PELANGI
Pelaku — pelaku:
1. Mama : Ibu, 57 tahun. Janda. Nyonya Lattumahina.
2. Siska : Nama lengkapnya Fransisca. Putri pertama. 31 tahun
3. Gina : Adik Siska 30 tahun
4. Rody : Nama lengkapnya Rudolf Latumahina, seniman, 28 tahun, adik Gina.
5. Diana : Adik Rody, anak paling bungsu hampir 27 tahun,
6. Oma : Perempuan tua; perawan tapi nenek-nenek, tetangga mereka
7. Hasan : Pacar Diana, baru lulus menjadi dokter, 35 tahun
8. Surun : Paman angkat Hasan
Catatan
MAMA LUMPUH DAN SELALU Dl KURSI RODANYA PADA TEMPAT YANG SAMA DEKAT JENDELA. LALU ADA SUARA-SUARA BISING DARI PARA TETANGGA, SUARA-SUARA PERTENGKARAN ANTAR NORMA DAN FERRY, TETANGGA MAMA. DARI SUARA-SUARA ANAK KECIL ATAU BIASA. KEBISINGAN DARI SEBUAH PERKAMPUNGAN. SELURUH KEJADIAN TERJADI DI SEBUAH KOMPLEK PERUMAHAN “SEMENTARA”.
Adegan Satu
Set:
KOMPLEK RUMAH MAMA TERLETAK DI SALAH SATU SUDUT KOTA JAKARTA. RUMAH BIASA YANG TIDAK TERLALU MISKIN TAPI JUGA TIDAK KAYA. KISAH INI TERJADI SELURUHNYA DI RUANG TENGAH RUMAH MAMA DAN JUGA DIPAKAI SEBAGAI RUANG DUDUK DAN RUANG MAKAN. ADA MEJA MAKAN DENGAN 6 KURSI. SOFA LENGKAP DENGAN MEJA PENDEKNYA DAN MEJA-MEJA KECIL. KURSI RODA MAMA AKAN SELALU BERADA DEKAT JENDELA YANG MENGHADAP KE PEKARANGAN TENGAH YANG TIDAK BEGITU LUAS. DINDING-DINDING RUMAH BERWARNA PUTIH BERSIH DENGAN HIASAN-HIASAN DINDING DARI KAIN BERSULAM HURUF DENGAN BENANG MERAH ATAU KUNING. Dl ANTARANYA TERDAPAT TULISAN “ALLAH ITU KASIH” DAN SEBAGAINYA. HARI BARU PUKUL SETENGAH ENAM SORE KETIKA LAMPU RUANGAN ITU MENYALA PERLAHAN. MAMA DUDUK DI KURSI RODA BERSELIMUT KORDURAI HIJAU PEKAT. DIDORONG PERLAHAN-LAHAN OLEH DIANA KE DEKAT JENDELA SAMBIL BICARA. TIBA-TIBA TERDENGAR RIBUT-RIBUT ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN. MAMA BERHENTI SEBENTAR MENDENGARKAN DARI ARAH MANA SUARA RIBUT-RIBU ITU BERASAL. SETELAH TAHU PERSIS, IA MENGGELENG-GELENGKAN KEPALANYA.
Diana : Norma dan Ferry
Mama : (MENGGUMAM) Norma dan Ferry ... itulah akibatnya kawin terlalu muda, selalu cekcok, tidak pernah tentram.
Diana : Kemarin sore juga mereka bertengkar
Mama : Dan juga kemarinnya, kemarinnya lagi. Hampir setiap hari. Selalu saja ada pertengkaran (MENGHELA NAFAS). Ah, kadang-kadang Mama ingin kita semua pindah dari kompleks ini ketempat yang Iebih enak, Iebih tenang, jauh dan kebisingan tetangga-tetangga yang suka usil dan celoteh. Toh, sudah tidak mungkin lagi pemerintah mengirimkan kita semua ke Holland.
Diana : Ya. Siska sudah menabung untuk itu. (SUARA-SUARA PERTENGKARAN MAKIN SAYUP-SAYUP DAN AKHIRNYA MENGHILANG).
Mama : (TERSENYUM) Siska. Belum pulang dia?
Diana : Belum Ma (SAMBIL MEMIJITI PUNGGUNG MAMANYA)
Mama : Heh?
Diana : Mama setuju ‘kan? (PAUSE. DIANA MENANTI DENGAN BERDEBAR) Ma
Mama : Dia baik?
Diana : Ya
Mama : Setia?
Diana : Ya. (MAMA LEBIH MENATAP DIANA) kita buktikan saja nanti.
Mama : Sehat?
Diana : Heh
Mama : Maksud Mama. Misalnya tidak berpenyakit TBC atau penyakit-penyakit berbahaya yang sejenis?
Diana : (MENGGELENG)
Mama : Belum pernah punya istri?
Diana : Tentu saja belum, bagaimana mungkin
Mama : Mungkin saja. Gadis mesti hati-hati. Jadi masih bujangan?
Diana : Ya.
Mama : Punya pekerjaan tetap?
Diana : Dokter
Mama : (MATANYA BERSINAR) Ah. Dokter? Betul?
Diana : Baru lulus enam bulan yang lalu, bulan depan ia bertugas di Banjarmasin, pedalaman Kalimantan. Ito sudah jadi cita-citanya sejak ia masih kecil, katanya. Lebih baik menolong orang-orang miskin di dusun-dusun daripada...
Mama : Tugas seorang dokter dimanapun berada akan tetap sama. Di kota besar, di gunung ataupun di desa, tetap saja ia harus menolong orang ... (BATUK-BATUK LAMA)
Diana : Ma.
Mama : Tidak, tidak apa-apa. (Minta Tolong) pispot ... (DIANA MENGAMBIL PISPOT DENGAN CEPAT DAN MEMBERIKANNYA PADA MAMA YANG SAAT ITU MESIH TETAP SAJA BATUK). (MELUDAH DI PISPOT ITU) tidak apa-apa, coma sesak sedikit.
Diana : Pindah ke kamar?
Mama : Tidak (MENGATUR NAFAS) nanti juga biasa lagi. Dokter Worang juga bilang, kalau Mama cukup istirahat. Tidak berpikir yang bukan-bukan, dalam waktu singkat penyakit macam begini akan lenyap sama sekali. Asmatis. Tidak perlu dicemaskan.
Diana : Ya.
Mama : Berapa lama doktermu itu berada di Banjarmasin? Setahun? Dua tahun?
Diana : Tidak tahu ma, mungkin ... mungkin seterusnya, tapi tak tahulah.
Mama : Heh? Seterusnya?
Diana : Belum pasti ... tapi ... tapi ... Mama ... Mama setuju ‘kan?
Mama : (MELIHAT KE LUAR JENDELA DENGAN NAFAS YANG AGAK SESAK) sudah yakin betul, dia bisa dipercaya? Bisa membahagiakan kau? Tapi, bukan coba-coba itu harus berlaku seumur hidup.
Diana : (KETAKUTAN) Aku yakin sudah, ma ... dia cinta padaku. Sangat. Dan janji, berubah dia cinta aku
Mama : Dan kau cinta dia?
Diana : (MALU-MALU) Ya.
Mama : (PERLAHAN) kalau kau dan kekasihmu itu sudah mantap apalagi yang mesti kubilang? Aku setuju saja.
Diana : (BAHAGIA) Ma.
Mama : (DENGAN SEHAT) Tapi bilanglah baik-baik pada Siska, kakakmu.
Diana : (MEMELUK MAMA) Aku tak tahu mesti bilang apa.
Mama : Berapa lama sudah kau kenal dia, heh?
Diana : Satu tahun.
Mama : Satu tahun?
Diana : Kami satu sekolah. Tapi dia Iebih tinggi dan aku 3 tingkat.
Mama : (MENGGUMAM) satu tahun ... lath selama ml kau sembunyikan hal itu di hadapan kita semua? Siska, Gina, Rody, juga belum pernah kenal doktermu, itu?
Diana : Aku cuma menjaga, supaya
Mama : Supaya kita semua tidak tahu, kau sedang cinta-cintanya. Bagus betul kalau begitu.
Diana : Tidak, tidak, tidak ... Mama tahu, aku bukan orangnya untuk begitu
Mama : (MENGGODA) atau malu punya Mama sepertiku? Lumpuh, bengek, dan tidak seramah ibu-ibu yang lain?
Diana : Bukan. Bukan. Aku saying Mama.
Mama : Semestinya begitu kay tahu dia mencintai kau, dan kau juga mencintainya, langsung kau kenalkan pada kita semua. Kau kenalkan pada Mama ... (DENGAN SERET) ... pada Siska ... (MEMPERCEPAT DIALOGNYA) ... pada Gina, Rody, ajak dia kemari.
Diana : Aku melarangnya.
Mama : Kenapa?
Diana : (DENGAN RESAH) Siska ... Gina, Rody aku tak khawatir!
Mama : (SEPERTI DIHADAPKAN PADA SUATU KENYATAAN YANG PAHIT) kalau pemuda itu baik, masa kakak-kakaknya juga tidak senang menerimanya, sebelum pemuda itu membicarakan soal pernikahan, apa salahnya bergaul lebih dulu?
Diana : (KETAKUTAN) Aku yakin sudah, ma ... dia cinta padaku. Sangat. Dan janji, berubah dia cinta aku
Mama : Dan kau cinta dia?
Diana : (MALU-MALU) Ya.
Mama : (PERLAHAN) kalau kau dan kekasihmu itu sudah mantap apalagi yang mesti kubilang? Aku setuju saja.
Diana : (BAHAGIA) Ma.
Mama : (DENGAN SEHAT) Tapi bilanglah baik-baik pada Siska, kakakmu.
Diana : (MEMELUK MAMA) Aku tak tahu mesti bilang apa.
Mama : Berapa lama sudah kau kenal dia, heh?
Diana : Satu tahun.
Mama : Satu tahun?
Diana : Kami satu sekolah. Tapi dia lebih tinggi dan aku 3 tingkat.
Mama : (MENGGUMAM) satu tahun ... jadi selama ini kau sembunyikan hal itu di hadapan kita semua? Siska, Gina, Rody, juga belum pernah kenal doktermu, itu?
Diana : Aku cuma menjaga, supaya …
Mama : Supaya kita semua tidak tahu, kau sedang cinta-cintanya. Bagus betul kalau begitu.
Diana : Tidak, tidak, tidak ... Mama tahu, aku bukan orangnya untuk begitu
Mama : (MENGGODA) atau malu punya Mama sepertiku? Lumpuh, bengek, dan tidak seramah ibu-ibu yang lain?
Diana : Bukan. Bukan. Aku sayang Mama.
Mama : Semestinya begitu kau tahu dia mencintai kau, dan kau juga mencintainya, langsung kau kenalkan pada kita semua. Kau kenalkan pada Mama ... (DENGAN SERET) ... pada Siska ... (MEMPERCEPAT DIALOGNYA) ... pada Gina, Rody. Ajak dia kemari.
Diana : Aku melarangnya.
Mama : Kenapa?
Diana : (DENGAN RESAH) Siska ... Gina, Rody aku tak khawatir!
Mama : (SEPERTI DIHADAPKAN PADA SUATU KENYATAAN YANG PAHIT) kalau pemuda itu baik, masa kakak-kakaknya juga tidak senang menerimanya. Sebelum pemuda itu membicarakan soal pernikahan, apa salahnya bergaul lebih dulu?
Rody : (SUARANYA SAJA) kau tikam aku dari belakang.
Diana : Rody! Jangan terlau keras. Sudah hampir magrib. Tetangga-tetangga tak suka ada ribut-ribut.
Rody : Bilang situ sama mereka
Diana : Dibilangin
Mama : Sudahlah Din, ... (DENGAN SABAR DAN LEMAH)
Rody : Wah, tak pengen lihat orang lagi senang. (tapi tak kedengaran lagi suaranya)
Mama : Dulu papamu juga begitu. Sering main-main sandiwara natal. Main di gereja-gereja. Biasanya suka jadi imam besar kaya pastor. Kalau sudah latihan di rumah, lupa segala-galanya, berteriak-teriak seperti orang gila. Tapi begitu dia ada di atas panggung, semua orang kagum padanya. Memang dia gagah sekali. Suaranya berat dan mantap. Kumis dan brewoknya lebat sampai-sampai sahabat-sahabatnya sendiri tidak bisa mengenalinya lagi. Untung Mama sudah hapal logat bicaranya. Rupanya kegemaran itu menurun pada Rody, tak bisa disalahkan. Almarhum papamu, tak kita sangka bakal meninggal di komplek ... (MENEKAN KATA-KATA INI) sementara ini, dia berharap benar untuk bisa bersama-sama yang lain pindah ke Holland, ada saudaranya disana (TERTAWA) komplek, sementara ... sudah 20 tahun ‘kan kita tinggahi sarang burung ini?
Diana : Ma
Mama : Kalau tahu kejadiannya bakal begini, kita akan tetap tinggal di Ambon dan tidak buru-buru, berbondong-bondong dengan yang lain pindah kemari. Dulu papa mu kaya, punya pabrik tenun. Ya ... sudah nasib! Ke Barat tak bisa, ke Timur pun enggan.
Diana : Ma.
Mama : Heh? (SEAKAN TERSADAR)
Diana : Besok malam, Hasan datang kemari.
Mama : Datang kemari? Untuk?
Diana : Untuk melamar ku. Resmi. Kalau Mama setuju, semua setuju, beres segala sesuatunya. Kami menikah akhir bulan ini, terus ... terus ... kita langsung pindah ke Banjarmasin.
Mama : Besok malam? Besok? Begitu terburu-buru, sedangkan kau belum ... belum memberitahukannya pada Siska, pada Gina. Kenapa tergesa-gesa begitu? Besok malam? Ah, kau permainkan Mama.
Diana : Betul. Aku dan Hasan sependapat, supaya ... supaya (KELIHATAN MALU SEPERTI LAZIMNYA SEORANG PERAWAN MEMBICARAKAN PERKAWINAN) pernikahan dilakukan sederhana saja. Tidak perlu mewah-mewah. Aku setuju begitu. lni baik dalam keadaan kita dalam keadaan seperti sekarang ini. Mama dan kita semua tak perlu repot-repot. Sebetulnya, niatnya ini ingin dilaksanakan 4,5 bulan yang lalu, tapi aku melarangnya, aku mesti siap-siap dulu. Tapi selama ini aku tak tahu bagaimana cara bilangnya pada Mama, Siska, Gina.
Mama : Lalu akhirnya tokh, hal itu tak bisa kau sembunyikan Iebih lama lagi?
Diana : Ya. Tak bisa ku sembunyikan lebih lama lagi.
Mama : Terburu-buru begini, nanti tetanga mengira telah terjadi sesuatu yang aib pada dirimu, mengira barangkali kau swanger lebih dulu.
Diana : Kitakan sudah terbiasa untuk tidak perdulikan omongan-omongan mereka tokh? (RODY KELUAR DAN BERDIRI DI AMBANG PINTU, MENDENGARKAN. DIA MINUM SETEGUK DEMI SETEGUK SAMBIL MENDENGARKAN. MAMA DAN DIANA TIDAK MENGETAHUINYA).
Mama : (LUPA DIRI KARENA MELUAPNYA KEGEMBIRAAN) Kalau begitu kita mesti bersiap-siap. Calon menantuku mesti mempunyai kesan bahwa kau bukan gadis sembarangan. Jam berapa kira-kira dia mau datang?
Diana : Mungkin jam 7 atau jam 8.
Mama : Sendirian atau berombongan?
Diana : Dia punya kawan yang boleh dibilang om angkatnya. Orangnya baik dan dialah yang banyak membantu Hasan menyelesaikan sekolahnya.
Mama : Apa dia itu?
Diana : Apa, ma?
Mama : Maksud Mama, apa agamanya? Kristen, seperti kita.
Diana : Islam.
Mama : Islam ya, (CEPAT) ah, tetapi tak apa, banyak orang-orang yang kawin berlainan agama, tapi bisa hidup bahagia. Itu artinya kau mesti kawin di catatan sipil. Lalu kalau dia tak berkeberatan, kalau mau ulang di Gereja, kita ulang lagi upacaranya.
Diana : Tidak usah ma, satu kali saja. Di kantor catatan sipil.
Rody : (MENDEHEM LALU BERJALAN DAN DUDUK DI MEJA MAKAN) siapa dia?
Mama : Rody, nak, kau bakal punya ipar seorang dokter.
Rody : Siapa laki-laki itu? Masih bujangan?
Mama : Dokter. Calon suami adikmu, calonnya seorang dokter.
Rody : Sudah yakin dia belum punya istri?
Diana : Tentu aku sudah yakin. Satu tahun kami sudah berhubungan.
Rody : Bukan jaminan, apalagi cuma baru satu tahun. Laki-laki sekarang sering bilang masih bujangan cuma untuk membujuk seorang perawan, padahal anaknya sudah tiga.
Diana : Kau jangan bicara sembarangan begitu.
Rody : Cuma bersikap hati-hati sedikit. Apa salahnya? Yakin betul-betul dia mencintaimu?
Diana : Ya.
Rody : Masih muda?
Diana : Masih.
Rody : Masih punya orangtua?
Diana : (MELEDAK) masih ini? Masih itu? Pertanyaan-pertanyaanmu itu bertele-tele. Seperti hakim saja.
Mama : (MENENGAHI) sudahlah, tidak perlu marah. Maksudnya baik (PADA RODY) nama calon iparmu, Hasan. Asal dari Malang. Sudah lulus sekolah dokter dan bulan depan tugas di Banjarmasin.
Rody : Oh.
Mama : Kemari, kemari, sebentar duduk dekat aku sini (DENGAN ENGGAN RODY BANGKIT DARI KURSINYA DAN DUDUK DI SOFA DEKAT MAMA) kau cuma bilang: oh? Tidak ada lanjutan lagi? Coba bilang terus terang, senang apa tidak mendengar adikmu bakal di lamar orang?
Rody : Mama bagaimana?
Mama : Sudah tentu aku senang.
Rody : Begitupun aku (PADA DIANA) gampang saja. Kawinlah kalau kau ingin kawin. Aku setuju saja.
Mama : (MENYELIDIK) rela?
Rody : Kenapa mesti tidak! Jodoh bukan aku yang menentukan, aku laki-laki akan kawin kapan saja kalau aku ingin. Tak bakal aku halang-halangi niat adikku. Silahkan saja, asal aku tahu pasti laki-laki yang akan membawanya dari rumah ini betul-betul seorang laki-laki.
Diana : Sudah jelas Hasan bukan banci.
Rody : Bukan, maksudku dia itu setia? Betul-betul cinta sama kau? Bertanggung jawab? Dsb. Dsb...
Mama : Bagus kalau begitu, Mama juga sependapat...
Rody : Siska sudah tahu? (PAUSE. TIBA-TIBA SEMUA TERDIAM PENUH TANDA TANYA, MAMA MEMALINGKAN MUKANYA KE JENDELA DAN MEMANDANG DENGAN SUSAH. DIANA JUGA SUDAH SUSAH SEKALI) belum?
Diana : Belum.
Rody : Baik, ... sebaiknya kasih tahu. Jangan sampai dia tersinggung
Diana : Akutahu...
Mama : (MENERAWANG TAPI SENDAT) kalau saja aku segar bugar, pasti aku sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, gordyn itu mesti diganti dengan yang baru, yang warnanya lebih cerah, aku ambil karpet Persia peninggalan papamu almarhum dan gudang. Lalu kupasang disini ... disini ... biar ruangan ini bisa memberikan suasana yang gembira.
Rody : Karpet itu bau, mesti di cuci dulu, kemarin dulu kulihat sudah jadi sarang tikus.
Mama : Karpet itu bagus, warnanya aku suka, kembang-kembangnya tidak kampungan, akan aku cocokan warna karpet dengan jok sofa ini. Aku akan ambil pot-pot kuningan. Lalu aku braso. LaIu kuisi dengan tanaman kuping gajah, daun sirip ikan atau daun kekerlak. Atau anggrek bulan yang segar. Yang bunganya berwarna merah. Kutaruh dekat jendela itu. Di teras yang lainya disitu. ... disitu
Rody : Allahhh, segala tetek bengek, biar calon menantu melihat keadaan kita apa adanya saja. Tidak usah di pulas-pulas, tidak perlu repot-repot. Terlalu mengada-ada, nanti dikira kita punya rencana untuk menjerat dia. (SAAT ITU KEDENGARAN RIBUT-RIBUT DILUAR. SISKA MASUK DENGAN MARAH-MARAH, GINA MENGIKUTINYA DI BELAKANG DENGAN MENJINJING TAS).
Siska : (DILUAR) dia mesti tahu juga, tidak semua perempuan itu lemah dan mau diganggu seenak perutnya saja.
Rody : Ah, burung parkit kita sudah pulang
Diana : Rody
Siska : (SAMBIL MASUK) Kurang ajar betul dia itu orang. Seperti mereka saja laki-laki yang paling ganteng di dunia barangkali. Dia pikir kita ini orang murahan saja? Mengganggu perempuan baik-baik seenaknya saja. Kurang ajar betul. Dia pikir cukup dengan main mata dan senyum-senyum simpul kita akan suka rela mengikuti dia? Baah, enak betul punya pikiran cabul begitu. Untung, dia cepat-cepat menghilang, kalau tidak, barangkali sudah kubanting ke got. Biar bercampur dengan kotoran orang, teman-temannya yang paling cocok.
Mama : Ada apa? Kenapa ribut-ribut?
Rody : Baru pulang dan es bicara lancar barangkali
Diana : Rody, tutup mulutmu.
Siska : Entah dan mana itu datangnya monyet, tiba-tiba saja sudah nongol di depan hidungku, disenggolnya Gina sampai belanjaan berantakan di tanah. Untung tidak ada yang tumpah, lantaran semuanya kalengan dan bungkusan plastik. Tapi aku tahu, itu tipu, sengaja, sudah terang disengaja. Cara paling gampang untuk bisa berkenalan dengan seorang gadis. Jalanan masih lebar, cukup untuk 30 orang berjejer, masa dia bisa sampai menubruk Gina? Menyenggolnya? Sudah terang itu kan dia lakukan dengan maksud-maksud yang kurang sopan? Melihat kejadian itu, kumaki dia, nah, kutunggu dia minta maaf, menyesal dan membantu Gina memunguti barang-barang yang berantakan di tanah atau bagaimanalah pokoknya, menyesali tingkahnya itu, ah... ini tidak, malah dia tersenyum-senyum.
Gina : Nyengir-nyengir kuda.
Siska : Tengilkan kalau begitu? Coba jengkel tidak? Mentang-mentang mereka banyak dan laki-laki semua, sedangkan kita cuma berdua, kumaki lagi, laki-laki tak tahu malu kamu! Dia malah tertawa-tawa konyol sekali. Dia berbisik-bisik, tentang aku, pasti aku tahu. Tahu Mama apa yang mereka bilang...
Rody : Burung betet?
Siska : Bukan
Rody : Kesemek busuk?
Gina : Bukan itu, lain!
Rody : Lalu apa?
Gina : Jambu bol, tapi yang kelewat masak .... (RODY TERTAWA KERAS SEKALI)
Siska : Kenapa tertawa?
Rody : Masak mereka bilang begitu (MASIH TERTAWA) kakakku yang secantik ini mereka sebut jambu bol yang kelewat masak? Keterlaluan, kalau aku ada, sudah bisa kupastikan apa yang akan terjadi pada mereka.
Gina : Mereka mengejek kita sambil berlari
Siska : Dan kamu kelihatannya senagn diperlakukan begitu oleh berandal-berandal itu. Gina : Senang bagaimana?
Siska : Senyum-senyum mereka. Pura-pura tidak mau dibantu. (MENIRUKAN GINA) biar saja, saya tidak apa-apa kok. Tidak apa-apa kok, kalau jengkel, bilanglah terus terang kau jengkel. Kalau kau lembek, kan bakal bikin mereka tambah kurang ajar sama kita. Pasanglah muka cemberut.
Gina : Aku tidak merasa diperlakukan kurang ajar sama mereka. Memang kulihat dan jauh mereka tadinya lagi asyik ngobrol dan tidak sengaja menubrukku.
Siska : Jadi, kau lihat sebelumnya lagi asyik ngobrol?
Gina : Ya.
Siska : Kalau begitu bukan mereka yang menubruk kau, tapi kamu yang meyediakan diri untuk ditubruk. Memalukan. Mestinya, kalau kau tahu monyet-monyet itu mendatang, cepat-cepatlah menghindar.
Gina : Ya. Tapi tak kusangka secepat itu jalan mereka.
Rody : (MEMBETULKAN) baru mau menghindar tapi sudah ketubruk dulu
Siska : Pokoknya memalukan.
Gina : Meski tidak bilang maaf, mereka mengangguk kepada ku dengan ramah, Apa salahnya senyum-senyum? Mereka bukan berandal ko.
Siska : Bagaimanapun juga, ini bikin malu (menggerutu) menyediakan seperti …
Gina : Seperti apa?
Siska : Sama orang-orang yang sopan, kita boleh senyum semanis-manisnya, tapi senyum untuk berandal-berandal, itu orang-orang yang kurang ajar. Yang sekali-kali kau lakukan bikmn seakan-akan kita tidak punya harga did. Aku tahu siapa monyet-monyet itu.
Gina : Namanya Wimpie
Siska : (TERCENGANG) ahhh, kau sudah kenal rupanya.
Gina : (PERLAHAN-IAHAN TAPI LANCAR) dia baru 2 minggu disini, datang dari Ambon untuk melanjutkan sekolah akademi teknik. Tinggal dekat perempatan jalan situ, di rumah Om Pati, dia bercita-cita ingin jadi pilot.
Rody : Astaga, hapal diluar kepala.
Gina : Minggu lalu Rosy menceritakannya padaku, kurasa Rosy ada hati sama Wim. Sebab matanya bercahaya-cahaya waktu dia bercerita.
Siska : Rosy? Klop, pasangan yang paling cocok, yang laki-laki kurang ajar dan muka badak dan yang perempuan becek mulut dan sok. Seperti dia sendiri cewek paling cantik sedunia. Mestinya sebutan jambu bol itu ditujukan padanya bukan padaku.
Mama : Kenapa mesti menjelek-jelekan orang? Natal sudah dekat, tidak baik begitu.
Siska : (REDA) ah, pasar baru penuh sesak sampai bingung memilih-milih, banyak orang bikin pusing kepala. Harga barang naik semuanya: dunia mau kiamat (MEMBONGKAR BUNGKUSAN-BUNGKUSAN) terigu, telur, mentega, keju, semuanya naik dua kali lipat. Bulan-bulan mendatang, aku taksir bakal naik lagi harga-harga. Barangkali kita mesti menghemat. Menyimpan uang untuk keperluan-keperluan mendadak dan penting. Atau barangkali aku dan Gina mesti pindah kerja ke perusahaan yang mampu membayar gajiku dua kali lipat dan gajiku yang sekarang.
Rody : Pindah saja ke Pertamina, gajimu pasti tinggi.
Siska : Pikiran itu mestinya datang dari kau. Niat untuk kerja. Kerja apa saja untuk menambah belanja sehari-hari. Lebih balk daripada luntang-lantung tak karuan. Sekolah sudah tak mau ... maunya Cuma, makan tidur, makan tidur, berteriak menghapalkan sandiwara....
Diana : (SAMBIL MASUK KE DALAM KAMAR) aku punya rencana untuk berhenti sekolah. Untuk meringankan beban.
Siska : Kau tidak boleh begitu, apa? Diana, kau mesti jadi orang pintar. Mesti menyelesaikan sekolahmu sampai mendapatkan titel. Kita semua kerja cape-cape untuk kau. Rody sudah tak bisa diharapkan lagi (BERTERIAK DEKAT PINTU KAMAR DALAM) kau jangan punya niatan ngawur begitu
Rody : Tak ada minuman keras?
Siska : Siapa yang mau mabuk? Kamu? Mau pecahin piring-piring pada malam natal seperti natal tahun lalu?
Rody : Ah, malam natal aku tidak di rumah. Maaf, main sandiwara.
Gina : Jadi apa? Imam besar? Papa dulu, sering juga main sandiwara natal. Aku pernah lihat sekali. Dia jadi kaya pastor, ia kan ma? (MAMA CUMA MENGANGGUK) semua orang benci sama dia. Karena mainnya bagus sekali. Kau jadi apa?
Rody : Barabas
Siska : Astaga Bandit itu?
Rody : Kenapa? Apa salahnya? Cuma sandiwara.
Siska : Jadilah Jesus sekali-kali, atau jadi Jusuf, atau jadi malaikat, atau apa saja asal peranan orang-orang baik, jadi orang jahat sudah main biasanya kita dibenci penonton.
Rody : Itulah kalau kita main bagus, paskah nanti aku malah jadi Lazarus, Siska Yang bangkit dari kematian? Bangkit dari kematian dan hidup lagi seperti biasa, bergaul dengan orang-orang normal (PAUSE)
Siska : Apa maksud Diana tadi, betul-betul, dia sudah tidak mau sekolah lagi?
Rody : Barangkali tersinggung lantaran kau menyuruh, semestinya kau jangan bicara begitu dihadapannya. Adatnya keras, perasaannya halus, mudah tersinggung.
Siska : Perempuan-perempuan yang mau maju, mestinya tidak perlu terlalu cepat tersinggung. Aku Cuma membicarakan kenyataan-kenyataan. Kenapa dia mesti tersinggung. kan dia tahu juga, semua harapan ditumpahkan untuk kemajuannya? Aku kerja, Gina kerja, semua untuk sekolahnya.
Rody : Dia juga tahu itu. Tapikan tidak usah dibicarakan lagi tiap kali? (saat itu Diana keluar dari dalam kamar dan sudah berpakaian rapih. Siap untuk pergi. Di depan pintu kamar, dia berhenti sebentar, membetulkan kancing blusnya).
Mama : Sudah mau pergi?
Diana : Ya. Hari ini Cuma dua mata pelajaran, barangkali sampai jam delapan.
Mama : Tak kau katakan sekarang saja?
Diana : (BIMBANG) nanti saja, ma. Nanti malam atau ... besok.
Mama : Atau Mama saja yang bilang?
Diana : Jangan! Jangan, aku saja nanti (MAMA MEMAHAMI) pergi, dulu. (KELUAR TANPA BICARA)
Siska : Kenapa anak itu, aneh betul kelihatannya hari ini.
Rody : Dia mau bicara dengan kau
Mama : Rody
Rody : Sssttt aku tahu.
Siska : Aku tahu, apa maksud mu?bicara tentang apa? Tentang dia tidak mau lagi meneruskan sekolahnya?
Rody : Bukan. Uang sekolahnya yang kau berikan padanya kemarin dia belikan lotre. Dia yakin bakal dapat hadiah nomor 1.
Siska : Apa-apaan ini? betul itu?
Rody : Aku juga pergi dulu, ma. Latihan, sudah waktunya. (pergi)
Gina : Tidak mandi dulu?
Rody : (DARI LUAR) alah, papa juga seminggu sekali mandinya (CUMA KEDENGARAN TERIAKANNYA SAJA) lumat semua harapan, ketika ku tahu, kaulah si penghianat itu. Tak tahu malu ... (SAMPAI SUARANYA MENJAUH MENGHILANG SAMA SEKALI).
Siska : Betul begitu, Ma?
Mama : Masih juga kau tanggapi gurauan-gurauan Rody. Kita semua kan tahu Diana tak mungkin begitu.
Siska : Tapi niatnya itu ... diakan tidak sungguh-sungguh mau berhenti sekolah?
Mama : (RAGU-RAGU) tidak.
Siska : Syukurlah kalau begitu. Aku tak mau jerih payah kita sia-sia. Biar dia perempuan, tapi kita semua senang. Kalau dia mampu menjadi orang pintar, dia mesti pusatkan seluruh perhatiannya untuk belajar dan belajar. Dia harus tahan diri untuk jangan pacaran dulu, aku sudah rela dia tidak usah terlalu memikirkan kesusahan hidup. Tak perlu ikut-ikut memikirkan dari mana kita dapat uang biaya sekolahnya, atau dapat uang dari mana untuk mempertahankan hidup sehari-hari, sudah rela asal dia mau belajar sungguh-sungguh.
Mama : Kalau bisa jadi ibu yang baik ... nak! Siska Mama jangan bilang begitu.
Mama : Ya, sayang Mama mu lumpuh, aku harus bersyukur pada Tuhan Allah dan menyatakan pujian-pujian padanya lantaran aku dianugerahi putri-putri seperti kalian. Kalau papa mu masih hidup tak mungkin kalian akan repot mengurusi hidup. Papa tahu bagaimana menyenangkan keluarganya. Sayang secepat ini ia meninggalkan kita.
Siska : Mama terlalu melebih-lebihkan, kita cuma mengerjakan sesuatu atau yang sudah sepatutnya kita kerjakan (PAUSE). (GINA MEMBAWA TAS-TAS DAN BUNGKUSAN KE DALAM KAMAR TANPA BICARA APA-APA).
Mama : Kau sayang Diana Sis?
Siska : Sudah tentu, kenapa Mama tanyakan?
Mama : Tidak apa-apa. Cuma ingin tahu ... (PAUSE). Apapun yang dia lakukan, asal baik buat dia, pastikan akan merelakannya?
Siska : Siapa?
Mama : Diana.
Siska : Ya tentu. ( MULAI MENDUGA-DUGA ARAH BICARA MAMA, TAPI SISKA MASH DIAM SAJA. MENUNGGU) (PAUSE)
Mama : Betul-betul rela, asal balk buat adik mu?
Siska : Yang aku tidak rela Cuma dua hal. Aku harap tidak melakukannya.
Mama : Apa Itu?
Siska : Satu, dia berhenti sekolahnya, menyia-nyiakan harapan kita.
Mama : Dan dua? (SISKA SUSAH UNTUK BICARA, DIA MENGHELA NAFAS BERKALI-KALI) dan dua?
Siska : Dia jangan dulu punya niatan untuk kawin. Melangkahi aku dan Gina. Itu juga aku harap tidak Gina lakukan. —
Mama : Oh...
Siska : Kalau ini dia lakukan juga, berarti (DIAM)
Mama : Berarti apa?
Siska : Berarti melangkahi mayatku (MAMA KAGET DAN TAK BISA BICARA APA-APA) (PAUSE) Apa yang mau Mama katakan padaku? Katakan saja terus terang, seseorang telah datang kemari dan melamar Diana, bukan?
Mama : (CEPAT) Tidak, tidak, tidak ada seseorang yang datang kemari untuk melamar Diana. Tidak seorangpun, aku cuma tiba-tiba terpikir bulan depan Diana genap 27 umurnya.
Siska : Ya. Memang sudah rasanya. Gina 30 tahun.
Mama : Sudah waktunya ibu-ibu seumur aku menggendong cucu, laki-laki atau perempuan alangkah bahagianya merasakan bayi itu kencing di pangkuanku. Nangis keras-keras tiap pagi. Melihat kalian sibuk membuat susu untuk anak-anak kalian. Tapi Mama tidak putus harapan, Mama yakin saatnya pasti akan datang ... nanti Mama yakin. Sayang Mama lumpuh, kalau tidak tiap saat Mama bisa membanggakan kalian di depan ibu-ibu yang punya anak laki-laki hingga salah seorang dari mereka akan datang berkunjung kemari untuk membuktikan omongan Mama. Dan mereka akan menemui yang seperti Mama bilang, (SISKA TUNDUK SAJA MENANGIS DALAM HATI) Sis... kenapa kau dan Gina tidak pernah ikut pesta muda-mudi seperti yang banyak dilakukan oleh gadis zaman sekarang? Memperluas pergaulan dengan pemuda-pemuda lewat pesta-pesta tersebut. Atau aktif di perkumpulan pemuda-pemudi piknik. Berorganisasi!
Siska : Mama, pemuda-pemuda zaman sekarang rata-rata kurang ajar, mereka cuma mau enak saja. Tak satupun bisa dipercaya. Itu aku ceritakan juga pada Diana, jangan pergi ke pesta tak karuan macam seperti itu, nanti kau cuma diperlakukan seperti hastes saja oleh setiap laki-laki. Lebih balk tinggal di rumah, belajar, Ginapun sependapat dengan ku. Dia lebih baik tinggal di rumah, meski Rosi berkali-kali mengajaknya untuk aktif dalam pesta macam-macam begitu. Mama lihat kan bagaimana jadinya kalau perempuan terlalu bebas? Lihat Rosi dandanannya saja macam... begitulah. Pernah dengar ceritanya yang mendirikan bulu roma tentang Ingo? Yang mengadakan hubungan dengan oom Rompies, laki-laki yang kalau dilihat usia semestinya jadi kakek. Kenapa mesti ikut-ikut gadis-gadis gatal macam begitu, yang bisa bikin kita ketularan nantinya? (MAMA MEMANDANG JAUH KELUAR JENDELA) Gina pernah cerita padaku, diam-diam. Dia pernah ikut Rosi satu kali. Pesta gila-gilaan. Dan Mama tahu, dia cuma tahan sampai jam sepuluh saja. Sudah itu dia pulang sendiri, karena Rosi jelas pasti sampai pagi (tertawa pahit) dan sementara yang lainnya berdansa bersama pasangannya masing-masing. Gina cuma duduk sendirian. Di sudut yang gelap tak seorang pun pemuda mengajaknya dansa. Mereka pandai memilih pasangan, Ma. Dan Gina atau aku mereka bilang kesemek busuk atau jambu bol yang kelewat masak. Tak seorang pun berkawan yang busuk-busuk (MAMA BATUK) Ma.
Mama : Tidak, tidak apa-apa, (TAPI BATUK MAKIN HEBAT).
Siska : Ma, pindah ke dalam kamar.
Mama : Tidak, tidak aku masih ingin di sini (MENGGAPAIKAN TANGAN) pispot... (SISKA MEMBERIKANNYA DAN MAMA MELUDAH DI PISPOT) pemuda-pemuda itu tidak tahu, kau dan Gina adalah gadis yang sudah terlatih untuk mengurus sebuah rumah tangga, kalian tahu persis apa yang seharusnya dilakukan oleh calon isteri. Pandai masak, menjahit pasti juga panadai menyenangkan suami. Kalian trampil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang semestinya dikerjakan perempuan-perempuan. Mereka belum mengetahuinya. Mereka buta semua. Aku yakin saat aka nada seorang pemuda yang melihatnya. Dia akan merasa seperti telah menemukan intan yang belum pernah di gosok. Digosoknya intan itu dengan hatihati hingga mengkilat dan bercahaya. Pada pemuda-pemuda itu, sebagai isteri kalian akan menghadiahi mereka anak-anak yang mungil dan sehat. Dan kupanggil bayibayl kecil itu cucuku, seumur hidupnya pemuda itu akan bersyukur pada Tuhan karena dia menemukan iritan yang terpendam. Dan intan-intan itu adalah kalian: Kau, Gina, Diana, kalian, kalian... (KECAPAIAN DAN TERTIDUR)
Siska : (MENUTUP JENDELA DAN MENYELIMUTI MAMANYA RAPAT-RAPAT DIBETULKANNYA SYAL YANG MENYELIMUTI LEHER MAMA) ya. Ma, tidurlah! Mama kecapaian!
(LAMPU PADAM PERLAHAN-LAHAN)
Akhir adegan Satu
Adegan kedua
PADA TEMPAT YANG SAMA? KE ESOKAN HARINYA, KIRA-KIRA
PUKULTUJUH MALAM MAMA SEPERTI BIASANYA DUDUK DI KURSI RODA
DEKAT JENDELA. DIANA DUDUK TERMENUNG DI SOFA, SISKA MELINTAS
PANGGUNG, KELUAR, TANPA KATA DIANA MENGIKUTI SISKA DENGAN
PANDANGANNYA. MAMA DIAM-DIAM MEMPERHATIKAN. LAMA DIAM
BEGITU. SISKA MELINTAS LAGI DARI LUAR MENUJU KE RUANGAN DALAM.
IA MENJINJING SATU BARANG, TANPA KATA DIA MASUK. JUGA TANPA
KATA DIANA MENGIKUTI SISKA, DENGAN PANDANGAN MATANYA SAJA.
Diana : Ma...
Mama : (TANPA MENENGOK) heh?
Diana : Sekarang saja?
Mama : (CUMA MENGHELA NAFAS) Yahhhh,
Diana : Tapi kelihatannya, dia sedang kusut pikirannya... apa tepat waktunya aku bilang sekarang?
Mama : Bilanglah...
Diana : (RESAH) apa yang pertama kali ku bilang?
Mama : Karanglah satu dua kalimat yang bakal tidak menyakitkan hatinya.
Diana : Ya, tapi apa?
Mama : Tak ada waktu lagi... sebentar lagi dia datang kan?
Diana : Hasan bilang jam delapan kira-kira.
Mama : Waktumu cuma satu jam... sekaranglah...
Diana : Ma... aku takut...
Siska : (CUMA SUARANYA SAJA MEMARAHI GINA) ini, ini, itu, semuanya berantakan — tidak pada tempatnya. Bagaimana mungkin kita bisa memasak makanan enak, kalau dapurnya saja sudah seperti kandang ayam begini, sampah dimana-mana.
Diana : (MENUTUP MUKANYA) Ma, aku tidak tega menyakiti hatinya. Aku tidak berani...
Siska : (CUMA SUARANYA SAJA) celaka,... asap kompor bikin ruangan ini jadi hitam. Tugas sudah dibagi-bagi, masih tetap saja tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dus-dus ini juga apa gunanya ditaruh di pojok sini? Kan Cuma dijadikan sarang tikus?
Gina : (CUMA SUARANYA SAJA) ya, nanti juga ku buang...
Siska : (CUMA SUARANYA SAJA) nantiii, nantiii, kapan? Tahun depan?
Diana : Ma, aku mau mundur saja. Biar aku menunggu sampai Siska, Gina kawin duluan...
Mama : Kau mesti berani... (SISKA MELINTAS KELUAR RUMAH MEMBAWA SAMPAH. MAMA DIAM, RODY KELUAR DARI KAMARNYA, KELIHATANNYA DIA BARU BANGUN TIDUR. DIA LANGSUNG DUDUK DI MEJA MAKAN).
Rody : Ribut-ribut, aku kira ada perang (MELIHAT JAM) heh? Sudah jam tujuh, doktermu datang malam ini kan Din? (DIANA MENGANGGUK). Sudah bilang pada Siska? (DIANA MENGGELENG) sekarang saja kapan lagi aku tahu, memang susah, tapi kau mesti paksakan untuk bilang. Apa aku saja yang bilang?
Diana : (CEPAT-CEPAT) Jangan! Jangan! Aku saja...
Rody : Ya, memang mesti kau... (ISKA MASUK. DIA LANGSUNG DUDUK SAMBIL MENGATUR NAFAS)
Siska : Natal sudah dekat. Rumah mesti bersih, tapi dapur kotornya bukan main. Sampah dimana-mana.
Diana : Sis...
Siska : Tolong ambilkan aku minum Din.
Diana : (DENGAN CEPAT) ya... aku bikinkan yang dingin?
Siska : Heh...(DIAM. LAMA SEKALI. DIANA MASUK MEMBAWA MINUMAN DAN MEMBERIKANNYA PADA SISKA, SISKA MENEGUKNYA BEBERAPA KALI KELIHATAN ADA YANG DIA PIKIRKAN). (DAN PINTU DI KETUK ORANG. DIANA MELONCAT KARENA KAGET. SEMUA JUGA KAGET. LANGSUNG MEMBUKAKAN PINTU. Dl DEPAN PINTU BERDIRI SEORANG NENEK-NENEK).
Diana : Oh. Oma...
Oma : (BERBISIK) Lexie sakit... (SAMBIL MENUNJUK KE ANJING YANG DIA GENDONG DENGAN SAYANG) dulu kalian kan punya robur... anjing gagah yang... kasihan dia,... mati keserempet truk. Aku datang barang kali saja, kalian masih punya sisa-sisa obat anjing. Tidak tahu apa, ABC-lah bodrexin atau apa saja. Oma tidak percaya sama dokter-dokter hewan. Kerja mereka biasanya Cuma menyakiti saja dan lagi pula juga ongkosnya bukan main.
Diana : Masuklah, Oma...
Rody : Selamat malam. Oma...
Oma : Malam. Nyong, Els? Sis...
Mama : Oma, baik-baik?
Diana : Oma mau minta obat buat anjing, ma, apa kita masih punya.
Oma : Kasihan... Lexie sayang. Kasihan, sakit yah? Barangkali pilek. Suka kaget-kaget kalau dengar ribut-ribut. Dan biasanya dia menyalak dengan keras, kalau dia melihat kucing, tikus atau orang yang tidak dia kenal. Tapi hari ini tidak dia lakukan. Dia cuma menengok dan terus melanjutkan tidurnya lagi. Kelihatannya loyo dan tak bergairah,...
Mama : Rasanya kita sudah tidak punya obat anjing lagi. Oma, robur sudah setengah tahun yang lalu. Matinya...
Oma : Tidak punya, ya? Sayang sekali. (PADA ANJINGNYA) memang tanda-tandanya sudah aku lihat dua minggu yang lalu. Mula-mula dia tidak mau makan banyak. Tidur juga kaget-kaget. Kadang-kadang kalau malam, sekiar satu atau dua jam kadang-kadang suka gemetar. Aku yakin bukan lantaran kedinginan. Oma selimuti, masih juga gemetar soalnya. Pernah lexie tidur nyenyak sekali. Nyenyak sampai Oma iri, karena memang Oma jarang sekali bisa tidur senyenyak dia. Oma berjaga disampingnya dengan hati-hati. Takut membangunkan dia. Eh tahu-tahu orang lain yang membangunkan. Norma dan Ferry... brengsek itu memang orang...
Siska : Suara-suara kita juga kedengaran ke kamar Oma?
Oma : Oh. kalian? Tidak. Kalian selalu manis-manis. Kalau ribut-ribut aku yakin bukan lantaran bertengkar tapi membersihkan dapur misalnya.
Rody : Kalau begitu, tadi Oma dengar ribut-ribut antara Siska dan Gina?\
Oma : Tapi tidak seperti (BERBISIK) Norma dan Ferry... Oma tahu juga, kita semua penghuni kompleks ini rata-rata punya suara yang menggeledek. Tapi masih kalah oleh dua laki bini itu. Kalau mereka sedang bertengkar. Suaranya macam dua pastor lagi berlomba kothbah di lapangan untuk 10.000 jemaah. Tiap hari bertengkar. Kalau memang sudah tidak cocok, ya sudah. Selesaikan saja baik-baik lewat pengadilan. Kan beres.
Rody : Ya. Tapi kan tidak segampang itu Oma...?
Oma : Daripada tiap hari mereka ganggu tetangga dengan pertengkaran? Dengan tangisan? Padahal Oma sudah anjurkan pada Norma: he nona, kalau kau bertengkar dan tidak ingin didengar tetangga lakukan dengan berbisik. Tapi — ya — kalian dengar sendiri, hampir, hampir, tiap hari kita dengar suara piring-piring pecah dan sebagainya. Tangisan Norma. (DIAM PAUSE) kira-kira lexie kena penyakit apa, ya? Loyo dan seperti segan untuk hidup.
Rody : Perempuan atau laki?
Oma : Sudah terang betina. Mana bisa anjing secantik ini laki-laki, nah...nah... dan cara dia melirik kamu nyong, sudah jelas betina. Padahal umurnya masih muda, baru dua setengah tahun. Mestinya kan buat seekor anjing pada umur sebegini ini dia sedang gatal-gatalnya. Ya, kan?
Rody : Ah, kalau begitu gampang Oma, kawinkan saja dia, pasti akan bergairah lagi. Dia belum pernah kenal anjing laki-lakikan? (DIANA BEREAKSI, SISKA BEREAKSI, MAMA BEREAKSI TAPI TAK SEORANG PUN YANG MAMPU BICARA).
Oma : Apa?
Rody : Dikawinkan.
Oma : Astaga-tidak pernah terpikirkan itu, dikawinkan, ya?
Rody : Ini bulan Desember. Bulan musimnya anjing kawin.
Oma : (MEMANG SEPERTI DIINGATKAN PADA SESUATU) Desember, astaga! Memang betul. Opa dulu pernah bilang, eh. ini jangan salah tafsir. Opa, tapi bukan suami Oma, opa yang Oma maksudkan adalah opanya Oma, jadi papanya Mamanya Oma. Beliau bilang memang, desember itu memang bulannya anjing-anjing pada kawin, aku ingat sekarang. Untung nyong ingetin, kalau tidak lexie bisa patah hati dan mungkin lari dari pelukan Oma, (MENANGIS) kalau lexie lari meninggalkan Oma tak tahu lagi apa yang mesti Oma lakukan, satu-satunya milik Oma adalah kau lexie. Lexie sayang, jadi jangan coba-coba punya niatan untuk lari, ya? Oma bisa mati berdiri kalau kau lakukan begitu. Jangan khawatir kalau memang betul itu nyatanya nanti akan carikan anjing jantan yang pantas buat kamu. Pantas selama ini kau loyo saja, jadi memang sudah merindukan jantan ya? Kenapa Oma bisa sampai lupa ya? Heran? (YANG LAIN TERDIAM, RODY MERASA SALAH BICARA DAN JUGA DIAM) Desember ya? Desember! Hendrik punya anjing jantan, eh tapi dordor. Mana mungkin bisa dikawinkan dengan si mungil ini? Om Patie... wanita do’a sombong. Merasa anjingnya itu jenis yang paling bagus dan tak pantas dikawinkan dengan sembarangan anjing. Tak disangka dia. Sok! Dan mesti hati-hati, jangan sampai darah anjing ini bercampur dengan nyong Icad punya jenis pakinglas, ah barangkali bagus ya? Sampai-sampai aku tak memikirkan jodoh kamu. Selalu lupa, barangkali lantaran terlalu sayang. Padahal sudah waktunya kau dikawinkan. Memang salah Oma, semuanya salah Oma. Lexie mesti maafkan dan tidak boleh marah sama Oma ya? Oma sudah tenima salah. Dan janji mau carikan jodoh yang paling memenuhi syarat. Jantan yang sehat biar anak-anakmu sehat-sehat. Lucu dan nakal-nakal. (TERTAWA GEMBIRA MEMBAYANGKAN YANG BAKAL TERJADI) bisa Oma bayangkan, tiap pagi pasti aku akan sibuk memberi makan anak-anak mu. Mencampur susu dengan pisang, memberi minum teh gula, dan... dia menjilati tangan Oma serakahnya itu budak-budak kecil... (TERSADAR KARENA SEMUANYA DIAM DAN TIDAK MENANGGAPI APA YANG DIOMONGKAN. LALU DIA SENYUM-SENYUM SEAKAN MINTA MAAF). Oh. Oma mesti cepat-cepat pergi dan mulai sekarang mencarikan jodoh buat lexie. Terima kasih nyong Rody... (DAN OMA PERGI DAN ANJINGNYA) (DAN BEGITU OMA PERGI SISKA MENANGIS SEMUA KAGET)
Mama : Sis... Sis, kenapa?
Diana : Sis... Sis kenapa? Kenapa nangis?
Siska : (MENGUATKAN DIRI DAN MENCOBA MENUTUPI PERASAANNYA) tidak apa-apa. Tidak, tidak apa-apa. (PAUSE) aku sudah siap.
Diana : Sudah siap?
Siska : Ya. Sudah.
Mama : Apa maksudmu sudah siap?
Siska : Mama juga menyembunyikari sesuatu, Diana, ada yang hendak kau katakan p ku, kan? Ayolah, katakan sekarang. Aku sudah siap.
Diana : Dan mana kau tahu?
Siska : (BERTERIAK) Gina!!! (GINA MUNCUL DENGAN RESAH)
Gina : Ya?
Siska : Bunga itu ada di lemariku. Ambilah dan bawa kemari. Bunga itu milik Diana. Bukan punya kita (GINA PERGI)
Diana : Apa artinya semua ini?
Siska : Nanti kau lihat sendiri, kalau saja Oma Matimu tidak kemari sudah dari tadi aku bicarakan soal ini (GINA DATANG MEMBAWA KARANGAN BUNGA ANGGREK). Ini. Karangan bunga anggrek? Bukan main romantisnya. Aku terima tadi siang waktu kau pergi. Tadinya aku heran, tapi tidak lagi setelah membaca tulisan di sini (MENGAMBIL KARTU YANG TERSELIP). Kartu ini membuka tabir. Semua jelas. Aku baca?
Diana : Tunggu, apa artinya ini? Aku sama sekali tidak mengerti.
Siska : Kalau begitu aku baca supaya kau mengerti seluruh persoalannya. Kata-katanya jelas, tegas, singkat dan tulisannya cukup rapih. Kau tentu ingin tahu apa isinya bukan?
Diana : (MENANGIS) Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti!
Siska : (MEMBACA KARTU) untuk Mama Latumahina dan kakak-kakak. Siska, Gina, Rody, nanti malam saya datang untuk secara resmi melamar Diana. Tertanda Hasan!!!
Diana : Bunga ini dan dia?
Siska : Ya! Dengan maksud itu dia mengirimkan ini buat kita, buat kau! (PERLAHAN TAPI INTENSIF) Jadi selama ini kami telah kau bohongi. Seakan-akan giat belajar, padahal lewat jalan belakang; berpacaran, dan dengan diam-diam merencanakan sebuah perkawinan. Jelas sudah, hubungan kau dengan pemuda ini sudah sangat mendalam sebab buktinya sudah meningkat ke upacara pelamaran: Hasan, Hasan. Namanya saja kurang bagus, tidak bonafide. Hasan, seperti kita dengar abang-abang. Biasanya suka menyeleweng...
Rody : (KERAS-KERAS) Apalah artinya sebuah nama... itu kata Romeo.
Siska : Diam kamu! Bukan sekarang waktunya untuk melucu. (PADA DIAM). Caramu menyelesaikan persoalan ini, aku tidak suka. Seakan-akan aku-Gina-Mama dan Rody adalah penguasa yang lazim yang bakal melarang setiap tindakanmu. Kenapa mesti sembunyi-sembunyi, toh bagaimanapun juga pada suatu saat akan ketahuan juga?
Mama : (PERLAHAN) Bagi gadis-gadis, saat untuk kawin akhirnya akan datang jua.
Siska : Ya, tapi tidak untuk Diana, waktunya belum tepat...
Mama : Lalu kapan? Umurnya sudah hampir 27 tahun....
Siska : Dan aku, Mama? Aku 31, 31, tapi aku masih juga merasa belum tepat untuk …
Mama : Kau bohongi dirimu sendiri, nak, membohongi diri sendiri...
Siska : Tidak! Diana masih sekolah, masih tanggung. Masih punya tugas untuk menyelesaikan sesuatu supaya jerih payah kita tidak sia-sia. Supaya aku dan Gina yang kerja 10 jam satu hari untuk mengumpulkan uang sedikit demi sedikit selama 8 tahun membiayai sekolahnya-tidak merasa disia-siakan. Apa Diana tidak punya rasa terima kasih. Aku tidak menuntut yang bukan-bukan aku cuma ingin selesaikan dulu sekolahnya. Cuma itu. Kan tidak susah. Lulus SMP, sampai sekarang aku yang merawat kau. Diana, aku dan Gina. Tidak apa-apa, itu memang tugas kami, kita berdua sepakat untuk berhenti sekolah dan hasil bekas pabrik tenun milik papa? Omong kosong, sudah jadi milik orang lain, sekarang.
Mama : (MENANGIS) aku memang tidak bisa membantu apa-apa, aku lumpuh. Aku cuma mayat hidup yang selalu menyusahkan kalian.
Siska : Mama tidak perlu menangis, yang kukatakan semua mi adalah kenyataan (PADA DIANA) aku tidak bermaksud menyakiti hati Mama. Tadinya Rody yang kami harapkan, tapi sekarang tidak lagi lantaran dia sudah gila sandiwara. Lalu siapa gantinya lagi kalau bukan? Tak jadi soal kau cuma seorang gadis. Kepintaran bukan monopoli laki-laki saja. Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan? Itukah pertanyaan terima kasihmu pada kami semua? Bicaralah! Jangan diam terus begitu. Kalau kau salah. Bilang terus terang aku salah.
Diana : Aku tidak tahu. Aku tidak tahu.
Siska : Kalau memang betul laki-laki itu mencintaimu, biarlah dia pergi ke Banjarmasin, menyelesaikan tugas-tugasnya. Menyelesaikan sekolah 2 atau 3 tahun menunggu kan bukan soal, biasa? Lagi pula kawin buru-buru tidak akan menghasilkan sesuatu hal yang baik. Sudah banyak contohnya. Norma dan Ferry misalnya.
Rody : Mereka sudah merencanakan lama sekali. Sudah 1 tahun Diana mengenal Hasan. Sudah waktunya mereka kawin.
Siska : 1 tahun? Kau pikir itu lama? Dan waktu yang cukup buat seorang gadis untuk mengamati calon suaminya?
Rody : Tapi kau tak berhak melarang, kau cuma kakak. Cuma Mama yang boleh melarang dan akhirnya semua tergantung pada Diana sendiri.
Siska : Aku kepala keluarga disini. Aku yang bertanggung jawab pada apapun yang terjadi atas diri adik-adikku dan Mama. Bukan kalian saja yang menanggung segala akibat dari tindakan kalian, tapi juga aku. Aku! Kau sangkal itu? Aku yang selama ini merawat kau. Dari dulu aku sudah bilang pada Rody — kalau kau tak senang pada caraku mengatur ini, di rumah ini, kau boleh pergi sesuka hatimu hendak kemana. Kau kan laki-laki, bisa berdiri di atas kaki sendiri, mengingat umurmu sudah pantas untuk jadi om-om, tapi sampai sekarang kau masih tetap di sini! Bicaralah dan sangkal, kalau-kalau kata ku salah. Ayoooo!!! (Rody MENAHAN HATI UNTUKTIDAK MENJAWAB) Baru sekarang merasa bersalah, karena selama satu tahun kami kau singkirkan? Berjalan sendirian seolah-olah kami tidak ada, padahal kau sadar andil kita besar sekali untuk mu. Diana, yang kau lakukan selama ini kan bukan cara perempuan baik-baik, barangkali kalau kau terus terang, soalnya akan lain. Tapi sekarang sudah terlambat. Kami sudah kau pantati.\
Diana : Aku cinta pada Hasan...
Siska : Dan pada kami, tidak?
Diana : Cinta Hasan padaku sangat besar...
Siska : Itu sudah jelas. Kau gadis pintar... dan tidak jelek. Tak seorang pemuda pun yang tidak mencintai gadis seperti kau.
Diana : Aku tidak tahu bagaimana bilangnya, tapi aku tidak melihat kesempatan lagi yang sebagus ini. Aku ingin. (MENANGIS) Oh. Bukan. Aku tidak tahu, tidak tahu, tidak tahu.\
Siska : Kesempatan? Astaga, kenapa omongan mu tiba-tiba seperti omongan seorang pedagang? Kesempatan? Itu bahasa apa? Macam kau menjajakan sesuatu dengan cara yang kasar. Yah! Sekarang aku mengerti. Ini kesempatan yang bagus untuk melarikan diri dari kami. Kawin, lalu lari ke Banjarmasin. Melupakan kita semua. ltulah balasan kau pada kami?
Diana : Tidak, tidak, aku tidak bermaksud...
Siska : Tak kulihat alasan lain lagi...
Rody : Boleh aku ngomong?
Siska : Tidak boleh. Suaramu tidak kuperlukan...
Mama : Sis... kau keberatan... Diana berbahagia?
Siska : Ma, Cuma kakak yang tidak punya perasaan saja yang tidak menginginkan adiknya berbahagia. Aku punya! Tapi siapapun akan keberatan kalau usaha yang sudah ditanamkan sekian lama tiba-tiba dengan sengaja di sia-siakan. Kenapa Diana terburu-buru tunggu sekitar dua tahun lagi sampai dia dapat titel sarjana. Sudah itu sudah. Tak aku perdulikan lagi apa dia kawin dengan tukang becak, atau montir helikopter. Yang jelas dia sudah punya modal sesuatu yang bisa dipergunakan andai kata suatu saat keadaannya terjepit. Apa aku salah berpikir begitu?
Diana : Aku janji, akan aku lanjutkan sekolahku nanti sesudah kawin.
Siska : Ya, itu bisa juga, tapi bukan itu yang ku inginkan. Aku mau kalau kau menyelesaikan sekolahmu dulu. Selesai dari rumah ini, seperti pesan papa sebelum ia meninggal. Dan juga supaya kau tidak berutang budi pada suamimu. Aku sudah bersedia, bila banting tulang untuk kau Diana. Untuk kau!
Diana : Aku tidak mau mengecewakan Hasan. Dia berada di Banjarmasin untuk waktu yang tidak ditentukan. Dia membutuhkan aku. Aku mesti membantu dia.
Siska : Dan mengecewakan kita semual
Diana : Aku sudah 27...
Siska : Cuma menunggu 2 atau 3 tahun lagi...
Diana : Aku tidak mau jadi perawan tua, kalau nanti Hasan sakit hati dan memutuskan hubungan.\
Siska : Kau mesti berani mengambil resiko…
Diana : Aku yang harus rnemutuskan, aku! Bukan kau, aku!
Gina : Sudah, Din, sudah!
Siska : Aku yang bertanggung jawab nantinya, aku.
Gina : Sis, sudah, sudah!
Diana : Aku tidak minta kau ikut-ikutan menentukan masa depanku, tidak!
Gina : Aduh. Sudah,sudah!
Siska : Semua yang kukatakan demi masa depanmu, semua! (DAN PINTU DIKETUK. TIBATIBA SEMUA TERDIAM. LAMA TERDIAM. PINTU DIKETUK LAGI. TAK SEORANGPUN BERGERAK UNTUK MEMBUKANYA, SECARA DIAM-DIAM SEMUA MEMPERSIAPKAN DIRI DENGAN CARA MASING-MASINGNYA UNTUK MENYAMBUT YANG BAKAL DATANG. PINTU DIKETUK LAGI. JAM BERBUNYI DELAPAN KALI. PINTU DIKETUK SEKALI LAGI. RODY DENGAR MEMBUKAKAN PINTU.)
RODY MELIHAT SEKILAS DUA ORANG YANG BERDIRI DEPAN PINTU ITU HASAN DAN OM ANGKATNYA. OM SURUN. RODY MENYALAMINVA SERAMAH MUNGKIN, YANG LAIN, LAINNYA MELII-IAT KEDATANGANNYA HASAN DENGAN DIAM-DIAM
Rody : Silahkan, maaf kedaannya begini.
Hasan : ... (MENYALAMI RODY) Ini om saya... Diana!
Diana : Masuklah!
Rody : Rody, ini Mama, ini Gina, itu... Siska. Maaf berantakan duduklah. ya,ya duduk saja disini.
Mama : Duduklah, nak, (HASAN DUDUK, JUGA OM SURUN. LAMA DIAM, MASING-MASING TAK TAI-IU MEMBUKA DENGAN KATA-KATA APA) PAUSE
Surun : Panas sekali, ya?
Rody : Jakarta memang panas. Barangkali mau hujan.
Surun : Ya. (PAUSE) saya suka sekali daerah sini. Kompleks ini.
Rody : Kenapa?
Surun : Sepi. Tenteram, tak ada tangisan anak-anak kecil. Jauh dari kebisingan... (TEPAT SEHABIS OM SURUN MENGHABISKAN KALIMATNYA ITU TERDENGAR PIRING-PIRING PECAH DAN RIBUT-RIBUT DEKAT SEKITAR SITU. SUARA TERIAKAN LAKI-LAKI DAN JERIT TANGIS PEREMPUAN. ITU PERTENGKARAN NORMA DAN FERRY. OM SURUN TERCENGANG MENDENGARKAN. SEMENTARA YANG LAINNYA SALING PANDANG.)
Mama : Jangan hiraukan. Itu biasa mereka lakukan tiap hari, tetangga sebelah. Nanti juga tenang lagi. Suami isteri yang mau rukun biasanya saling mencekcokan pendapat mereka dengan bertengkar.
Surun : Ya. (BATUK-BATUK BASA BASI) ehmmm... barangkali nyonya... sudah tahu maksud kedatangan kami...
Siska : Ya!
Surun : (HERAN MENDENGARKAN SISKA) ya...
Mama : Bicaralah padanya, dia sudah kuserahkan tugas menyelesaikan soal ini... (TERSENYUM RAMAH PADA HASAN DAN OM SURUN)
Surun : Ya, ya... baiklah saya bicara mewakili Hasan. Itu bukan berarti Hasan tidak berani untuk mengutarakan maksudnya. Tapi saya yang bilang padanya bahwa sudah semestinya orang tua atau teman dekat yang bisa dipercayai mesti jadi penyambung lidah dalam urusan sepenting ini. Orang yang bicara tidak terburu nafsu dan berkepala dingin. Hasan tidak punya orang tua lagi. Mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sayalah teman dekatnya dan saya gembira bisa bicara atas nama dia. Nama saya Surun. Abdul Surun....
Siska : Tidak usah terlalu formil, saya sudah tahu semuanya. Saya Siska-kakaknya yang paling tua. (PADA DIANA). Dia, saya dan dua adik saya yatim sejak 8 tahun yang lalu, itu pasti Bung Surun sudah tahu...
Surun : Ya, ada oleh-oleh sedikit untuk keluarga nyonya. (HASAN MENYERAHKAN BUNGKUSAN YANG DIBAWA, TAK SEORANGPUN MENERIMANYA, JUGA TIDAK DIANA YANG SEDARI TADI DIAM SAJA. AKHIRNYA HASAN MENARUH BUNGKUSAN ITU DI MEJA)... dan juga untuk Diana, bukan ikatan. Sekedar oleh-oleh saja dari Hasan.
Siska : Asal oleh-oleh itu tidak disertai syarat-syarat yang mengikat, kami menerimanya, terima kasih. (DIAM LAMA)
Surun : Kami datang untuk melamar... barangkali itu sudah diketahui...
Siska : (MENGHELA NAFAS) baiklah, saya akan bicara terus terang saja. Dan tidak akan berpanjang-panjang lagi. Saya tidak bilang setuju atau sebaliknya. Saya cuma menganjurkan agar untuk sementara Hasan tidak mengganggu Diana dulu sampai dia menyelesaikan sekolahnya. Saya dengar Hasan mau tugas di Banjarmasin? Pergilah dan kalau toh memang sudah jodoh, nantipun akan bertemu lagi. Itu saja yang mau saya omongkan, tunggulah kira-kira 2 atau 3 tahun lagi. Beri Diana kesempatan untuk melengkapi dirinya dengan ijazah.
Diana : Sis...
Siska : Saya harap bung Surun dan Hasan memaklumi semua ini. Ini demi kebaikan kalian berdua, nantinya.
Diana : Sis...
Hasan : Tapi apa artinya semua ini? Bukankah semuanya sudah setuju bahwa pernikahan akan dilaksanakan sebelum saya berangkat? Supaya kami, saya dan Diana bisa berjuang bersama-sama di daerah yang belum kami kenal?
Surun : Ya... ya saya pikir itu kurang tepat... dan agak dicari-cari... sebab... sekolahnya bisa dilanjutkan nanti kalau dia sudah jadi istri Hasan... lagi pula...
Siska : Tapi itu adalah pesan mendiang papa. Saya kurang berani melanggarnya, kami juga sudah mempertimbangkan segala sesuatunya...
Hasan : Kenapa jadi berbalik begini? Jauh dari dugaan semula?
Siska : Tidak ada yang berbalik, sejak semula soalnya sudah begini. Hasan tak ingin jadi perampok, bukan? Yang datang tiba-tiba dan merampok Diana. Harapan kami satusatunya.
Hasan : Saya mencintai Diana, dan akan membuat kita bahagia sepanjang hidup saya.
Siska : Nah. Itu sudah cukup. Pergilah ke Banjarmasin dengan bekal itu. Saya yakin juga Diana bukan tipe gadis yang tidak setia (IBU BATUK-BATUK).
Gina : Ma.
Mama : (BATUK-BATUK) tidak, tidak apa-apa... (DAN SEKETIKA PINGSAN)
Gina : Ma... (MENJERIT) Mama...
Siska : Ada apa Gina?
Gina : (MENANGIS) ma... (LALU SEMUANYA MERUBUNG MAMA JUGA HASAN DAN OM SURUN).
Hasan : (MELAKUKAN PERTOLONGAN PERTAMA) tenang, tenang saja...
Diana : Kenapa dia?
Hasan : Tidak apa-apa... tekanan darahnya terlalu lemah dan rendah, ya... terlampau lemah... ada yang dia pendam, dan melebihi kekuatan tubuhnya maka dia collapse, tak apa-apa dia Cuma harus cukup istirahat... pindahkanlah ke dalam. Disini terlampau keras anginnya... (GINA MENDORONG MAMA KE DALAM KAMAR)
Diana : Hasan...
Hasan : Ya?
Diana : Datanglah lain kali, kalau suasannya sudah enak.
Hasan : Lusa barangkali kami kemari lagi. Aku mengerti. Tidak apa-apa.
Surun : Pulanglah sekarang?
Hasan : Apa boleh buat. Pintu masih terkunci, mudah-mudahan lusa sudah terbuka sedikit hingga aku bisa menduga apa isinya, baiklah, saya permisi. (MENGANGGUK DENGAN SOPAN PADA SISKA YANG DIAM SAJA. RODY DAN DIANA MENGANTARKAN TAMUNYA HINGGA PINTU)
Rody : Maafkan, Hasan.
Hasan : Tak apa, sampaikan salam pada Mama, lusa aku bawakan obat. (DAN HASAN PERGI, TINGGAL LAGI SISKA YANG TERCENGANG) mudah-mudahan beliau cepat sembuh. (RODY MASUK LAGI)
Rody : Sudah puas? Aku muak melihat tingkah kau seperti tadi... (SISKA DIAM SAJA). Menegakan kepala, seakan-akan kau ini papa. Penguasa lalim kaisar yang tidak boleh dibantah semua kemauannya. Seolah-olah setiap kalimat yang kau ucapkan itu hukum yang harus dituruti.
Diana : Diam Rody...
Rody : Apa untungnya diam terus-terusan? Diam, jadi badut terus-terusan.
Siska : Kamu tidak pernah sungguh-sungguh...
Rody : Soalnya tiba-tiba saja sudah jadi besar. Tapi diamlah kau, aku bicara untuk kau, untuk aku, untuk kita semua (PADA SISKA) Sis, kau pikir soal ini akan selesai begitu saja setelah kau memutuskan keputusan seperti tadi. Kau pikir Diana, biar tokh dia tidak mengatakan sepatah kata pun dan adik kandung yang selama ini kau rawat bakal menurut begitu saja segala apa yang kau katakan? Siska, kau tidak punya otak, cinta bisa bikin apa saja. Lihat saja akibatnya nanti.
Siska : Kau tidak mengerti. Kau masih anak kecil.
Rody : (TERTAWA KERAS) hahahahaha... anak kecil, aku 28 tahun umurku, kau bilang masih anak kecil. Barusan kamu bilang aku sudah pantas untuk menjadi om-om. Cobalah jangan serakah begitu. Semua kau anggap masih anak kecil, juga Diana, ingusan? Dan lantaran kami masih anak kecil, maka setiap persoalan, mesti kau yang menyelesaikan? Kau anggap kami belum mampu menanggulangi betul, kau begitu? Cobalah sekali-kali juga berpikir tentang kebahagian Diana, adik kandungmu.
Siska : Apa maksud mu?
Rody : Alasan sebenarnya, kau menolak Hasan bukan lantaran Diana masih sekolah, kan?
Siska : Apa maksudmu?
Rody : Aku tahu, aku tahu.
Siska : Kau pikir apa?
Rody : Perlukah aku katakan?
Siska : Katakan, katakan saja... aku tidak takut.
Rody : Jauh di lubuk hatimu... jauh di dalam situ... (GINA MUNCUL DIAMBANG PINTU MEMPERHATIKAN RODY YANG SUDAH KALAP)... kau tidak rela adik-adikmu mendahului kau untuk kawin. Kau, berpikir picik tapi tidak mau berterus terang, takut harga dirimu...
Gina : Rody...
Rody : Kau berpendapat baik semua, kau, Gina, Diana dan barangkali juga aku jadi perawan tua dari pada kau di langkahi.
Gina : Rody...
Rody : Kau tidak rela dilangkahi adik-adikmu. (SISKA MAJU DAN SECEPAT KILAT MENAMPAR RODY KERAS-KERAS. RODY SEDIKITPUN TIDAK BERUSAHA MENGELAK. DIA TERHUYUNG KARENA MEMANG TAMPARAN SISKA KERAS SEKALI. GINA DAN DIANA BERTERIAK).
Gina : Sis... (DENGAN MENAHAN TANGIS SISKA MASUK KE DALAM KAMAR. RODY BERTERIAK-TERIAK MENGIKUTI LANGKAH SISKA HINGGA DEPAN PINTU KAMAR).
Rody : Lihat aku (SAMBIL TERSEDU) aku juga kakak Diana. Tapi aku sedikit pun tak berusaha untuk memiliki niat menghalangi kebahagiaan Diana. Contohlah aku... (MENGHEMPASKAN DIRI KE SOFA SAMBIL MENUTUPI MUKANYA) aku sudah menyakiti hatinya, aku sudah menyakiti hatinya... aku bukan contoh yang baik...(PERLAHAN GINA MENDEKATI RODY).
Gina : Rody tahu kau, karena kau bisa merelakan Diana kawin Iebih dahulu dari kakak? (RODY MENGGELENG) karena kau laki-laki kau bisa makan apa saja asal kamu mau, tapi Siska, Ia perempuan. Dan nasib perempuan adalah menunggu itu dari dulu, biar bagaimanapun rasanya tabu baginya untuk mencari.
Rody : Aku sudah tega menyakiti hatinya, aku sudah menyakiti hatinya.
Gina : Mintalah maaf... (RODY TERSEDU PERLAHAN LALU LAMPU PADAM PERLAHAN-LAHAN.)
Akhir adegan dua
Adegan ketiga
DI TEMPAT YANG SAMA. DUA BULAN KEMUDIAN. DIANA AKHIRNYA
KAWIN JUGA DENGAN HASAN MESKI PUN TANPA PERSETUJUAN SISKA-
KAKAKNYA. HARI INI DIA BERANGKAT BERSAMA SUAMINYA KE
BANJARMASIN. MALAM HARI... WAKTU PANGGUNG GELAP PADA
AKHIR ADEGAN DUA TERDENGAR NYANYIAN KOOR DI IRINGI GITAR, PANGGUNG TETAP GELAP SAMPAI NYANYIAN ITU BERAKHIR.
Koor : Anggrek segar berwarna merah
Jadi hiasan kelambu Lelaki jantan
Hijaunya asparagus dan wangian air mawar
Semerbak di sudut-sudut kamar
O, malam tanpa bintang
Cuma bulan jatuh di sebuah mutiara
Yang bergejolak, putih dan berbuih
Tinggal kini daun-daun layu
Copot dari tangannya
Melayang di udara hingga jauh
Bumipun tak mau menerimanya
Bilakah hari-hari usai
Usai tiba di ujung tali
Bilakah bumi telah berputar
Dan aku... tidur selamanya
Selama-lamanya
(SAYUP-SAYUP NYANYIAN MENGHILANG, LAMPU MENYOROT PANGGUNG RUANGAN ITU JADI VIOLET, MAMA LAGI BICARA DENGAN SISKA)
Mama : Tadi Diana menangis, tapi aku yakin, itu lantaran dia bahagia. Seorang laki-laki akan menjaga dia seumur hidupnya. Ah anak itu masalahnya baik. Dokter itu tampan, lagi. Bukankah bisa kita lihat, Hasan betul-betul mencintainya, Sis? Sis?
: Siska barangkali.
Mama : kita tak perlu khawatir menyerahkan Diana pada Hasan.
Siska : (RODY MASUK SAMBIL MENGENAKAN JAKET. DIBELAKANGNYA MENGIKUTI GINA) Mudah-mudahan Hasan tidak akan menyia-nyiakan adikku.
Mama : Berdoa saja pada Tuhan.
Rody : Kalau sampai terjadi. Hasan menyia-nyiakan Diana. Biar lari ke kutub Utarapun akan ku kejar.
Mama : Sesudah terkejar. Lantas mau kau apakan?
Rody : Akan ku tinju dia, dia akan tahu siapa Rody yang sebenarnya.
Mama : Sebelum Hasan sempat kau tinju, Diana sudah meninjunya lebih dulu, Aku tahu persis watak anakku, dia keras hati, dia akan memperoleh apapun yang dia inginkan untuk mencapai tujuan dengan cara apapun.
Rody : Aku pergi dulu, ma. Latihan sandiwara, Gina mau ikut? Kau mesti lihat bagaimana aku bermain jadi Lazarus. (BERMAIN)
Itulah cahaya bulan,
Menyorot kemari,
Biru dan pucat,
Jatuh ke permukaan danau Galilea...
Ah nikmat rasanya,
Bangkit dan kematian,
Dikuburkan yang ada
Cuma kegelapan....
Ayo, ada apa kau, kuperkenalkan dengan kawan-kawanku, mereka baik-baik. (GINA BIMBANG)
Mama : Pergilah, ada baiknya. (GINA BANGKIT DAN PERGI BERSAMA RODY TANPA SEPATAH KATAPUN). Jangan malam-malam pulangnya, Rody...
Rody : (BERTERIAK LEBIH KERAS KELUAR) ya, subuh saja...
Mama : (TERSENYUM) Anak nakal... (RUANGAN JADI LEBIH VIOLET, DUA PEREMPUAN TERCENGANG LAMA SEKALI)
Siska : Sepi, seperti dikuburan. (MAMA DIAM SAJA). Nanti akan lebih sepi lagi, kalau saatnya tiba: Gina atau Rody meninggalkan rumah ini. Kawin (MAMA TETAP DIAM). Ma, sebelum Diana menyatakan akan kawin dengan Hasan beberapa bulan yang lalu, aku memang sedah merasa. Ada yang istimewa bakal terjadi, Sis tahu, malam bermimpi, buruk sekali.
Mama : Mimpi tentang ular-ular?
Siska : Bukan, seekor burung layang-layang meloncat-loncat di tanah. Tidak, aku ingat sekarang. Pasir putih membentang tak terbatas, putih semua, Mama. Putih, dan burung layang-layang itu meloncat-loncat, semula riang dia. Dikejauhan hujan baru saja reda. Dan pelangi muncul melengkung. Seolah-olah bikin jembatan. Antara langit dan bumi. Kagum pada pandangan sebagus itu-terbanglah layang-layang tadi. Maksudnya mendekat pada pelangi yang terlihat bagai jembatan sinar menuju surga. Tapi tak bisa Mama. Dia tidak bisa menembus kurungannya, kaca putih bening yang kelihatan seperti udara saja. Dia di kurung tapi dia mencoba terbang selalu tertumbuk pada kurungan kaca tadi dan jatuh ke pasir putih lagi. Dia coba terbang lagi, jatuh lagi. Begitu berulang kali. Lalu aku terbangun.
Mama : Tak ada kelanjutan?
Siska : Aku tidur lagi, setelah berhasil menghilangkan rasa takut dan kulihat lagi layangIayang tadi sudah terbang. Terbang tinggi. Entah bagaimana caranya. Ia bisa membebaskan diri dari kurungan kaca seperti mimpiku pertama. Ia terbang menyongsong pelangi... Ia terbang lama, lama sekali. Ma, dimanakah letak pelangi itu? Terasa dekat tapi ternyata makin jauh jaraknya kalau kita dekati. Matahari makin panas sinarnya. Dimanakan pelangi? Burung layang-layang terbang tanpa seorangpun menunjukan dimana letak pelangi, hingga akhirnya batas kekuatan terbangnya habis dan ia mati kecapaian. jatuh ke tanah yang berbatu hingga tubuhnya mengejang tepat pada sarang pelangi tadi sirna.
Mama : Sis...
Siska : Aku ngeri begitu kulihat muka burung layang-layang itu adalah mukaku. Persis mukaku, hidungku, mataku, telingaku, bibirku, rambutku, persis seperti aku. Aku melihat wajahku sendiri.
Mama : Tak usah hiraukan, itu cuma mimpi.
Siska : Sudah terjadi, Ma, terjadi hampir persis, seperti mimpiku. Tak kuizinkan Diana kawin, toh nyatanya dia kawin juga. Ku ingin dia sekolah dulu, tapi nyatanya seorang laki-laki telah membawanya pergi dan rumah kita. Lalu apa artinya aku, ya? Kakak yang tidak punya wibawa, kepala keluarga terbuat dan kertas lap WC. Yang aku inginkan berbeda dengan yang terjadi.
Mama : kau toh tak bisa menahan supaya bumi tidak bisa berputar, biarpun cuma satu detik saja? Kalau memang kebahagiaan yang akan dialami Diana, itu pasti terjadi, dengan cara apapun kita tidak bisa mencegah hal itu. Memang menyakitkan.
Siska : menyakitkan, kadang-kadang aku menyesali papa. Kenapa dia melahirkan aku, Gina dengan muka yang... (TERTAWA, MENUTUPI KEPAHITAN-NYA) ... hingga tak seorang pemudapun yang punya niatan untuk memperistrikan kita.
Oma : Mana nyong Rody? Betul seperti apa yang dia katakan. Lihat Sis, Lexie.Dia sudah tidak sakit lagi. Sudah mulal gembira lagi. Makannya sudah mulai banyak, salaknya sudah mulai keras lagi. Wah senang Oma, dia tidak seloyo dulu lagi, Itu lantaran dia sudah mulai ada isinya. Cepat sekali ya? Ya. Anjing Nyong Richard yang jadi bapak anak yang dia kandung. Senangnya aku bukan main. Waah. Sudah Oma bayangkan, anak-anak mereka bakal lucu-lucu dan blasteran. Ras anjing yang sempurna. Dari bapak anjing bernama kimba dan ibunya bernama lexie harus kuberi nama apa anak-anak mereka?
Siska : Ma
Oma : Kucarikan nama-nama yang bagus, Lorrie, Susan, Plexie, Romax, Pluto...
Siska : (MENJERIT BEGITU TAHU KEADAAN MAMA) maaaa
Oma : Popaye... ada apa... Sis... Siska?
Siska : (MENANGIS) maaaa....
Oma : (MENDEKAT KE MAMA) Siska. Els? (KAGET) Alah, Bapak kami di surga!!
Lampu padam dengan cepat
Selesai
Share to Infrastructure Team
Bagikan dokumentasi teknis ini melalui jalur koordinasi.