada waktu sepuluh menit, jangan terburu-buru, kalau minum terlalu panas, bisa mendapat pekung di perut….pakailah susu sedikit!
TAUFIK : Cukup, tidak usah!
ARINI : Supaya sedikit dingin….!
TAUFIK : Tidak usah, bu. Aku mau kopi hitam.
ARINI : Aku tahu, tapi itu tidak baik untukmu. Kita harus menjaga diri kita sebaik mungkin. Di zaman sesulit, satu-satunya jalan terbaik ialah….saling berpegangan tangan….itu sebabnya aku menyuruh Lis ke warung, supaya aku bisa membicarakan sesuatu dengan kau. Malahan meski kau tadi tidak bicara lebih dulu, aku yang akan memulai percakapan ini!
TAUFIK : Apa yang hendak ibu bicarakan?
ARINI : Liswati!
TAUFIK : Oh….Lis!
ARINI : Kau tahu, bagaimana dia. Pendiam….tapi air tenang kadang menghanyutkan. Ku kira segala yang diperhatikannya selalu menjadi beban pikirannya. (TAUFIK MEMANDANG IBUNYA) Beberapa hari yang lalu kudapatkan dia sedang menangis.
TAUFIK : Kenapa?
ARINI : Karena kau….!
TAUFIK : Karena aku?
ARINI : Ia berpikir kau tidak bahagia di sini!
TAUFIK : Dari mana ia punya pikiran seperti itu?
ARINI : Dari sikapmu yang aneh….! Aku bukan mengkritik. Jangan salah mengerti….! Aku tahu, cita-citamu bukan di toko sepatu itu. Seperti setiap orang….kau terpaksa berkorban….tapi, nak….hidup ini tidaklah mudah….untuk itu diperlukan keuletan yang luar biasa….! Banyak yang ingin kucurahkan padamu, tapi tak dapat kulakukan semuanya. Aku sangat mencintai ayahmu….!
TAUFIK : (MAFHUM) Aku tahu, bu….
ARINI : Dan kau….kau mirip ayahmu….! Kau seperti ayahmu selalu pergi malam….semalaman minum-minuman keras kalau kau kalut….! Menurut Lis, itu kau lakukan hanya untuk menjauh kan diri, karena kau membenci rumah ini? Benarkah begitu?
TAUFIK : Bu, banyak yang ingin ibu katakan padaku, tapi tidak semuanya. Begitu juga aku. Banyak yang tak mampu aku jelaskan pada ibu. Aku mohon kita saling memaklumi….!
ARINI : Tapi….tapi mengapa kau tampak selalu gelisah? Sebenarnya kemana saja kau pergi setiap malam?
TAUFIK : Aku pergi nonton bioskop!
ARINI : Sesering itu?
TAUFIK : Aku perlu pengalaman lain, bu! Dan aku suka, dalam pekerjaanku tak pernah ada pengalaman yang hebat.
ARINI : Tapi kau terlalu sering, terlalu!
TAUFIK : Aku membutuhkan pengalaman-pengalaman lain bu!
ARINI : (MULAI TIDAK SABARAN LAGI, SIKAPNYA KEMBALI SEPERTI BIASA MUNCUL SIFAT CEREWETNYA) Tapi banyak pemuda-pemuda lain yang menemukan pengalaman hebat dalam karir mereka!
TAUFIK : Ya, tapi bukan mereka yang bekerja di toko sepatu itu.
ARINI : Dunia ini penuh dengan pemuda-pemuda yang bekerja di toko-toko, kantor-kantor, pabrik-pabrik….
TAUFIK : Tapi, apakah semua dari mereka mendapat pengalaman-pengalaman yang diharapkan dalam setiap pekerjaannya?
ARINI : Tentu! Dan banyak pula yang tidak memerlukannya! Tidak setiap orang, gila pengalaman istimewa!
TAUFIK : Menurut nalurinya laki-laki dilahirkan sebagai pencinta, pemburu dan sebagai pahlawan. Itu semua tidak mendapat kesempatan berkembang hanya disebuah ruangan toko.
ARINI : Naluri, naluri! Jangn ucapkan istilah itu di hadapanku! Hanya binatang yang mengandalkan naluri. Manusia dewasa tidak hidup menurut naluri lagi!
TAUFIK : Lalu, apa yang dibutuhkan seorang manusia dewasa,bu?
ARINI : Hal-hal yang lebih mulia. Akal pikiran dan budi! Hanya binatang yang selalu memuaskan naluri mereka. Aku yakin cita-citamu lebih tinggi dari mereka. Dari monyet dan babi!
TAUFIK : Ku kira tidak!
ARINI : Kau melucu! Tapi, sudahlah, bukan itu yang kubicarakan! (BERUSAHA MENETRALISIR SUASANA).
TAUFIK : (BERANJAK) Aku tidak punya waktu lagi!
ARINI : (MENAHAN) Duduk dulu….!
TAUFIK : Ibu mau aku dipecat?
ARINI : Masih ada lima menit. Aku mau bicara soal Lis.
TAUFIK : Baiklah, ada apa dengan Lis?
ARINI : Kita harus membuat rencana dan persiapan untuknya. Dia dua tahun lebih tua darimu dan sampai detik ini belum ada apa-apa. Dia terombang-ambing tidak menentu. Aku khawatir ia, ia terus terhanyut tanpa tujuan….
TAUFIK : Kupikir ia termasuk type wanita penunggu rumah….
ARINI : Omong kosong semua itu!....Kasihan dia….kecuali kalau rumah itu….rumah suaminya!
TAUFIK : Ya?
ARINI : Oh, kubayangkan bagaimana nasib Liswati kelak, jelas seperti aku melihat ujung hidungku. Mengerikan!....Jika aku melihatmu, aku semakin teringat ayahmu….ia selalu ke luar rumah tanpa mengatakan apa-apa. Lalu ia pergi meninggalkan aku. Selamat tinggal! Dan aku hanya mengurusi se…muanya. Taufik, aku melihat surat yang kau terima dari Jawatan Pelayaran. Aku tahu cita-citamu, aku tidak buta. Baiklah, kau boleh lakukan itu. Tapi jangan kau lakukan sebelum ada orang yang menggantikan tempatmu!
TAUFIK : Apa maksud ibu?
ARINI : Maksudku, kalau lis sudah mendapat seseorang yang dapat menjaganya. Kawin, berumah tangga, hingga tidak lagi bergantung pada siapapun. Barulah kau boleh pergi kemanapun sesukamu. Di bumi, di laut, setiap arah angin berhembus….! Tapi sebelum saat itu tiba, kau harus menjaga kakakmu. Tak kusebut diriku, karena aku sudah tua dan tak masuk hitungan. Taufik, aku bicara untuk kakakmu, karena ia belum bisa hidup mandiri. Ku masukkan ia sekolah mengetik, gagal! Ku bawa dia ke gelanggang remaja, juga gagal. Ia tidak mau bicara dengan siapapun, hingga tak seorangpun mau mengajaknya bercakap-cakap. Setiap hari pekerjaannya hanyalah asyik dengan mainan gelasnya dan memutar piringan hitam kuno. Cara hidup seorang wanita muda macam apa itu?
TAUFIK : Apa yang bisa aku lakukan?
ARINI : Atasi sifat-sifat ugal-ugalan! Jangan hanya dirimu sendiri yang kau pikirkan….! (TAUFIK LONCAT BANGUN MENGAMBIL JACKETNYA) Handukmu, pakai handukmu! (TAUFIK MENGAMBIL DAN MEMAKAINYA DENGAN KASAR) Taufik, aku belum katakan,apa yang akan aku tanyakan!
TAUFIK : Aku sudah terlambat….
ARINI : (MEMEGANG TAUFIK, AGAK MEMOHON) Taufik, adakah pemuda yang baik di antara pekerja-pekerja toko?
TAUFIK : Tidak ada!
ARINI : Pasti ada….
TAUFIK : Ibu….
ARINI : Carilah seseornag yang baik, tidak suka mabuk. Undanglah untuk kakakmu….
TAUFIK : Apa?
ARINI : Demi Liswati. Pertemukanlah! Supaya mereka berkenalan!
TAUFIK : (MELANGKAH PERGI) Ada-ada saja!
ARINI : Maukah kau? (PENUH HARAP) Maukah kau? Maukah kau, anakku?
TAUFIK : (OGAH-OGAHAN) Ya….!
ARINI : (MENELPON) Nani Sukamto?....Nan? Ini aku, Arini! Bagaimana, sayang? Bagaimana tekanan darah tinggimu? ….Ampuuuuun! kamu betul-betul sholeh….ya, kau seorang yang soleh sayang….! Oh, ya, langganan majalahmu kamu bayar pertriwulan, bukan? Itu sudah hampir habis, tapi kamu pasti tidak mau berhenti, bukan?....Justru pada nomor yang akan datang, mulai dengan cerita baru dari….ini karya barunya setelah….kau baca, kan? Ya, sangat seronok. Nah, katanya yang ini lebih menarik, tentang Babeh-babeh yang menyimpan istri piaraannya di Puncak….!
ADEGAN 5
MAKAN MALAM BARU BERLALU. ARINI DAN LISWATI BERBAJU CERAH, SEDANG MEMBERESKAN MEJA.GERAK-GERIK MEREKA DIFORMALISIR HAMPIR-HAMPIR SEPERTI TARIAN ATAU UPACARA. BADAN MEREKA PUCAT DAN SUNYI BAGAIKAN KUPU-KUPU MALAM DIRUANG YANG PENUH BAYANGAN. TAUFIK BERPAKAIAN PUTIH. BANGUN DARI MEJA MENUJU PINTU DEPAN.
ARINI : Tufik, maukah kau menyenangkan hatiku?
TAUFIK : Ibu mau apa?
ARINI : Sisirlah rambutmu! Kau tampak tampan kalau rambutmu disisir! (TAUFIK DUDUK DI KURSI MEMBACA KORAN) Dalam hal ini, ku harap kau mengikuti ayahmu!
TAUFIK : Merokok….di luar!
ARINI : Kau merokok terlalu banyak. Satu bungkus sehari. Harganya Rp. 500,00 bayangkan, berapa dalam sebulan? 30 x Rp. 500,00 berapa rupiah kau bakar setiap bulannya. Jumlah yang sebenarnya bisa kau hemat.cukup membayar kursus akuntan. Pikirkan baik-baik!
TAUFIK : Aku lebih suka merokok! (BERANJAK DENGAN KESAL).
ARINI : (TAJAM) Aku tahu!....Menyedihkan! (MENGHAMPIRI TAUFIK) Sayang kita tak punya teras! (MENGHAMPARKAN KORAN. DUDUK) Apa yang kau pandang?
TAUFIK : Bulan.
ARINI : Apa ada bulan malam ini?
TAUFIK : Sedang naik di atas warung Babah ASiong.
TAUFIK : Betul juga. Semungil sabit perak. Apa yang sedang kau bisikkan pada bulan?
TAUFIK : Hmmh….Hmmh….(TERTAWA MENGGUMAM).
ARINI : Ayo, katakan, apa?
TAUFIK : Rahasia….!
ARINI : Rahasia? Baiklah! Aku takkan menceritakan apa yang ada dalam hatiku. Biar ku sembunyikan.
TAUFIK : Ku kira aku dapat menerkanya….!
ARINI : Kau bisa lihat isi kepalaku?
TAUFIK : Heh….heh….heh….
ARINI : Memang aku tak punya rahasia apa-apa. Akan ku ceritakan apa yang bisa ku bisikkan pada bulan….sukses dan kebahagiaan ku mohonkan untuk anak-anakku tercinta. Tiap kali bulan muncul, aku mengharap-harapkannya. Jika bulan tidak ada, aku tetap mengharap-harapkannya….!
TAUFIK : Ku kira….ibu mengharapkan seorang tamu lelaki.
ARINI : Mengapa kau berkata begitu?
TAUFIK : Apa ibu sudah lupa? Ibu menyuruh aku mencarikannya!
ARINI : Ya, aku pernah menganjurkan. Alangkah baik bagi kakakmu jika saja kau membawa temanmu dari toko, seorang lelaki baik. Ku kira sudah lebih dari sekali aku memohon.
TAUFIK : Sering sekali.
ARINI : Lalu?
TAUFIK : Kita akan menerima seorang tamu….!
ARINI : Apa?
TAUFIK : Seorang tamu lelaki!
ARINI : Maksudmu, kau mengundang seorang pemuda untuk datang?
TAUFIK : Aku mengundang dia untuk makan bersama di sini!
ARINI : Sungguh!
TAUFIK : Ya!
ARINI : Kau undang dia….dan dia menerimanya?
TAUFIK : Ia menerimanya!
ARINI : Oooh….alangkah senangnya….!
TAUFIK : Sudah ku duga, ibu pasti senang.
ARINI : Apa sudah pasti?
TAUFIK : Pasti!
ARINI : Kapan?
TAUFIK : Tidak lama lagi!
ARINI : Demi Tuhan, jangan main-main, ceritakanlah!....
TAUFIK : Apanya yang harus diceritakan?
ARINI : Tentunya, aku ingin tahu, kapan ia akan datang?
TAUFIK : Ia akan datang, besok!
ARINI : Besok?
TAUFIK : Ya, besok!
ARINI : Taufik….
TAUFIK : Ya, bu?
ARINI : Kalau besok, apa waktunya tidak terlalu sempit?
TAUFIK : Memangnya kenapa?
ARINI : Persiapannya! Mengapa tidak segera kau beritahu aku setelah kau undang dia? Ya, supaya aku siapkan segalanya. Apa tak kau sadari itu?
TAUFIK : Ah, tak usah mengada-ada,bu!
ARINI : Taufik, Taufik! Tentu saja aku akan repot. Semuanya harus bersih tidak boleh kumal, semuanya harus rapih tidak boleh semrawut! Kini aku harus bertindak cepat….
TAUFIK : Aku tidak mengerti, apa yang perlu direpotkan?
ARINI : Mana kau tahu! Mana mungkin kita mengundang seorang tamu ke kandang babi? Semua perabotan perak, hadiah perkawinanku, harus digosok. Taplak-taplak harus dicuci, kaca jendela harus bening, gorden-gorden harus ditukar dan pakaian kita?!
TAUFIK : Ibu, tamu kita ini tidak perlu merepotkan begitu?
ARINI : Tidakkah kau sadari, bahwa ia adalah tamu lelaki pertama yang akan kita perkenalkan kepada saudaramu? Sebetulnya memprihatinkan sekali, saudaramu itu belum pernah mempunyai tamu pria seorangpun….! Masuklah dulu!
TAUFIK : Ada apa?
ARINI : Ada yang akan ku tanyakan….!
TAUFIK : Kalau ibu mau bikin ribut, akan ku batalkan. Akan ku katakan supaya ia jangan datang!
ARINI : Kau sama sekali tidak akan berbuat demikian. Perjanjian yang tidak dipenuhi akan sangat menyinggung perasaan! Artinya kini aku harus kerja keras, kita tidak akan mengada-ada. Tapi harus kita persiapkan. Mari masuk! (DENGAN MUKA MERENGGUT TAUFIK IKUT MASUK) Duduklah!
TAUFIK : Ibu ingin aku duduk disuatu tempat khusus?
ARINI : Kau boleh duduk di mana saja. Begini, untung sofa kita masih agak baru, akan ku suruh kirim lampu berikut kakinya dan kita bayar dengan cicilan. Aku akan sediakan warna yang cerah untuk kursi-kursi itu. Sayang tidak banyak waktu utuk mengganti warna dinding ini….! Oh, ya, siapa nama pemuda itu?
TAUFIK : Kaharudin….!
ARINI : Mmm! Besok hari Jum’at….aku akan bikin pepes ikan! Apa pekerjaannya? Di toko juga?
TAUFIK : Tentu saja….habis di mana lagi….?
ARINI : Apa ia suka minuman keras?
TAUFIK : Mengapa ibu tanya begitu?
ARINI : Ayahmu tukang minum!
TAUFIK : Mulai lagi….!
ARINI : Jadi ia juga pemabuk?
TAUFIK : Mana aku tahu, bu….!
ARINI : Cobalah kau cari tahu! Aku tak ingin anak gadisku bersuamikan seorang pemabuk!
TAUFIK : Jangan dulu bicara begitu, bu! Lagi pula Tuan Muda Kaharudin, kan belum muncul!
ARINI : Tapi besok ia akan datang untuk bertemu kakakmu! Sementara aku belum tahu tentang sifat-sifatnya! Tapi tak apalah, jadi perawan tua, lebih beruntung daripada jadi istri seorang pemabuk….!
TAUFIK : Astaga!
ARINI : Diam!
TAUFIK : Pertemuan lelaki dan perempuan tidak harus untuk kawin, bu!
ARINI : Taufik bicaralah yang benar….jangan berolok-olok! (MENGAMBIL SIKAT RAMBUT).
TAUFIK : Ibu mau apa?
ARINI : Menyikat hutan rimba di kepalamu itu!....Apa pekerjaan pemuda itu, di toko?
TAUFIK : Dia dari bagian transportasi, bu!
ARINI : Lumayan juga. Kau pun bisa kalau kau mau! Kau tahu, berapa gajinya?
TAUFIK : Ku kira kurang lebih….Rp. 25.000,00 sebulan.
ARINI : Emmmh….tidak terlalu besar….tapi….
TAUFIK : Sepuluh ribu lebih banyak dariku.
ARINI : Aku tahu! Tapi untuk hidup berkeluarga, masih jauh dari cukup.
TAUFIK : Betul, tapi Kaharudin belum berkeluarga.
ARINI : Ya, tapi kelak? Akan….!
TAUFIK : Baru rencana….!
ARINI : Sejauh ini, kau adalah satu-satunya pemuda yang ku kenal dan yang tak mau menyadari bahwa sekarang akan jadi hari esok, hari esok akan jadi hari kemarin, hari kemarin akan jadi masa lampau yang akan disesali selama-lamanya kalau tidak direncanakan sematang-matangnya terlebih dahulu!
TAUFIK : Akan ku coba memikirkannya, sejauh yang dapat ku terima.
ARINI : Jangan sombong dahulu! Apalagi yang kau ketahui tentang….siapa nama panggilannya?
TAUFIK : Yunus Kaharudin, Yunus D Kaharudin! D nya dari Daeng.
ARINI : Orang Makasar tulen? Orang Makasar biasanya suka minum! Bagaimana dia?
TAUFIK : Haruskah ku tanyakan langsung padanya?
ARINI : Satu-satunya jalan untuk mencari tahu, dengan meminta keterangan secara sopan pada waktu-waktu yang tepat. Ketika aku masih gadis, di Jatiwangi, cara itulah yang aku pakai bila aku merasa sanksi terhadap kawan lelakiku. Tentu saja supaya tidak mengambila pilihan yang salah….!
TAUFIK : Lalu, mengapa ibu mengambil pilihan yang salah?
ARINI : Wajah ayahmu nampak tanpa salah! Jika ia tersenyum, dunia ini menjadi gemerlapan….kesalahan terbesar dari seorang gadis ialah menyerahkan diri ke wajah tampan seorang lelaki. Ku harap, nak Kaharudin tidak terlalu ganteng.
TAUFIK : Tidak, ia tidak terlalu ganteng, agak hitam dan hidunggnya kurang bagus!
ARINI : Apakah dia selalu ke luar rumah?
TAUFIK : Aku tidak berani memastikan, tapi ku kira ia betah di rumah!
ARINI : Yang terpenting dari seorang lelaki adalah wataknya!
TAUFIK : Itu yang sering aku katakan!
ARINI : Tak pernah kau katakan begitu….dan ku kira kau takkan pernah berpikiran begitu?
TAUFIK : Jangan begitu….bu!
ARINI : ….Ku harap saja ia seorang yang mempunyai kemauan keras!
TAUFIK : Memang! Ia seseorang yang nampak selalu ingin maju!
ARINI : Dari mana kau bisa mengira begitu?
TAUFIK : Ia masuk sekolah malam, bu!
ARINI : Bagus! Apa yang dipelajarinya?
TAUFIK : Teknik komputer dan teknik berpidato!
ARINI : (SENANG) Teknik berpidato….? Bagus sekali, artinya ia mempunyai cita-cita untuk jadi seorang pemimpin!....Dan teknik komputer….sangat penting untuk zaman kini. Semua itu perlu ku ketahui, demi anak gadisku.
TAUFIK : Ada yang harus aku ingatkan! Aku sama sekali tidak bicara tentang Lis, aku tidak mengatakan bahwa sebenarnya kita punya rencana tertentu. Aku hanya mengatakan, “Bagaimana kalau sekali-sekali kau datang dan makan di rumahku?” ia menjawab: “Baik”, selesailah percakapan kami….
ARINI : Memang mestinya begitu….kadang-kadang kau bisa juga bertindak secerdik kancil….! Setelah is datang, segera ia akan tahu bahwa kau mempunyai seorang kakak yang cantik….manis dan mungil. Untuk itu ia akan sangat berterima kasih telah kau undang makan.
TAUFIK : Meskipun begitu, aku minta ibu tidak terlalu berharap….
ARINI : Apa maksudmu?
TAUFIK : Liswati memang segalanya, bagiku, terutama bagimu ibu. Tentu saja karena ia adalah sebagian dari kita dan kita sayang padanya. Kita bahkan seolah tidak perduli kalau ia pincang.
ARINI : Oooh….jangan kau ucapkan perkataan itu!
TAUFIK : Ibu….kita harus berani menghadapi kenyataan….dia pincang….dan bukan itu saja….
ARINI : Apa maksudmu….bukan itu saja….?
TAUFIK : Liswati sama sekali beda dengan gadis-gadis lain….
ARINI : Ya, aku tahu, perbedaan itu malahan akan menguntungkan dia.
TAUFIK : Tidak terlalu menguntungkan….di mata orang lain, orang luar, ia sangat pemalu, sangat! Dan hidup dalam dunia tersendiri….ini membuat dia tampak aneh, di mata orang luar!
ARINI : Jangan sebut dia aneh!
TAUFIK : Terimalah kenyataan ini, bu! Dia memang aneh!
ARINI : Apanya yang aneh? Jika aku boleh tahu!
TAUFIK : Lis hidup dalam dunia mainan gelasnya! (TAUFIK BANGUN, ARINI TETAP DI TEMPAT, BIMBANG) Memutar piringan hitam….tidak lebih dari itu! (SEOLAH MENERWANG DIRINYA SENDIRI).
ARINI : Mau kemana?
TAUFIK : Nonton bioskop!
ARINI : Nonton lagi, nonton lagi! Aku tak percaya! (TAUFIK MENGHILANG) Lis! Liswati!
LISWATI : (DARI DALAM) Ya, bu!
ARINI : Tinggalkan pekerjaanmu, kemarilah! (LIS MUNCUL) Lihat! Indahnya bulan itu. Bisikanlah apa keinginanmu, bisikanlah pada bulan!
LISWATI : Bulan….bulan?
ARINI : Bulan sabit perak! Berpalinglah ke sebelah kirimu, lalu ucapkanlah….! (LIS TETAP TAK MENGERTI, BENGONG. ARINI MEMBIMBINGNYA MENENGADAHKANNYA). Bisikkan….bisikkan apa yang kau harapkan….?
LISWATI : Apa yang harus saya bisikkan, bu?
ARINI : (SUARANYA GEMETAR, MATANYA BERKACA-KACA) Kebahagiaan, nak. Peruntungan yang baik….!
MUSIK…CAHAYA MEREDUP….ISTIRAHAT….
BABAK II
ADEGAN 6
TAUFIK : Begitulah, besoknya saya ajak Yunus makan di rumah! Aku pernah mengenalnya ketika di SMA. Ia seorang bintang pelajar. Semangat hidupnya, wataknya sangat baik. Di samping penampilannya yang selalu bersih dan terpelihara. Ia selalu menjadi perhatian. Ia seorang pemain basket ball, pemimpin studiklub, pemimpin paduan suara dan ia juga memegang peranan utama dalam sandiwara yang dipentaskan setiap tahun di sekolah….!
Ia selalu bergerak cepat, seolah hendak mengalahkan hukum gaya berat. Masa remajanya dilalui terlalu cepat. Sehingga orang mengira ia akan sampai pada puncak kariernya pada usia tiga puluhan….!
Tapi nampaknya Yunus telah banyak menemui rintangan setelah menamatkan pelajarannya di SMA, hingga prestasinya terhambat. Kini ia memegang jabatan yang tidak jauh berbeda dengan aku.
Di toko tempat kami bekerja, ia adalah sahabatku satu-satunya. Aku agak penting baginya,karena aku mengetahui dan mengenal dia dan masa lampaunya. Aku selalu menyaksikan pertandingan-pertandingannya. Ia pun tahu kebiasaanku, menulis sanjak, bila toko sedang sepi. Ia memanggilku penyair….Pegawai-pegawai di toko memandangku dengan penuh curiga, sedangkan Yunus memandangku dengan kepekaan. Lama-lama sikap Yunus itu menular kepada yang lain. Kecurigaan mereka berkurang, senyum-senyuman pun mulai tampak seperti kalau orang melihat anjing yang lucu lewat di antara mereka….Aku tahu, Yunus dan Lis telah saling kenal di sekolah. Aku pernah dengar betapa Lis memuji-muji suara Yunus. Entah….apakah Yunus masih mengenal Lis, atau tidak. Keadaan Lis di SMA adalah kebalikan yang menyolok dari keberadaan kepopuleran Yunus. Kalau pun ia masih mengenal Lis, tentu bukan sebagai saudaraku. Ya, karena ketika ia menyatakan kesediaannya untuk memenuhi undanganku, ia berkata: “Penyair, sebenarnya aku tidak menduga kalau kau mempunyai saudara di rumah.” Ia akan sadari bahwa aku masih punya….!
PETANG DI RUMAH KELUARGA WIRAATMAJA. CAHAYA SORE KEKUNING-KUNINGAN. ARINI TELAH BEKERJA KERAS UNTUK MENYAMBUT TAMUNYA. TAMPAK PERUBAHAN MENYOLOK DI RUMAH ITU. SEMUANYA SERBA RAPI. ADA DUA BANTAL BARU DI SOFA. ALAT JAHIT TERSEBAR DI LANTAI. LIS SEDANG MENCOBA BAJU BARUNYA YANG MASIH DIRAPIKAN ARINI. RAMBUT LIS DIRUBAH BENTUKNYA, IA NAMPAK LEMBUT DAN CANTIK. KECANTIKANNYA MENGESAnKAN BAHWA IA SEPERTI MAINAN GELASNYA….BENING.
ARINI : (TIDAK SABAR) Mengapa kau gemetar?
LISWATI : Bu, ini membikin saya gugup.
ARINI : Membikin kau gugup??
LISWATI : Repot-repot begini. Memangnya ada yang sangat penting?
ARINI : Bagaimana kau ini Lis. Apa kamu senang terus-terusan diam di rumah? Aku sedang merencanakan sesuatu untukmu, jangan banyak tingkah! Nah, lihat….! Tunggu….!....Sebentar!
LISWATI : Apa lagi? (ARINI MENGAMBIL DUA PUCUK SAPU TANGAN KEMUDIAN DIJEJALKANNYA DI DADA LISWATI) Apa-apaan ibu ini?
ARINI : Ini yang disebut ‘pemalsuan yang indah’!
LISWATI : Tidak, saya tidak mau memakainya!
ARINI : Harus!
LISWATI : Mengapa harus?
ARINI : Memang tak enak didengarnya….dadamu terlalu kecil!
LISWATI : Ibu, kau seperti orang yang sedang memasang perangkap….
ARINI : Setiap gadis manis adalah perangkap! Ya, perangkap manis! Dan kaum pria senantiasa mengharapkannya….Nah, sekarang berkacalah nona manis….kini kau nampak sangat cantik….Sekarang aku sendiri harus ganti pakaian….Kau akan ditemani oleh kecantikan ibumu. (IA KEBELAKANG SAMBIL BERSENANDUNG KECIL, LIS MEMANDANG DIRINYA DI CERMIN BESAR, TERDENGAR DESAH LEMBUTNYA. ARINI TERTAWA DI DALAM) Akan ku perlihatkan sesuatu padamu, kau lihat jika aku muncul!
LISWATI : Apakah itu, bu?
ARINI : Sabarlah….akan segera kau lihat! Sesuatu yang kuungkap kembali dari lemari….Sebenarnya cara berpakaian itu tidak banyak berubah! (MUNCUL. IA NAMPAK SEPERTI SEORANG REMAJA) ….Inilah ibumu! Dengan baju ini aku sering pergi ke pesta, dua kali pula memenangkan lomba dansa. Oh, ya, sekali ku pakai di pesta Gubenuran….Dapatkah kau bayangkan aku berputar-putar di ruang dansa, Lis? (IA MENCOBA BEBERAPA LANGKAH DANSA).
Ku pakai ini jika teman-teman priaku mengunjungiku. Juga ketika aku bertemu ayahmu, ku pakai ini….Aku demam malaria selama bulan-bulan itu. Perubahan iklim perkebunan ke kota menyebabkan daya tahan tubuhku lemah….aku agak selalu demam, tidak terlalu mengkhawatirkan memang. Tetapi membuatku tidak sabaran dan membosankan….! ‘Hujan undangan’, pesta-pesta diseluruh kota! ‘Diam diranjang’, kata ibuku. ‘kau demam!’….Tapi aku pergi juga….malam pesta….pesta dansa-dansi! ….Tiap sore berjalan-jalan, piknik ke luar kota!....Indah, oh….indah sekali….Bukit-bukit penuh kembang merah, diseling kembang dahlia kuning di tengah-tengah hijaunya bukit. Memang aku sangat tergila-gila oleh dahlia kuning waktu itu. Sehingga ibuku berkata: “Manis, sudah tidak ada tempat lagi untuk bunga-bungamu itu?”….Tiap kali dimana saja kulihat bunga itu, selalu saja ku minta teman priaku untuk memetikkannya. Tak aneh kalau mereka bergurau: “Arini dengan dahlia kuningnya”….karena tak ada lagi tempat, tak ada lagi jembangan. Bunga itu aku pegang di tangan. (DI DEPAN POTRET SUAMINYA) Lalu aku bertemu dengan ayahmu! Demam malaria….demam dahlia kuning….dan….demam pria ini, ayahmu! (MENGHELA NAFAS) ….kuharap saja mereka tiba sebelum hari hujan. Kuberi saudaramu uang tambahan supaya ia dan nak Kaharudin bisa naik beca!
LISWATI : Siapa namanya?
ARINI : Kaharudin!
LISWATI : Nama lengkapnya?
ARINI : Aduh….aku lupa….oh, ya, Yunus!
LISWATI : (KAGET, MEMEGANG KURSI, LEMAH)….Yunus?
ARINI : Yunus, ya, betul, Yunus! Aku sendiri belum pernah bertemu!
LISWATI : Apakah pasti namanya Yunus Kaharudin?
ARINI : Ya! Mengapa?
LISWATI : Apakah Taufik mengenal dia di SMA?
ARINI : Entahlah. Ku kira ia mengenalnya di toko!
LISWATI : Di SMA dulu, ada Yunus Kaharudin yang kami kenal! (AGAK KERAS) Kalau benar dia, maafkan kalau aku tidak ikut makan!
ARINI : Apa-apaan ini?
LISWATI : Ibu pernah bertanya, apakah aku pernah menyukai seorang pemuda? Apakah ibu masih ingat ketika saya perlihatkan potretnya?
ARINI : Kau maksud, pemuda di majalah SMA itu?
LISWATI : Ya, dia!
ARINI : Nak, apakah kau mencintai dia?
LISWATI : Ah, ibu….Entahlah, tapi jika benar dia, saya tidak dapat duduk semeja dengannya….!
ARINI : Bukan dia, belum tentu dia, nak. Sudahlah….! Dia atau pun bukan, kau harus ikut makan bersama. Kalau tidak takkan ku maafkan kau!
LISWATI : Maafkan saya, bu!
ARINI : Aku tak suka dengan sikapmu yang bodoh itu, Lis! Sudah terlalu sering ku dapatkan sikap itu dari kau dan saudaramu….! Duduklah di sini hingga mereka datang! Bukalah pintu jika mereka datang!
LISWATI : (TAKUT) Oh, sebaiknya ibu saja yang membuka pintu….!
ARINI : Aku di dapur, sibuk!
LISWATI : Oh,….ah….bu, ibu saja. Jangan menyuruh saya….!
ARINI : Aku harus menyiapkan makanan….! Aneh, hanya karena tamu lelaki saja panik! (IA PERGI. LIS MEMEKIK KECIL LALU MEMATIKAN LAMPU KAKI SEOLAH TAKUT PENERANGAN. IA DUDUK DI UJUNG SOFA TANPA TAHU APA YANG HARUS DI LAKUKAN. TAUFIK MUNCUL BERSAMA YUNUS. LIS LARI KE RUANG MAKAN, PANIK. PINTU DIKETUK, LIS KALANG KABUT)
(ARINI DARI DALAM) Liswati, manis, buka pintunya….(LIS TAK BERDAYA).
YUNUS : Sampai juga, untung kita tak sempat kehujanan!
TAUFIK : Ya! (MENGETUK LAGI. GELISAH. YUNUS BERSIUL KECIL, MENGAMBIL ROKOK DARI SAKUNYA).
ARINI : (RIANG) Lis, itu saudaramu dengan nak Kaharudin. Ayo, buka pintunya, sayang….! (LIS MALAH LARI KE PINTU DAPUR).
LISWATI : (PANIK) Bu,….ibu saja yang buka! (ARINI MUNCUL. NAMPAK MARAH. IA HANYA MENUDING KE PINTU) Ibu saja….!
ARINI : (BERBISIK) Kau ini kenapa, anak pandir?
LISWATI : (PUTUS ASA) Jangan saya….ibu saja….!
ARINI : Sudah ku katakan, aku tak suka sikap seperti ini. Mengapa kau justru memilih saat seperti ini untuk berlaku tolol?
LISWATI : Saya mohon, ibu saja yang….
ARINI : Tidak, aku tak bisa!
LISWATI : Saya juga tak bisa, bu….saya mual….!
ARINI : Aku juga mual! Aneh….? Mengapa kau dan saudaramu tidak bisa seperti orang lain? Tingkah yang tak masuk akal! Tolol! (PINTU DIKETUK) Ya, sebentar….! Mengapa kau takut membuka pintu, jawab aku Liswati! (LIS MALAH LARI KE DEPAN GRAMAPHONE) Liswati! Buka pintu!
LISWATI : Ya, ya, bu! (MUSIK MEMBERINYA KEKUATAN UNTUK MEMBUKA PINTU. MASUK TAUFIK DAN YUNUS).
TAUFIK : Lis, ini Yunus….dan ini Liswati kakak ku!
YUNUS : (MENGULURKAN TANGAN) Liswati! (LIS RAGU TAPI KEMUDIAN MENJABAT TANGAN YUNUS) Lho, tanganmu kok dingin?!
LISWATI : (TAMBAH GUGUP) Ya….eee….saya, saya sedang memutar piringan hitam….!
YUNUS : Pasti musik klasik. Agar sedikit hangat, kau harus memutar lagu-lagu jazz, Lis!
LISWATI : Maaf, eee….saya….saya belum selesai memutarnya! (DENGAN CANGGUNG MENUJU GRAMAPHONE DAN MEMATIKANNYA. KEMUDIAN BERLARI KE DALAM).
YUNUS : (SENYUM) Lho, kenapa?
TAUFIK : Hmmmh, memang dia sangat pemalu.
YUNUS : Pemalu? Di zaman sekarang jarang aku bertemu seorang gadis pemalu….Ku rasa kau tak pernah menyebut-nyebut punya kakak!
TAUFIK : Ya, sekarang kau tahu, aku punya seorang….apa? Surat kabar?
YUNUS : Mana?
TAUFIK : Apanya yang pertama kau baca? Komiknya?
YUNUS : Olah raga! Nah, sepak bola….Maradona….!
TAUFIK : (TANPA MINAT) Oooh! (MENYALAKAN ROKOK LALU MENUJU KE LUAR).
YUNUS : Kemana?
TAUFIK : Duduk di luar!
YUNUS : Hai, penyair! Aku ingin memberimu saran!
TAUFIK : Saran apa?
YUNUS : Ikutlah kursus seperti aku. Kursus pidato di tempat umum. Kau dan aku….sebenarnya bukan type pekerja toko!
TAUFIK : Akh, kau ini. Tapi apa hubungannya dengan kursus pidato itu?
YUNUS : Ya, siapa tahu kita bisa menjadi pemimpin Serikat Pekerja, kursus ini telah banyak menolong aku, kau boleh tahu!
TAUFIK : Dalam hal apa?
YUNUS : Dalam hal apa saja. Tanyalah dirimu. Apakah perbedaannya kau dan aku….dengan orang-orang yang menduduki jabatan di kantoran? ….Otak? Bukan! ….Kepandaian? Juga bukan! Lalu apa? Hanya sesuatu yang kecil. Sikap sosial!....Kemampuanmu untuk tidak dikalahkan orang lain dan memanfaatkan kemampuanmu itu di tiap tingkatan sosial….!
ARINI : (DARI DALAM) Taufik!
TAUFIK : Ya, bu!
ARINI : Kau dengan nak Kaharudin?
TAUFIK : Ya, bu!
ARNI : Duduk-duduk saja dulu, ya?
TAUFIK : Ya, bu!
ARINI : Tanya saja pada nak Kaharudin, apa ia mau minum dulu?
YUNUS : Ah, tidak bu! Terima kasih, sudah di toko….Taufik!
TAUFIK : Hmmh!
YUNUS : Tuan Muklis bicara tentang kau padaku!
TAUFIK : Oh, ya? Apa katanya?
YUNUS : Kau akan di PHK, kalau kau tidak segera bangkit!
TAUFIK : Aku sedang berusaha bangkit!
YUNUS : Aku belum melihat tanda-tandanya.
TAUFIK : Tanda-tandanya di sini, di dalam. Aku ingin merubah diriku.kini justru aku berada pada titik penyerahan diri untuk masa datang. Tanpa toko sepatu, tanpa tuan Muklis atau kursus pidato segala.
YUNUS : Kau sedang memendam apa?
TAUFIK : Aku sudah muak nonton bioskop!
YUNUS : Bioskop?
TAUFIK : Bioskop, ya! Bayangkan, bayangkan semua orang hebat itu. Tahukah kau apa yang sebenarnya terjadi? Orang-orang lebih suka nonton gambar hidup, daripada menghidupkan kehidupannya sendiri! Maksudku, kebanyakan orang hanya datang untuk menikmati kemolekan dan kegagahan artis-artis filmnya. Entah itu dari Hollywood atau pun dari dalam negeri. Terkadang mereka tak ambil perduli, pada hal sebenarnya lebih berharga untuk dipetik sebagai cerminan pengalaman dalam hidupnya. Orang-orang asyik menonton dari gelap ke layar putih. Hingga terang datang. Kini aku semakin sadar, bahwa pengalaman-pengalaman itu bukan saja milik pelaku-pelaku di layar putih. Tapi bisa juga menjadi milik kita, milikku. Aku sudah tidak sabar lagi, aku tak perlu lagi menunggu terang datang. Aku bosan dengan gambar hidup, kini aku yang akan menghidupkan diriku. Kini giliranku untuk pergi ke tanah sebrang, ya, berburu hidup!
YUNUS : (TAK PERCAYA) Kau mau pergi?
TAUFIK : Ya!
YUNUS : Kapan?
TAUFIK : Tak lama lagi….
YUNUS : Ah, yang benar? Kemana?
TAUFIK : Di dalam sini (MENUNJUK DADA) sudah mendidih. Seperti mimpi, memang. Tetapi di dalam sini sudah meronta-ronta, bergolak! Setiap kali aku pegang sepatu, melayani orang di toko, aku gemetar. Ya, aku gemetar bila teringat bagaimana pendeknya hidup dan apa yang sedang aku lakukan. Apapun namanya yang ku pegang itu adalah sesuatu yang akan dipakai orang untuk berjalan jauh! (MEROGOH SURAT DARI SAKUNYA) Lihat ini!
YUNUS : Apa ini?
TAUFIK : Aku jadi anggota!
YUNUS : (MEMBACA) Sarikat Sekerja Karyawan Kapal Dagang!
TAUFIK : Bulan ini aku belum bayar rekening listrik, ku bayarkan iuran anggota sarekat.
YUNUS : Kau akan menyesal jika listrikmu diputuskan!
TAUFIK : Aku takkan di sini lagi.
YUNUS : Dan ibumu?
TAUFIK : Aku mirip ayahku. Anak nakal dari seorang ayah yang nakal. Kau lihat senyum megahnya itu? Sudah hampir 16 tahun ia tak pulang!
YUNUS : Enak saja kau ini. Bagaimana pandangan ibumu tentang hal ini?
TAUFIK : Sssst! Ibuku datang. Ia belum tahu tentang rencanaku!
ARINI : Kalian dimana? (MENYALAKAN LAMPU KAKI).
TAUFIK : Di luar bu! (MEREKA MASUK. DANDANAN ARINI MENGEJUTKAN MEREKA, WALAUPUN YUNUS MENGIKUTI KURSUS PIDATO TETAPI TIDAKLAH DAPAT MENANDINGI KEPANDAIAN BICARA ARINI, DITAMBAH TERTAWANYA YANG MENJANGKIT. TAUFIK AGAK MALU JUGA. TETAPI YUNUS SETELAH TERBEBAS DARI KEJUTAN PERTAMA TADI SEGERA HATINYAJADI TERPIKAT. IA PUN TERSENYUM MEGAH).
ARINI : (KEMAYU) Akh, jadi inilah Nak Kaharudin? Tidak perlu lagi memperkenalkan diri. Aku sudah mendengar banyak sekali tentang kau dari anakku. Hingga aku meminta Taufik untuk mengundang pemuda luar biasa ini, kau! Aku senang sekali dapat bertemu dengan pemuda sebaik engkau, nak. Aku juga tidak mengerti, mengapa anakku tidak mengundangmu lebih awal? Oh, ya, mari duduk! Ku kira ruangan ini kurang hawa….Taufik sebaiknya kau buka saja pintunya! Sudah kusediakan santapan yang segar untuk kita. Ku kira santapan yang segar akan sangat baik untuk saat-saat seperti ini. Di musim hujan, darah kita menjadi demikian kentalnya, kita perlu waktu untuk membiasakan diri….! Pergantian musin tahun ini datang begitu cepatnya. Aku baru sadar, tiba-tiba saja sudah musim kemarau lagi….Aduh panasnya hari ini. Sampai-sampai aku harus mencari-cari baju yang enak dipakai dalam hawa seperti ini. Aku cari di lemari,kutemukan yang ini, sudah sangat tua memang,tapi enak dipakainya, sejuk. Lagi pula baju ini cukup bersejarah….
TAUFIK : Bu!
ARINI : Ya, buyung?
TAUFIK : Kapan kita….makan?
ARINI : Coba tanya kakakmu, apa sudah siap? Penyediaan makanan seluruhnya ditangani Liswati. Katakan saja segera! (PADA YUNUS) Sudah bertemu dengan Liswati?
YUNUS : Ya….!
ARINI : Bagus. Jadi sudah bertemu? Kebanyakan gadis-gadis manis dan menarik seperti dia, tidak menyukai pekerjaan rumah tangga. Syukurlah, Lis tidak saja cantik menarik tetapi juga menyukai pekerjaan rumah tangga. Aku pun tidak begitu, tak pernah. Satu-satunya yang ku bisa hanyalah membikin ongol-ongol….yang menjadi sebab adalah karena dulu kami mempunyai banyak pelayan….Semua kesan hidup yang indah berlalu begitu saja, sampai akhirnya lenyap. Akibatnya aku tak siap menghadapi hidup macam ini, sebagaimana adanya aku sekarang. Semua tamu-tamu priaku adalah putra-putra tuan tanah dan aku kira aku akan kawin dengan salah satu dari mereka lalu mendidik anak-anak kami di gedung yang besar dengan pelayan-pelayannya. (MENGHELA NAFAS) Yah, tapi….lelaki meminang dan wanita menerima….Akulah salah satu korban kata-kata kuno itu. Aku tidak kawin dengan putra tuan tanah. Aku kawin dengan seorang pegawai kantor telepon yang meminangku….Lelaki yang tersenyum di potret itu! Pegawai telepon yang jatuh cinta pada panggilan pengembaraan. Sekarang bahkan tidak diketahui dimana dia….oh, kenapa aku ngelantur begini….ku harap saja kau tidak semalang kami, nak….Taufik!
TAUFIK : Ya, bu!
ARINI : Apa sudah siap?
TAUFIK : Kelihatannya sudah terhidang di meja, bu!
ARINI : Oh, bagus. Mana kakakmu?
TAUFIK : Ia merasa tak enak badan. Katanya, maafkan ia tak dapat ikut makan!
ARINI : Ada-ada saja….Lis!
LISWATI : (DARI DALAM) Ya, bu!
ARINI : Kau harus ikut makan, sayang. Kami takkan mulai sampai kau muncul. Kemarilah, kami menunggumu, manis! (LIS MASUK DARI BELAKANG. BIBIRNYA GEMETAR. LEMAH IA BERJALAN. IA TERSANDUNG)
TAUFIK : (KAGET) Lis!
ARINI : (MEMEKIK KECIL) Lis, oh. Lis kau benar-benar sakit, manis. Taufik, tolong bawa kakakmu ke kamar tamu. Lis, sayang, istirahatlah di sofa! (KEPADA YUNUS) Mungkin ia terlalu lelah! (TAUFIK MASUK) Bagaimana tidAk apa-apa?
TAUFIK : (BIJAK) Hmmmh….hmmmh.
ARINI : Apa itu? Hujan? Oh, sejuknya hujan! (PADA YUNUS) Silahkan mulai! (SEMENTARA LIS REBAH DI SOFA, BIBIRNYA GEMETAR MENAHAN ISAK. CAHAYA REDUP).
ADEGAN 7
ACARA BERSANTAP MALAM BARU SAJA BERAKHIR. LISWATI MASIH TAMPAK DI SOFA, PANDANGANNYA NANAR. CAHAYA MENYINARI WAJAHNYA YANG LEMBUT, MENAMBAH KECANTIKAN. HALUS DAN ANEH. SUARA HUJAN MAKIN BERKURANG LALU BERHENTI SAMA SEKALI.
BEBERAPA SAAT SETELAH LAYAR DIBUKA, LAMPU DI RUMAH ITU BERKEDIP-KEDIP, LALU PADAM SAMA SEKALI.
YUNUS : Hei, kenapa ini bung, lampu! (ARINI TERTAWA GUGUP).
ARINI : Huh, putus!....Nak, tahukah kau dimana Nabi Musa ketika lampu mati? Kau tahu jawabannya, nak?
YUNUS : Tidak bu, dimana?
ARINI : Di tempat gelap! (YUNUS TERTAWA) Kalian di tempat, aku akan memasang lilin. Untung aku selalu menyiapkan lilin di meja. Mana korek apinya? Siapa diantara kalian yang punya korek api?
YUNUS : Ini, bu!
ARINI : Terimakasih, nak!
YUNUS : Terimakasih kembali, bu!
ARINI : Mungkin sekringnya terbakar. Nak Kaharudin, apakah kau mengerti soal listrik? Aku dan Taufik sama sekali tak mengerti soal-soal teknik. (BUNYI ORANG BERJALAN KE DAPUR) Oh, hati-hati, aku tak mau tamuku patah leher karena terjatuh menabrak sesuatu!
YUNUS : Ha ha ha! Mana kotak sekringnya?
ARINI : Itu dekat kompor! Nampak tidak?
YUNUS : Sebentar!
ARINI : Listrik sungguh sesuatu yang ajaib. Bukankah Benyamin Franklin yang mengikat kunci pada layang-layang itu? Kita hidup dalam alam yang ajaib bukan? Orang berkata bahwa ilmu pengetahuan menerangkan hal-hal yang ajaib kepada kita. Menurutku justru menambah keajaiban….Sudah kau temukan yang rusaknya?
YUNUS : Tidak, bu. Sekringnya semuanya masih baik.
ARINI : Taufik!
TAUFIK : Ya, bu!
ARINI : Bukankah rekening listriknya telah kuberikan padamu beberapa hari yang lalu? Kita sudah berapa kali mendapat surat peringatan, lho!
TAUFIK : Oh, ya, betul!
ARINI : Kau tidak lupa membayarnya, bukan?
TAUFIK : Eee….aku….aku….
ARINI : Belum dibayar? Seharusnya kau beri tahu aku!
YUNUS : Mungkin penyair kita memepergunakan rekening listrik untuk menulis sanjaknya….!
ARINI : Seharusnya tak boleh kupercayakan hal ini padamu. Akibatnya kelalai ini harus dibayar mahal.
YUNUS : Tapi siapa tahu sanjaknya akan mendapat hadiah jutaan rupiah, bu!
ARINI : Ya, apa boleh buat. Kita lewati malam ini seperti malam-malam di abad ke sepuluh, sebelum Tuan Edison menemukan lampu pijar.
YUNUS : Aha, cahaya lilin aku suka.
ARINI : Itu suatu tanda bahwa kau seorang romantis….Namun Taufik masih belum bisa dimaafkan. Untung kita sudah selesai makan. Orang PLN cukup bijaksana telah memberi waktu untuk makan, sebelum mencelup kita dalam gulita yang kekal!
YUNUS : Ha ha ha!
ARINI : Oh, ya, dapatkah Nak Kaharudin menganjurkan Lis untuk minum anggur sedikit, akan baik untuknya!
YUNUS : Tentu, tentu dengan senang hati.
ARINI : Taufik, mari bantu aku memberesi piring-piring kotor!
(ARINI DAN TAUFIK KE DAPUR DENGAN PENUH HARAPAN. YUNUS KE RUANG DEPAN DENGAN ANGGUR DAN LILIN DI TANGANNYA. IA BERUSAHA MENGHIBUR LIS DENGAN HUMORNYA DENGAN PENUH KEBIJAKSANAAN)
YUNUS : Hai, Lis….!
LISWATI : (LEMBUT, MALU-MALU) Hai….!
YUNUS : Bagaimana, sudah agak mendingan? (LIS MENGANGGUK. TERSIPU) Ini, minumlah sedikit anggur untuk menghangatkan badanmu. Minumlah, tapi jangan terlalu banyak. Nanti mabuk….! Dimana harus ku letakkan lilin ini, ya?
LISWATI : Dimana saja….
YUNUS : Di lantai? Ga apa-apa? (LIS MENGANGGUK) Aku senang duduk-duduk di lantai, kau suka? (LIS MENGANGGUK) Mari! (YUNUS MENGULURKAN TANGAN MENYAMBUT LIS TURUN) Sekalian bantalnya….! (MEREKA DUDUK DI LANTAI) Aku hampir tak dapat melihat kau jika kau duduk di situ!
LISWATI : Aku bisa….bisa melihat kau….!
YUNUS : Nah, kan? Itu tidak adil namanya. Tidak adil jika hanya aku yang kena cahaya! (LIS MENGGESER DUDUKNYA) Nah, begitu baru adil. Permen karet?
LISWATI : Tidak, terimakasih!
YUNUS : Ku makan satu dengan ijinmu. (MEMAKAN PERMEN KARET) Bayangkan, bagaimana kayanya sekarang, orang yang menemukan permen karet ini. Luar biasa, bukan?....Eh, kau lihat pameran pembangunan yang baru lalu?
LISWATI : Tidak….!
YUNUS : Sayang, padahal bagus sekali. Yang paling mengagumkan adalah ruang ilmiah. Ia memberi kesan bagaimana zaman nuklir masa datang di dunia. Lebih hebat dari sekarang….(HENING) Lis, kata saudaramu, kau….kau sangat pemalu, benarkah?
LISWATI : Aku….aku tak tahu.
YUNUS : Ku anggap kau seorang gadis yang agak kolot. Tapi itulah type gadis yang aku sukai….! Ku harap kau tidak menganggap aku terlalu berani, Lis….!
LISWATI : (GUGUP) Saya kira, saya juga mau permen karetmu, bolehkah? Apakah….apakah kau masih suka menyanyi?
YUNUS : Nyanyi? Aku?
LISWATI : Ya, aku masih ingat bagusnya suaramu!
YUNUS : Kau pernah dengar aku menyanyi? Dimana?
LISWATI : Ya, ya….sering sekali….! Ternyata kau sudah tak mengenalku lagi.
YUNUS : (SENYUM RAGU) Memang, ketika tadi kau membukakan pintu, sudah kukira kalau aku pernah melihatmu….Sepertinya hampir kuingat lagi namamu. Tapi, kurasa aku tak memanggil namamu yang sebenarnya!
LISWATI : Ya….Mawar Biru!
YUNUS : (MELONCAT BANGUN) Nah, Mawar Biru! Ya, Mawar biru! Ha ha ha! Aneh, mengapa tadi tidak kuhubungkan ingatanku dengan zaman di sekolah? Tapi justru itulah. Aku pun tak pernah tahu, kalau kau adalah kakak si penyair. Maaf, maaf.
LISWATI : Tidak mengherannkan kalau kau tidak begitu mengenal aku.
YUNUS : Tapi, dulu kita sering juga bertemu, bukan?
LISWATI : Ya, sewaktu-waktu pula kita bercakap-cakap!
YUNUS : Kau kenali lagi aku seketika? Ketika aku masuk?
LISWATI : Ketika ku dengar, aku sudah mengira kau orangnya. Aku tahu Taufik mengenalmu di SMA dulu. Setelah kau datang perkiraanku menjadi kepastian!
YUNUS : Lalu, kenapa kau diam saja?
LISWATI : Aku tak tahu apa yang harus ku katakan. Bingung!
YUNUS : Ah, kau lucu!
LISWATI : Ya, benar, lucu!
YUNUS : Bukankah kita juga bersama-sama dalam salah satu kegiatan sekolah kita?
LISWATI : Kita latihan koor bersama-sama, tiap Senin dan Jum’at!
YUNUS : Betul! Sekarang baru ku ingat betul. Kau selalu datang terlambat!
LISWATI : (MALU-MALU) Ya, untukku agak sulit menaiki tangga. Kakiku….(YUNUS CEPAT MEMOTONG).
YUNUS : Ah, itu tak pernah aku perhatikan!
LISWATI : Bohong! Semua sudah duduk kalau aku masuk. Dan tempat duduk di belakang. Jika aku sedang berjalan, semua orang melihatku!
YUNUS : Itu hanya perasaanmu saja, Lis!
LISWATI : Mungkin. Aku baru merasa lega, kalau kita sudah mulai bernyanyi.
YUNUS : Sekarang ku ingat seluruhnya tentang kau. Aku selalu memanggilmu Mawar Biru. Tak keberatan bukan?
LISWATI : Tidak, justru aku sangat menyukainya….!
YUNUS : Ku ingat pula, kau suka menyendiri!
LISWATI : Aku….aku tak pernah berhasil mencari sahabat!
YUNUS : Mengapa tidak?
LISWATI : Perasaan itu selalu menghantuiku!
YUNUS : Seharusnya kau melawan perasaanmu itu!
LISWATI : Aku tahu, tapi tak pernah bisa. Aku malu!
YUNUS : Kau malu dalam bergaul?
LISWATI : Aku tak berhasil mengatasinya.
YUNUS : Ku kira kau harus menghilangkan perasaan malumu itu!
LISWATI : Akan ku coba!
YUNUS : Tentu! Tentu memerlukan waktu. Sebenarnya tak ada yang perlu ditakutkan dalam pergaulan. Apalagi kalau sudah salaing mengenal. Itu yang harus selalu kau ingat! Setiap orang mempunyai masalah sendiri-sendiri. Bukan hanya kau yang mempunyai masalah. Bukan hanya yang mempunyai rasa kecewa. Lihat sekelilingmu, akan kau temukan bahwa banyak orang yang mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu, bukan hanya kau. Misalnya saja aku. Aku bercita-cita untuk menjadi seorang pembesar, tapi sampai sekarang aku masih juga begini. Apa kau masih ingat tulisanku di majalah sekolah? (LIS MENGANGGUK) Aku menuliskan rasa optimisku untuk mencapai segala cita-citaku! (DIAM-DIAM LIS MEMPERLIHATKAN MAJALAH YANG DIMAKSUD)….Astaga! (YUNUS MENYAMBUTNYA. KINI MEREKA DUDUK BERDAMPINGAN SAMBIL MELIHAT-LIHAT MAJALAH. MEREKA TERSENYUM PENUH KENANGAN, RASA MALU LISWATI BERANGSUR HILANG).
LISWATI : Ini, kau dalam ‘Bajak Laut Andalan.’
YUNUS : Aku berperan sebagai Kepala Bajak Laut.
LISWATI : Ya, kau bermain sangat bagus!
YUNUS : (PROTES) Aaakkhh!
LISWATI : Betul. Sangat bagus.
YUNUS : Kau menonton?
LISWATI : Tiga-tiga kalinya.
YUNUS : Sungguh? (LIS MENGANGGUK) Mengapa?
LISWATI : Aku….aku ingin meminta tanda tanganmu!
YUNUS : Lalu, mengapa tidak?
LISWATI : Kau selalu dikerumuni banyak orang. Aku tak punya kesempatan.
YUNUS : Mengapa tidak pada waktu-waktu lain?
LISWATI : Aku….aku takut kau mengira….
YUNUS : Mengira kau apa?
LISWATI : (GUGUP) Akh….banyak sekali penggemarmu!
YUNUS : Sebenarnya mereka terlalu mengada-ada!
LISWATI : Setaiap orang menyukaimu.
YUNUS : Kau, juga?
LISWATI : Aku?....aku….ya, aku juga….!
YUNUS : Sini! (MEMINTA MAJALAH LALU MENANDATANGANINYA) Nih, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali!
LISWATI : Oh….ini….ini sebuah kejutan!
YUNUS : Saat ini tanda tanganku tidak ada harganya. Tapi suatu hari nanti, ku harap akan naik nilainya. Kekecewaan dan kecil hati adalah dua hal yang berbeda. Aku kecewa, tapi aku tidak pernah berkecil hati. Umurku 26 tahun. Kau berapa?
LISWATI : JunI yang akan datang genap 24 tahun.
YUNUS : SMA mu tamat?
LISWATI : Aku tidak meneruskannya!
YUNUS : Maksudmu?
LISWATI : Ketika ujian penghabisan nilai-nilaiku jelek….!
(BANGKIT) Bagaimana kabarnya Ema?
YUNUS : Oooh, si otak udang itu?
LISWATI : Kenapa kau ini? Mengapa kau sebut dia begitu?
YUNUS : Kepalanya memang kosong!
LISWATI : Kau tidak lagi….dengan dia?
YUNUS : Aku tidak pernah melihatnya lagi!
LISWATI : Di majalah kubaca kau dan dia bertunangan.
YUNUS : Akh, itu gosif, gofif!
LISWATI : Jadi….?
YUNUS : Itu hanya ulah si Ema sendiri!
LISWATI : Oh, ya? (YUNUS BERSANDAR SAMBIL MEROKOK. IA TERSENYUM KEPADA LIS, SEMENTARA LIS NAMPAK MENUTUPI SUASANA HATINYA MEMPERMAINKAN SALAH SATU MAINAN GELASNYA).
YUNUS : Apa yang kau perbuat setamat SMA?
(LIS ASYIK DALAM SUASANA HATINYA) Lis! (LIS MENOLEH) Ku tanya, apa yang kau perbuat setamat SMA?
LISWATI : Tidak ada.
YUNUS : Pasti ada yang kau kerjakan selama 6 tahun ini. Apa?
LISWATI : Mengikuti kursus mengetik. Tapi aku berhenti, karena….
YUNUS : (TERTAWA BIJAK) Lalu sekarang, apa kegiatanmu?
LISWATI : Tak banyak yang ku kerjakan. Tapi bukan berarti aku tak punya kegiatan. Kumpulan mainan gelasku memerlukan perhatian khusus. Barang-barang gelas ini harus dipelihara baik-baik!
YUNUS : Gelas….gelas katamu?
LISWATI : Ya, kumpulan mainan gelas milikku! (MALU-MALU).
YUNUS : (TIBA-TIBA) Tahukah kau,apa yang salah pada dirimu? Rasa rendah diri! Tahukah akibatnya kalau orang selalu menganggap dirinya rendah? Memang, aku tidak pernah mempelajari masalah ini secara khusus. Tapi seoarang temanku mengatakan, bahwa aku sedikitnya bisa menganalisa watak seseorang, seperti dokter jiwa. Berlebihan memang! Tapi aku betul-betul bisa membaca watak seseorang, Lis! (MEMBUANG PERMEN KARET DARI MULUTNYA) Maaf! Aku aku selalu membungkusnya dengan kertas, sebab kalau terinjak dan menempel di sepatu tidak lucu….Ya, itulah penyakitmu yang utama. Kau tidak percaya pada dirimu sendiri sebagai seorang manusia. Tidak cukup, persediaan kepercayaan dirimu. Pendapatku ini berdasar pada ucapan-ucapanmu dan beberapa hasil pengamatanku. Misalnya, maaf, kakimu….kau katakan kau merasa malu setiap masuk ke kelas….Lis, insyafkah kau akan apa yang kau perbuat? Kau berhenti sekolah. Kau korbankan kesempatan berharga hanya untuk rasa malumu yang padahal menurutku tidak perlu. Hanya sebuah cacat kecil yang hampir tidak menarik perhatian orang? Khayalmu saja yang menjabarkannya menjadi beribu soal. Maukah kau mendengar saranku?....Anggaplah dirimu lebih hebat dari orang lain!
LISWATI : Apa yang dapat aku banggakan?
YUNUS : Astaga, Lis, Lis! Pandanglah sekitarmu! Apa yang kau lihat? Dunia ini penuh dengan orang-orang biasa! Sama seperti kita. Semua dilahirkan dan akan mati kelak! Siapa diantara mereka yang memiliki seper sepuluh dari sifat-sifat baikmu? Atau sifat-sifatku? Setiap orang akan mempunyai kelebihan dan keistimewaan masing-masing. (TANPA SADAR IA BERCERMIN) Yang harus kau lakukan sekarang adalah memelihara dan mengembangkan apa yang lebih pada dirimu! Aku misalnya, kebetulan aku berminat pada masalah-masalah elektronika, maka akupun mengikuti kursus komputer, selain suka mengikuti acara-acara diskusi!
LISWATI : Oooh…!
YUNUS : Aku yakin, teknik komputer akan memegang peranan penting di masa datang. Aku pun mempelajari teknik radio dan televisi. Aku harus selalu siap menghadapi seagala kemajuannya. Ya, dalam kemajuan zaman yang pesat ini….pengetahuan….uang….kekuasaan….harus kita pancangkan! (LIS MEMPERHATIAKAN SIKAP YUNUS YANG BERAPI-API, TIBA-TIBA YUNUS SADAR, TERSENYUM) He heh, pasti kau kira aku sangat congkak….!
LISWATI : Sama sekali tidak! (TERSENYUM).
YUNUS : Nah, kini kamu, Lis! Adakah yang menarik minatmu untuk lebih dari orang lain?
LISWATI : Ya, ada….eee….sudah ku katakan, aku mempunyai kumpulan mainan gelas….!
YUNUS : Aku kurang mengerti. Mainan gelas apa?
LISWATI : Benda-benda kecil dari gelas. Kebanyakan berupa hiasan-hiasan. Binatang-binatangan, binatang mungil dari gelas! Ini salah satu, jika kau ingin melihatnya! Yang tertua hampir 13 tahun….(MUSIK MAINAN GELAS)….Hati-hati nafas pun bisa memecahkannya!
YUNUS : Lebih baik tidak ku pegang. Aku agak canggung dengan barang-barang demikian!
LISWATI : Pegang saja, aku percaya padamu. (MELETAKKAN DI TELAPAK TANGAN YUNUS) Peganglah dengan hati-hati….Taruhlah dicahaya lampu….ia suka cahaya….Alangkah indahnya bukan?
YUNUS : Ia nampak bersinar!
LISWATI : Sebenarnya aku tak boleh menyukainya lebih dari yang lain. Tapi memang dia inilah yang paling ku sayang!
YUNUS : Binatang apa ini?
LISWATI : Tak kau perhatikan tanduk satu di kepalanya?
YUNUS : Oooh, kuda bertanduk satu? (LIS MENGIYAKAN) Bukankah kuda bertanduk satu sudah tidak dikenal lagi di zaman ini?
LISWATI : Aku tahu!
YUNUS : Kasihan pasti ia kesepian….!
LISWATI : (TERSENYUM) Mungkin betul juga. Tapi ia tak kuasa mengharap. Ia berada di suatu dataran bersama dengan kuda-kuda tak bertanduk….dan nampaknya mereka bisa bersahabat baik!
YUNUS : Bagaimana kau tahu?
LISWATI : Tak pernah ku dengar mereka bertengkar!
YUNUS : Oh, tidak pernah bertengkar? (ARIF) Itu suatu pertanda yang baik….! Dimana harus ku letakkan dia?
LISWATI : Di meja saja. Sewaktu-waktu mereka suka berganti tempat!
YUNUS : Baiklah….! Oh, hujan sudah berhenti ku kira! (MEMBUKA JENDELA) Eh….darimana datangnya musik itu?
LISWATI : Dari restauran ‘Paradise’ di ujung jalan besar!
YUNUS : Maukah anda berdansa denganku, nona Liswati? (BERGAYA).
LISWATI : Oooh! (MEMALINGKAN MUKA).
YUNUS : (SEPERTI SEORANG PEMAIN DRAMA, IA BERAKSI) Maaf, saudara-saudara, tiap dansa sudah terisi! Nona Liswati membatalkan acaranya. Dan kini kesempatan berdansa kali ini hanya diperuntukan bagiku! (IA BERPUTAR-PUTAR SENDIRI, LALU MENGULURKAN KE DUA TANGANNYA PADA LISWATI) Mari, nona! Perkenankanlah aku….!
LISWATI : Aku….aku tak bisa dansa!
YUNUS : Nah, nah….mulai lagi. Perasaan rendah diri lagi….! Marilah nona, mari!
LISWATI : Nanti kakimu terinjak!
YUNUS : Jangan takut, aku tidak terbuat dari gelas!
LISWATI : Ee….bagaimana, mulainya….?
YUNUS : Kau ikuti saja aku. Ulurkan sedikit tanganmu!
LISWATI : Begini?
YUNUS : Lebih tinggi sedikit lagi. Nah, jangan memegang, lemaskan badanmu!
LISWATI : (TERTAWA KECIL) Susah juga kalau tidak biasa. Aku takut kau takkan berhasil membimbingku!
YUNUS : Taruhan?
LISWATI : Oh, ya, kau bisa….?
YUNUS : Sekarang, pelan saja dulu, lenturkan badanmu!
LISWATI : Aku….!
YUNUS : Mari!
LISWATI : Akan ku coba!
YUNUS : Jangan kaku begitu….! Lemaskan saja! Nah, sudah baik.
LISWATI : Sungguh?
YUNUS : Ya, ha ha ha! (MEREKA MENARI BERPUTAR-PUTAR, TAPI TIBA-TIBA MEREKA MENABRAK MEJA) Apa yang kita tabrak?
LISWATI : Meja!
YUNUS : Aku takut ada sesuatu yang terjatuh!
LISWATI : Ya, ada….!
YUNUS : Kuda bertanduk satu?
LISWATI : Ya!
YUNUS : Aduh, pecah!
LISWATI : Sekarang ia sama dengan kuda-kuda yang lainnya!
YUNUS : Ia kehilangan….
LISWATI : Tanduknya! Tak apa-apa. Mungkin merupakan keuntungan semu!
YUNUS : Kau takkan memaafkan aku. Dia adalah yang paling kau sayangi dari kumpulan perhiasan gelasmu!
LISWATI : Aku memang tidak mempunyai banyak kesayangan. Tapi ini bukanlah malapetaka. Gelas memang gampang pecah!
YUNUS : Bagaimanapun aku menyesal. Akulah penyebab kecelakaan ini.
LISWATI : Sebut saja bahwa ia telah dioperasi. Tanduknya telah disingkirkan agar ia tidak merasa sebagai makhluk ganjil. Sekarang ia akan merasa sama dan lebih diterima diantara kuda-kuda yang lain, yang tidak bertanduk!
YUNUS : Ooohoho, sungguh lucu! (TIBA-TIBA SERIUS) Aku senang sekali melihat kau bisa bergembira….! Sebetulnya….kau….ya, kau sangat berlainan! (SUARANYA JADI LEMBUT DAN TETAPI MASIH TETAP SERIUS) Lis, bolehkah ku katakan semua ini?....Maksudku tidak jelek! (LIS MENGANGGUK DAN TERUS MENUNDUK) Kau, kau membikin aku merasa….akh, aku tak bisa menjelaskannya!....(HENING SEJENAK). Biasanya aku pandai mencurahkan perasaanku dengan kata-kata, tapi….kali ini aku tak tahu apa yang harus aku katakan, bagaimana….? (LIS TETAP TERTUNDUK, TANGANNYA MEMAIN-MAINKAN KUDA YANG PATAH TANDUKNYA) Lis, pernahkah ada orang yang mengatakan bahwa kau cantik? (HENING, MUSIK, PERLAHAN LIS MENGANGKAT KEPALANYA, MELIHAT YUNUS DENGAN HERAN, LALU PERLAHAN MENGGELENGKAN KEPALANYA) Tapi kau cantik! Kecantikanmu lain dari yang lain. Kelainan itulah yang membuat keistimewaan dalam kecantikanmu. (LIS TERHARU BERPALING) Sayang sekali kau bukan saudaraku. Akan ku ajar kau menanamkan rasa percaya diri. Kita tak perlu selalu sama dengan orang lain, tetapi kelainan itu tidak perlu pula membuat kita merasa malu. Apalagi rendah diri. Orang lainpun memiliki kelemahan bahkan mungkin seratus kali lipat dari kelemahan kita. Dibanding kau, mereka hanyalah rumput biasa dan kau….kau adalah Mawar Biru!
LISWATI : Tak ada bunga mawar berwarna biru!
YUNUS : Untuk kau, ada! Kau….kau menarik!
LISWATI : Menarik? Menarik bagaimana? Apanya?
YUNUS : Segalanya! Percayalah padaku!....Matamu….rambutmu, oh menarik! (MEMEGANG TANGAN LIS) Tanganmu lembut….! He he, kau kira untuk ini, aku berpura-pura? Karena aku diundang makan, maka aku harus bersikap manis? Begitu? Memang, aku bisa bermain sandiwara di depan penonton dan banyak sekali kata-kata yang ku ucapkan tanpa ketulusan. Tapi kini aku sungguh-sungguh, Lis. Sungguh-sungguh! Aku bicara dengan seluruh ketulusan hati. Sungguh! Buanglah perasaan rendah dirimu, jangan takut bergaul! Bangunlah rasa percaya diri dan banggakanlah dirimu. Janganlah menjadi pemalu yang berlebihan. Yakini dirimu sebagai seorang wanita! (YUNUS MEMEGANG PUNDAK LIS, LALU MENCIUM KENINGNYA SETELAH ITU LIS TERTUNDUK TAK PERCAYA. YUNUS MENJAUH, MENYULUT ROKOKNYA) Maaf, tak seharusnya aku berbuat begitu. (LIS MEMANDANG. YUNUS DUDUK DI SAMPINGNYA AGAK MENJAUHKAN DIRI KETIKA IA MULAI MENERKA PERASAAN LISWATI. IA AGAK KHAWATIR) Permen? Sakuku selalu penuh dengan permen! (IA MAKAN SATU, KEMUDIAN DENGAN BERHATI-HATI IA BERTERUS TERANG) Lis, jika saja aku punya kakak perempuan seperti kau, aku pun akan bertindak sama dengan Taufik. Akan ku undang pemuda-pemuda yang ku kenal akan ku kenalkan kakakku pada mereka. Tentu saja pemuda yang dapat menghargai kakakku. Hanya sayang, Taufik keliru tentang aku….! Mungkin ia tak bermaksud demikian dalam mengundang aku. Tapi kalau benar? Tak ada salahnya, memang. Kesulitannya hanyalah, bahwa dalam hal ini aku tak sanggup melakukan yang benar. Aku tak bisa mencatat alamatmu dan berjanji untuk bertemu kembali….! Ku kira biar aku jelaskan keadaan sebenarnya, agar kau tidak salah mengerti, agar kau tidak tersinggung….! (HENING. PERLAHAN. AMAT PERLAHAN PANDANGAN LIS BERUBAH. PANDANGANNYA BERALIH DARI YUNUS KE MAINAN GELASNYA. TERDENGAR TAWA ARINI DI DAPUR).
LISWATI : (SENDU) Kau….kau tidak akan datang lagi?
YUNUS : (MENGANGGUK) Aku takkan bisa, Lis….Biarku jelaskan semuanya….! Aku sudah terikat, Lis! Aku sudah mempunyai tunangan….Irma namanya! Ia berasal dari Makasar juga. Dalam banyak hal kami merasa cocok. Aku berkenalan dengannya tahun lalu, ketika aku mengunjungi kota kelahiranku. Kami saling jatuh cinta pada pertemuan pertama….! (LIS AGAK GOYAH. IA MEMEGANG PINGGIRAN SOFA) Cinta telah merubah segalanya! (LIS SEMAKIN MENCENGKRAM PINGGIRAN SOFA, TETAPI KEMUDIAN IA DAPAT MENGUASAI DIRINYA KEMBALI) Sekarang kebetulan bibinya Irma sedang sakit, ia dipanggil untuk menjaga bibinya. Jadi ketika taufik mengundangku makan, aku tak punya alasan untuk menolaknya. Tentu saja tanpa aku ketahui, bahwa kau….bahwa dia….bahwa kau….akh! Lis….katakan sesuatu….? (BIBIR LIS GEMETAR TAPI KEMUDIAN TERSENYUM CERAH. IA NAMPAK BIJAK. IA MENGHAMPIRI YUNUS, MEMEGANG TANGAN YUNUS, MENGANGKATNYA SETINGGI TANGANNYA, LALU MELETAKKAN KUDA BERTANDUKNYA KE TELAPAK TANGAN YUNUS, MEREKA BERADU PANDANG SEJENAK) Kau berikan ini padaku? ….Mengapa, mengapa kau lakukan ini, Lis?
LISWATI : Mudah-mudahan kau terima sebagai tanda mata….!
LISWATI MENGHAMPIRI GRAMAPHONE, AKAN MEMUTARNYA. SAAT ITU MUNCUL ARINI DENGAN RIANG. IA MEMBAWA GELAS AIR JERUK DAN SEPIRING KUE.
ARINI : Bagaimana? Sehabis hujan hawanya sejuk bukan? Telah kusediakan minuman yang segar buat kalian! Lis, sayang, mengapa kau nampak begitu serius?
YUNUS : Percakapan kami, memang cukup serius, bu!
ARINI : Bagus! Itu tandanya kalian telah semakin akrab!
YUNUS : Ha ha ha, ya, benar bu!
ARINI : Anak-anak muda zaman sekarang, memang lebih banyak berpikir serius, dibanding ketika aku masih muda….!
YUNUS : Ah, ku kira sama saja bu!
ARINI : Malam ini aku merasa menjadi muda lagi. Ya, karena aku bahagia mendapat kesempatan ini, nak Kaharudin! (MENYODORKAN AIR JERUK) Tadi kulihat masih ada persediaan jeruk peras, sengaja ku bikin untukmu….! Minumlah!
YUNUS : Ah, merepotkan saja!
ARINI : Repot? Justru sebaliknya, aku senang! Tak kau dengar tadi waktu di dapur? Pasti sakit telingamu mendengarnya. Aku marah pada Taufik karena dia tidak mengundangmu dari dulu-dulu….! Tapi yang penting, kini kau telah datang. Sekali datang akan terus datang dan datang lagi!....Ku harap kita akan senantiasa bergembira bersama-sama….! Oh, sejuknya malam ini….dan alangkah indahnya bulan itu. Oh, ya, sebaiknya aku mengundurkan diri, aku harus cukup maklum kalau anak-anak muda sedang….mengadakan pembicaraan yang serius….!
YUNUS : Tidak perlu, bu! Justru saya akan mohon pamit!
ARINI : Pamit? Sekarang? Kau melucu? Baru saja lepas senja, nak Kaharudin!
YUNUS : Masih banyak yang harus saya kerjakan, bu!
ARINI : Maksudmu, seorang pegawai teladan harus selalu siap pada waktu yang tepat?....Baiklah, tapi lain waktu kau harus tinggal lebih lama lagi. Oh, ya, kapan kau akan datang lagi? Ku kira malam minggu akan lebih tepat bagi anak muda seperti kau!
YUNUS : Saya terikat oleh dua waktu, bu! Pagi dan malam!
ARINI : Ah, kau sungguh bersemangat sekali. Malam minggu kau kerja juga?
YUNUS : Tidak, bu. Bukan kerja….tapi….tunangan saya….
ARINI : Tunanganmu? Oh!
YUNUS : Kami akan menikah akhir tahun ini!
ARINI : (MENARIK NAFAS DALAM-DALAM) Oooh, kau sungguh beruntung, nak. Taufik tidak mengatakan bahwa kau sudah bertunangan, apalagi akan segera menikah!
YUNUS : (SAMBIL MENGAMBIL DAN MEMAKAI MANTELNYA) Belum ada seorangpun yang saya beri tahu. Apalagi orang-orang di toko. Mereka akan memperolok-olokan saya, kalau mereka tahu. Saya mengucapkan banyak terimakasih atas undangan yang sangat berharga ini. Sekali lagi terimakasih!
ARINI : Terimakasih juga atas kunjunganmu, nak!
YUNUS : Saya harap, ibu tidak mengira bahwa saya tidak kerasan di sini dan ingin cepat-cepat pergi. Tetapi saya harus menjemput tunangan saya di stasion. Saya khawatir ia akan kebingungan bila terlambat dijemput. Apalagi ia memakai kereta terakhir!
ARINI : Aku maklum, nak….Selamat jalan….semoga kau berbahagia dan sukses selalu. Begitu juga do’a dari Liswati. Bukankah begitu, Lis?
LISWATI : Ya!
YUNUS : (MENGGEMGAM TANGAN LIS) Selamat tinggal, Lis! Akan ku simpan baik-baik tanda matamu itu dan jangan kau lupakan saran-saranku, bangkitlah! (MENCARI-CARI TAUFIK LALU BERTERIAK) Tabe, Penyair, aku pulang….!....Sekali lagi terimakasih, bu. Terimakasih, Lis. Selamat malam!
(YUNUS PERGI. ARINI MENUTUP PINTU DI BELAKANGNYA. SEMENTARA LIS MEMANDANG KOSONG….LALU IA MENGHAMPIRI GRAMAPHONE DAN MEMUTARNYA)
ARINI : (LEMAH) Akh, tidak selalu semua berjalan lancar….ku kira belum sampai pada saatnya. (PAHIT) Tamu kita sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah….Taufik!
TAUFIK : (DARI DAPUR) Ya, bu!
ARINI : Sini! Akan ku ceritakan sesuatu yang lucu!
TAUFIK : (MASUK DENGAN SEGELAS AIR JERUK DI TANGAN DAN MULUTNYA PENUH KUE) Lho? Mana dia? Pulang?
ARINI : Dia sudah minggat! Kau sungguh-sungguh membikin kami jadi pelawak yang tidak lucu!
TAUFIK : Apa maksud ibu?
ARINI : Mengapa tidak kau katakan bahwa ia sudah bertunangan dan akan kawin??!!
TAUFIK : Bertunangan? Kawin?
ARINI : Baru saja ia umumkan kepada kami!
TAUFIK : Astaga! Sama sekali aku tidak tahu!
ARINI : Aneh, masa kau tidak tahu.
TAUFIK : Apanya yang aneh?
ARINI : Katamu, ia sahabat terbaik di toko. Iya, kan?
TAUFIK : Memang! Tapi soal ini, aku benar-benar tidak tahu!
ARINI : Sangat tidak masuk akal, kalau kau tidak tahu bahwa sahabat dekatmu sebentar lagi akan kawin!
TAUFIK : (JENGKEL) Di toko, aku bekerja bu, bekerja! Pekerjaanku bukan untuk mengumpulkan keterangan tentang orang-orang!
ARINI : Kau memang tak tahu apa-apa! Kau sibuk dengan impian-impianmu! Pekerjaanmu Cuma berkhayal!
TAUFIK : Alakh! Mulai lagi! (BERANJAK KE LUAR).
ARINI : Mau kemana kau?
TAUFIK : Nonton bioskop!
ARINI : Bagus! Setelah kau bikin malu kami. Setelah kau tipu kami. Tabungan kami untuk menyambut dan menjamu tamu orang. Kau mau pergi seenak perutmu! Pergilah! Jangan pikirkan lagi kami. Jangan pikirkan ibu yang ditinggalkan suaminya. Jangan pikirkan saudaramu yang pincang dan butuh perlindungan! (HISTERIS) Manjakan saja kesenangan tamakmu itu! Pergi….! Pergi….! Pergi….!!!!
TAUFIK : Baik aku pergi! Lebih keras ibu berteriak tentang aku, lebih cepat pula aku pergi! Dan bukan ke bioskop!!!!
ARINI : Aku tak perduli!!!! Pergilah ke bulan !!!! tukang mimpi, serakah….!!!! Manusia egois!!!!
(TAUFIK MEMBANTING GELASNYA KE LANTAI, LALU PERGI DENGAN CEPAT. LIS MENJERIT MENYUSUL SUARA PINTU YANG DI BANTING TAUFIK….TAUFIK MENGHELA NAFAS PANJANG-PANJANG. PERLAHAN IA MEMANDANG BULAN….SEMENTARA DI DALAM RUMAH TAMPAK ARINI SEDANG MENGHIBUR LIS. RAMBUT LISWATI MENUTUPI SEBAGIAN WAJAHNYA. DITERANGI LAMPU YANG TEMARAM. GERAKAN MEREKA TAK UBAHNYA BAGAI SEBUAH TARIAN, KINI IA NAMPAK LEBIH DEWASA, TERSENYUM PADA IBUNYA, MEMANDANG POTRET AYAHNYA)
TAUFIK : Aku tidak pergi ke bulan, aku pergi jauh….karena waktu adalah jarak yang terjauh antara dua tempat. Tak lama sesudah kejadian itu, aku dipecat, karena menulis sajak di kotak sepatu….kutinggalkan kota. Selanjutnya aku mengikuti jejak ayahku, mencari dalam gerak, sesuatu yang hilang dalam ruang….Banyak sekali perjalananku. Kota-kota berhamburan bagai daun kering, daun-daun berwarna cerah tetapi berguguran, lepas dari ranting-rantinggnya….Aku ingin berhenti, tetapi serasa ada sesuatu yang mengejarku, yang selalu datang padaku secara tiba-tiba dan tidak disangka-sangka. Terkadang dari sepotong musik yang akrab terdengar, terkadang dari sebuah benda gelas kecil yang bening….!
Atau mungkin kalau aku sedang melewatkan malam-malam di jalan-jalan di kota asing, sebelum ku temukan kawan-kawan. Pernah ku lewati sebuah toko, dimana dijual minyak wangi. Etalasenya terang dan penuh dengan gelas-gelas berwarna, botol-botol kecil yang bening dengan warna cerah bagaikan bianglala yang bertaburan….! Lalu tiba-tiba, serasa pundakku disentuh oleh kakakku. Aku menengok….berpandangan dengan matanya….aaakh, Liswati, Liswati….aku mencoba meninggalkan kau….tetapi ternyata aku lebih setia daripada apa yang kuperkirakan….! Aku merokok….aku menyebrangi jalan….aku nonton bioskop….aku masuk Bar, aku minum, aku bicara dengan orang yang sama sama sekali asing bagiku, atau apa saja ku lakukan agar bisa meniup lilin-lilinmu….! (LISWATI TERLIHAT BANGKIT MENGHAMPIRI LILIN-LILIN, LALU MENUNDUK DI ATASNYA) Tiup, tiuplah lilin-lilinmu, Liswati….Selamat tinggal!
(LAMPU PADAM)
Share to Infrastructure Team
Bagikan dokumentasi teknis ini melalui jalur koordinasi.