Logo Teater Saphalta  Komunitas Seni Pertunjukan & Teater Jakarta

Teater Saphalta

Berkarya melalui seni pertunjukan

we are part of Teater Sapta

Beranda Tentang Artikel Berita Galeri Sekretariat
Masuk
Beranda Tentang Artikel Berita Galeri Sekretariat
Masuk
Back to Knowledge Base

THE MISUNDERSTANDING

Published: Jumat, 17 April 2026
Author: aisyah

BABAK I

 

TENGAH HARI. SEBUAH RUANGAN TEMPAT MINUM PARA TAMU DI SEBUAH PENGINAPAN YANG CERAH DAN BERSIH. SEGALANYA TAMPAK RAPI DAN TERATUR.

 

SANG IBU     : Dia akan datang kembali

MARTHA       : Dia bilang begitu?

SANG IBU     : Ya!

MARTHA       : Sendirian?

SANG IBU     : Itu aku kurang tahu.

MARTHA       : Dia bukan orang miskin kelihatannya.

SANG IBU     : Bukan, dan tagihan apa saja yang kita sodorkan padanya selalu dibayarnya, tanpa bertanya apa-apa.

MARTHA       :  Pertanda yang baik kalau begitu. Tapi, orang kaya biasanya tidak pergi sendirian, itu yang membuat segalanya jadi begitu sulit. Bertahun-tahun kita menunggu kedatangan seseorang yang tidak saja kaya, tetapi benar-benar sendirian.

SANG IBU     : Ya, kita jarang mendapat kesempatan.

MARTHA       : Itu berarti kita mengalami masa sepi tahun-tahun terakhir ini. Tempat ini sering kosong. Orang miskin yang singgah kemari tidak pernah tinggal lama dan orang kaya jarang sekali datang.

SANG IBU     : Jangan mengomel tentang itu. Orang kaya bikin repot saja.

MARTHA       : (MENATAP TAJAM PADA SANG IBU) Tetapi mereka membayar lebih. (DIAM SEJENAK) Katakan padaku, ibu, apa yang terjadi dalam dirimu? Belakangan ini kuperhatikan ibu nampaknya tidak ... seperti biasa.

SANG IBU     :  Aku lelah, sayang, itu saja masalahnya. Yang kubutuhkan cuma istirahat.

MARTHA       :  Dengar, ibu, aku bisa melakukan semua urusan rumah tangga yang selama ini ibu lakukan. Dengan begitu ibu bebas untuk beristirahat.

SANG IBU     : Bukan istirahat semacam itu yang kumaksudkan. Ku kira itu cuma angan-angan seorang wanita tua saja. Apa yang kuinginkan adalah kedamaian...untuk bisa mengaso sejenak (TERTAWA KECIL) Aku tahu kedengarannya agak sinting, Martha, tapi malam-malam aku sering mempunyai keinginan untuk menjadi manusia beribadat.

MARTHA       :  Ibu belum begitu tua. Ibu belum waktunya untuk menempuh kehidupan ke arah itu. Tapi walaupun begitu, menurut pendapatku ibu bisa berbuat lebih baik dari pada itu.

SANG IBU     :  O, aku cuma bercanda sayang. Tapi sama saja...pada saat-saat terakhir hidup manusia tidak ada salahnya menghadapi segalanya ini dengan tenang. Orang tidak bisa terus menerus bekerja keras seperti kau, Martha. Untuk wanita seumurmu, itu tidak wajar. Aku kenal gadis-gadis seumurmu, dan mereka hanya memikirkan kesenangan dan kenikmatan hidup.

MARTHA       :  Kesenangan dan kenikmatan mereka tidak ada artinya dibanding dengan kepunyaan kita, ibu setuju, bukan?

SANG IBU     :  Aku harap kau tidak membicarakan hal itu.

MARTHA       : Sekarang ini nampak-nampaknya ada kata-kata tabu yang membakar lidah ibu.

SANG IBU     : Buat apa itu kau risaukan...selagi aku tidak mundur dari perbuatan-perbuatan itu. Tetapi semuanya itu tidak penting. Apa yang kumaksudkan ialah aku ingin melihatmu tersenyum.

MARTHA       :  Aku pernah tersenyum kadang-kadang, percayalah.

SANG IBU     :  Sungguh? Aku tidak pernah melihatnya.

MARTHA       :  Tentu saja, karena aku tersenyum jika aku sendirian, dalam kamar tidurku.

SANG IBU     : (MENGAMATI MARTHA DENGAN SEKSAMA) Alangkah keras wajahmu, Martha.

MARTHA       :  (MENDEKATI IBU DENGAN TENANG) O, Ibu kurang suka pada wajahku?

SANG IBU     :  (HENING SEJENAK...MASIH MENATAP WAJAH ANAKNYA) Aku heran...ya, aku kira begitu.

MARTHA       :  (DENGAN EMOSI) O, Ibu. Tidak bisakah ibu mengerti? Sekali kita punya uang cukup di tangan kita, dan aku bisa minggat dari lembah terkurung ini. Sekali kita bisa mengucapkan selamat tinggal kepada rumah penginapan ini, dan kota suram yang selalu hujan tak henti-hentinya. Sekali kita melupakan tanah yang penuh bayang-bayang ini...ah, kemudian jika apa yang kuimpikan telah menjadi kenyataan, dan kita tinggal di pinggir lautan, barulah ibu bisa melihatku tersenyum. Celakanya kita membutuhkan uang banyak sekali agar bisa hidup bebas di pinggir lautan. Itulah sebabnya, kita tidak boleh takut pada kata-kata. Itulah sebabnya, kita harus melibatkan laki-laki itu, laki-laki yang akan datang kembali kesini. Jika ia cukup kaya, barangkali saja kebebasanku akan bermula darinya,

SANG IBU     : Jika ia cukup kaya, dan jika ia sendirian.

MARTHA       :  Begitulah. Ia harus datang sendirian. Apa dia bicara banyak pada ibu?

SANG IBU     :  Tidak. Dia hampir tidak bicara apa-apa.

MARTHA       :  Ketika ia menanyakan kamarnya, apakah ibu perhatikan bagaimana rupanya?

SANG IBU     :  Tidak. Penglihatanku sudah tidak baik, kau tahu itu, dan lagi aku tidak melihat ke wajahnya. Aku belajar dari pengalaman, bahwa lebih baik tidak melihat mereka dengan jelas. Lebih mudah membunuh seseorang yang tidak kita kenal. (DIAM SEJENAK) Begitulah. Kau senang mendengarnya? Sekarang kau tidak bisa mengatakan bahwa kau takut pada kata-kata.    

MARTHA       :  Ya. Aku lebih suka begitu. Aku tidak suka sindiran-sindiran dan dalih-dalih. Kejahatan adalah kejahatan, dan kita harus tahu apa yang kita kerjakan. Dan dari apa yang baru saja ibu katakan, kedengarannya seakan-akan rencana itu sudah ada dalam pikiran ibu, ketika bicara dengan laki-laki itu.

SANG IBU     :  Tidak, tidak ada pikiran semacam itu....itu hanya kebiasaan saja.

MARTHA       :  Kebiasaan? Tapi baru saja ibu katakan bahwa kesempatan-kesempatan seperti itu jarang kita dapat.

SANG IBU     :  Benar! Tetapi suatu kebiasaan dimulai pada kejahatan kedua. Kejahatan yang pertama, itu belum apa-apa, malah ada kecenderungan untuk berhenti. Kemudian jika kita agak sering mendapatkan kesempatan, bertahun-tahun kemudian kenangan atas peristiwa-peristiwa itu bisa membentuk suatu kebiasaan. Ya, hanya kebiasaan saja yang menyebabkan aku menghindari memandang wajahnya ketika bicara, dan...toh sama saja, dia berwajah seorang korban.

MARTHA       : Ibu, kita harus membunuhnya !

SANG IBU     :  (DENGAN NADA RENDAH) Ya, aku pikir memang harus.

MARTHA       :  Aneh cara ibu mengatakannya.

SANG IBU     :  Aku lelah, Cuma itu. Bagaimanapun juga aku ingin orang itu korban yang terakhir. Membunuh adalah suatu pekerjaan yang melelahkan. Dan meskipun aku tidak begitu peduli, dimana aku akan mati...di tepi laut, atau disini, atau dimana saja...aku benar-benar mengharap kita bisa pergi dari sini bersama-sama, setelah pekerjaan itu selesai.

MARTHA       :  Tentu saja kita akan bersama...dan betapa hebatnya peristiwa itu nanti jadinya. Jadi, bergembiralah, ibu. Tidak akan terlalu banyak pekerjaan yang akan kita lakukan nanti. Dia akan minum tehnya, dia pergi tidur, dan dia masih hidup ketika kita menggotongnya ke sungai. Pada suatu hari...lama sesudah kejadian itu, dia akan ditemukan hancur membentur bendungan bercampur mayat-mayat orang-orang yang putus asa dalam hidup ini, dan menceburkan dirinya ke situ. Masih ingatkah ibu, tahun yang lalu, ketika kita melihat orang-orang memperbaiki pintu air dan ibu berkata, bahwa korban-korban kita tidaklah begitu menderita sebetulnya, dan hidup ini lebih kejam dari pada kita. Jadi janganlah putus asa, ibu akan segera mendapatkan kesempatan istirahat, dan aku akan melihat dunia yang tidak pernah kulihat.

SANG IBU     :  Ya, Martha aku tidak akan putus asa. Dan memang benar apa yang kau katakan tentang korban-korban kita. Aku selalu merasa senang mereka itu tidak pernah menderita. Sungguh apa yang kita lakukan hampir tidak bisa disebut kejahatan, cuma semacam perantara. Dan memang benar juga, bahwa hidup lebih kejam dari pada kita. Barangkali itu sebabnya kita tidak pernah merasa bersalah. Aku cuma merasakan kelelahan.

 

PELAYAN LAKI-LAKI TUA MASUK DAN DUDUK DI BELAKANG BAR, DAN TINGGAL DISANA, TIDAK BERGERAK MAUPUN BICARA, SAMPAI MUNCUL YAN

 

MARTHA       : Kamar mana yang kita berikan padanya?

SANG IBU     :  Mana saja, asalkan di tingkat pertama.

MARTHA       :  Ya. Jangan seperti yang lalu, banyak hal yang sebenarnya tidak perlu harus kita kerjakan gara-gara kita beri kamar di tingkat dua. (UNTUK PERTAMA KALINYA MARTHA DUDUK) Ceritakan padaku, ibu, apa benar di tepi pantai sana pasir begitu panas sampai-sampai menghanguskan kaki kita?

SANG IBU     :  Supaya kau tahu, Martha, aku belum pernah kesana, tetapi aku diceritai bahwa matahari membakar segala-galanya.

MARTHA       : Aku baca dalam buku, bahwa matahari bahkan membakar jiwa manusia dan menyebabkan tubuh-tubuh mereka bersinar seperti emas, tetapi kosong dalamnya. Tidak ada apa-apa lagi yang tertinggal di dalamnya.

SANG IBU     :  Apakah itu yang menyebabkan kau ingin sekali pergi kesana?

MATHA          :  Ya. Jiwaku merupakan beban bagiku. Aku sudah bosan dengannya. Aku ingin sekali segera kesana. Dimana matahari membunuh setiap pertanyaan. Bukan disini tempatku.

SANG IBU     :  Celakanya kita masih harus mengerjakan banyak hal sebelum pergi. Tentu saja, jika pekerjaan itu sudah beres, aku akan kesana bersamamu. Tetapi tidak seperti kau, aku tidak merasa bahwa disanalah tempatku. Setelah kita tua, barulah kita tahu, bahwa di dunia ini bukan saatnya untuk mencari kedamaian. Tentu kita tidak akan menghilangkan begitu saja jasa rumah ini, sebuah rumah buruk tempat kita tinggal dan penuh kenangan. Ada saat dimana kita tidak bisa tidur nyenyak, dan ada saat yang baik, jika kita bisa tidur dengan nyenyak, dan bisa melupakan segalanya. (BANGKIT MENUJU PINTU)  Nah, Martha, siapkan segalanya (HENING) Jika memang memenuhi syarat untuk dikerjakan. 

 

(MARTHA MENGAWASI IBUNYA KELUAR, KEMUDIAN IA JUGA MENINGGALKAN RUANGAN ITU MELALUI PINTU YANG LAIN, HANYA LELAKI TUA YANG ADA. YAN MASUK. BERHENTI SAMBIL MEMANDANGI SELURUH RUANGAN, LALU MELIHAT LELAKI TUA YANG ADA DI BELAKANG MEJA BAR)

 

YAN              :  Tak ada orang disini?

(LAKI-LAKI TUA ITU MEMANDANG PADANYA, LALU BANGKIT DAN MELANGKAH KELUAR. MARIA MASUK, YAN BERPALING KE ARAH MARIA) 

Jadi kau mengikuti aku?

MARIA           :  Maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat lain. Aku tidak akan lama disini. Cuma, ijinkanlah aku melihat-lihat tempat ini.

YAN              : Nanti ada orang. Dan jika mereka melihatmu disini, bisa merusak semua rencanaku.

MARIA           :  Biarkan mereka datang, dan aku akan mengatakan siapakah kau. Aku tahu, kau tidak menyukai itu, tapi...(MEMBALIKKAN TUBUHNYA DENGAN KESAL. HENING SEJENAK. MARIA MENELITI RUANGAN ITU) Jadi inikah tempat itu?

YAN              :  Ya, itulah pintu yang kulewati ketika aku pergi dari sini dua puluh tahun yang lalu. Adik perempuanku masih kecil ketika itu. Dia sedang bermain-main di sudut itu. Ibuku tidak datang untuk menciumku. Pada saat itu aku tidak begitu peduli.

MARIA           : Yan, aku tidak bisa percaya mereka tidak mengenalimu lagi. Seorang ibu semestinya mengenal anaknya sendiri.

YAN              :  Bisa jadi. Bagaimanapun juga, dua puluh tahun perpisahan tetap menimbulkan perubahan. Hidup telah menempa mereka saat aku pergi. Ibuku telah tua, penglihatannya telah rusak. Aku sendiri tidak mengenalinya lagi.

MARIA           :  (TIDAK SABAR) Aku tahu. Kau datang, kau berkata, “Selamat siang”, lalu kau duduk. Ruangan ini tidak mirip seperti dalam kenanganmu.

YAN              :  Ya, ingatanku telah membohongi diriku. Mereka menyambutku tanpa berkata sepatahpun. Mereka memberiku segelas bir yang kupesan. Aku dipandangi, tapi tidak dilihatnya. Segalanya ternyata lebih sulit dari yang kubayangkan.

MARIA           :  Kau tahu sebenarnya tidak perlu dipersulit. Yang harusnya kau lakukan hanyalah bicara. Dalam keadaan seperti ini orang cuma berkata, “Inilah aku”, kemudian semuanya akan beres.

YAN              :  Benar. Tetapi aku telah mengangan-angankan...segala macam hal. Aku mengharapkan mereka menyambutku sebagai anak hilang yang pulang kandang. Sebenarnya aku mereka beri segelas bir tanpa harus bayar, itu menyebabkan kata-kata sulit keluar dari mulutku. Dan aku pikir, biarlah segalanya berjalan dengan sendirinya. 

MARIA           :  Tidak ada yang bisa berjalan dengan sendirinya. Itu cuma rencana-rencana yang selalu kau angan-angankan...padahal satu patah kata saja sudah cukup.

YAN              : Semuanya itu bukan aku yang merencanakan, Maria, itu adalah kemauan keadaan. Dan lagi aku tidak tergesa-gesa. Aku datang kemari untuk mengantarkan uang bagi mereka, dan kalau bisa juga sedikit kebahagiaan. Ketika aku mendengar kematian ayahku, aku menyadari bahwa aku punya kewajiban terhadap kedua perempuan itu sekarang, sebagai bukti aku lakukan apa yang menurut pendapatku benar. Tetapi ternyata tidaklah semudah yang kita kira, pulang kembali kerumah orang tua dan itu membutuhkan waktu merubah seorang asing menjadi seorang anak.

MARIA           :  Tetapi mengapa tidak membiarkan saja mereka mengetahui keadaan yang sebenarnya sekarang juga? Banyak keadaan sulit bisa diselesaikan dengan baik melalui cara yang wajar. Jika orang ingin dikenali, orang itu harus mulai dengan mengatakan namanya, begitu biasanya. Tetapi berpura-pura menjadi seorang yang bukan dirinya, itu cuma mengacaukan segalanya. Bagaimana kau bisa mengharapkan mereka tidak memperlakukan kau sebagai orang asing jika kau memasuki rumah mereka dengan menyamar? Tidak, sayang, ada sesuatu....ada sesuatu yang tidak beres dalam caramu bertindak.

YAN              :  Oh, ayolah, Maria! Jangan kau anggap berat persoalan ini. Dan ingat, ini sesuai dengan rencanaku. Aku akan mengambil kesempatan ini untuk mengamati mereka dari luar. Lalu akan mendapatkan gambaran yang lebih baik untuk membuat mereka bahagia. Sesudah itu aku akan mencari jalan supaya mereka bisa mengenaliku. Itu cuma soal memilih kata-kata saja.

MARIA           :  Tidak, cuma ada satu cara dan itu harus dilakukan menurut cara yang biasa ditempuh oleh orang-orang yang waras akalnya...yaitu mengatakan, “Inilah aku dan selanjutnya biarlah hati yang bicara.

YAN              :  Tidak semudah itu.

MARIA           :  Tetapi harus menggunakan kata-kata sederhana. Tentu tidak ada kesulitan mengucapkan, “Aku anakmu, ini istriku, aku telah hidup bersamanya di sebuah desa yang sama-sama kami cintai, sebuah tempat di pinggir lautan dimana matahari tak putus-putusnya mencurahkan sinarnya. Tetapi ada sesuatu yang kurang untuk melengkapi kebahagiaanku, dan sekarang aku merasa sangat membutuhkan, ibu”.

YAN              :  Itu tidak jujur, Maria. Aku tidak membutuhkan mereka, tetapi aku menyadari bahwa seorang laki-laki hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri.

 (DIAM SEJENAK. MARIA MEMALINGKAN PANDANGANNYA DARI YAN)

MARIA           :  Barangkali kau benar. Maafkan apa yang kukatakan tadi. Itu semua karena perasaan curiga yang amat sangat sejak datang ke desa ini...tak seorangpun memiliki wajah yang memancarkan kebahagiaan. Negaramu ini berwajah murung. Sejak berada disini, belum pernah sekalipun kudengar kau tertawa, dan itu membuat kesabaranku hilang. Oh, kenapa kau membuatku meninggalkan negaraku. Ayolah kita pergi, Yan! Kita tidak akan menemukan kebahagiaan disini.

YAN              :  Kita datang kemari bukan untuk mencari kebahagiaan. Kita telah memiliki kebahagiaan itu.

MARIA           :  (BERSEMANGAT) Lalu mengapa belum puas juga?

YAN              :  Kebahagiaan bukanlah segala-galanya, masih ada yang disebut kewajiban. Kewajibanku adalah pulang ke ibuku dan negaraku. (MARIA MENNJUKKAN SIKAP PROTES DAN HENDAK MENJAWAB. YAN MEMBERIKAN ISYARAT KEPADANYA. TERDENGAR SUARA LANGKAH). Ada yang datang! Pergilah Maria!

MARIA           :  Tidak. Aku tidak bisa. Bagaimanapun! Bagaimanapun belum waktunya!

YAN              :  (LANGKAH KAKI MAKIN MENDEKAT) Pergilah! (DENGAN LEMBUT IA MENDORONG MARIA KE ARAH PINTU BAGIAN BELAKANG. PELAYAN LAKI-LAKI TUA MELANGKAH MEMASUKI RUANGAN TANPA MELIHAT MARIA, DAN PERGI LAGI MELALUI PINTU LAIN). Sekarang pergilah cepat. Kau lihat nasibku sedang mujur.

MARIA           :  Tolonglah, biarkan aku tinggal. Aku berjanji tidak akan bicara sepatah kata pun. Cuma tinggal di sampingmu sampai mereka mengenalimu.

YAN              :  Tidak! Kau akan membuka rahasia.

(DIA BERPALING KEMUDIAN MENDEKATI MARIA DAN MENATAP MATANYA).

MARIA           :  Yan, kita telah kawin selama lima tahun.

YAN              :  Ya, hampir lima tahun.

MARIA           : Dan malam ini pertama kali kita berpisah. (YAN TIDAK BERKATA APA PUN. MARIA MEMANDANGNYA DENGAN DALAM) Aku selalu mencintai apa saja yang ada pada dirimu, bahkan yang tidak kumengerti sekalipun. Dan aku tidak menginginkan kau menjadi orang lain kecuali dirimu sendiri. Aku bukan seorang istri yang menyusahkan, bukan? Tetapi disini, aku takut pada tempat tidur kosong yang kau suruh aku menidurinya, dan akupun takut kalau-kalau kau meninggalkan aku.

YAN              :  Seharusnya kau mempercayai cintaku, bukan?

MARIA           :  Aku mempercayainya. Tetapi di samping cintamu masih ada lagi impian-impianmu, atau kewajiban-kewajibanmu. Semuanya itu sama. Mereka sering merenggutkan kau dariku, dan pada saat-saat seperti itu kau seakan-akan mendapatkan liburan dariku. Tetapi aku tidak dapat mengambil liburan darimu, dan malam ini...(MARIA MENYANDARKAN TUBUHNYA PADA TUBUH YAN SAMBIL MENANGIS)...malam ini tanpa kau...oh, aku tidak akan sanggup menanggungnya.

YAN              :  (MEMELUK ERAT) Ini kekanak-kanakan, sayangku.

MARIA           :  Tentu saja kekanak-kanakan. Tetapi...tetapi kita begitu bahagia disana, bukanlah salahku jika malam-malam di negeri ini menakutkan aku. Aku tidak mau sendirian malam ini.

YAN              :  Tetapi, cobalah mengerti, sayangku. Aku punya janji yang harus ditepati. Itu sangat penting.

MARIA           :  Janji apa?

YAN              :  Janji pada diriku sendiri pada saat aku menyadari bahwa ibuku membutuhkan aku.

MARIA           :   Kau punya janji lain yang harus ditepati.

YAN              :  Ya !

MARIA           :  Janjimu padaku pada hari kau menyatukan hidupmu dengan hidupku.

YAN              :  Aku pasti akan menepati keduanya. Apa yang kuminta darimu tidaklah terlalu berlebihan. Tidak mengada-ada, cuma satu sore dan satu malam. Yang aku butuhkan kehadiranku disini, untuk mengenal lebih dekat kedua perempuan yang begitu kusayangi, dan memberinya kebahagiaan.

MARIA           :  (MENGGELENGKAN KEPALANYA) Perpisahan selalu mempunyai arti besar besar bagi orang yang saling mencinta...dengan cinta yang tulus.

YAN              :  Tetapi, sayangku, kau tahu betul aku mencintaimu dengan cinta semacam itu.

MARIA           :  Tidak Yan, laki-laki tidak tahu bagaimana cinta sejati itu sebenarnya. Mereka tidak pernah dapat merasakan kepuasan dalam cinta. Mereka selalu bermimpi menciptakan kewajiban-kewajiban baru, pergi ke negara-negara asing dan rumah-rumah asing. Wanita, berbeda, mereka tahu hidup ini singkat dan manusia harus cepat-cepat bercinta, menikmati malam-malam bersama, memeluk laki-laki yang mereka cintai, dan membenci setiap perpisahan. Bila seseorang memiliki cinta tidak ada lagi waktu baginya untuk bermimpi. 

YAN              :  Tetapi sayang, apakah kau tidak terlalu melebih-lebihkan? Apa yang kini kulakukan adalah hal yang sangat sederhana—mencoba mengadakan hubungan kembali dengan ibuku, menolongnya dan memberinya kebahagiaan. Mengenai impian-impianku dan kewajiban-kewajibanku kau harus bisa menerimanya sebagai mana adanya. Tanpa itu semua aku cuma sekedar bayangan dari diriku. Dan kau akan kurang mencintaiku andai aku tanpa itu semua.

MARIA           :  (SAMBIL MEMBELAKANGI YAN) Oh, aku tahu, kau sedang membujukku dengan kata-katamu itu. Kau selalu dapat menemukan alasan yang tepat untuk apa saja yang ingin kau lakukan. Tetapi aku menolak untuk mendengarkan, aku tutup telingaku jika kau mulai bicara dengan nada yang sudah kukenal betul itu. Itu adalah suara dari perasaan sunyimu, bukan dari rasa cinta.

YAN     :           (BERDIRI DI BELAKANG MARIA) Sekarang kita jangan lagi bicara tentang itu, Maria. Apa yang kuminta hanyalah tinggalkan aku sendirian disini. Supaya aku bisa membereskan hal-hal tertentu yang ada dalam pikiranku. Sungguh tidak ada hal-hal yang menakutkan atau luar biasa untuk tidur di bawah atap yang sama dengan ibuku. Tuhan akan memberiku jalan selanjutnya, dan dia akan mengetahui bahwa dengan cara demikian membuktikan bahwa aku tidak melupakanmu. Cuma...tidak ada seorang pun yang bisa merasa bahagia di dalam pembuangan atau pengucilan. Orang tidak bisa terus-menerus tetap menjadi orang asing bagi dirinya sendiri. Memang benar manusia membutuhkan kebahagiaan, tetapi dia juga butuh menemukan tempat yang sebenarnya di dunia ini. Dan aku percaya dengan kembaliku ke negara ini, akan membuat bahagia mereka yang kucintai dan menolong diriku sendiri dengan berbuat demikian. Aku tidak menginginkan lebih banyak lagi.

MARIA           :  Tetapi, bukankah kau bisa melakukannya tanpa segala...segala belat-belit ini? Tidak, Yan, aku takut kau menempuh jalan yang salah.

YAN              :  Ini jalan yang benar, karena inilah satu-satunya cara untuk mengetahui benar tidaknya aku mempunyai impian-impian itu.

MARIA           :  Aku harap kau akan mengetahui apakah kau benar. Tetapi aku hanya punya satu impian...tentang negeri dimana kita pernah merasa bahagia bersama dan hanya ada satu kewajiban....

YAN              :  (MEMELUKNYA) Biar aku menempuh jalanku sendiri, sayang. Aku pasti akan menemukan bahan pembicaraan yang bisa membereskan segalanya. 

MARIA           :  (DENGAN EMOSI YANG HAMPIR TIDAK TERKENDALI) Kalau begitu ikutilah mimpimu itu, sayang. Tidak jadi soal, asalkan aku tetap memiliki cintamu. Biasanya aku tidak pernah merasa tidak bahagia dalam pelukanmu. Aku menantikan kesempatan yang baik dan akan menunggu sampai kau turun dari awan mendungmu, lalu tibalah saat yang kunantikan itu. Apa yang membuatku tidak bahagia hari ini ialah, sekalipun aku yakin akan cintamu, aku yakin kau tidak akan mengijinkan aku tinggal bersamamu. Itu sebabnya cinta seorang laki-laki begitu kejam, begitu merobek-robek hati. Mereka tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak meninggalkan apa yang bagi mereka sangat berharga.

YAN              :  (YAN MENDEKAP MARIA DENGAN KEDUA TANGANNYA, DAN TERSENYUM) Benar sekali sayangku, tapi dengarlah penjelasanku! Aku tidak dalam bahaya apa pun seperti yang kau takutkan. Aku sedang melaksanakan rencanaku, dan aku tahu betul segalanya akan berlajalan lancar. Percayakan diriku, hanya satu malam saja, kepada ibu dan adikku, tidak ada apa2 yang perlu ditakutkan, bukan?

MARIA           :  Kalau begitu....selamat tinggal, dan semoga cintaku melundungi kau dari mara- bahaya (DIA PERGI KE PINTU SAMBIL MENGULURKAN TANGAN) Lihat, betapa kasihannya diriku, tanganku kosong. Kau....kau sedang maju melangkah ke petualanganmu. Aku hanya dapat menunggu.

(SETELAH RAGU SESAAT, KEMUDIAN PERGI MENINGGALKAN YAN. MARTHA MASUK)

YAN              :  Selamat siang. Aku datang untuk mencari kamar.

MARTHA       :  Aku tahu. Telah disiapkan. Tetapi, aku harus menuliskan nama anda ke dalam buku tamu lebih dahulu.

(KELUAR, DAN MASUK KEMBALI DENGAN BUKU TAMU)

YAN              :  Kalau boleh aku katakan, pelayan kalian itu orang yang sangat aneh.

MARTHA       :  Ini pertama kalinya kami menerima keluhan tentang dirinya. Dia seorang yang selalu melaksanakan tugasnya dengan memuaskan.

YAN              :  Oh, aku tidak mengeluh. Aku hanya bermaksud mengatakan bahwa dia agak lain dari manusia biasa. Apa dia bisu?

MARTHA       :  Tidak!

YAN              :  Oh, kalau begitu dia bisa bicara.

MARTHA       :  Sedikit mungkin, dan hanya jika betul-betul perlu.

YAN              :  Walau begitu, nampaknya dia tidak mendengar apa yang dikatakan orang.

MARTHA       :  Sebetulnya dia tidak begitu tuli, hanya saja pendengarannya kurang baik. Sekarang aku ingin menanyakan nama dan nama kecil anda.

YAN              :  Hasek, Karl.

MARTHA       :  Cuma Karl?

YAN              :  Ya.

MARTHA       :  Tanggal dan tempat lahir?

YAN              :  Umurku 38 tahun.

MARTHA       :  Ya, tapi dimana anda dilahirkan?

YAN              :  (AGAK RAGU SESAAT) Oh, di ... di Bohemia.

MARTHA       :  Pekerjaan?

YAN              :  Tidak punya.

MARTHA       :  Jika ada seorang yang tidak punya pekerjaan sedang melakukan perjalanan, orang itu haruslah seseorang yang amat kaya atau sangat miskin.

YAN              :  (TERSENYUM) Aku tidak terlalu miskin dan untuk alasan tertentu aku senang dengan keadaanku itu.

MARTHA       :  (DENGAN NADA LAIN) Anda seorang Cheko rupanya?

YAN              :  Ya, pasti.

MARTHA       :  Tempat tinggal?

YAN              :  Di Bohemia.

MARTHA       :  Anda datang langsung dari sana?

YAN              :  Tidak, aku datang dari selatan. (MARTHA MEMANDANGNYA DENGAN PANDANGAN BERTANYA) Dari pinggir lautan.

MARTHA       :  Ah, ya. (DIAM SESAAT) Anda sering pergi kesana?

YAN              :  Cukup sering.

MARTHA       :  (MARTHA TENGGELAM DALAM PIKIRANNYA UNTUK BEBERAPA SAAT) Dan kemana anda hendak pergi.

YAN              :  Belum kuputuskan. Tergantung pada banyak hal.

MARTHA       :  Kalau begitu anda bermaksud tinggal disini?

YAN              :  Aku tidak tahu. Tergantung apa yang kudapat disini.

MARTHA       :  Itu tidak jadi soal. Apakah ada seseorang yang mengharapkan kedatangan anda disini?

YAN              :  Tidak. Tidak ada orang yang mengharapkan kedatanganku.

MARTHA       :  Tentunya anda punya surat-surat keterangan, bukan?

YAN              :  Ya, akan kuperlihatkan kepadamu!

MARTHA       :  Tidak usah repot-repot. Aku hanya akan menuliskan disini, apakah anda punya surat keterangan atau passport.

YAN              :  (MENGELUARKAN PASSPORT DARI SAKUNYA) Aku punya passport. Ini, apakah anda mau melihatnya?

 

(MARTHA MENGAMBILNYA, TAPI PIKIRANNYA ADA DI TEMPAT LAIN. DIA MENIMANG-NIMANG PASSPORT DI TANGANNYA, LALU MENGEMBALIKANNYA).

MARTHA       : Tidak usah. Simpan saja. Ketika anda berada disana, apakah anda tinggal dekat laut?

YAN              :  Ya !

MARTHA       :  (MARTHA BANGKIT, NAMPAKNYA HENDAK MENYIMPAN BUKU TAMU, TAPI BERUBAH PIKIRAN, DAN MEMBIARKANNYA TETAP TERBUKA DI HADAPANNYA. SECARA TIBA-TIBA, DENGAN KERAS) Ah, aku lupa. Anda mempunyai keluarga?

YAN              :  Ya, aku pernah punya, dulu. Tapi aku meninggalkan mereka berpuluh-puluh tahun yang lalu.

MARTHA       :  Bukan. Maksudku, apakah anda sudah beristri?

YAN              :  Mengapa anda tanyakan itu? Belum pernah aku mendapatkan pertanyaan seperti itu di hotel manapun juga.

MARTHA       :  Itu salah satu pertanyaan dalam daftar ini yang diberikan oleh polisi kepada kami.

YAN              :  Anda membuatku heran. Ya, aku telah beristri. Anda tidak memperhatikan cincin kawinku?

MARTHA       :  Tidak. Aku tidak memperhatikannya. Bukan urusanku untuk melihat ke tangan anda, aku disini untuk mengisi buku daftar tamu. Alamat istri anda?

YAN              :  Hmm...dia sebenarnya...dia kutinggalkan sendirian, di negaranya.

MARTHA       :  Ah, bagus! (MENUTUP BUKUNYA) Apakah perlu aku ambilkan minuman sekarang, selagi kamar disiapkan?

YAN              :  Tidak, terima kasih. Tetapi, jika anda tidak keberatan, aku akan tinggal disini. Aku harap aku tidak mengganggu anda.

MARTHA       :  Mengapa mengganggu? Ini ruangan untuk umum, untuk keperluan tamu-tamu kami.

YAN              :  Ya, tetapi kehadiran satu orang bisa lebih merupakan gangguan dari pada kehadiran orang banyak.

MARTHA       :  (MENYIBUKKAN DIRI) Mengapa? Aku kira anda tidak bermaksud menghabiskan waktuku dengan omong kosong. Aku tidak butuh orang yang datang kemari untuk bermain gila...dan seharusnya anda sudah mengetahuinya. Orang-orang sekitar sini sudah mengetahuinya, dan akan segera melihatnya sendiri, bahwa ini adalah sebuah penginapan yang tenang dan anda akan mendapatkan ketenangan yang anda kehendaki. Hampir tidak ada orang yang kemari.

YAN              :  Itu tidak menguntungkan bagi satu usaha.

MARTHA       :  Kami mungkin rugi sedikit, tetapi kami mendapatkan kedamaian, dan damai adalah sesuatu yang orang tidak bisa membelinya dengan harga tinggi sekalipun. Dan jangan lupa bahwa seorang tamu yang baik akan lebih menyenangkan dari pada segerombolan tamu-tamu urakan. Itu yang kami jarang dapatkan...tamu-tamu yang pantas...

YAN              :  Tetapi....Apakah anda tidak merasa bosan hidup disini? Apakah anda dan ibu anda tidak merasa kesepian?

MARTHA       :  (MENATAP MARAH) Aku menolak untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Anda tidak punya hak untuk menanyakan itu, dan seharusnya anda tahu itu. Rupa-rupanya aku harus memberi peringatan tentang beberapa hal kepada anda. Sebagai seorang tamu di penginapan ini, anda punya ha-hak dan kebebasan-kebebasan sebagai seorang tamu, tetapi tidak lebih dari itu. Namun begitu, jangan takut, anda akan tetap menerima layanan yang memang hak anda. Anda akan diurus sebaik-baiknya, dan aku akan terkejut sekali seandainya nanti menerima keluhan-keluhan atas layanan kami. Tetapi aku tidak kunjung mengerti, mengapa kami harus memberikan alasan-alasan istimewa pada anda. Itu sebabnya mengapa pertanyaan-pertanyaan anda tidak pada tempatnya. Bukanlah urusan anda apakah kami merasa kesepian atau tidak, juga anda tidak perlu memikirkan apakah anda menyebabkan kami kurang merasa senang atau anda menuntut terlalu banyak dari kami. Silahkan mempergunakan hak-hak anda sebagai seorang tamu. Tetapi jangan bertindak diluar itu.

YAN              :  Maafkan, Tidak ada maksudku untuk meyakiti hati anda. Aku hanya ingin memunjukkan rasa persahabatan. Perasaan mengatakan, barangkali saja kita ini tidaklah terlalu asing satu sama lain seperti yang anda perkirakan, tidak lebih dari itu.

MARTHA       :  Rupanya aku masih harus mengulangi apa yang telah kukatakan. Tidak ada urusan anda, apakah anda menyakiti atau tidak menyakiti hatiku. Karena rupa-rupa nya anda berkeras hati untuk memperlihatkan sikap yang anda tidak berhak untuk melakukannya, aku berpendapat sebaliknya menjelaskan segalanya. Aku perlu meyakinkan anda bahwa aku sama sekali tidak marah. Hanya demi kepentingan kita, aku dan anda, kita harus membuat jarak. Jika anda memaksa berbicara dengan sikap bukan seorang tamu, terpaksa tidak ada jalan lain; kami harus menolak kehadiran anda disini. Tetapi jika anda mau mengerti, dan aku yakin anda mau, bahwa dua orang perempuan yang mengijinkan anda tinggal dihotelnya tidaklah diwajibkan memperlakukan anda sebagai seorang teman sebagai imbalannya, maka segalanya akan berjalan dengan baik.

YAN              :  Aku setuju sekali. Sayang sekali aku memberi kesan pada anda seolah-olah aku tidak mau mengerti.

MARTHA       :  Oh, tidak apa-apa. Anda bukan yang pertama mencoba-coba berlaku demikian. Tetapi aku selalu menjernihkan suasana, dan bereslah urusan.

YAN              :  Ya, anda telah menjelaskan semuanya, dan aku kira sebaiknya aku tidak bicara apa-apa lagi...... untuk sementara.

MARTHA       :  Tidak perlu begitu. Tidak ada yang melarang anda sebagai layaknya seorang tamu.

YAN              :  Dan bagaimana selayaknya seorang tamu berbicara?

MARTHA       :  Kebanyakan dari tamu-tamu kami bicara tentang segala hal, politik, perjalanan mereka, dan sebagainya, tidak pernah tentang ibuku dan diriku...... dan begitulah selayaknya. Beberapa dari mereka malah berbicara tentang kehidupan pribadi, atau pekerjaan mereka. Dan itupun termasuk dalam hak-hak mereka. Lagi pula salah satu dari bentuk pelayanan yang mereka bayar adalah mendengarkan pembicaraan tamu-tamu kita. Tetapi jelas bahwa ongkos-ongkos pembayaran buat makan dan penginapan tidaklah mengharuskan pemilik hotel menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya pribadi. Ibuku kadang-kadang mau melayani pertanyaan seperti itu tetapi aku tegas-tegas menolaknya. Kalau anda mengerti ini kita tidak hanya akan menjalin persahabatan saja, bahkan anda akan merasa ingin menceritakan banyak hal pada kami, dan kadang-kadang sungguh menyenangkan cerita-cerita tentang diri sendiri didengarkan orang.

YAN              :  Aku takut anda tidak akan menyaksikan, bahwa aku pintar dalam hal bercerita tentang diri sendiri. Tetapi itu tidak penting. Aku tinggal disini hanya sebentar saja, tidak ada gunanya anda mengenal diriku. Tetapi jika aku akan lama tinggal disini, anda akan punya banyak kesempatan mengenal siapa aku, tanpa aku bicara.

MARTHA       :  Aku harap anda tidak benci padaku atas segala ucapanku tadi. Dan lagi tidak ada alasan untuk itu. Aku selalu merasa senang untuk berterus terang dan aku harus menghentikan omongan yang bisa menjurus kearah ketegangan hubungan. Sungguh aku tidak meminta apa-apa diluar batas-batas kewajaran. Sampai saat ini tidak ada persamaan apapun juga diantara kita, dan hanyalah alasan-alasan yang sangat istimewa yang bisa merubah secara mendadak hubungan kita menjadi akrab. Dan anda harus memaafkan aku jika sampai sejauh ini aku tidak melihat adanya alasan-alasan seperti itu.

YAN              :  Aku telah memaafkan anda, sungguh aku sangat setuju bahwa keakraban tidak datang begitu saja. Untuk itu diperlukan usaha. Jadi jika sekarang ini anda menganggap bahwa segalanya telah beres, antara kita, aku hanya bisa mengatakan bahwa aku senang.

(SANG IBU MASUK KERUANGAN)

SANG IBU     :  Selamat siang, tuan. Kamar tuan telah siap, sekarang!

YAN              :  Terima kasih banyak, nyonya 

SANG IBU     :  ( BICARA KEPADA MARTHA) Sudah kau isi daftar tamu?

MARTHA       :  Sudah.

SANG IBU     :  Coba lihat. Maafkan tuan, polisi disini sangat keras...... Ya, aku lihat disini anak gadisku tidak menuliskan apakah tuan datang kemari ada urusan dagang atau alasan-alasan kesehatan, atau sebagai seorang pelancong.

YAN              :  Hmmm tulis saja seorang pelancong!

SANG IBU     :  Untuk melihat biara, bukan begitu? Aku dengar-dengar biara itu sangat diagung-agungkan.

YAN              :  Ya, memang benar, aku telah banyak mendengar tentang itu. Disamping itu aku ingin melihat tempat ini kembali. Banyak kenangan indah bagiku.

SANG IBU     :  Tuan pernah tinggal disini?

YAN              :  Tidak pernah, tetapi beberapa waktu yang lalu kebetulan aku pernah lewat sini, dan aku tidak pernah melupakannya.

SANG IBU     :  Tapi tempat ini cuma sebuah desa kecil biasa.

YAN              :  Memang, tetapi aku sangat tertarik kepadanya. Terus terang saja, sejak aku datang ketempat ini aku merasa seolah dirumah sendiri.

SANG IBU     :  Tuan akan lama tinggal disini?

YAN              :  Aku belum tahu. Tentu ini mengherankan nyonya, tetapi begitulah yang sebenarnya. Aku tidak tahu. Untuk tinggal disuatu tempat kita memerlukan alasan-alasan......persahabatan, kehadiran orang-orang yang kita cintai, dan sebagainya. Kalau tidak, sungguh tidak ada gunanya tinggal disini dari pada ditempat orang lain. Dan karena sulit mengetahui apakah seseorang akan diterima dengan tangan terbuka, adalah wajar bagiku untuk ragu-ragu dalam menentukan rencanaku.

SANG IBU     :  Kedengarannya agak kurang jelas apa yang tuan maksudkan, kalau boleh aku katakan.

YAN              :  Aku tahu, tetapi aku tidak bisa menjelaskannya lebih baik lagi.

SANG IBU     :  Tetapi aku kira tuan segera bosan dengan tempat ini.

YAN              :  Tidak, aku mempunyai kesetiaan batin dan segera aku akan membangun kenangan-kenangan dan ikatan-ikatan jika aku diberi kesempatan.

MARTHA       :  (TIDAK SABAR LAGI) Kesetiaan batin, bukan main, batin manusia terlalu rendah dihargai disini ! ! !

YAN              :  (SEAKAN-AKAN TIDAK MENDENGARKAN UCAPAN SANG IBU) Nyonya nampaknya penuh kecewa. Nyonya sudah lama hidup dalam hotel ini.

SANG IBU     :  Bertahun-tahun. Berpuluh-puluh tahun lamanya sampai aku lupa kapan mulainya, macam perempuan apa aku dulu. Gadis ini adalah anakku. Dia selalu berada disampingku selama bertahun-tahun ini, dan itu barangkali yang menyebabkan sampai aku tahu bahwa dia adalah anakku. Kalau tidak, boleh jadi aku akan lupa padanya juga.

MARTHA       :  Ibu, ibu tidak ada alasan untuk menceritakan segalanya itu padanya.

SANG IBU     :  Kau benar, Martha!

YAN              :  (CEPAT-CEPAT) Janganlah bicara apa-apa lagi, tetapi aku sungguh bisa mengerti perasaanmu, nyonya. Perasaan semacam itu akhirnya bisa timbul dalam diri manusia setelah dalam hidup ini disiksa terus-menerus oleh kerja keras. Namun begitu bisa jadi keadaan akan berlainan andaikan ada yang menolong, sebagaimana biasanya, setiap wanita harus ditolong dan mendapat bantuan dari tangan seorang laki-laki.

SANG IBU     :  Oh, aku pernah mempunyainya dulu.....tetapi terlalu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan suamiku. Aku bersama-sama hampir tidak sanggup membereskannya. Kami bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan satu sama lain, aku yakin aku telah melupakan dia, malah sebelum dia mati aku telah melupakannya.

YAN              :  Itu juga, aku bisa mengerti (DIA RAGU-RAGU SEBENTAR) ...... Barangkali jika seorang anak laki-laki pernah berada disini menolongmu, nyonya tidak akan melupakan dia?

MARTHA       :  Ibu, banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan sekarang.

SANG IBU     :  Seorang anak laki-laki, Oh, aku sudah terlalu tua. Wanita-wanita tua lupa bagaimana mencintai, walaupun anak laki-lakinya sendiri, hati ini sudah membeku tuan!

YAN              :  Begitu! Tetapi anak laki-laki nyonya, aku yakin dia tidak lupa.

MARTHA       :  (BERDIRI DIANTARA YAN DAN SANG IBU DENGAN TEGAS PENUH WIBAWA)

                        Jika anak laki-laki itu datang kemari, dia akan mendapat sambutan sama seperti tamu-tamu lainnya, tidak lebih dan tidak kurang dari itu. Semua laki-laki yang datang kemari mendapat sambutan seperti itu, dan bagi mereka cukup memuaskan. Mereka membayar kamar mereka, dan mendapatkan sebuah kunci. Mereka tidak bicara tentang batin mereka. (DIAM SEBENTAR) Itu memudahkan pekerjaan kami.

SANG IBU     :  Jangan bicarakan itu.

YAN              :  (MEMIKIRKAN SESUATU) Apakah mereka tinggal lama disini?

MARTHA       :  Sebagian dari mereka tinggal dalam waktu yang lama sekali. Kami melakukan segala sesuatu yang diperlukan oleh mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka yang tidak begitu beruang, pergi setelah semalam menginap disini. Kami tidak melakukan apa-apa bagi mereka.

YAN              :  Aku punya uang, dan aku bermaksud tinggal agak lama dihotel ini......jika kalian mau menerimaku. Aku mengatakan bahwa aku dapat membayar dimuka.

SANG IBU     :  Oh, kami tak pernah meminta tamu kami melakukan hal itu.

MARTHA       :  Kalau anda kaya itu lebih baik. Tetapi jangan bicara lagi tentang perasaan dan batin anda. Kami tidak bisa berbuat apa-apa dengan itu. Terus terang saja cara anda berbicara membuat hilang kesabaranku, sehingga hampir saja aku menyuruh anda pergi dari sini. Ambil kunci anda dan senangkanlah dirimu dalam kamar tidur anda. Tetapi ingat anda dalam sebuah rumah dimana tidak ada pelayanan bagi semua perasaan manusia. Terlalu sering desa kecil di Eropa Tengah musim dingin, dan memeras habis kehangatan di rumah ini. Mereka telah membunuh setiap keinginan untuk bersahabat. Dan biarkan aku mengulangi sekali lagi, anda tidak akan menjumpai sedikitpun keakraban disini. Anda akan mendapatkan apa yang biasa didapat oleh beberapa tamu-tamu yang menginap disini dan itu tidak ada hubungannya dengan perasaan sentimentil. Jadi ambillah kuncimu dan camkan baik-baik dalam ingatan anda, kami menerima anda sebagai tamu dengan cara kami, secara diam-diam karena alasan-alasan tertentu, dan jika kami menahan anda disini, juga dengan cara kami, secara diam-diam, karena alasan-alasan tertentu.

 

(YAN MENGAMBIL KUNCI DAN MEMANDANG MARTHA KELUAR)

SANG IBU     :  Jangan begitu perhatikan apa yang dia katakan. Tetapi memang suatu kenyataan, ada hal-hal yang dia tidak sanggup untuk membicarakannya. (SANG IBU BANGKIT YAN MENDEKATINYA UNTUK MENOLONG) Tidak usah anakku, aku belum begitu lemah. Lihat tanganku, masih cukup kuat. Cukup kuat untuk mencengkam kaki-kaki laki-laki. (DIAM SEJENAK. YAN MEMANDANGI KUNCINYA) Apakah kata-kataku barusan yang membuat anda berpikir?

YAN              :  Tidak, maafkan aku. Aku hampir tidak mendengarnya. Tetapi katakan padaku mengapa nyonya mengatakan “Anak” baru saja?

SANG IBU     :  Oh, seharusnya aku tidak boleh mengatakannya tuan, aku tidak bermaksud berlaku kurang ajar. Tadi itu cuma......terlanjur berbicara.

YAN              :  Aku mengerti. Nah sekarang aku ingin melihat-lihat kamarku.

SANG IBU     :  Silahkan tuan, pelayan tua kami sedang menuggu anda dilorong itu. 

                        (YAN MENATAP SANG IBU SEAKAN-AKAN HENDAK BICARA) Ada yang tuan inginkan?

YAN              :  (RAGU-RAGU) Hmmmm...... Tidak, nyonya. Kecuali ingin menyampaikan terima kasihku atas sambutan nyonya.

(DIA KELUAR SETELAH SENDIRIAN SANG IBU DUDUK KEMBALI, MENARUHKAN TANGANNYA DIATAS MEJA DAN MERENUNG)

SANG IBU     :  Aneh sekali yang baru saja kulakukan, bicara tentang tanganku. Pasti, kalau dia benar-benar melihatnya tadi, dia akan menerka apa yang dia pernah lakukan untuk mengerti akan ucapan-ucapan Martha. Tetapi mengapa laki-laki ini begitu menyerah pada kematian dan aku tidak begitu berminat untuk membunuh. Jika saja dia meninggalkan tempat ini........rasanya aku bisa memperoleh istirahat panjang semalam suntuk. Aku terlalu tua. Terlalu tua untuk mencengkamkan dengan tangan-tanganku pada pergelangan kaki laki-laki, dan merasakan tubuh yang berayun-ayun sepanjang jalan menuju ke sungai. Terlalu tua untuk melakukan tahap terakhir, ketika harus melemparkannya ke dalam air. Itu akan menyebabkan aku kehabisan nafas dan setiap sendi linu rasanya, dan kedua lenganku serasa lumpuh sampai-sampai tidak lagi mempunyai kekuatan untuk menghapus percikan air yang membersit ketika tubuh yang sedang tidur itu terlempar ke dalam pusaran air. Terlalu tua, terlalu tua, ! Ya ...... ya, ya, karena terpaksa, aku harus melakukannya ! laki-laki itu adalah korban yang sempurna dan adalah kuwajibanku untuk memberinya tidur pulas semalam suntuk yang sebenarnya sangat kuinginkan bagi diriku sendiri. Jadi...... 

 

( MARTHA MASUK DENGAN TIBA-TIBA )

MARTHA       :  Ini dia, Iagi-lagi mimpi disiang hari! Pada hal........ banyak yang harus kita kerjakan.

SANG IBU     :  Aku sedang memikirkan laki-laki itu. Bukan, sebetulnya aku sedang memikirkan diriku sendiri.

MARTHA       :  Ibu sebaiknya memikirkan tentang besok pagi. Kenapa ibu tidak mau mengamat-amati wajah laki-laki itu jika ibu tidak pernah melepaskan pikiranmu dari padanya? Ibu pernah bilang sendiri, adalah lebih mudah membunuh seseorang yang tidak kita kenal. Ayolah sadarlah kembali!

SANG IBU     :  Itulah salah satu ucapan kegemaran ayahmu, jika ingat itu. Tetapi aku ingin yakin bahwa inilah yang terakhir kali, kita harus..... “sadar”. Ganjil rasanya, ketika ayahmu menggunakan kata-kata itu, kita merasa sanggup mengusir rasa takut akan ketahuan. Tetapi bila kau yang mengatakan padaku untuk sadarkan diri, itu malah membikin padam secercah kebaikan yang bersarang dalam hatiku. 

MARTHA       :  Apa yang ibu sebut sebagai secercah kebajikan tidak lain hanyalah sekedar rasa kantuk. Tetapi dengan hanya menunda keengganan ibu sampai besok pagi, akhirnya ibu akan bisa hidup dengan seenaknya sampai akhir hayat ibu.  

SANG IBU     :  Kalau benar, aku tahu itu? Tetapi mengapa kesempatan ini memberikan kepada kami seorang korban yang begitu......begitu tidak sesuai.

MARTHA       :  Kesempatan tidak ada sangkut pautnya dengan itu. Tetapi aku akui juga bahwa laki-laki ini terlalu percaya, kejujuran hatinya terlalu besar. Apa jadinya dunia ini jika orang-orang yang akan dihukum gantung mulai mencurahkan semua isi hatinya kepada sang algojo? Secara prinsip ini tidak benar. Tetapi itu memberatkan bagiku juga, dan nantinya bila aku berurusan dengan dia, aku akan menderita semacam kemarahan yang selalu aku rasakan terhadap kebodohan kaum laki-laki.

SANG IBU     :  Itu juga tidak benar. Seharusnya kita tidak pernah membawa-bawa kemarahan maupun rasa kasihan kedalam pekerjaan kita, cuma perasaan acuh tak acuhlah yang dibutuhkan. Tetapi malam ini aku lelah dan kau, aku lihat, kau sedang marah. Apakah kita harus benar-benar melanjutkan pekerjaan ini, dan mengacaukan segalanya demi bertambahnya sedikit lagi uang kita?

MARTHA       :  Bukan untuk uang, tetapi untuk sebuah rumah ditepi laut, dan untuk melupakan negeri yang penuh kebencian ini. Ibu boleh saja bosan terhadap hidup, tetapi aku, juga bosan, bosan setengah mati terhadap horison yang sempit ini. Aku tidak sanggup menahannya sebulan lagi untuk tinggal disini. Kita berdua telah muak dengan penginapan ini, dan apa saja yang bersangkutan dengannya. Ibu yang telah tua, tidak ada yang ibu inginkan selain menutupkan kedua mata dan melupakan segalanya. Tetapi aku masih bisa merasakan dalam hatiku beberapa macam keinginan-keinginan yang aneh yang pernah kurasakan ketika aku berumur 20 tahun, dan aku ingin melaksanakan pekerjaan ini sedemikian rupa, dan mengakhirinya untuk selama-lamanya........ Kalau perlu, untuk keperluan itu kita harus bertindak lebih jauh lagi, terhadap macam kehidupan yang hendak kita tinggalkan. Dan sungguh, adalah kewajiban ibu untuk menolong, dan ibulah yang melahirkan aku ke dunia, di atas tanah yang selalu berawan dan berkabut, yang semestinya diatas tanah bermandikan cahaya matahari.

SANG IBU     :  Martha, aku ingin bertanya, apakah tidak lebih baik supaya aku dilupakan saja, seperti abangmu telah melupakan aku, dari pada mendengar kau bicara padaku dengan nada seperti itu, nada seorang penggugat?

MARTHA       :  Ibu tahu betul aku tidak bermaksud melukai hatimu. Apa yang bisa kulakukan tanpa ibu? Apa jadinya aku ini, jika ibu jauh dari sampingku? Aku bagaimanapun juga tidak akan pernah, tidak akan pernah lupa pada ibu dan jika pada saat-saat tertentu dimana beban kehidupan yang harus kita pikul terlalu berat rasanya, dan membuat aku gagal menghormatimu, aku mohon padamu ibu, mengampuniku.

SANG IBU     :  Kau anak yang baik, Martha, dan aku menyadari betul, bahwa seorang perempuan tua kadang-kadang sulit untuk dimengerti. Tetapi aku rasa inilah saatnya untuk mengatakan padamu apa yang selama ini kucoba untuk mengatakannya, “Jangan malam ini”.

MARTHA       :  Apa? Apakah kita akan menunggu sampai besok? Ibu masih ingat betul tentunya bahwa ibu tidak pernah punya pikiran semacam itu sebelumnya. Dan apakah akan kita biarkan dia mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang lain disini? Tidak, kita harus bertindak selagi hanya kita saja yang mengenalnya.

SANG IBU     :  Mungkin, aku tidak tahu. Tetapi tidak malam ini. Biarkan dia untuk satu malam ini. Dan mungkin dengan perantaraan dia, kita akan selamat.

MARTHA       :  Menyelamatkan, kita? Mengapa kita ingin diselamatkan, dan lagi betapa anehnya untuk diucapkan! Apa yang ibu harapkan adalah berhasil dalam pekerjaan yang kita lakukan malam ini, dan mendapatkan kebebasan untuk tidur sepulas-pulasnya seperti yang ibu inginkan, setelah segalanya berakhir.

SANG IBU     :  Itulah yang kumaksud dengan mengatakan “Menyelamatkan kita”. Memperteguh harapan untuk tidur.

MARTHA       :  Bagus. Kalau begitu aku bersumpah untuk memperjuangkan keselamatan kita dengan tangan kita sendiri. Ibu, kita harus menghalau kebimbangan ini. Malam ini, atau tidak sama sekali.

 

 

BABAK II

 

SEBUAH KAMAR TIDUR DALAM PENGINAPAN ITU. SENJA TELAH TIBA, YAN SEDANG MELIHAT KELUAR MELALUI JENDELA

 

YAN              :  Maria benar. Malam ini membuat aku jadi gelisah. (DIAM SESAAT) Aku ingin tahu apa yang sedang dipikirkan Maria, apa yang dilakukan dalam kamar tidurnya? Aku bayangkan dia sedang duduk melingkar di atas kursi, dia sedang menangis, tapi hatinya membeku seperti es. Disana tibanya malam menjanjikan suatu kebahagiaan, tetapi disini...(MEMANDANG KE SEKELILING KAMAR) Omong kosong, aku tidak punya alasan untuk merasakan kegelisahan ini. Jika seorang laki-laki sudah mulai mengerjakan sesuatu, tidak ada urusan untuk menengok ke belakang lagi. Disini, di kamar ini, segalanya akan menjadi beres.

 

(KETUKAN KERAS DI PINTU. MARTHA MASUK)

MARTHA       :  Aku harap aku tidak mengganggu anda. Aku hanya ingin mengganti haduk dan mengisi tempat minum anda.

YAN              :  Oh, aku pikir semuanya sudah beres.

MARTHA       :  Belum. Laki-laki tua yang bekerja pada kami itu kadang-kadang lupa akan hal-hal kecil seperti ini.

YAN              :  Itu kan cuma soal kecil...tetapi aku hampir tidak berani mengatakan bahwa anda tidak menggangguku.

MARTHA       :  Mengapa?

YAN              :   Aku tidak yakin hal itu diijinkan dalam....perjanjian kita.

MARTHA       :  Anda lihat! Anda tidak bisa menjawabnya seperti orang-orang biasa, bahkan pada saat anda ingin membuat segalanya menyenangkan.

YAN              :  (TERSENYUM) Maaf, aku harus melatih diriku. Anda harus memberiku waktu sedikit.

MARTHA       :  (MENYIBUKKAN DIRI) Ya itulah salahnya. (YAN BERBALIK KE ARAH JENDELA. MARTHA MEMPERHATIKANNYA. YAN MEMBELAKANGI MARTHA. MARTHA TERUS BERBICARA) Maafkan aku tuan, bahwa kamar ini tidak menyenangkan seperti yang mungkin anda harapkan. 

YAN              :  Kamar ini sangat bersih, dan itu adalah sesuatu yang membuat orang menghargainya. Jika aku tidak keliru anda memperbaikinya baru-baru ini saja nampaknya.

MARTHA       :  Benar. Tetapi bagaimana anda bisa tahu?

YAN              :  Oh, dengan melihat bagian-bagian tertentu.

MARTHA       :  Bagaimanapun juga, banyak tamu-tamu kami mengomel karena tidak ada air ledeng, dan aku tidak bisa menyalahkan mereka. Juga sebetulnya harus ada sebuah lampu diatas tempat tidur, sudah lama kami bermaksud memasangnya. Tentang hal itu agak menjengkelkan bagi orang yang biasa membaca di atas tempat tidur untuk bangun memadamkan lampu.

YAN              :  (MEMBALIKKAN BADAN MENGHADAP MARTHA) Begitu, aku tidak memperhatikan itu. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah.

MARTHA       :  Anda begitu baik berpendapat begitu. Aku gembira, bahwa kekurangan-kekurangan dari penginapan kami tidak mengganggu anda, malah anda kurang memperhatikannya dibanding kami sendiri. Aku kenal orang yang menghindari tempat ini gara-gara kekurangan-kekurangan tersebut.

YAN              :  Aku harap anda biarkan aku mengeluarkan pendapat yang menyimpang dari perjanjian kita...dan mengatakan bahwa anda adalah seorang yang menakjubkan. Kita biasanya tidak mengharapkan pemilik hotel datang kepada tamunya untuk menceritakan kekurangan-kekurangan dari peralatan penginapannya. Sungguh, nampaknya seakan-akan anda ingin membuat aku pergi.

MARTHA       :  Bukan begitu apa yang ada dalam pikiranku. (SAMPAI KEPADA KEPUTUSAN YANG MENDADAK) Tetapi memang benar, bahwa ibu dan aku agak enggan menerima anda disini.

YAN              :  Terpaksa harus kukatakan bahwa anda tidak berusaha baik-baik untuk melayani aku disini. Aku tetap tidak dapat mengira-ngira apa sebabnya. Anda tidak punya alasan untuk merasa ragu atas kemampuanku untuk membayar, dan aku kira aku tidak memberi kesan seorang yang mempunyai latar belakang kejahatan.

MARTHA       :  Tentu saja. Kalau anda ingin mengetahuinya, anda tidak saja tidak mirip seorang penjahat, tetapi malah terkesan sebaliknya....seorang yang sama sekali tidak punya dosa. Alasan-alasan kami sangat jauh berbeda dari apa yang anda pikirkan. Kami berniat meninggalkan penginapan ini dalam waktu dekat dan kami bermaksud menutupnya, supaya bisa mulai menyiapkan segala sesuatu untuk kepindahan itu. Dan itu tidak akan banyak mengalami kesulitan jika kita hanya punya beberapa orang tamu saja. Tetapi kami tidak pernah dapat mengambil keputusan. Kedatangan anda membuat kami menyadari betapa kami telah mengabaikan sama sekali pikiran untuk meneruskan rencana itu.

YAN              :  Dapatkah itu kuartikan bahwa anda sungguh-sungguh ingin aku pergi?

MARTHA       :  Seperti yang kukatakan tadi, kami tidak dapat memutuskannya. Aku, terutama tidak dapat memutuskannya. Sebenarnya, segalanya tergantung padaku dan aku belum memutuskannya, begini atau begitu.

YAN              :  Tolong anda ingat ini, aku tidak mau menjadi beban kalian, dan aku akan berlaku seperti apa yang anda inginkan. Tetapi aku ingin katakan bahwa akan menyenangkan bagiku bila aku bisa tinggal disini barang sehari atau dua hari. Aku punya suatu persoalan yang perlu dibereskan sebelum pindah ketempat lain, dan percaya akan menemukan kedamaian dan ketenangan yang kubutuhkan disini.

MARTHA       :  Aku cukup mengerti keinginanmu, dan kalau anda suka, aku akan mempertimbangkan kembali hal itu. (DIAM SEJENAK. MARTHA MENGAMBIL BEBERAPA LANGKAH MENUJU KE PINTU DENGAN RAGU) Benarkah perkiraan anda akan pulang kembali ke negeri tempat anda selama ini?

YAN              :  Ya...jika perlu.

MARTHA       :  Sebuah negeri yang molek, bukan begitu?

YAN              :  (MELIHAT KELUAR JENDELA) Ya, sebuah negeri yang amat molek.

MARTHA       :  Benarkah bahwa disana terdapat pantai yang terbentang memanjang dimana kita tidak akan bertemu dengan seorangpun?

YAN              :  Memang benar. Disana tidak ada yang bisa mengingatkan kita bahwa manusia itu ada. Kadang-kadang pada senja hari anda akan menemukan jejak burung-burung di pasir. Itulah satu-satunya tanda adanya kehidupan. Dan di malam hari...

MARTHA       :  (LEMBUT) Ya? Bagaimana malam hari disana?

YAN              :  Mengagumkan, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya, sebuah negeri yang cantik.

MARTHA       :  (DENGAN NADA SUARA YANG TIDAK PERNAH DIKELUARKAN SEBELUMNYA) Aku telah memikirkan itu, sering, sering sekali. Pelancong-pelancong telah menceritakan segala sesuatunya padaku, dan aku juga membaca apa yang bisa kubaca. Dan sering di musim semi yang dingin dan ganas disini, aku mimpi tentang laut dan bunga-bungaan yang ada disana. (SEJENAK SETELAH DIAM, DALAM SUARA RENDAH) Dan apa yang kugambarkan membuat aku buta terhadap sesuatu yang berada di sekitarku. (SETELAH MENATAP WAJAH MARTHA SESAAT, YAN  DUDUK MENGHADAP MARTHA)

YAN              :  Aku bisa mengerti itu. Musim semi disana menakjubkan. Bunga-bunga bermekaran beribu-ribu jumlahnya di atas tembok-tembok berwarna putih. Jika anda sedang berada di atas bukit dan memandang kotaku yang terletak di bawahnya selama satu jam saja, pakaian anda akan menyebarkan bau yang manis seperti madu, bau bunga mawar kuning. 

MARTHA       :  Alangkah hebat, tentunya. Apa yang kita sebut musim semi disini hanyalah sekuntum bunga mawar dan beberapa kuncup yang berjuang mempertahankan hidup di kebun biara. (MENGEJEK) Dan itu sudah cukup untuk menggelorakan hati manusia di bagian terpencil dari dunia ini. Jadi mereka sama busuknya dengan pohon mawar itu. Udara segar akan mebuat mereka layu. Mereka telah mendapatkan musim semi yang pantas untuk mereka.

YAN              :  Anda tidak begitu adil. Kalian mengalami musim gugur juga.

MARTHA       :  Apa itu musim gugur?

YAN              :  Musim semi kedua, dimana setiap daun merupakan sekuntum bunga. (YAN MEMANDANG MARTHA DENGAN TAJAM) Barangkali itu sama halnya dengan hati manusia. Barangkali mereka bisa bersemi jika kita menolongnya dengan kesabaran.

MARTHA       :  Aku tidak punya kesabaran terhadap benua Eropa yang suram ini, dimana musim gugur berwajahkan musim semi dan musim semi menyebarkan bau kemiskinan. Tidak, aku lebih suka membayangkan tempat-tempat lainnya dimana musim panas memancarkan nyala api, dimana musim dingin hujan membanjiri kota-kota dan dimana...segala-galanya seperti apa adanya. 

(DIAM SEJENAK. YAN MEMANDANG MARTHA DENGAN PENUH PERHATIAN. MARTHA MENYADARI INI DAN BANGKIT DENGAN TIBA-TIBA DARI KURSI)

 Mengapa anda memandangi aku seperti itu?

YAN              :  Maaf...Tetapi sejak tadi kita nampaknya sudah melupakan perjanjian yang kita buat. Aku kira tidak ada halangan bagiku untuk mengatakan padamu, mengejutkan sekali bagiku karena untuk pertama kali anda berbicara padaku dengan.....boleh aku katakan? ..... dengan perasaan kemanusiaan.

MARTHA       :  (BERONTAK) Jangan terlalu yakin akan hal itu. Dan biarpun seandainya aku berbuat demikian, tak ada alasan bagimu untuk bersuka cita. Apa yang anda sebut segi-segi kemanusiaan bukanlah bagian yang terbaik dalam diriku. Apa yang bersifat kemanusiaan dalam diriku adalah apa yang ingin aku dapatkan dan apa yang aku inginkan, dan aku terus mengejarnya. Aku akan melenyapkan setiap halangan yang menghalangi jalanku.

YAN              :  Aku bisa mengerti macam kekerasan hati seperti itu. Dan aku tidak punya alasan untuk merasa takut akan hal itu, karena aku bukan merupakan halangan bagimu, dan aku tidak punya maksud untuk menentang keinginan-keinginanmu.

MARTHA       :  Tentu saja aku tidak punya alasan untuk menentangnya. Tapi sama juga sebenarnya anda tidak punya alasan untuk menyokongnya dan dalam beberapa hal, itu bisa menyebabkan meruncingnya keadaan.

YAN              :  Mengapa begitu yakin? Aku tidak punya alasan untuk menyokongnya.

MARTHA       :  Naluriku mengatakan begitu, juga keinginanku untuk menyingkirkan anda dari rencana-rencanaku.

YAN              :  Oh, itu berarti kita telah kembali keperjanjian semula.

MARTHA       :  Ya, dan kita telah keliru melanggar perjanjian itu...anda lihat sendiri akibatnya. Sekarang yang masih tinggal hanyalah ucapan terima kasih kepada anda, karena telah menceritakan kepadaku tentang negeri dimana anda tinggal, dan aku harus minta maaf telah menghabiskan waktu anda dengan percuma. (SAMBIL BERJALAN MENUJU PINTU) Namun begitu, ijinkan aku mengatakan, sebenarnya waktu anda tidak semuanya terbuang percuma. Pembicaraan kita telah membangunkan kembali keinginan yang ada dalam diriku yang sudah mulai tertidur. Jika anda betul-betul bersikeras tinggal disini, anda akan memenangkan urusan anda tanpa anda ketahui. Ketika aku memasuki kamar ini aku hampir saja memutuskan untuk meminta anda pergi, tetapi seperti yang anda lihat, anda telah mengusik rasa kemanusiaanku, sekarang aku berharap agar anda tinggal disini, dengan begitu kerinduanku akan laut dan cahaya matahari akan tercapai. 

 

(YAN MEMANDANGI MARTHA TANPA BICARA APAPUN)

 

YAN              :  (PENUH DENGAN PIKIRAN) Anda mempunyai cara berbicara yang aneh. Namun begitu, jika boleh dan ibu anda tidak berkeberatan, aku akan tinggal.

MARTHA       :  Keinginan ibuku lebih lemah dari pada keinginanku, itu wajar bukan? Dia tidak begitu memikirkan laut dan pantai-pantai yang sepi itu, sehingga dia tidak menyadari perlunya anda tinggal disini. Jadi sebenarnya dia tidak punya alasan yang sama dengan aku untuk menahan anda disini. Selain itu, dia tidak punya cukup alasan kuat untuk menentangku, jadi segalanya sudah beres.

YANG            :  Jadi, kalau aku tidak salah mengerti, salah seorang dari kalian menahanku karena alasan uang, sedang yang lainnya tidak punya maksud apa-apa.

MARTHA       :  Apa lagi yang bisa diharapkan dari seorang pelancong? Tetapi ada benarnya yang anda katakan itu. (DIA MEMBUKA PINTU)

YANG            :  Oh...yah...aku kira aku harus senang dengan segalanya itu. Namun kalau boleh kukatakan, segalanya disini memberikan kesan padaku sangat aneh. Orang-orang dan cara berbicaranya. Sungguh ini sebuah rumah aneh.

MARTHA       :  Barangkali itu cuma karena anda berlaku aneh dalam rumah ini.

(MARTHA PERGI)

YAN              : (MEMANDANG PINTU) Barangkali dia benar, tapi aku masih tetap terpikir. (MENUJU TEMPAT TIDUR DAN DUDUK) Sungguh keinginan dalam diriku yang ditimbulkan oleh gadis itu adalah keinginan untuk pergi dari sini dengan segera dan kembali ke Maria dengan kebahagiaan kami bersama. Aku telah berlaku sangat bodoh. Apa urusanku berada disini?.... Tidak, aku punya alasan, alasan yang baik, aku punya kewajiban pada ibu dan adikku. Aku telah menelantarkan mereka begitu lama. Kini tergantung padaku untuk berbuat sesuatu bagi mereka, menebus kelalaianku. Tidaklah cukup, dalam keadaan seperti ini hanya dengan mengatakan, “Inilah aku”. Orang haruslah membuat dirinya dicintai, begitulah. (DIA BANGKIT) Ya, inilah sebuah kamar tempat segalanya akan diputuskan. Sambil lalu, ini sebuah kamar yang sangat buruk dan dingin. Aku tidak bisa mengenal apa-apa di dalamnya. Semuanya telah berubah, dan sekarang merupakan sebuah kamar hotel, dimana para tamu menginap bergantian. Aku telah banyak pengalaman tidur di hotel-hotel, dan aku biasanya berpikir pasti ada yang ingin dikatakan oleh tamu-tamu itu....sesuatu seperti sebuah jawaban atau sebuah pesan. Barangkali aku akan mendapat jawaban disini, malam ini. (DIA MEMANDANG KELUAR JENDELA) Udara mendung nampaknya. Selalu begini suasana di kamar tidur sebuah hotel. Suasana malam yang menekan perasaan seorang laki-laki yang kesepian. Aku bisa merasakan kembali kegelisahan yang tak menentu yang biasa kurasakan masa lampau...disini, dalam rongga dadaku....bagaikan tempat yang rapuh, dimana setiap gerakan yang kecil sekalipun bisa mengganggu.....Dan aku tahu apa itu. Itulah ketakutan, ketakutan akan kesunyian yang abadi, ketakutan akan tiada jawaban. Dan lagi, siapa yang bisa memberikan jawaban di dalam kamar sebuah hotel?

(DIA BERGERAK MENDEKATI BEL. SETELAH RAGU SESAAT, IA KEMUDIAN MENEKAN BEL TERSEBUT. SUNYI. KEMUDIAN TERDENGAR LANGKAH. KETUKAN DI PINTU. PINTU TERBUKA, SEORANG LELAKI TUA MUNCUL. IA TIDAK BERGERAK DAN TIDAK BERKATA-KATA) 

Tidak apa-apa. Maaf, aku telah mengganggumu. Aku hanya ingin mengetahui apakah bel ini masih bekerja dan apakah ada orang yang menjawab. (LELAKI TUA ITU MEMBELALAKKAN MATA PADA YAN, KEMUDIAN MENUTUP PINTU. TERDENGAR LANGKAH MENJAUH) Bel itu bekerja, tapi laki-laki tua itu tidak bicara. Itu bukanlah sebuah jawaban. (DIA MEMANDANG KE LANGIT-LANGIT) Awan masih tetap berarak. Segumpal kegelapan yang pekat akan turun menyelubungi bumi ini. Apa yang harus kulakukan? Siapa yang benar, Maria atau mimpi-mimpiku? (TERDENGAR DUA KETUKAN. MARTHA MASUK MENENTENG BAKI) Apa ini?

MARTHA       :  Teh yang anda pesan.

YAN              :  Tapi.....aku tidak pesan apa-apa.

MARTHA       :  Ah. Orang tua itu tentunya salah dengar. Dia sering salah mengerti, tetapi teh sudah ada disini, aku kira anda mau menerimanya? (DIA MENARUH BAKI DI ATAS MEJA, LALU MEMBUAT GERAKAN YANG AGAK SULIT DIMENGERTI) Itu tidak akan dimasukkan ke dalam tagihan.

YAN               :  Bukan, bukan karena itu. Tetapi aku senang anda membawakan teh untukku. Baik hati benar, anda.

MARTHA       :  Jangan pikirkan itu. Apa yang kami lakukan adalah untuk kepentingan kami sendiri.

YAN              :  Aku perhatikan anda berpegang teguh utuk memberikan sedikitpun harapan. Tetapi, terus terang saja aku tidak melihat dimana letak kepentingan kalian dalam hal ini.

MARTHA       :  Ada, percayalah kepadaku. Kadang-kadang secangkir cukup untuk menahan tamu-tamu disini.

(MARTHA KELUAR. YAN MENGAMBIL CANGKIR TEH, MEMPERHATIKANNYA, KEMUDIAN MENYIMPANNYA KEMBALI)

YAN              :  Jadi pesta si anak hilang masih terus berlangsung. Pertama segelas bir....teh, tapi itu imbalan dari uangku, lalu secangkir teh....itu untuk merangsang tamu tamu tetap tinggal. Tetapi aku juga salah, aku tidak bisa memilih nada yang tepat. Setiap aku dihadapkan pada keterus-terangan gadis itu yang hampir-hampir kurang ajar itu. Aku tidak pernah menemukan kata-kata yang bisa menyelesaikan segalanya. Tentu saja, dia lebih memiliki peran yang sederhana, mencari kata-kata yang mudah untuk menolak menawarkan perdamaian. (MENGAMBIL CANGKIR. DIAM SESAAT, LALU BICARA DENGAN NADA RENDAH) Oh Tuhan, berikan padaku kekuatan untuk menemukan kata-kata yang tepat, kalau tidak, suruhlah aku meninggalkan usaha yang sia-sia ini dan kembali pada cinta Maria. Kemudian berikan padaku kekuatan pada apa yang kupilih, dan untuk tetap bertahan pada pilihan itu. (MENGANGKAT CANGKIR KE BIBIRNYA) Pesta pulangnya si anak hilang. Paling tidak yang aku harus lakukan adalah melakukannya dengan kehormatan diri. Dengan begitu aku akan memainkan perananku sampai aku meninggalkan tempat ini. (MINUM TEH. SUARA KETUKAN KERAS DI PINTU) Siapa itu?

(PINTU TERBUKA, SANG IBU MASUK)

SANG IBU     :  Maafkan aku mengganggu tuan. Tetapi anakku mengatakan padaku telah membawakan secangkir teh untuk anda.

YAN              :  Itu !

SANG IBU     :  Anda telah meminumnya?

YAN              :  Sudah. Mengapa nyonya tanyakan?

SANG IBU     :  Maafkan, aku datang untuk mengambil baki itu.

YAN              :  (TERSENYUM) Maafkan aku, rupanya secangkir teh telah menimbulkan banyak kerepotan.

SANG IBU     :  Sebetulnya bukan itu soalnya. Tetapi seharusnya, teh itu bukan dimaksudkan untuk anda.

YAN              :  Oh, begitu soalnya. Teh itu dibawa kemari tanpa kupesan.

SANG IBU     :  (LESU) Ya, begitulah. Sebetulnya akan lebih baik jika....tapi, tidak begitu penting. Apakah anda akan meminumnya atau tidak?

YAN              :  (DENGAN NADA MENGANDUNG TEKA-TEKI) Aku benar-benar minta maaf. Percayalah kepadaku , tetapi anak perempuan nyonya, memaksa untuk meninggalkannya disini, dan aku tidak mengira........

SANG IBU     :  Aku minta maaf juga. Tetapi tolong jangan menyalahkan diri anda. Itu hanya sebuah kekhilafan. 

(DIA MELETAKKAN CANGKIR DAN CAWAN DI ATAS BAKI DAN MELANGKAH MENUJU PINTU)

YAN              :  Nyonya!

SANG IBU     :  Ya!

YAN              :  Aku harus minta maaf sekali lagi. Aku baru saja sampai pada suatu keputusan. Aku pikir aku akan meninggalkan tempat ini, setelah makan malam. Tentu saja aku akan membayar sewa kamar untuk malam ini. (SANG IBU MENATAPNYA DENGAN DIAM) Aku bisa mengerti nyonya nampak terkejut, tetapi aku mohon jangan membayangkan bahwa anda bertanggung jawab atas perubahan rencanaku yang mendadak ini. Aku sangat hormat pada nyonya, suatu kehormatan yang sangat besar, tetapi secara jujur aku tidak merasa tenang disini, jadi lebih baik aku tidak menginap disini.

SANG IBU     :  Itu tidak apa-apa tuan. Tentu saja tuan boleh melakukan apa saja yang tuan inginkan. Namun begitu, barangkali saja anda masih bisa merubah pikiran anda selama menunggu makan malam disiapkan. Kadang-kadang orang bisa terangsang oleh kesan pertama, tatapi lama-lama segalanya akan jadi biasa dan kita merasa betah dengan suasana baru itu.

YAN              :  Aku tidak yakin,nyonya. Tetapi aku tidak mau anda berpikir bahwa kepergianku ini karena aku tidak puas dengan nyonya, sebaliknya, aku sangat berterima kasih pada nyonya atas sambutan yang telah nyonya berikan padaku, karena terus terang saja, rasanya aku melihat nyonya mempunyai sesuatu....keabraban terhadapku.

SANG IBU     :  Itu wajar, tuan, dan aku yakin tuan mengerti bahwa aku tidak punya alasan pribadi untuk menunjukkan sikap bermusuhan.

YAN              :  (DENGAN EMOSI YANG DITAHAN) Barangkali begitu.......aku harap demikian. Tetapi jika aku mengatakan itu tidak lain karena aku ingin kita berpisah dengan baik-baik. Kapan-kapan barangkali saja, aku akan datang kembali. Aku yakin aku pasti akan datang. Lalu segalanya pasti akan lebih baik dan aku tidak punya kesangsian bahwa kita akan merasa gembira bertemu kembali. Tetapi sekarang ini aku merasa aku telah membuat kesalah, aku tidak punya urusan tinggal disini.......Dengan kata lain.....meskipun barangkali ini akan mengejutkan nyonya sebagai sesuatu cara yang aneh mengemukakan sesuatu.......aku punya perasaan bahwa rumah ini tidak cocok untukku.

SANG IBU     :  Aku tahu apa yang anda maksudkan, tuan. Tetapi biasanya seseorang akan merasakan hal-hal semacam itu dengan segera, anda agak terlalu lamban, untuk mengetahuinya, ini menurut penglihatanku.   

YAN              :  Aku setuju. Tetapi sekarang ini aku lebih suka ditepi laut. Aku datang ke benua Eropa untuk urusan dagang yang mendesak, dan itu terlalu membuat hati bingung kembali kenegeri asal setelah bertahun-tahun ditinggalkan. Aku percaya, anda mengerti apa yang kumaksudkan.

SANG IBU     :  Ya, aku mengerti dan aku senang segalanya berjalan sesuai dengan apa yang anda kehendaki? Tetapi aku pikir tidak ada lagi yang bisa kita lakukan terhadapnya.

YAN              :  Nampaknya begitu. Tetapi kita tidak boleh terlalu pasti.

SANG IBU     :  Bagaimanapun juga, aku kira kami telah berusaha melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menahan anda disini.

YAN              :  Memang, dan aku tidak pernah mengeluh tentang pelayanan kalian. Sebenarnya kalianlah yang pertama-tama kujumpai sejak kedatanganku kemari, dan itu wajar jika kesukaran-kesukaran yang kualami pertama-tama datangnya disini bersama kalian. Sudah jelas, aku sendirilah yang harus disalahkan untuk segalanya ini; aku belum menemukan diriku kembali.

SANG IBU     :  Memang sering kejadian seperti itu dalam hidup ini, sekali orang membuat langkah salah, tidak akan ada seorangpun yang bisa menolongnya. Dan memang benar apa yang telah terjadi ini betul-betul mengesankan hatiku. Tetapi aku katakan pada diriku sendiri bagaimanapun juga aku tidak punya alasan untuk menggantungkan kepentinganku kepadanya.

YAN              :  Yah ...... itu berarti anda telah ikut merasakan perasaan tidak enak yang sedang kurasakan, dan anda telah berusaha untuk mengerti tentang diriku. Aku tidak tahu bagaimana aku harus mengatakannya betapa terharu hatiku akan sikap nyonya, dan aku sungguh-sungguh sangat menghargainya (DIA MENGULURKAN TANGANNYA KEPADA SANG IBU) Sungguh aku...........

SANG IBU     :  Oh, apa yang tuan sebut tentang sikapku adalah suatu hal yang wajar, sungguh. Adalah kewajiban kami untuk menyesuaikan diri kepada tamu-tamu kami.

YAN              :  (DALAM NADA KECEWA) Begitu. (DIAM SEBENTAR) Jadi begini saja, aku minta maaf, dan sekiranya anda berkenan aku akan memberikan imbalan. (DIA MENGULURKAN TANGAN KE DAHINYA, DIA KELIHATAN LELAH DAN BERBICARA AGAK KAKU).

                        Nyonya boleh mengadakan persiapan, bikinlah suatu perhitungan; jadi dengan begitu aku rasa adil ..........

SANG IBU     :  Persiapan satu-satunya yang kami bikin adalah sebuah persiapan yang selalu kami lakukan dalam perkara semacam ini. Dan aku yakinkan pada tuan bahwa tuan tidak mempunyai kewajiban membayar uang imbalan. Bukanlah karena kepentingan kami, aku menyesalkan kebimbangan tuan mengambil keputusan, tetapi itu adalah kepentingan tuan sendiri.

YAN              :  (MENYANDARKAN TUBUHNYA KETEPI MEJA) Oh, itu tidak jadi soal, yang paling penting adalah kita saling mengerti satu sama lain dan aku tidak akan meninggalkan nyonya dengan kesan yang amat buruk tentang diriku. Secara pribadi aku tidak akan melupakan rumah ini........percayalah akan hal itu.......dan aku berharap jika kembali kemari aku akan dalam suasana hati yang lebih baik sehingga bisa lebih menghargainya. (SANG IBU MENUJU KEPINTU TANPA BICARA) Nyonya! (SANG IBU MEMBALIK, YAN BICARA DENGAN SUSAH PAYAH TETAPI LAMA KELAMAAN LEBIH MUDAH MENGUCAPKANNYA) Aku ingin.......Maafkan aku, tapi perjalanan yang kulakukan melelahkan diriku (DUDUK DIATAS TEMPAT TIDUR) Bagaimanapun juga aku ingin mengucapkan terima kasih atas hidangan teh, dan sambutan ramah tamah yang nyonya berikan padaku, Dan aku juga ingin mengatakan bahwa aku tidak mau meninggalkan rumah ini dengan perasaan seorang asing.

SANG IBU     :  Sungguh, tuan menerima ucapan terima kasih untuk sesuatu yang tidak pernah kita lakukan selalu membikin kita merasa malu.

(SANG IBU KELUAR, YAN MEMANDANGINYA MEMBUAT GERAKAN SEAKAN-AKAN HENDAK MELANGKAH TETAPI RUPANYA DIA MENDERITA LUMPUH LALU MENYANDARKAN SIKUNYA DIATAS BANTAL, DAN MENYERAHKAN DIRINYA PADA KELEMAHAN YANG MAKIN BERTAMBAH) 

YAN              : Ya, aku harus membereskan soal ini dengan sederhana. Langsung kepada persoalannya. Besok pagi aku akan datang kemari dengan Maria dan akan mengatakan : “Inilah aku”, Tidak ada yang akan menghalang-halangi aku membuat mereka bahagia. Maria benar, aku sadari sekarang ini. (DIA MENGELUH DAN MENYANDARKAN DIRINYA KE BANTAL) Aku tidak suka suasana malam ini, segalanya tampak begitu jauh (DIA MENGUCAPKAN SESUATU TETAPI TIDAK KEDENGARAN) Ya atau tidak? 

(SETELAH GELISAH SEBENTAR YAN JATUH TERTIDUR. KAMAR TIDUR ITU HAMPIR DALAM KEGELAPAN. KEHENINGAN YANG BERLANGSUNG AGAK LAMA. PINTU TERBUKA KEDUA PEREMPUAN ITU MASUK MEMBAWA SEBUAH LAMPU).

MARTHA       :  (MEMEGANG LAMPU TEPAT DIATAS LAKI-LAKI YANG SEDANG TIDUR ITU, LALU BERBISIK)  Beres semuanya.

SANG IBU     :  (MULA-MULA DENGAN SUARA RENDAH, TETAPI MAKIN LAMA MAKIN KERAS) Jangan, Martha. Aku tidak mau tanganku dipaksakan seperti ini. Aku telah diseret ke dalam perbuatan ini, kau atur sedemikian rupa sehingga tak ada kesempatan bagiku untuk menarik diri. Aku tidak suka caramu memaksakan kehendak terhadapku. 

MARTHA       :  Ini cara untuk memudahkan segala-galanya. Jika memberikan padaku alasan-alasan yang jelas tentang keangan-anganan ibu, aku pasti akan mempertimbangkannya. Tetapi karena ibu tidak bisa mengambil keputusan sendiri, adalah wajib bagiku untuk menolong ibu untuk mengambil langkah pertama.

SANG IBU     :  Aku tahu, tentu saja, bahwa itu bukanlah soal besar. Laki-laki ini atau laki-laki lainnya, hari ini atau kapan saja, malam ini atau besok pagi....akhirnya ke situ juga sampainya. Bagaimanapun juga, aku mempunyai perasaan tidak enak.

MARTHA       :  Ayolah ibu, sebaiknya pikirkanlah tentang hari esok dan ayolah kita selesaikan. Kebebasan kita akan mulai bila malam ini telah berakhir. 

(MARTHA MELEPASKAN KANCING-KANCING JAS YAN, MENGELUARKAN DOMPETNYA DAN MENGHITUNG LEMBARAN UANG YANG ADA DI DALAMNYA)

SANG IBU     :  Alangkah nyenyaknya dia tidur.

MARTHA       :  Dia tidur seperti orang-orang lainnya tidur....Sekarang ayo kita mulai.

SANG IBU     :  Tunggu sebentar, ya. Apakah kau tidak merasa aneh, betapa tidak berdayanya laki-laki bila mereka sedang tidur.

MARTHA       :  Nampaknya begitu, tetapi biasanya mereka tiba-tiba bangun....

SANG IBU     :  (MERENUNG) Tidak, laki-laki tidaklah begitu menarik seperti yang kau sangka, tetapi tentu saja kau, Martha, tidak tahu apa yang kumaksudkan.

MARTHA       :  Tidak, ibu, aku tidak tahu bahwa kita telah menyia-nyiakan waktu.

SANG IBU     :  (SEMACAM IRONI TETAPI NAMPAK LELAH) Oh, tidak ada perlunya tergesa-gesa. Malah sebaliknya, karena hal yang utama telah kita lakukan. Kenapa kau begitu bernafsu melakukan ini. Apakah sungguh-sungguh seimbang dengan jerih payah kita?

MARTHA       :  Tidak ada yang seimbang, kalau kita harus bicara tentang itu. Lebih berguna jika kita melanjutkan pekerjaan  ini dan jangan bertanya tentang apa-apa lagi.

SANG IBU     :  (TENANG) Mari kita duduk Martha.

MARTHA       :  Disini? Di samping dia?

SANG IBU     :  Tentu saja, mengapa? Dia sedang menikmati tidur yang membawanya pergi jauh, dan tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan bangun dan menanyakan apa yang sedang kita lakukan disini. Dan tentang dunia luar....segera berhenti pada pintu tertutup itu. Mengapa tidak kita nikmati saja suasana kedamaian dalam ruangan kecil ini?

MARTHA       :  Ibu bercanda dan sekarang giliranku untuk mengatakan pada ibu, aku tidak menyukai cara ibu bertindak.

SANG IBU     :  Kau keliru. Aku sama sekali tidak merasa ingin bercanda. Aku sekedar memperlihatkan ketenangan, sementara kau membiarkan dirimu bertindak liar. Tidak, Martha, duduklah. (DIA TERTAWA) Dan lihatlah laki-laki itu. Dia nampak lebih tak berdosa dalam tidur dari pada dalam bicaranya. Bagaimana pun juga dia telah selesai dengan dunia ini. Mulai sekarang segalanya akan jadi mudah baginya. Dia akan melampaui masa-masa tidur penuh mimpi menuju tidur tanpa mimpi. Dan apa yang bagi orang lain merupakan sesuatu yang kejam, maka baginya tidak lebih dari semacam istirahat panjang.

MARTHA       :  Orang seperti dia patut mendapatkan tidur yang nikmat. Dan laki-laki ini, bagaimana pun juga, aku tidak punya alasan untuk membencinya. Jadi aku merasa gembira dia tidak mengalami sedikitpun rasa sakit. Aku tidak punya alasan untuk melihat padanya, dan aku pikir adalah sebuah pikiran yang jelek bagi ibu menatap seperti itu kepada laki-laki yang sebentar lagi akan ibu gotong.

SANG IBU     : (MENGGELENGKAN KEPALA, DAN DENGAN SUARA RENDAH) Jika waktunya telah tiba kita akan menggotongnya, tetapi kita masih punya waktu dan barangkali bukanlah pikiran buruk...untuk dia terutama...jika kita memandangnya sepuas-puasnya, karena sekarang belum begitu terlambat. Tidur bukanlah kematian. Ya, Martha, pandanglah dia. Dia sedang dalam kehidupan menuju ke saat dimana dia tak punya hak bicara tentang nasibnya, karena harapan-harapan atas kehidupannya diambil alih oleh tangan-tangan orang asing. Biarkan tangan-tangan ini berada ditempatnya semula, terlipat di atas pangkuanku, sampai menjelang pagi, dan tanpa dia tahu apa-apa, dia akan memasuki kehidupan baru baginya. Tetapi jika tangan-tangan ini bergerak kearahnya dan membentuk lingkaran yang ketat, dimata kakinya, dia akan terbaring di dalam kuburan yang tidak bisa lagi dikenali tempatnya untuk selama-lamanya.

MARTHA       :  (BANGKIT DENGAN CEPAT) Ibu, ibu lupa bahwa malam sudah hampir habis, dan banyak yang masih harus kita kerjakan. Pertama-tama kita harus memeriksa surat-surat yang ada dalam sakunya dan menggotongnya keluar, lalu mesti mematikan semua lampu dan memperhatikan pintu depan selama diperlukan.

SANG IBU     :  Ya, banyak yang harus kita kerjakan, dan dalam hal ini kita mempunyai perbedaan masalah dengan dia. Dia, paling tidak, sekarang ini telah bebas dari beban hidupnya. Dia telah membuat keputusan dengan segenap pikiran tercurah untuk hal-hal yang hendak dilakukannya, dengan ketegangan dan perasaan tertekan. Sebuah salib telah diletakkan di pundaknya, salib dari dalam kehidupannya yang tidak pernah menemukan ketenangan selain kelemahan, dan tidak ada waktu istirahat. Pada saat ini dia tidak menuntut apa-apa dari dirinya, dan aku sebagai orang yang sudah tua dan lelah. Aku pikir disanalah letak kebahagiaan.

MARTHA       :  Kita tidak punya waktu untuk bertanya-tanya dimana letak kebahagiaan. Aku mesti terus berjaga selama diperlukan. Dan masih banyak yang mesti dikerjakan. Kita harus turun ke sungai dan harus awas, jangan sampai ada orang-orang mabuk yang sedang tidur di pinggir sungai. Kita harus menggotongnya secepat mungkin. Kita mesti tahu betapa besar tenaga yang diperlukan, dan ini harus dilakukan tahap demi tahap, dan ketika sudah berada di tepi sungai, kita lemparkan dia sejauh mungkin, ke tengah aliran sungai yang deras. Dan perlu ibu ingat sekali lagi, bahwa malam hari tidak akan berlangsung selamanya.

SANG IBU     :  Ya, pekerjaan itu sudah dihadapan kita, dan makin kupikirkan hal itu, makin membikin aku semakin lelah. Kelelahan yang begitu panjang sehingga darah tuaku tak sanggup mengatasinya. Dan sementara itu, laki-laki ini tidak punya rasa curiga, dia begitu menikmati istirahatnya. Jika kita membiarkan dia bangun, dia akan mulai lagi dengan kehidupan, dan dari apa kulihat pada dirinya, aku tahu, dia sama saja dengan orang lain, tak bisa hidup dengan damai. Barangkali itu sebabnya, kita harus membawanya kesana, dan menyerahkan pada kemurahan hati sebuah aliran sungai yang gelap. (DIA MENGELUH) Menyedihkan sekali, begitu banyak hal dibutuhkan untuk menyingkirkan seorang laki-laki dari kebodohannya sampai menempatkannya ke jalan damai.

MARTHA       :  Aku hanya bisa bilang, bahwa pikiran ibu sedang melayang-layang. Aku ulangi sekali lagi, banyak yang harus kita kerjakan. Setelah dia kita lemparkan, kita juga harus menghapus tanda-tanda pada tepian sungai. Menghilangkan jejak kaki kita pada jalan kecil itu, membakar pakaian dan barang-barangnya....biarkan dia lenyap dari muka bumi ini. Waktu sudah mendesak, dan sebentar lagi sudah terlambat untuk melakukan segalanya ini sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Sungguh aku tidak mengerti, apa yang telah terjadi dengan ibu, duduk di samping laki-laki yang sedang tidur dan menatap padanya, padahal ibu hampir tidak bisa melihat, dan mengucapkan kata-kata aneh yang tidak ada gunanya.

SANG IBU     :  Katakan padaku, Martha, apakah kau tahu bahwa dia tidak berniat meninggalkan tempat ini malam ini?

MARTHA       :  Tidak, aku tidak tahu. Andai aku tahu, itu tidak akan merubah apa-apa. Aku telah mengambil keputusan.

SANG IBU     :  Dia katakan padaku baru saja dan aku tidak tahu bagaimana menjawabnya.

MARTHA       :  Jadi ibu bicara dengan dia? 

SANG IBU     :  Ya, ketika kau mengatakan bahwa kau mengantarkan teh buat dia, aku datang kesini. Aku akan melarang dia munim teh teh itu, seandainya aku datang tepat pada waktunya. Tapi begitulah, aku mengetahui semua telah terlanjur dimulai, aku rasa sebaiknya membiarkan segalanya berjalan sesuai dengan tujuannya, sungguh, itu tidaklah begitu penting.

MARTHA       :  Jika ibu masih tetap berpendapat seperti itu, tidak ada alasan untuk tetap bercokol disini. Aku mohon bangkitlah dari kursi itu dan tolong aku menyelesaikan pekerjaan ini....yang telah membuat hilang kesabaranku.

SANG IBU     :  (BANGKIT) Ya, aku kira akhirnya aku harus menolongmu. Hanya perbolehkanlah aku beberapa menit saja, orang tua ini yang darahnya mengalir tidak secepat darahmu. Kau terburu-buru, sejak tadi pagi, dan kau mengharapkan supaya aku menyesuaikan langkahku dengan langkahmu. Bahkan laki-laki itu tidak sanggup melakukannya. Sebelum dia merencakan niatnya untuk meninggalkan tempat ini, dia telah minum teh yang kau berikan padanya.

MARTHA       :  Kalau ibu ingin tahu, justru dialah yang telah membuat keputusan untuk diriku. Sebetulnya aku terpengaruh dengan keengganan ibu untuk melaksanakan pekerjaan ini. Tetapi kemudian ia mulai bercerita padaku tentang negeri yang selalu kurindukan dan kuinginkan untuk pergi kesana, dan dengan mengusik-ngusik perasaanku, menjadikan hatiku tergerus olehnya. Begitulah hadiah yang harus diterima oleh laki-laki tak berdosa itu.

SANG IBU     :  Namun begitu dia bisa mengerti. Dia bilang dia merasa bahwa rumah ini tidak cocok untuk dirinya.

MARTHA       :  (DENGAN KERAS DAN TIDAK SABAR) Tentu saja ini bukan rumahnya. Dan lagi ini bukan rumah siapa-siapa. Tidak seorangpun akan menemui kehangatan dan kenikmatan atau kepuasan dalam rumah ini. Jika saja dia menyadari hal itu lebih cepat, dia akan selamat dan menyelamatkan kita juga. Dia akan selamat karena karena kami akan mengajarkannya, bahwa kamar ini dibuat untuk tidur di dunia ini untuk mati. Ayolah ibu, dan demi kepentingan Tuhan yang kadang-kadang ibu sebut-sebut, marilah membereskan pekerjaan ini. (SANG IBU MENGAMBIL LANGKAH KE ARAH TEMPAT TIDUR)

SANG IBU     :  Baiklah, Martha, mari kita mulai. Tapi aku punya perasaan bahwa pagi hari menjelang terbitnya matahari tidak akan pernah tiba.

 

  

BABAK III

 

RUANG TAMU. SANG IBU, MARTHA DAN PEMBANTU LAKI-LAKI BERADA DI ATAS PANGGUNG. LAKI-LAKI TUA SEDANG MENYAPU DAN MEMBENAHI RUANGAN. MARTHA BERDIRI DI BELAKANG BAR, IBU BERJALAN MENUJU PINTU

 

MARTHA       :  Nah, ibu lihat sendiri, pagi hari telah tiba dan kita sudah melewati malam tanpa halangan.

SANG IBU     :  Dan besok pagi aku akan merasa lega bahwa segalanya telah selesai, tetapi sekarang ini yang aku rasakan adalah kelelahan yang amat sangat, dan hatiku merasa kosong. Oh, sungguh malam yang melelahkan.

MARTHA       :  Pagi ini adalah pagi yang pertama kali aku bisa bernafas dengan bebas. Rasanya seolah-olah aku telah mendengar deburan ombak dan rasanya aku ingin menangis karena gembira.

SANG IBU     :  Bagus kalau begitu, Martha, bagus! Aku sendiri pagi ini rasanya begitu tua sehingga tidak bisa menikmati apa-apa bersamamu. Tetapi barangkali besok pagi aku akan dalam keadaan lebih baik.

MARTHA       :  Ya, mudah-mudahan segalanya akan lebih baik, tetapi cobalah berhenti mengeluh dan berikan kesempatan padaku untuk menikmati kebahagian yang baru kutemukan ini. Pagi ini aku merasa kembali seperti seorang gadis kecil, aku rasakan darahku hangat mengalir, dan aku ingin berlari berputar-putar dan bernyanyi-nyanyi!....Oh, ibu boleh akan menanyakan sesuatu? (DIAM SEJENAK)

SANG IBU     :  Apa yang terjadi pada dirimu, Martha? Kau berubah jadi manusia lain. 

MARTHA       :  Ibu....(RAGU-RAGU KEMUDIAN TERBURU-BURU) Katakan padaku, apakah aku masih cantik?

SANG IBU     :  Ya, kulihat kau cantik benar pagi ini. Rupanya perbuatan yang kita lakukan mempunyai pengaruh yang baik pada dirimu. 

MARTHA       :  Ah, tidak. Perbuatan yang ibu maksudkan itu tidak begitu berkesan di hatiku. Tetapi pagi ini aku merasa seakan-akan lahir kembali, dalam kehidupan baru, akhirnya aku akan dapat pergi ketempat dimana aku akan bahagia.

SANG IBU     :  Pasti, pasti. Dan sekali aku sembuh dari kelelahan ini, aku juga akan bernafas lega. Bahkan kini terobati sudah rasanya seluruh malam-malam yang kita lewati tanpa tidur, mengingat semuanya ini akan membuat kebahagiaan bagimu. Tetapi pagi ini aku harus istirahat, tadi malam benar-benar merupakan malam yang melelahkan.

MARTHA       :  Mengapa memikirkan soal semalam? Hari ini adalah hari besar (KEPADA PELAYAN LAKI-LAKI) Buka matamu selagi menyapu, kami telah menjatuhkan beberapa surat keterangannya ketika menggotongnya keluar dan aku tidak sempat berhenti untuk mengambilnya. Surat-surat itu tercecer entah dimana? (SANG IBU PERGI MENINGGALKAN RUANGAN, KETIKA LELAKI TUA MENYAPU BAWAH MEJA, DAN IA MENEMUKAN PASSPORT YAN, KEMUDIAN MEMBUKA DAN MENELITINYA, LALU MENYERAHKANNYA DALAM KEADAAN TERBUKA KEPADA MARTHA) Aku tidak perlu melihatnya. Letekkan bersama barang-barang lainnya, kita akan membakarnya.

(PELAYAN TUA MASIH MENGACUNGKAN PASSPORT ITU KEPADA MARTHA. MARTHA MENGAMBIL DAN MEMBACA PASSPORT ITU TANPA EMOSI LALU MEMANGGIL DENGAN TENANG) Ibu !

SANG IBU     :  (MENJAWAB DARI KAMAR SEBELAH) Apa yang kau inginkan sekarang !

MARTHA       :  Kemarilah ! (SANG IBU DATANG. MARTHA MEMBERIKAN PASSPORT ITU) Bacalah !

SANG IBU     :  Kau, kau tahu mataku sudah rusak !

MARTHA       :  Baca !

(SANG IBU MENGAMBIL PASSPORT, DUDUK, KEMUDIAN MELETAKKANNYA DI ATAS MEJA DAN MEMBACANYA, UNTUK BEBERAPA LAMA DIA MEMANDANG NANAR KE HALAMAN PASSPORT DI DEPANNYA)

SANG IBU     :  (DENGAN SUARA TIDAK BERNADA) Ya, aku selalu tahu akan begini jadinya....dan itu akan merupakan akhir. Akhir dari segala-galanya.

MARTHA       :  (BERANJAK DARI BELAKANG BAR DAN BERDIRI DI DEPAN BAR) Ibu !

SANG IBU     :  Jangan Martha, biarkan aku memilih jalanku sendiri, aku hidup sudah cukup lama. Aku hidup beberapa tahun lebih lama dari pada anak laki-lakiku, tidak begitu seharusnya. Sekarang aku harus pergi menemaninya di dasar sungai, dimana rumput-rumput air telah menutupi wajahnya.

MARTHA       :  Ibu, ibu pasti tidak akan meninggalkan aku sendirian, kan?

SANG IBU     :  Kau telah banyak membantuku, Martha, dan menyesal sekali aku harus meninggalkanmu. Jika kata-kata yang akan kuucapkan ini masih punya arti bagi kita, dengan jujur kukatakan padamu, bahwa kau adalah seorang anak yang baik. Kau selalu menunjukkan sikap hormat kepadaku. Tetapi kini aku sangat lelah, hatiku yang telah tua ini, yang nampaknya beku terhadap segalanya, hari ini telah belajar kembali apa arti kesedihan dan aku sudah terlalu tua untuk akrab dengannya. Dengan kata lain, jika seorang ibu sudah tidak sanggup lagi mengenali anak lelakinya sendiri, itu sudah jelas bahwa peranannya dalam hidup ini sudah berakhir.

MARTHA       :  Tidak, belum berakhir jika perjuangan anak perempuannya masih harus diperjuangkan. Dan hatiku remuk, begitu juga pandangan ketika mendengar ibu bicara dengan cara yang aneh dan baru....ibu yang selalu mengajari aku untuk tidak menaruh hormat pada segalanya.

SANG IBU     :  (MASIH DALAM NADA SUARA YANG SAMA) Itu membuktikan bahwa dalam dunia ini segala sesuatunya bisa diingkari, tapi masih ada kekuatan lain yang tidak bisa diingkari. Dan di atas bumi ini segalanya tidak pasti, kita yang mesti mendapatkan kepastian. (DENGAN PAHIT) Dan cinta seorang ibu terhadap anak lelakinya sekarang ini adalah kepastianku.

MARTHA       :  Jadi ibu belum pasti, bahwa seorang ibu bisa mencintai anak perempuannya.

SANG IBU     :  Bukan keinginanku untuk melukai hatimu, Martha, tetapi cinta pada anak perempuan tidak pernah sama. Tidak begitu dalam mencekam. Dan sekarang ini, bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa cinta anak lelakiku.

MARTHA       :  Sebuah cinta yang indah....yang telah melupakan ibu sepanjang dua puluh tahun.

SANG IBU     :  Ya, sebuah cinta yang indah yang berlangsung diam-diam selama dua puluh tahun. Katakan sesukamu, bahwa cinta bagiku cukup indah....nyatanya aku tidak bisa hidup tanpa itu. (BANGKIT DARI KURSINYA)

MARTHA       :  Tidak mungkin ibu bicara seperti itu, tanpa sedikitpun ingat pada anak perempuanmu, tanpa seidikitpun gejolak pemberontakan !

SANG IBU     :  Mungkin saja. Aku tidak punya ingatan pada apapun juga, apalagi gejolak pemberontakan. Tidak ragu lagi, ini adalah hukuman, yang juga akan tiba bagi semua pembunuh, seperti aku sekarang ini, hampa, kosong, tanpa daya, dan apapun lagi untuk tetap hidup. Itu sebabnya mengapa masyarakat tidak menyukainya. Mereka manusia-manusia tak berguna.

MARTHA       :  Aku tak sanggup mendengar ibu bicara seperti itu. Bicara tentang kejahatan dan pembunuhan. Itu keji.....!

SANG IBU     :  Aku tidak perlu memilih kata-kata yang akan kuucapkan. Aku telah berhenti membuat pilihan. Tetapi memang benar bahwa dengan satu perbuatan aku telah menghancurkan segalanya. Aku telah kehilangan kebebasanku dan neraka mulailah bagi diriku.

MARTHA       :  (MENDEKATI IBUNYA DENGAN KASAR) Ibu tidak pernah bicara seperti itu sebelum ini. Selama bertahun-tahun ini ibu selalu berdiri di sampingku dan tangan ibu tak pernah kendur mencengkeram kaki-kaki mereka yang akan mati. Tidak pernah terpikir oleh ibu akan neraka atau kebebasan pada masa-masa itu! Tidak pernah terlintas dalam pikiran ibu bahwa ibu tidak punya hak hidup dan terus saja ibu melaksanakan....perbuatan-perbuatan itu. Bagaimana bisa anak laki-lakimu itu menyebabkan perubahan seperti ini ?

SANG IBU     :  Aku terus saja melakukannya, itu memang benar, tetapi hidup yang kujalani adalah hidup berdasarkan kebiasaan, hidup yang tidak jauh bedanya dengan mati. Sebuah pengalaman sedih telah membawa perubahan itu. (MARTHA MELAKUKAN GERAKAN SEOLAH HENDAK BERBICARA) Oh, aku tahu, Martha, itu tidak masuk akal. Apa hubungannya sebuah kejahatan dengan sebuah kesedihan? Tapi aku harap kau mengerti, bahwa kesedihanku bukanlah kesedihan yang meluap-luap seperti yang dirasakan ibu-bu lainnya. Aku bahkan tidak menjerit histeris. Apa yang kurasakan tidak lebih dari kepedihan cinta yang menyala kembali di hatiku, derita yang tak pernah terasakan olehku. Aku tahu, kepedihan ini mungkin tidak masuk akal. (DENGAN NADA SUARA YANG BERUBAH) Begitu juga dengan dunia dimana kita hidup ini, tidak masuk akal, karenanya aku punya hak untuk menyatakan itu, karena aku sudah menjalani semuanya, dari menciptakan sampai menghancurkannya. 

(DIA BERJALAN DENGAN MANTAP KE ARAH PINTU. MARTHA MELOMPAT BERDIRI DI DEPANNYA DAN MENGHALANGI JALANNYA)

MARTHA       :  Tidak, ibu, kau tidak boleh meninggalkan aku. Jangan lupa bahwa akulah yang selalu berada di sampingmu, sedangkan dia pergi dari sisimu dengan diam-diam. Itu masuk akal dan mesti diperhitungkan. Itu harus dibayar. Adalah kewajibanmu untuk kembali kepadaku.

SANG IBU     :  (LEMBUT) Itu memang benar, Martha. Tetapi dia anak lelakiku telah mati oleh tanganku. 

(MARTHA SETENGAH MEMBALIK DAN NAMPAKNYA SEDANG MENGAWASI PINTU)

MARTHA       :  (SETELAH DIAM SESAAT, KEMUDIAN DENGAN EMOSI TINGGI) Segala yang bisa diberikan oleh hidup ini kepada seorang laki-laki telah juga diberikan kepadanya. Dia telah mengenal dunia luar, lautan, dan kebebasan, tetapi aku tinggal disini merana dalam bayangan kecil dan tidak berarti, terkubur hidup-hidup dalam lembah yang suram di jantung benua Eropa ini. Terkubur hidup-hidup ! Tidak seorangpun pernah mengecup bibirku, tidak seorangpun. Bahkan ibu tak pernah melihatku telanjang. Ibu, aku bersumpah padamu, segalanya itu harus dibayar. Dan sekarang dimana akhirnya aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Ibu tidak bisa, dan tidak boleh meninggalkan aku dengan alasan apa pun. Bahwa seorang laki-laki telah mati terbunuh. Cobalah mengerti bahwa bagi seorang laki-laki yang telah mengarungi hidup ini, kematian adalah hal sepele. Kita bisa melupakan saudara laki-lakiku dan anak laki-laki ibu. Apa yang telah terjadi pada dirinya tidak lagi penting, dia tidak bisa lagi mendapat apa-apa dari hidup ini. Tapi bagiku lain, dan ibu telah menipuku dalam segala hal, membohongiku tentang kenikmatan-kenikmatan yang pernah dikecap. Mengapa laki-laki itu harus merenggutkan cinta ibuku dariku dan menariknya ke dalam kegelapan sungai yang beku bersamanya ! (MEREKA SALING PANDANG, KEMUDIAN MARTHA BICARA DENGAN SUARA RENDAH) Aku Cuma minta sedikit, sedikit sekali dari hidup ini. Ibu, ada kata-kata yang tidak pernah bisa aku ucapkan, tetapi....bagaimana menurut pendapat ibu, apakah akan menentramkan hati ibu jika kita mulai lagi hidup seperti biasanya, kita berdua bersama-sama. Ibu dan aku?

SANG IBU     :  Kau mengenalinya ketika itu !

MARTHA       :  Tidak. Aku tidak ingat sedikitpun. Bagaimana rupa wajahnya, dan segalanya terjadi seperti yang seharusnya terjadi. Ibu sendiri bilang, dunia ini tidak masuk akal, tetapi ibu tidak pernah mengajukan pertanyaan seperti itu kepadaku. Kini aku tahu, seandainya aku tak mengenalinya, itu tidak akan ada bedanya.

SANG IBU     :  Lebih baik aku tidak percaya apa yang kau katakan itu benar. Tidak ada orang yang benar-benar penjahat tulen, dan sejahat-jahatnya seorang pembunuh masih ada saat-saat dimana mereka berperasaan lembut.

MARTHA       :  Aku juga punya saat-saat seperti itu. Tetapi aku tidak akan menundukkan kepalaku kepada seorang saudara laki-laki yang aku tidak kenal dan yang tidak punya arti apa-apa bagiku.

SANG IBU     :  Lalu kepada siapa kau sudi menundukan kepalamu ? (MARTHA MENUNDUKAN KEPALANYA)

MARTHA       :  Kepadamu ! (HENING SESAAT)

SANG IBU     :  (DENGAN TENANG) Terlambat, Martha. Aku tidak bisa lagi berbuat apa-apa untukmu. (SETENGAH MENGHINDARI TATAPAN MARTHA) Oh, mengapa anak laki-laki itu diam. Kediaman mendatangkan celaka. Tetapi berbicara sama juga bahaya, semakin sedikit ia berbicara, semakin cepat segalanya berakhir. (MENGHADAP MARTHA) Kau menangis, Martha? Tidak, kau tidak tahu bagaimana cara orang menangis. Bisakah kau mengingat kembali saat-saat aku biasa menciummu ?

MARTHA       :  Tidak, ibu !

SANG IBU     :  Aku mengerti. Saat itu sudah lama lewat, dan aku begitu cepat lupa melingkarkan tanganku kepadamu. Tetapi aku tidak pernah berhenti mencintaimu. (DENGAN LEMBUT IA MENYINGKIRKAN MARTHA YANG BERDIRI MENGHALANGI JALANNYA) Kini aku tahu kedatangan anak laki-lakiku telah menghidupkan kembali cinta yang tidak ternilai itu, dan kini harus aku bunuh.....bersama dengan diriku sendiri. 

(PERGI KELUAR DENGAN PENUH KEBEBASAN)

MARTHA       :  (MENUTUPI MUKANYA DENGAN KEDUA TANGANNYA) Tetapi apa ...Oh, apa yang lebih berarti bagimu selain kesedihan yang sedang merundung anak perempuanmu ?

SANG IBU     :  Kelelahan barangkali....dan kerinduan untuk beristirahat.

(DIA KELUAR. MARTHA TIDAK BERUSAHA MENAHANNYA. BEGITU IBUNYA PERGI, IA PERGI KE PINTU DAN MENGHEMPASKANNYA. MENYANDARKAN TUBUH KE PINTU LALU MENANGIS DENGAN KERAS)

MARTHA       :  Tidak, tidak ! Apakah itu urusanku untuk menjaga keselamatan saudara laki-lakiku? Sama sekali bukan ! Tapi kini aku disingkirkan di rumahku sendiri, tidak ada tempat lagi bagiku untuk menyandarkan kepalaku. Ibuku sendiri telah menolak diriku. Tidak, itu bukan kewajibanku, menyelamatkan dia .... Oh, semua itu tidak adil, ketidak-adilan telah dilimpahkan kepada orang yang tidak berdosa. Sedang dia .....Dia sekarang sudah mendapat ijin yang dia inginkan, sedangkan aku tetap kesepian, jauh dari lautan yang kurindukan. Oh, bencinya aku kepadanya. Seluruh hidupku sudah kuhabiskan dengan menunggu datangnya gelombang besar ini yang akan mengangkat dan menghanyutkan aku. Kini aku tahu, kesempatan itu tidak akan datang kembali. Aku telah ditakdirkan untuk tetap tinggal disini dengan negeri-negeri di sekelilingku, di sebelah kanan dan kiriku, di depan, di belakangku, dataran dan gunung-gunung yang menghalangi hembusan angin laut yang asin dengan celoteh dan gerutunya yang menghanyutkan panggilan-panggilan lirih yang tak pernah berhenti. (DALAM NADA RENDAH) Ada tempat-tempat lain, walau barangkali letaknya jauh dari lautan dengan hembusan angin senjanya yang menyebarkan bau wangi ganggang laut. Merasakan sentuhan pantai yang lembab, hingar-bingar suara burung camar, atau pasir berwarna keemasan bermandikan cahaya matahari terbenam. Tetapi hembusan angin laut itu terhenti jauh sebelum mencapai tempat ini. bahagia. Tidak pernah, tidak pernah aku mendapatkan apa yang menjadi keinginanku. Biarpun aku tempelkan telingaku ini merapat ke bumi, aku tidak pernah bisa mendengar deburan ombak memecah, atau dengusan nafas yang teratur dari lautan bahagia. Aku pun juga, jauh dari segala yang kucintai, dan pengasinganku ini takkan bisa terobati. Aku benci padanya, saudara laki-lakiku. Aku benci padanya karena dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Satu-satunya tempat tinggal bagiku adalah negeri yang suram dan tertutup, dimana langit  tidak punya horison. Bagiku, rasa lapar tidak lain hanyalah buah-buahan Moravia yang asam, dan rasa hausku hanyalah cairan darah yang telah kutumpahkan. Itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah kasih ibu. Tidak ada cinta untuk diriku, jadi biarlah ibuku mati. Biarlah setiap pintu tertutup untukku. Apa yang aku inginkan hanyalah biarkan aku hidup dalam kemarahanku, kemarahan yang menjadi hakku tanpa ada yang mengusik. Mengapa aku tidak berniat menengadah menatap ke sorga memohon pengampunan sebelum aku mati. Di tanah selatan dengan lautan mengelilingi kita, dimana manusia bisa berlari, bernafas dengan bebas, saling merapatkan tubuh dengan manusia lain, bergulung-gulung dalam ombak....Dewa-dewa tidak punya hak untuk campur tangan dalam segala urusan. Tetapi disini, setiap langkah mendapat tantangan dari segala penjuru. Segala sudah diatur, supaya manusia menengadah dengan rendah diri, mohon pengampunan. Aku benci pada dunia sempit ini, yang membuat manusia merasa kecil di hadapan Tuhan. Tetapi aku belum diberi hak yang menjadi milikku, dan aku merasa disakiti dengan ketidak-adilan yang menimpa diriku. Aku tidak akan bertekuk lutut. Aku telah ditipu dengan memberikan tempat ini sebagai tempat tinggal, dikucilkan oleh ibuku, tersingkir sendirian dengan kejahatan-kejahatan yang dilakukan, dan aku akan meninggalkan dunia ini dengan sikap bermusuhan. (TEDENGAR KETUKAN DI PINTU) Siapa itu ?

MARIA           :  Seorang pelancong.

MARTHA       :  Kami sedang tidak terima tamu sekarang.

MARIA           :  Tapi suamiku ada disini. Aku datang untuk menengoknya.

(MARIA MASUK)

MARTHA       :  (MENATAPNYA) Suamimu? Siapa itu?

MARIA           :  Dia datang kemari kemarin sore, dan dia berjanji menjemputku pagi ini. Aku tidak mengerti mengapa dia tidak datang ?

MARTHA       :  Dia bilang istrinya berada di luar negeri.

MARIA           :  Dia punya alasan tersendiri untuk itu, dan kami telah merencanakan untuk bertemu pagi ini.

MARTHA       :  (MASIH MENATAP MARIA) Suamimu telah pergi.

MARIA           :  Pergi? Aku tidak mengerti. Apakah dia tidak menyewa kamar disini ? 

MARTHA       :  Benar, tapi dia meninggalkan tempat ini pada tengah malam.

MARIA           :  Sungguh, aku tidak percaya itu. Aku tahu alasan mengapa dia ingin menginap di rumah ini, tapi cara anda bicara membuatku kuatir. Tolong ceritakan terus terang padaku apa sebenarnya yang telah terjadi.

MARTHA       :  Tidak ada yang harus kuceritakan padamu, kecuali bahwa suamimu tidak lagi berada disini.

MARIA           :  Aku benar-benar tidak bisa mengerti. Dia tidak akan pergi tanpa aku. Apakah dia mengatakan kepergiannya itu untuk seterusnya? Apakah dia akan kembali?

MARTHA       :  Dia meninggalkan kita untuk seterusnya.

MARIA           :  Coba dengar ! Aku tidak sanggup dengan ketegangan seperti ini lebih lama lagi. Sejak kemarin aku telah menunggu, menunggu terus di tempat yang asing ini, dan sekarang kecemasanku mendorongku pergi ke rumah ini. Aku tidak akan pergi dari sini sebelum aku bertemu dengan suamiku, atau sebelum aku diberi tahu dimana aku bisa menemukan dia.

MARTHA       :  Dimana suamimu sekarang berada adalah urusanmu, bukan urusanku.

MARIA           :  Kau salah. Kau juga punya urusan dalam hal ini. Aku tidak tahu apakah suamiku akan setuju kalau aku menceritakan hal ini padamu. Tetapi aku bosan dan muak dengan permainan pura-pura yang tidak ada gunanya ini. Laki-laki yang datang kesini kemarin itu adalah saudara laki-lakimu yang telah bertahun-tahun kau tidak pernah dengar kabar beritanya.

MARTHA       :  Itu bukan berita bagiku.

MARIA           :  (DENGAN KERAS) Kalau begitu....apa yang telah terjadi? Kalau segalanya sudah dibeberkan, bagaimana bisa terjadi? Yan, tidak berada disini Apakah kau tidak menyambut kepulangannya dengan gembira ? Kau dan ibumu.

MARTHA       :  Saudara laki-lakiku tidak lagi berada disini.....karena dia sudah  mati. 

(MARIA TERKEJUT LALU MENATAP MARTHA BEBERAPA SAAT, TANPA BICARA IA MAJU SELAN GKAH KE ARAH MARTHA. TERSENYUM)

MARIA           :  Ah, kau bercanda tentunya, Yan sering bercerita kepadaku ketika kau masih kecil, kau sering sekali membihongi orang. Kau dan aku sebenarnya hapir bersaudara, dan....

MARTHA       :  Jangan sentuh aku. Tetap tinggal di tempatmu. Antara kita tidak ada pesamaan apapun juga (PAUSE) Aku yakinkan padamu, aku tidak bercanda, suamimu mati tadi malam. Jadi tidak ada alasan bagimu utuk tetap tinggal disini lebih lama lagi.

MARIA           :  Kau gila! Kau betul-betul gila ! Orang tidak akan mati seperti itu .... dengan tiba-tiba. Mati secara mendadak. Aku tidak percaya padamu. Biarkan aku melihatnya, sesudah itu barulah aku bisa percaya pada apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak bisa membayangkannya.

MARTHA       :  Itu tidak mungkin. Dia berada di dasar sungai. (MARIA MENGULURKAN TANGANNYA PADA MARTHA) Jangan sentuh aku ! Diam saja disitu ! Aku ulangi sekali lagi, dia berada di dasar sungai. Ibuku dan aku membawanya ke sungai tadi malam, setelah memberinya obat tidur. Dia tidak menderita, tapi dia pasti telah mati, dan kamilah, aku dan ibuku yang telah membunuhnya.

MARIA           :  Ini pasti aku yang gila. Aku telah mendengar kata-kata yang tidak pernah diucapkan orang di bumi ini. Aku telah tahu bahwa tidak akan baik jadinya aku berada disini. Tetapi ini betul-betul kegilaan dan aku tidak mau terlibat di dalamnya. Disaat kata-katamu menusuk ke dalam jantungku, aku dengar seolah-olah kau berbicara tentang laki-laki lain, bukan laki-laki yang menikmati malam-malam bersamaku, dan semua ini adalah sebuah dongeng klasik, dimana cintaku tidak pernah ambil bagian di dalamnya.

MARTHA       :  Bukan tugasku untuk meyakinkan kau. Aku cuma menceritakan kebenaran. Sebuah kebenaran yang seharusnya sudah sejak lama kau ketahui.

MARIA           :  (DALAM SUASANA SEMACAM MIMPI) Tetapi mengapa, mengapa kau melakukannya ?

MARTHA       : Apa hakmu menanyaiku ?

MARIA           :  (PENUH SEMANGAT) Apa hakku ? .... Cintaku padanya.

MARTHA       :  Apa arti kata “cinta” itu ?

MARIA           :  Itu artinya .... artinya saat ini semuanya mencabik-cabik, mengiris-iris hatiku. Artinya perbuatan gila ini yang membuat gila ini yang membuat jari-jariku merasa gatal untuk membunuh. Itu artinya akhir masa lampauku yang penuh keceriaan, dan tibanya masa kesedihan yang mengerikan yang disebabkan olehmu. Engkau perempuan gila, jika saja hatiku tidak keras membaja untuk mempercai semua itu, engkau akan belajar apa arti kata-kataku, jika kau merasakan kuku-kukuku mencakari pipimu.

MARTHA       :  Sekali lagi kau menggunakan kata-kata yang kau tidak mengerti, kata-kata cinta, keceriaan, dan kesedihan adalah kata-kata yang punya arti bagiku.

MARIA           :  (BERUSAHA KERAS UNTUK BICARA DENGAN SOPAN) Dengar, Martha.....Itu namamu bukan? Marilah kita hentikan permainan ini, jika ini sebuah permainan. Marilah kita hentikan bicara tentang hal-hal yang tidak ada gunanya. Katakan padaku dengan terang, apa yang ingin aku ketahui? Dengan seterang-terangnya, sebelum aku roboh.

MARTHA       :  Aku telah cukup membuat terang segalanya. Kami telah melakukan terhadap suamimu tadi malam, seperti yang kami lakukan terhadap tamu-tamu lain sebelumnya, kami telah membunuh dan mengambil uangnya.

MARIA           :  Jadi ibu dan saudara perempuannya adalah penjahat !

MARTHA       :  Ya, tetapi itu adalah urusan mereka, orang lain tidak ada hak mencampurinya.

MARIA           :  (BERUSAHA MENAHAN DIRI) Apakah kau telah mengetahui sebelumnya bahwa dia saudaramu, sebelum kau membunuhnya ? 

MARTHA       :  Jika kau ingin tahu, ketika itu ada kesalah-pahaman. Dan jika saja kau mengenal banyak tentang dunia ini, kejadian itu tidak akan mengejutkanmu.

MARIA           :  (MELANGKAH MENUJU MEJA. TANGANNYA DIKEPAL DAN DILETAKKAN DI DADA. BICARA DENGAN NADA RENDAH DAN SEDIH) Oh, Tuhanku, aku telah tahu itu. Aku telah tahu bahwa permainan pura-pura ini akan berakhir menjadi tragedi dan kita dihukum, suamiku dan aku, karena membiarkan diri kami terjerumus ke dalamnya. Aku telah mencium bahaya ketika menarik nafas pertama kalinya, disini. (DIA BERHENTI DI DEPAN MEJA DAN TERUS BICARA TANPA MELIHAT MARTHA) Dia ingin membuat kepulangannya ini suatu hal yang tidak terduga-duga, mengharapkan kalian mengenalinya kembali dan membawa kebahagiaan pada kalian. Kesulitannya adalah dia tidak menemukan kata-kata yang cocok untuk memulai pembicaraan. Kemudian, selagi dia bergulat untuk menemukan kata-kata yang tepat dia telah dibunuh. (MENANGIS)  Kalian bagaikan dua perempuan gila, buta terhadap kehadiran laki-laki darah daging kalian yang telah kembali kepada kalian ..... dan kalian tidak pernah akan tahu kebesaran hatinya, betapa mulia hati laki-laki yang telah kalian bunuh tadi malam.... Dia bisa jadi kebanggaan bagi kalian, seperti yang kurasakan terhadap dirinya. Tapi tidak, kalian adalah musuhnya ..... Oh, memilukan ..... kalau bukan musuhnya, bagaimana mungkin kau bisa bicara begitu tenangnya, kalau tidak kau pasti sudah melemparkan dirimu ke jalanan dan menangis melolong bagaikan seekor binatang yang terluka.

MARTHA       :  Kau tidak punya hak berlaku seperti seorang hakim tanpa tahu apa-apa. Sekarang ini ibuku terbaring di samping anak laki-lakinya, tergencet pintu air dan pusaran telah mencabik-cabik wajah mereka, dan memukul-mukul mereka ke gundukan sampah yang membusuk. Segera setelah itu, tubuh-tubuh mereka akan terkubur bersama di dalam bumi yang sama. Tetapi aku tidak merasakan apa-apa melihat seluruh peristiwa yang bisa membuat menjerit-jerit karena duka cita. Aku mempunyai ukuran sendiri mengenai hati manusia, dan terus terang saja air matamu menggangguku.

MARIA           :  (MENDEKATI MARTHA DENGAN MARAH) Air mataku kucucurkan untuk kebahagiaan yang telah hilang untuk selamanya, untuk kebahagiaan hidup yang telah dicuri dariku. Dan itu lebih baik bagimu, dari pada duka citaku yang saat ini kuderita tanpa cucuran air mata yang bisa membunuhmu tanpa mataku berkedip sekalipun.

MARTHA       :  Jangan mengira kata-kata seperti itu bisa berkesan di hatiku. Sungguh itu tidak akan banyak membuat perubahan, karena aku juga telah cukup melihat dan mendengarnya. Aku juga telah memutuskan untuk mati, tapi aku tidak akan mengikuti mereka. Mengapa mereka harus menemaniku? Aku akan membiarkan mereka menikmati cinta yang telah ditemukan kembali dengan pelukan-pelukan dalam gelap. Kau maupun aku, tidak punya bagian dalam peristiwa ini. Segalanya telah berakhir, dan mereka telah tidak setia kepada kita ..... untuk selamanya. Untung saja aku punya kamar tidur dengan balok atap yang kuat.

MARIA           :  Apa peduliku kau mati atau seluruh dunia ditimpa kiamat. Karena kau, aku kehilangan laki-laki yang aku cintai dan seterusnya aku disiksa oleh kesepian dalam malam-malam yang gelap, dimana setiap kenangan adalah siksaan. 

(MARTHA MENDEKAT LEWAT BELAKANG DAN BICARA DI BELAKANG KEPALA MARIA)

MARTHA       :  Ayolah, jangan dibesar-besarkan. Aku telah kehilangan, dan ibuku. Impas sudah. Kau kehilangan dia hanya satu kali, setelah menikmati cintanya bertahun-tahun tanpa dia menyisihkan dirimu. Nasibku lebih parah. Bertahun-tahun ibuku menyisihkan aku, dan sekarang dia sudah mati, aku dua kali kehilangan dia.

MARIA           :  Ya, barangkali aku mau mengasihanimu dan membagi kesedihanku bersamamu. Jika saja aku tidak tahu apa yang telah menunggunya, sendirian di kamar tadi malam ketika kalian sedang merencanakan kematiannya.

MARTHA       :  (SECARA TIBA-TIBA TERDENGAR NADA PUTUS ASA) Suamimu dan aku juga seimbang sudah karena aku sudah menderita seperti apa yang dia derita. Seperti dia juga, aku selalu berpikir bahwa rumah ini merupakan tempat yang aman bagiku. Aku mengira bahwa kejahatan telah terikat erat antara ibuku dan aku, sehingga apapun di dunia ini tidak bisa memutuskannya. Dan lagi pada siapa di dunia ini  aku bisa mempercayakan diri kalau tidak kepada perempuan yang sama-sama membunuh di sampingku? Aku telah keliru, kejahatan juga berarti kesunyian, biarpun seribu manusia ikut bersama melakukannya. Dan sudah tepat sekali jika aku mati sendirian, dan setelah membunuh sendirian. (MARIA BERPALING PADANYA, AIR MATA MENGALIR DI PIPINYA. MARTHA MELANGKAH MUNDUR. SUARANYA KEMBALI KASAR) Berhenti ! Aku sudah katakan jangan sentuh aku. Hanya dengan memikirkan bahwa sebuah tangan manusia dapat mengalirkan kehangatan ke dalam diriku sebelum aku mati, hanya dengan memikirkan apa saja yang mirip-mirip dengan cinta busuk laki-laki yang masih tetap bersarang dalam diriku, aku merasakan denyut darah di pelipisku berdetak dalam kemarahan karena jijik. 

(MARIA BANGKIT DARI DUDUKNYA. KEDUA PEREMPUAN ITU SALING BERHADAPAN BERDIRI SANGAT BERDEKATAN)

MARIA           :  Jangan takut, aku tidak akan berbuat sesuatu untuk menghalangi kematianmu seperti yang kau inginkan. Karena dengan kepediahan yang mengerikan ini, yang telah mencekam tubuhku, aku merasa semacam kebutaan menyelubungi mataku dan segala yang ada di sekelilingku berangsur-angsur redup. Kau maupun ibumu tidak lebih dari bayangan samar bagiku. Bayangan wajah-wajah yang datang dan pergi dalam rangka sebuah tragedi yang tidak pernah ada akhir. Kepadamu, Martha, aku tidak menaruh benci maupun kasihan. Aku telah hilang kekuatan untuk mencintai maupun membenci seseorang. (TIBA-TIBA DIA MEMBENAMKAN MUKANYA KE DALAM KEDUA TANGANNYA) Dan lagi .... aku tidak punya waktu untuk menderita ataupun memberontak. Mala-petaka yang menimpa diriku ini ....terlalu berat bagiku.

MARTHA       :  (SETELAH MELANGKAH BEBERAPA LANGKAH KE ARAH PINTU DAN BERJALAN KEMBALI KE ARAH MARIA) Tetapi tetap belum cukup besar, masih bisa membuatmu menangis. Dan aku, masih ada sesuatu yang harus kulakukan sebelum aku meninggakanmu untuk selamanya. Aku masih harus menggarapmu, agar kau menjadi putus asa.

MARIA           :  (MENATAP MARTHA KETAKUTAN) Oh, tolong biarkan aku sendirian! Pergi, dan jangan ganggu aku!

MARTHA       :  Ya, aku akan pergi, dan itu akan melegakanmu juga. Cintamu dan air matamu membuat aku muak, tetapi sebelum aku mati, aku harus melenyapkan anggapanmu bahwa kau benar. Bahwa cinta itu sebenarnya omong kosong, dan apa yang telah terjadi tadi malam adalah sebuah kecelakaan. Dan sebaliknya, sekarang ini segalanya berada dalam keadaan beres dan normal, dan aku harus meyakinkan kau akan hal ini.

MARIA           :  Apa maksudmu?

MARTHA       :  Bahwa dalam keadaan segalanya beres dan normal, tak seorangpun akan pernah dikenal.

MARIA           :  (DALAM KEBINGUNGAN) Oh, apa peduliku? Yang aku tahu cuma kini hatiku hancur berkeping-keping. Tidak ada apa-apa lagi yang berarti bagiku selain laki-laki yang sudah kau bunuh.

MARTHA       :  (DENGAN GANAS) Diam! Aku tidak suka kau bicara tentang laki-laki itu, aku benci padanya. Dan kini dia tidak berarti apa-apa lagi bagiku bila telah pulang ke rumah pembuangan abadi yang berisikan kegetiran. “Si tolol” ya, dia telah mendapat apa yang dia inginkan, dia telah berada bersama dengan perempuan yang ditemuinya setelah mengarungi lautan. Sekarang kita semua telah merasa puas—telah mendapatkan apa yang diinginkan. Tetapi camkan ini dalam pikiranmu, baik dia maupun kita, baik dalam hidup maupun kematian, tidak akan ada kedamaian atau tempat kita pulang. (DENGAN KETAWA MENGEJEK) Kaupun akan setuju bahwa tempat di bawah tanah yang gelap itu dimana kita akan pergi kesana untuk menjadi mangsa cacing-cacing, bukanlah sebuah tempat yang bisa kita sebut sebagai rumah.

MARIA           :  (MENANGIS) Aku tidak tahan. Oh, Tuhan, tidak, aku tidak tahan, kau bicara seperti itu. Dan aku tahu juga, bahwa suamiku tidak akan tahan juga mendengarnya. Mengapa dia sampai pergi mengarungi lautan cuma untuk mencari tempat pulang yang lain.

MARTHA       :  (YANG SUDAH BERJALAN KE ARAH PINTU MEBALIKKAN BADAN MENATAP MARIA) Ketololannya telah mendapatkan upahnya? Dan segera kau tahu, kita telah tertipu. Tertipu! Dan bagaimana dengan nafsu yang bergejolak dalam diri kita, bagaimana dengan kerinduan yang menyiksa jiwa kita, apa yang telah mereka peroleh? Mengapa kita mendambakan lautan, atau cinta? Alangkah sia-sianya! Kini suami telah tahu apa jawabnya, ialah sebuah tempat penyimpanan mayat dimana pada akhirnya kita akan terbaring berhimpitan, semuanya bersama-sama. (DENGAN DENDAM) Akan tiba masanya, kau juga akan tahu itu, lalu kemudian kau ingat segalanya, kau akan mengenangkan kembali dengan perasaan suka cita akan hari ini yang bagimu seakan-akan merupakan permulaan dari pengasingan yang amat kejam. Cobalah menyadari bahwa tidak ada satupun kesedihan untuk menimpa dirimu bisa pernah menyamai ketidak adilan yang menimpa seorang manusia. Dan sekarang .... sebelum aku pergi, biarkan aku memberimu nasihat. Aku perlu memberimu karena aku telah membunuh suamimu. Mohonlah kepada Tuhanmu agar membuat dirimu sekeras batu, itulah tugas yang membahagiakan bagi Tuhanmu, Dan satu-satunya kebahagiaan yang sejati. Lakukan seperti apa yang Tuhanmu lakukan selagi masih ada waktu. Jika merasa kurang keberanian untuk memasuki kedamaian yang buta dan keras ini ..... ayolah ikut bersama-sama kami ke rumah umum kami. Selamat tinggal saudaraku, seperti yang kau lihat, segalanya begitu sederhana. Kau punya pilihan antara kebahagiaan sebuah batu yang tidak punya hati dan tempat tidur berlumpur dimana kami sedang menantimu. 

(MARTHA KELUAR. MARIA YANG MENDENGARKAN DENGAN TAKJUB BADANNYA BERGOYANG, KEMUDIAN MERENTANGKAN KEDUA LENGANNYA DAN MENJERIT)

MARIA           :  Oh Tuhan, aku tidak dapat hidup dalam pengasingan ini. KepadaMulah aku harus datang, dan aku akan menemukan kata-kata untuk diucapkan. (DIA BERLUTUT) Aku serahkan diriku padaMu. Kasihanilah aku, berpalinglah kepadaku. Dengarkan aku dan selamatkan aku dari kegelapan. Oh, Bapak kami di Sorga, berilah rasa kasihan pada mereka yang saling mencintai dan yang telah dipisahkan.

(PINTU TERBUKA, PELAYAN LAKI-LAKI BERDIRI DI AMBANG PINTU)

PELAYAN      :  (DENGAN SUARA TERANG DAN MANTAP) Ada apa ribut-ribut ini ? Kau memanggil aku?

MARIA           :  (MENATAP PADANYA) Oh......! Aku tidak tahu, tetapi tolonglah aku. Tolonglah aku. Berbaik hatilah dan katakan kau mau menolongku.

PELAYAN      :  (DALAM NADA SUARA YANG SAMA) T i d a k !

 

 

   TAMAT

 

 

         

 

Share to Infrastructure Team

Bagikan dokumentasi teknis ini melalui jalur koordinasi.

Bagikan ke WhatsApp

Jelajahi Lebih Lanjut

Temukan lebih banyak

Tentang Kami

Sejarah & pencapaian kami

Berita Terkini

Info terbaru kegiatan kami

Galeri Foto & Video

Dokumentasi kegiatan kami

Sekretariat

Kontak & info organisasi

Logo

Teater Saphalta

Berkarya melalui seni pertunjukan

Ikuti Kami

Instagram YouTube TikTok Facebook

Bagikan Halaman

WhatsApp
Teater Saphalta Teater Saphalta

Panggung kami adalah ruang bagi para seniman untuk bercerita, berekspresi, dan menghidupkan setiap karakter dengan jiwa.

Halaman

  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Galeri
  • Artikel & Materi
  • Sekretariat

Konten

  • Sejarah
  • Pencapaian
  • Riwayat Pementasan
  • Album Foto
  • Video
  • Kontak Kami

Semangat Kami

"Setiap pertunjukan adalah jiwa yang hidup di atas panggung."

— Teater Saphalta
Hubungi Kami
© 2026 Teater Saphalta. All Rights Reserved.
Beranda · Kontak · Privacy Policy · Ketentuan Layanan