Logo Teater Saphalta  Komunitas Seni Pertunjukan & Teater Jakarta

Teater Saphalta

Berkarya melalui seni pertunjukan

we are part of Teater Sapta

Beranda Tentang Artikel Berita Galeri Sekretariat
Beranda Tentang Artikel Berita Galeri Sekretariat
Back to Knowledge Base

SENJA DENGAN DUA KEMATIAN

Published: Selasa, 28 April 2026
Author: aisyah

INTERIOR SEBUAH RUMAH TUA YANG TELAH USANG DAN TAK TERURUS. SEPERANGKAT MEJA KURSI MODEL LAMA, MENGESANKAN PERNAH AGAK BERHARGA, KINI TIDAK LAGI. SEBUAH RANJANG BESI TUA BERKELAMBU. KESAN SEBUAH JENDELA. KESAN SEBUAH KAMAR YANG MENCITRAKAN RUANG KEMATIAN. KESAN SEBUAH PINTU. SEBUAH POTRET TERGANTUNG DI DINDING KHAYALI. SEBUAH VAS BUNGA DENGAN TUMBUHANKERING DAN MATI. PEMBAGIAN RUANG DITATA SECARA TRANSPARAN, DI MANA TATA CAHAYA MENJADI SANGAT SIGNIFIKAN. SUNYI.

 

 

ADEGAN I

KARNOWO

(MASUK MENGENDAP-NGENDAP)

Ha, ha, ha…Si Manis Bulat Panjang. Luar biasa “servis”-nya malam tadi.

 

KARDIMAN

Ah, kamu!

 

KARNOWO

Oooh…Dadanya yang menggunung nyaris tumpah menyumpal mulutku, ha, ha, ha…

 

KARDIMAN

Dan kau menelannya bulat-bulat. Ha?

 

KARNOWO

Ha, ha, ha…Jangan sewot Pak Kardi, tenang saja! Dia menantimu malam ini. Lagi pula sebetulnya aku sudah bosan. Dia bukan seleraku lagi. Tapi tentu Pak Kardi masih bersemangat untuk meremas-remasnya ‘kan? Ayo pergi ke sana, rugi kalau tidak!

 

KARDIMAN

Mau sih mau. Tapi nafasku ini payah sekali. Jantungku seperti sudah bocor. Mau mampus barangkali.

 

KARNOWO

Jadi tidak mau pergi nih?

 

 

KARDIMAN

Lain kali sajalah!

 

KARNOWO

Padahal saya sudah mengaturnya agar sepanjang malam ini dia bersama Pak Kardi, lho.

 

KARDIMAN

Memang jantung sialan ini makin payah saja kalau terus-terusan berada di rumah. Tak tahan ikut merasakan sakit biniku yang tak sembuh-sembuh. Lagi Si Manis Bulat Panjang itu apa. Masa semalaman saya disuruh nunggu di luar, macam detektif menunggu penjahat saja, eh sampai subuh dia tidak mau ke luar. Dikiranya saya tidak bisa bayar apa. Dasar sundal!

 

KARNOWO

Ha, ha, ha…

 

KARDIMAN

He, jadi kamu rupanya yang bersama dia semalaman dan menyikasaku di luar kedinginan, ha?

 

KARNOWO

Sudahlah Pak Kardi, saya betul-betul tidak tahu. Lagi bicaranya jangan keras-keras. Macam tidak ada orang sakit saja di rumah.

 

KARDIMAN

Biniku sudah diangkut ke rumah sakit kemarin sore. Sore ini Wijasti sedang menjenguknya. Kalau dia ada di rumah, masa aku bisa bebas berteriak-teriak macam orang edan, ha, ha, ha…

 

KARNOWO

Jam berapa Wijasti pulang?

 

KARDIMAN

Paling-paling sebentar lagi. Kemarin, semalaman ia bersama ibunya. Mau jadi orang baik-baik, katanya. Eh, kau tahu apa yang selalu dkatakan biniku tentang rumah ini? Ya untuk mengejekku. Dia bilang, “sangkamu ini rumah apa kura-kura?”, ha, ha, ha…Ya begitu itu kalau perempuan tidak tahu seninya perasaan.

 

KARNOWO

Ha, ha, ha…

 

 

 

KARDIMAN

Terserah dia mau menyebutnya apa. Yang penting dalam hidup ini ‘kan uang, iya nggak? Rumah baguspun kalau tidak ada duitnya, ya puyeng!

 

KARNOWO

Ha, ha, ha…

 

KARDIMAN

Lho itu kenyataan!

 

KARNOWO

Ha, ha, ha…

 

KARDIMAN

Ya terus tertawalah. Edan kamu!

 

KARNOWO

Ha, ha, ha…Kenyataan. Memang betul, itu kenyataan. Lantas?

 

KARDIMAN

Pokoknya aku sangat perlu uang mala mini.

 

KARNOWO

Gampang. Berapa Pak Kardi perlu?

 

KARDIMAN

Lagakmu! Jangan sombong kamu, aku betul-betul perlu uang, tahu? Aku sudah bermimpi akan menang besar malam ini. Besok kulunasi semua utangku. Berapa sih memangnya?

 

KARNOWO

Ha, ha, ha…

 

KARDIMAN

He, jangan mengejekku! Apa kamu sudah gendeng? Sebutkan saja berapa, aku pasti bisa kembalikan. Percayalah, aku pasti menang kali ini.

 

KARNOWO

Penjudi mana yang tidak yakin dirinya pasti menang, ha, ha, ha…

 

KARDIMAN

Jangan berlagak kamu!!! (MENGGEBRAK). Rumah ini boleh kamu ambil sewaktu-waktu.

KARNOWO

Sangkamu berapa harga rumah ini?

 

KARDIMAN

Aku tidak tahu.

 

KARNOWO

Sudahlah Pak Kardi, siapa anggap itu utang. Biarkanlah itu tertimbun. Kita ‘kan kawan baik.

 

KARDIMAN

Hmm…

 

KARNOWO

Sahabat abadi.

 

KARDIMAN

Hmm…

 

KARNOWO

Dalam suka dan duka.

 

KARDIMAN

Hmm…Di neraka!!

 

KARNOWO

Ha, ha, ha…

 

KARDIMAN

Pasti ada maksud di balik ketawamu. Apa itu? Ayo sebutkan saja apa yang kamu inginkan dariku!

 

KARNOWO

Hmm…Anu!

 

KARDIMAN

Anu apa?

 

KARNOWO

Wijasti.

 

KARDIMAN

Sudah kuduga.

 

 

KARNOWO

Tolonglah Pak Kardi. Sudah lama aku menginginkannya.

 

KARDIMAN

Menginginkannya untuk apa?

 

KARNOWO

Untuk menjadi biniku!

 

KARDIMAN

Bangsat! Sangkamu aku tidak tahu kalau kamu hanya ingin menari-nari di atas keperawanannya, ha! Jangan macam-macam kamu, kalau tidak ingin kupatahkan lehermu!

 

KARNOWO

Sumpah, aku sungguh-sungguh!

 

KARDIMAN

Bujuklah sendiri!

 

KARNOWO

Tidak bisa, Wijasti membenciku. Aku mohon Pak Kardi membantuku.

 

KARDIMAN

Memangnya gadis mana yang tidak akan membenci muka bangsat macam kamu.

 

KARNOWO

Bantulah aku Pak Kardi!

 

KARDIMAN

Apa jaminannya kalau kamu betul-betul tidak akan mempermainkannya?

 

KARNOWO

Kehormatan Pak Kardi yang mesti aku jungjung tinggi. Memangnya siapa kita ini? Terus terang, kalau aku mau, aku sanggup merenggut “mahkota” Wijasti dengan caraku sendiri. Paksaan dan atau kekerasan. Tapi saya hormat sama Pak Kardi. Aku bisa menempuhnya dengan cara damai, ha, ha, ha…

(MENGELUARKAN SEJUMLAH UANG). 

Bersenang-senanglah Pak Kardi, mumpung hayat masih dikandung badan. Jangan anggap ini utang. Pakailah sesukamu!

 

KARDIMAN

Cepat kamu pergi! Wijasti sudah datang. Lain kali kita bicarakan lagi soal ini. He, jam tujuh aku ke rumahmu mengambil uang itu. Jam delapan kamu boleh kemari menemui Wijasti. Edan, dia keburu masuk. Kamu sembunyilah dulu, nanti kukasih isyarat kapan kamu boleh hengkang. Jangan sampai dia tahu kita membicarakannya. Ayo cepat! (WIJASTI MASUK. KARDIMAN MEMBERI ISYARAT. KARNOWO KE LUAR MENGENDAP-NGENDAP).

 

ADEGAN II

 

KARDIMAN

Bagaimana ibumu?

 

WIJASTI

Sudah bisa tidur. Tidak perlu lagi mendengar ayah gaduh malam-malam.

 

KARDIMAN

Siapa yang membuat gaduh malam-malam?

 

WIJASTI

Bukankah ayah yang selalu mengganggu tidur ibu?

 

KARDIMAN

Aku tidak akan gaduh kalau kau tidak cerewet.

 

WIJASTI

Bukan. Ayah sengaja membuat gaduh untuk mengusik ketenangan ibu. Padahal akan lebih baik kalau ayah tidak perlu pulang malam-malam.

 

KARDIMAN

Oh ya, agar kau bisa bebas bercengkerama melampiaskan nafsu birahimu bersama laki-laki itu.

 

WIJASTI

(MENAHAN AMARAH)

 

KARDIMAN

He, bagaimana hubunganmu dengan laki-laki lembek itu?

 

WIJASTI

(DIAM)

 

 

KARDIMAN

Ha, ha, ha…Sumadijo. Dia sama sekali tidak pantas untukmu. Lembek dan tidak bisa berkelahi.

 

WIJASTI

Siapa pernah mengatakan aku cinta kepadanya? Kalau pun aku jatuh hati padanya, apa perduli ayah?

 

KARDIMAN

Jelas aku tidak sudi kalian berdua berada di rumah ini. Dia tidak mungkin bisa mempunyai rumah dengan pekerjaannya sebagai juru tulis kecil.

 

WIJASTI

Ayah sangka aku mengharapkan rumah ini?

 

KARDIMAN

Dengar Wijasti! Tak ada apa pun yang bisa kau harapkan dari pemuda loyo macam dia!

 

WIJASTI

Kalau ayah ingin pergi, pergilah! Hangatkan badanmu yang rapuh itu dalam dekapan perempuan-perempuan murahan!

 

KARDIMAN

Memang aku akan pergi. Pergi untuk membuktikan kelaki-lakianku dihadapan perempuan-perempuan sehat! Buat apa menghanyutkan diri dalam nestafa wanita yang tak pernah perduli terhadapku. Sakit-sakitan lagi!

 

WIJASTI

Memangnya pernah ayah memikirkan ibu yang selama ini terus menerus didera sakit?

 

KARDIMAN

Memangnya kapan ibumu memikirkan aku? Kapan ibumu sadar kalau dirinya itu istriku? Selama ini ia hanya mencintai laki-laki yang bukan aku! Buat apa aku memikirkan seorang perempuan yang berlaku demikian terhadapku? Buat apa?

 

WIJASTI

Ayah sangka aku percaya perkataan itu?

 

 

KARDIMAN

Ah! Sejak dulu kau selalu memihak ibumu dalam menimbang sesuatu. Itu yang mengakibatkan kau membenci aku.

 

WIJASTI

Tidak ada gunanya menuruti kemauan seseorang yang jiwanya kotor seperti ayah!

 

KARDIMAN

Nanti kau akan tahu, akulah yang lebih berharga dari siapa pun, termasuk ibumu. Berapa harga ibumu untuk hidupku? Dua pertiga dari hidupnya tergeletak sakit memikirkan kekasihnya. 

Apa yang ia berikan untukku selama ini? Nol!

 

WIJASTI

Ibu jatuh sakit karena memikirkan kehidupan ayah yang tak karu-karuan.

 

KARDIMAN

Bukan! Kekacauan hidupku hanyalah kutukan atas dosa-dosa ibumu. Ibu pertiwimu yang kau muliakan itu.

 (PAUSE).

 Wijasti, kau tahu betapa aku ingin memperbaiki semua ini, tapi tak ada seorang pun yang bisa kuharapkan. Bahkan kau lebih suka berpaling kepada laki-laki lembek macam Sumadijo. Melihatnya saja aku sangat muak. Benci! (PERGI).

 

 

ADEGAN III

 

SUMADIJO

Bagaimana keadaan ibu Wijasti?

 

WIJASTI

Tambah buruk. Sudah kubawa ke rumah sakit.

 

SUMADIJO

Ayahmu juga tidak ada di rumah?

 

WIJASTI

Kau ‘kan tahu bagaimana kebiasaan ayah. Kenapa selalu kau tanyakan?

 

SUMADIJO

Ya ibumu ‘kan sedang sakit keras. Mestinya ia turut memikirkannya.

WIJASTI

Rumah tangga ini sudah porak poranda. Kalau aku tidak memikirkan ibu, aku sudah minggat dari rumah ini.

 

SUMADIJO

Wijasti…

 

WIJASTI

Ssudah sejak lama ayah seperti bukan suami ibuku. Itu yang membuat ibu sakit. Sebaliknya, sakitnya ibu membuat ayah semakin tidak betah di rumah. Hubungan saling sebab yang semakin lama mencetuskan luka menganga. Ketidak perdulian yang mengakar dalam kebencian. Acuh. Seolah-olah makhluk asing satu sama lainnya.

 (PAUSE).

 Ayah makin kerap main judi, main bohong, dan…entah main apalagi. Aku sudah segan memikirkannya.

 

SUMADIJO

Lantas bagaimana kalian bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari?

 

WIJASTI

Kecuali menjual diri, kami jual apa saja yang bisa kami jual. Kau bisa bayangkan akan bagaimana keadaan rumah ini dalam setengah tahun lagi. Habis. Aku sendiri sudah tidak bisa membayangkannya.

 

SUMADIJO

Wijasti…Rasanya aku mau turut membantu. Katakan jika kau memerlukan sesuatu.

 

WIJASTI

Turut membantu apa umpamanya?

 

SUMADIJO

Ya…Seumpama kau memerlukan sesuatu untuk belanja.

 

WIJASTI

Ibu memerlukan seorang suami, dan aku perlu seorang ayah. Kami perlu seorang laki-laki yang tahu betul bahwa dirinya seorang suami dan ayah. Lain tidak!

 

SUMADIJO

Kalau begitu…Bagaimana kalau kita kawin saja, Wijasti! Mungkin ibumu akan girang hatinya.

WIJASTI

Dengar Dijo! Kebencian ayah kepadamu sudah tak terukur. Dia begitu benci akan sikap-sikapmu yang terlalu berperasaan, tidak suka pertentangan, dan apalagi kau tidak mau main judi. Bagaimana bisa ibu akan gembira? Bahkan ayah akan semakin merendahkan kau, karena kau bukan seorang lelaki yang sanggup melawan seseorang.

 

SUMADIJO

Ya…Aku memang tidak suka berkelahi. Aku tidak mau.

 

WIJASTI

Kalau begitu kau akan senasib dengan ibuku. Perlahan-lahan mati dalam kelelahan.

 

SUMADIJO

Tapi kita bisa pindah dari rumah ini, Wijasti.

 

WIJASTI

Ibu tidak mau meninggalkan rumah ini. Dan aku tidak bisa meninggalkan ibu. (MENAHAN PERASAAN). Sudahlah, jangan kita bicarakan lagi soal itu.

 

SUMADIJO

Tapi kau kawanku sejak kecil. Aku tidak sanggup melihatmu hancur.

 

WIJASTI

Lantas?

 

SUMADIJO

Mungkin…Akan lebih baik kalau kita meneruskannya dalam perkawinan.

 

WIJASTI

Anak-anak kita kelak akan mengalami keadaan-keadaan mengerikan macam yang dialami ayah dan ibuku sekarang. Meskinya kau berpikir sejauh itu.

 

SUMADIJO

Tapi antara kau dan aku bisa mengerti satu sama lain.

 

WIJASTI

Mulanya mungkin bisa. Tapi kemudian ayah akan meracuni hidup kita. Dan kau bukan seorang yang sanggup melawan. Jadi bagaimana bisa? Nanti kau akan melampiaskan kekecewaan di luar rumah. Dan aku menjadi senasib dengan ibu, mati perlahan-lahan karena memikirkan kau. (TAK DAPAT MENAHAN PERASAAN). (PAUSE).

 Luka keluarga ini sudah begitu parah. Apa yang bisa kau perbuat untuk mengobatinya selain membawa buah-buahan itu. Apa coba? Apa? Saat ini aku memerlukan seseorang yang sanggup mengalahkan ayahku. Seseorang yang bisa mempertemukan kembali ayah dan ibuku, dan sanggup meneguhkan kembali rumah tangga ini! Memang, sejak lama aku memikirkan kau. Tapi…(TAK KUASA MENAHAN TANGIS). Coba katakan apa yang bisa kau perbuat. Ayo katakan, jangan diam saja!

 

SUMADIJO

Ya…Tapi ayahmu itu ‘kan orang tua, dan aku anak muda. Jadi bagaimana mungkin aku boleh bersikap keras kepadanya?

 

WIJASTI

Maksudmu, itu melanggar kesopanan, ha? (SINIS). Baik, orang tua memang tidak boleh dilawan. Itu tidak sopan, tidak beradab. (PAUSE). Lihat ayahku datang. Tampang macam itu yang katamu teramat susila untuk dilawan. Lihatlah, kau sudah satu bulan tidak melihatnya ‘kan? Kau bisa melihatnya bagaimana sekarang ia menjadi lebih rusak, pucat dan kasar. 

(WIJASTI MASUK KE KAMAR. KARDIMAN DATANG).

 

 

ADEGAN IV

 

KARDIMAN

Sumadijo…ha, ha, ha, ha…(MENGEJEK).

 

SUMADIJO

(MENAHAN PERASAAN)

 

KARDIMAN

Sudah puas bercengkerama dengan Wijastimu?

 

SUMADIJO

(MENAHAN PERASAAN)

 

KARDIMAN

Mukamu memperlihatkan Wijasti telah memakan hatimu, ya!

 

SUMADIJO

(MENAHAN PERASAAN)

KARDIMAN

Orang perempuan memang suka makan hati. Tapi jangan khawatir, Wijastimu itu perawan alim dan berperasaan sangat halus, ha ha ha ha…

Dia sangat cocok untuk membuat rumah tangga menjadi tenteram, tenang dan sunyi. Ia sangat membenci orang yang suka berjudi, apalagi melacur. Jadi, kamu tidak usah khawatir jadi melarat. Ha, ha, ha, ha…

 

WIJASTI

(DALAM KAMAR). 

Kurang keras tertawanya! Ibu pasti sudah merindukan teriakan-teriakan ayah!

 

KARDIMAN

Oh…Jadi kita harus berbicara halus dan penuh perasaan. Ha, ha, ha…

Orang sakit memang harus banyak tidur. Tapi kalau tidur terus, itu memuakkan. Iya, kan, Wijasti? 

Hei, Dijo! Kamu tak menengok ibu mertuamu? Tengoklah kalau kamu ingin menjadi menantu orang. Ia pasti akan sangat suka sama perjaka macam kamu. Halus perasaan, pendiam, tidak suka melacur, tidak suka mabuk dan judi, dan ha, ha, ha, ha…kelihatan pengecut! 

Apa pekerjaanmu sekarang? Masih menjadi juru tulis di kantor kecil dekat comberan busuk itu? Berapa gajimu?

 

SUMADIJO

(DADANYA NAIK TURUN HAMPIR MELEDAK)

 

KARDIMAN

Oh…Maaf. Maaf kalau perkataanku menyinggung perasaanmu. Biasa, kan, seorang calon mertua menanyakan sesuatu mengenai pekerjaan calon menantunya? Jangan sangka itu penghinaan. Masa seorang calon mertua menghina calon menantunya, enggak toch? Ha, ha, ha…

Anggaplah itu kata-kata dari hati ke hati.

 

SUMADIJO

(MARAH). Jadi betul semua yang dikatakan Wijasti!

 

KARDIMAN

Apa yang betul, ha?

 

SUMADIJO

Bapak tidak berperasaan sedikitpun. Saya tidak mungkin bisa hidup bersama keluarga macam begini!!

 

KARDIMAN

Keluarga macam begini? Keluarga macam apa kamu bilang?

 

SUMADIJO

Keluarga macam setan!! 

 

(KE LUAR).

KARDIMAN

Hei! Kau sendiri macam apa, ha? Pemuda, kok, macam perempuan. Loyo, lembek, penakut! Kau itu macam setan perempuan!! 

Pemuda tidak berharga sepeserpun! Jangan pernah kembali lagi kemari! Setan!!!

 

 

ADEGAN V

 

WIJASTI

Macam apa laki-laki berharga itu?

 

KARDIMAN

Yang bersifat laki-laki!

 

WIJASTI

Yang bersifat laki-laki itu macam apa?

 

KARDIMAN

Ya, yang berani melawan seseorang yang menghinanya!

 

WIJASTI

Apa lagi?

 

KARDIMAN

Ah…macam-macam lagi!

 

WIJASTI

Berteriak-teriak selagi istrinya sakit keras, itu juga termasuk sifat laki-laki?

 

 

KARDIMAN

Aku tidak berkata begitu. Aku hanya ingin meluapkan perasaan benciku terhadap pemuda lembek itu. (PAUSE). 

Wijasti, bukannya aku mau mengekang perasaanmu. Percayalah, Sumadijo itu tidak akan sanggup membahagiakanmu. Aku semakin sadar untuk belajar lebih banyak dari pengalaman-pengalamanku. Kau tahu, betapa ingin aku memperbaiki hidupku dan rumah tangga Ini. Aku memang tidak pernah memperhatikan ibumu. Tak ada usaku sedikitpun untuk membalas budi. Aku sadar itu perbuatan jahat. Aku menyesal, sungguh!!!

 

WIJASTI

Sudah tiga kali ayah mengaku menyesal, dan tidak pernah ada buktinya. Dulu ayah menyesal hanya untuk membujuk perhiasanku. Kali ini untuk apa, kalau aku boleh tahu?

 

KARDIMAN

Wijasti, sekali ini aku tak bermaksud apa pun. Aku hanya ingin menyembuhkan ibumu. Ya…Tapi kau bisa percaya bisa tidak. Akutelah berusaha mengatakannya dengan tulus. Tidak ada penderitaan seberat ini, Wijasti. (BERLAGAK MENANGIS).

 Berdosa kepada istri dan anakku. Aku hampir tidak sanggup mengembalikan kebahagiaan rumah tangga ini. Aku memang laknat! (PAUSE).

 Aku berjanji kepadamu, Wijasti. Pertama, aku tak akan pergi lagi malam-malam untuk mabuk, judi dan bermain perempuan. Kedua, aku tak akan lagi berbicara kasar. Dan ketiga…aku…aku harus menemukan seorang suami yang bisa membahagiakanmu dengan benar. Bisa mengangkat rumah tangga ini.

 

WIJASTI

Dan itu bukan laki-laki lembek macam Sumadijo, begitu maksud ayah?

 

KARDIMAN

Ya! Tidak macam Sumadijo, pemuda lemah lembut dan tidak mempunyai keberanian.

 

WIJASTI

Lantas?

 

KARDIMAN

Wijasti, jangan sangka aku akan memaksamu kawin dengan seseorang. Kau tergolong gadis cantik. Hanya kemiskinan memang telah membuatmu tampak tak terurus. Dan kau sama sekali tak sepadan dengan Sumadijo. Tapi kalau kau memang jatuh hati pada pemuda itu, aku pun tidak akan menghalangi. Besok pagi aku akan mencari pekerjaan. Kebetulan ada seorang kawan baik yang akan menerimaku bekerja. Ia seorang pemuda tampan dan suka menolong.

 

WIJASTI

O ya?

 

KARDIMAN

Tentu saja, Wijasti.

 

WIJASTI

Ia sanggup membiayai ibu di rumah sakit?

 

KARDIMAN

Tentu. Bahkan kau bisa dengan mudah berkenalan. Lagi pula, ia sering menanyakan kau juga.

 

WIJASTI

Tentu ia menaruh perhatian kepadaku?

 

KARDIMAN

Ya.

 

WIJASTI

Ia laki-laki jantan macam yang ayah inginkan?

 

KARDIMAN

Ya.

 

WIJASTI

Berpendidikan baik?

 

KARDIMAN

Tentu. Bahkan pergaulannya sangat luas. Suka berbuat sesuatu yang dibutuhkan orang lain.

 

WIJASTI

(TERTAWA GETIR). Rupanya ayah memimpikan sesuatu yang mustahil terjadi.

 

KARDIMAN

Wijasti!

WIJASTI

Biaya untuk ibu mesti segera disiapkan!

 

KARDIMAN

Tak jadi soal! (TANPA DISADARI). Aku bisa meminjam lagi pada pemuda itu.

 

WIJASTI

Apa? Meminjam?

 

KARDIMAN

(GUGUP). Mm…ng…ya, meminjam lagi.

 

WIJASTI

Memangnya ayah telah berhutang kepadanya?

 

KARDIMAN

Ya…Ia telah banyak menolong aku. Menolong kita selama ini. Wijasti, aku banyak kalah judi. Dialah yang member tambahan belanja selama ini.

 

WIJASTI

Berapa hutang itu?

 

KARDIMAN

Jangan khawatir. Aku sanggup mengembalikannya setelah ada uang. Sudilah jau membantuku, Wijasti!

 

Wijasti

(SINIS). Oh, tentu. Tentu aku mau membantu. Ia mempunyai perusahaan?

 

KARDIMAN

Ya, bahkan kau tidak perlu bekerja jika kau mau.

 

WIJASTI

Lalu dengan cara apa aku bisa membantu?

 

KARDIMAN

(SALAH TINGKAH)

 

WIJASTI

Bagaimana itu, ayah? Bagaimana itu? Katakanlah!

 

KARDIMAN

(GUGUP). Kau…harus…

 

WIJASTI

Dengan menjadi istri Karnowo maksud ayah? Karnowo si Bengal itu? (GERAM).

 

KARDIMAN

(DIAM)

 

WIJASTI

Artinya aku harus menjual diriku kepadanya, dan menjalani kehidupan bersama seorang lelaki yang paling kubenci selama ini.

 

KARDIMAN

Bukan begitu, Wijasti.

 

WIJASTI

Itu maksuda ayah!

 

KARDIMAN

Wijasti, rasa cinta itu bisa tumbuh dalam pergaulan. Banyak contohnya.

 

WIJASTI

Ayah sangka dengan begitu bisa menolong ibu dan rumah tangga ini?

 

KARDIMAN

Wijasti, tolonglah…

 

WIJASTI

Tidak ayah. Itu hanya sekali dalam hidup seorang wanita! Bagaimana mungkin ayah mau menghancurkannya! (TAK KUASA MENAHAN TANGIS).

 

KARDIMAN

Aku tidak bermaksud menjual harga dirimu, apalagi mau menghancurkanmu. Percayalah, semua ini kutempuh demi kebaikan ibumu. Demi kebaikan kita. Berapa sih harga kehormatan dan harga diri bila dibandingkan dengan tujuan mulia untuk menyembuhkan orang yang kita cintai dan untuk memperbaiki rumah tangga ini? Harga sebuah kehormatan bisa kita buat kalau dilandasi oleh alasan-alasan yang benar dan bertujuan mulia. Kenapa mesti kau risaukan? Dan apa salahnya kita mencoba sesuatu yang orang lain tidak mau mencoba?

 

WIJASTI

Tidak! Aku tidak akan berbuat sekeji itu!!!(MELEDAK).

KARDIMAN

Hei Wijasti! Memangnya seberapa jauh perbedaan “perbuatan begitu” antara sebelum dan sesudah kawin? Itu sama sekali tidak akan merubah apa pun. Dan yang paling penting, tokh ia akan mengawinimu. Akan mempertanggung jawabkan perbuatannya, karena ia mencintaimu. Coba katakan padaku, apa perbedaanya!

 

WIJASTI

Semua orang beradab sudah tahu!

 

KARDIMAN

Tidak! Perbuatan macam yang kutawarkan itu adalah perbuatan baik, karena untuk sesuatu yang lebih suci, yakni kecintaan kepada seorang ibu, seorang istri. Apa bedanya bersuamikan Karnowo atau Karnowi?

 

WIJASTI

Omong kosong! Tidak ada perbuatan suci yang begitu mudah mengobral kesucian. Aku pergi sekarang juga!

 

KARDIMAN

Terserah apa maumu.

 

WIJASTI

Pergi dan tak akan kembali lagi. Kalau ibu mati, itu bukan salahku. Aku tak mau menanggung kejahatan seseorang.

 

KARDIMAN

Besok rumah ini sudah bukan kepunyaan kita lagi, kalau kau pergi!

 

WIJASTI

Apa maksud ayah?

 

KARDIMAN

Jangan pura-pura bego! Rumah ini atau kehormatanmu yang tak seberapa itu!

 

WIJASTI

Berapa hutang ayah kepadanya?

 

KARDIMAN

Wijasti, aku berjanji akan menjadi baik kalau kau mau menolongku sekali ini saja.

 

 

WIJASTI

Berapa hutang ayah?

 

KARDIMAN

Hanya sekali ini aku bisa berbuat baik kepada ibumu, tak ada kesempatan lain. Tolonglah sebelum terlambat, Wijasti!

 

WIJASTI

Ayah belum menjawab pertanyaanku!

 

KARDIMAN

Pertanyaan mana?

 

WIJASTI

Berapa hutang ayah?

 

KARDIMAN

(SETELAH DIAM). Dua kali harga rumah ini beserta isinya. Hanya kau yang bisa menolong. Ini kesempatan terakhir.

 

WIJASTI

Aku pergi! Aku tak mau mengorbankan diriku untuk seseorang yang berwatak kejam macam ayah.

 

KARDIMAN

Jadi kau mau ayah macam apa?

 

WIJASTI

Ayah yang menyadari dirinya seorang ayah!

 

KARDIMAN

Macam apa itu?

 

WIJASTI

(MEMBANTING SESUATU). Aku tak mau mengakui ayah mulai sekarang!

 

KARDIMAN

He, memangnya siapa pernah mengatakan aku ayahmu, ha?

 

WIJASTI

(TERSENTAK). Kau…bukan…ayahku?

 

 

 

KARDIMAN

Kau boleh pergi dari sini! (MELEDAK). Memangnya berapa hargamu yang sebenarnya, ha? Dengar, aku kawin dengan ibumu karena aku diminta melindungi ibumu dari aib yang telah dibuatnya. Kau telah dalam kandungan sebelum aku menjadi ayahmu. Ibumu kawin denganku, tapi tak pernah mencintaiku. Ia membeli kelaki-lakianku hanya untuk menutupi hasil perbuatan nistanya. Aku mau karena ibumu kaya waktu itu. Tapi bagaimana mungkin aku tidak mencari perempuan lain di luar rumah? Sekarang pergilah! Tapi semua orang akan tahu bahwa kau anak jadah yang tak pernah berbapak! Pergilah!!! Harga macam apa yang kau tuntut? Aku yang telah melindungimu selama ini. Sekarang aku hanya minta pertolonganmu untuk sekali ini saja.

 

WIJASTI

Kau telah memeras kami berdua, tapi kau bilang telah melindungi!

 

KARDIMAN

Kalau saja ibumu bisa melupakan laki-laki itu, ayahmu, yang tak pernah kau ketahui itu, barangkali tidak perlu terjadi macam begini. Mungkin aku tidak perlu menghabiskan waktuku untuk berjudi, melacur dan mabuk. Harga macam apa yang kau tuntut dari perkawinan macam begini, ha?

 

WIJASTI

Ibu akan mati!

 

KARDIMAN

(SETELAH DIAM). Telah lama aku menginginkannya! (PERGI).

 

 

ADEGAN VI

 

Tembang lirih Wijasti dalam kamar. Sunyi dan sendu. Sumadijo masuk. Lapat-lapat ia memanggil nama Wijasti beberapa kali, tak berjawab. Ia mendapatkan foto Kardiman di dinding, membantingnya berantakan. Tembang Wijasti terhenti seketika.

 

 

ADEGAN VII

SURTINI

Saya mencari saudara Kardi. Dia menipu saya beberapa kali!

 

 

WIJASTI

Siapa anda? Duduklah!

 

SURTINI

Saya Nyonya Surtini.

 

WIJASTI

Duduklah!

 

SURTINI

Sudah saya katakana, saya mau ketemu “Tuan” Kardi. Dia menipu saya.

 

WIJASTI

Duduklah!

 

SURTINI

Memangnya kamu apanya “Tuan” Kardi? Istri bontotnya ya?

 

WIJASTI

Saya penunggu rumah ini. Duduklah!

 

 

SURTINI

Kamu pasti anaknya. Lantas mana istri “Tuan” Kardi?

 

WIJASTI

(MELEDAK TIBA-TIBA, MEMBANTING FOTO KARDIMAN). Duduklah atau enyah dari sini! Berlakulah sopan! Saya harap “Nyonya” tahu, “Tuan” Kardi tidak pernah pulang ke rumah ini, karena kami membencinya!

 

SURTINI

(DUDUK AGAK KETAKUTAN). Tapi dia menipu saya.

 

WIJASTI

Bagaimana dia menipu Nyonya?

 

SURTINI

Ia menipu saya dengan mengatakan sudah tak beristri, mengaku punya perusahaan, lalu meminjam uang. Sampai sekarang hangus uang itu. Ia tiga kali menyanggupi akan mengawini saya, tapi tak pernah ada buktinya. Padahal…

 

WIJASTI

Padahal apa?

SURTINI

Dia sudah berkali-kali melakukannya, sampai saya malu jadi pergunjingan tetangga.

 

WIJASTI

Melakukan apa?

 

SURTINI

Meniduri saya!

 

WIJASTI

Bodoh!!!

 

SURTINI

Ya begitu itu perbuatan “Tuan” Kardi!

 

WIJASTI

Dan perbuatan Nyonya juga!

 

SURTINI

Tapi dia terlalu, terlalu sekali terhadap perempuan! Dia bahkan telah menipu dua orang saudaraku pula, dengan mengatakan baru kehilangan istrinya dan merasa kesepian. Akibatnya kami saling cemburu sesama saudara. Dasar buaya! Sudah bau tanah masih ngos-ngosan sama perempuan. Saya sanggup meracuni laki-laki macam begitu!

 

WIJASTI

Saya juga sanggup Nyonya!

 

SURTINI

Dia itu penyakit bagi kehidupan wanita!

 

WIJASTI

Nyonya juga penyakit bagi kehidupan laki-laki!

 

SURTINI

Ah sudah, sudah! Kamu sama saja dengan bapakmu! Berbelit-belit dan susah diajak ngomong baik-baik.

 

WIJASTI

Terserah Nyonya!

 

SURTINI

Pokoknya saya ingin bertemu dengan si Tua Belang itu!

WIJASTI

Dia sudah dua malam tidak pulang. Tidak ada gunanya ditunggu.

 

SURTINI

Saya tahu dia pulang tadi, ada orang yang melihatnya menuju kemari!

 

WIJASTI

Ya tunggulah kalau mau!

 

SURTINI

Hehm, pembohong juga rupanya kamu!

 

WIJASTI

Saya hanya minta Nyonya pulang sekarang. Atau silahkan menunggu kalau mau. Saya tidak punya waktu meladeni Nyonya, karena saya tidak punya urusan dengan Nyonya. (MASUK KAMAR).

 

SURTINI

Saya akan menunggu sampai dia pulang!

 

WIJASTI

Tunggulah.

 

SURTINI

Saya belum puas kalau belum meludahi mukanya yang jelek itu!

 

WIJASTI

Puaskanlah!

 

SURTINI

Saya akan menikamnya jika perlu!

 

WIJASTI

Tikamlah! Bahkan kalau perlu telan saja mentah-mentah!

 

SURTINI

Diam kamu! Saya lagi marah benar sama dia! Kamu jangan ikut-ikutan!

 

WIJASTI

(MELANTUNKAN TEMBANG LIRIH LAGI).

 

SURTINI

(TAK ENAK DIAM, HENDK PERGI, BERTABRAKAN DENGAN SUMADIJO DI PINTU). 

Heh, di mana kamu simpan mata kamu? Di pantat ya? Main tubruk saja! Ooh, kamu anak Kardiman juga ya? Pantas mukamu tak sedap dipandang! Celingukan, pura-pura tak lihat orang segede ini, ha!

 

SUMADIJO

Eh, kamu yang melihatku pakai pantat, bukannya pakai dengkul! Dan muka siapa yang kamu bilang tak sedap dipandang pantat, ha?

 

SURTINI

Kubilang mata, bukan pantat!

 

SUMADIJO

Mata dan pantat bagi orang cerewet macam kamu sama saja! Dan dari segi apa kamu menganggapku sebagai anak Kardiman, ha?

 

SURTINI

Roman mukamu memper muka dia!

 

WIJASTI

(MENDORONG KASAR SURTINI DAN SUMADIKO KE LUAR).

 Di sini tidak ada keturunan Kardiman, laki-laki jalang itu! Pergi kalian!!! (BERDIRI LUNGLAI MENGHADAP JENDELA. KARNOWO MASUK DIAM-DIAM, DENGAN BIRAHI MENGGUMPAL).

 

ADEGAN VIII

KARNOWO

Wijasti…

 

WIJASTI

Mau apa kau kemari!

 

KARNOWO

Ayahmu sudah cerita tentang aku?

 

WIJASTI

Sudah!

 

KARNOWO

Apa yang dia ceritakan?

 

WIJASTI

Kau seorang yang berbudi!

 

 

KARNOWO

Betul ayahmu berkata begitu?

 

WIJASTI

Tapi aku tidak percaya, karena aku tahu macam apa kau.

 

KARNOWO

Ya beginilah aku. Syukurlah kalau kau sudah mengenalinya.

 

WIJASTI

Aku sudah tahu semua rencanamu dan rencana ayahku terhadapku!

 

KARNOWO

Bagus! Tapi kau jangan salah mengerti akan niatku. Masa aku tega berbuat yang kurang ajar terhadap perempuan?

 

WIJASTI

Oh, jadi ada yang betul yang belum kau katakana?

 

KARNOWO

Aku ingin menengok ibumu!

 

WIJASTI

Oh ya?

 

KARNOWO

Tentu ibumu akan senang kalau kau menemaniku ke sana.

 

WIJASTI

Sangkamu ibuku akan senang kau menengok? Dia tidak menyukaimu sejak tahu banyak tentang kekurangajaranmu terhadap keluarga kami!

 

KARNOWO

Maka itu aku perlu minta maaf. Aku menyesal, sungguh!

 

WIJASTI

Ha, ha, nampak sekali kau tidak pernah membujuk seseorang. Kau memang sudah biasa merenggut sesuatu dengan membelinya.

 

KARNOWO

Dulu aku memang sering membujuk seseorang, bahkan membelinya sekadar untuk menghempaskan kesunyian yang mengoyak-ngoyak. Tapi sekali ini tidak Wijasti. Aku sungguh-sungguh! Kini aku benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa mengerti hidupku.

WIJASTI

Aneh, kau bisa menerka bahwa aku mengerti kehidupanmu!

 

KARNOWO

Siapa bilang kau yang kumaksud?

 

WIJASTI

Dari caramu menatapku!

 

KARNOWO

Pokoknya besok kita pergi berdua menengok ibumu!

 

WIJASTI

(TERSENYUM MENERKA). Lantas kita pergi dari kampung halaman, dan menginap disuatu tempat nun jauh di sana dengan segala kemewahan dan kenyamanan?

 

KARNOWO

(TERSINDIR). Ya kalau kau menghendaki? Itu mudah saja bagiku!

 

WIJASTI

Dengan begitu kau leluasa mencapai keinginanmu terhadapku!

 

KARNOWO

(DIAM TERSENTAK)

 

WIJASTI

Jawablah! Kenapa diam?

 

KARNOWO

Tak sejauh itu pikiranku!

 

WIJASTI

Jawablah dengan benar!

 

KARNOWO

Itu perbuatan paling jahat dalam kehidupan laki-laki!

 

WIJASTI

Kurasa tidak!

 

KARNOWO

Jangan meremehkan aku! Kau menaruh prasangka terhadapku!

 

 

WIJASTI

Bukan prasangka kalau nyatanya memang begitu! Aku sudah tahu semuanya. Memperdayaku, itu tujuanmu yang utama. Aku tidak tahu mengapa kau harus sebengis itu! Kukira bukan hanya luapan birahi yang meliputi hidupmu, mungkin ada desakan dendam yang menyelinap dalam perasaanmu karena sakit hatimu terhadapa orang lain dank au tak sanggup membalasnya! Atau mungkin karena cintamu tak dihargakan seorang perempuan, karena cintamu itu cinta rendahan! Tapi mengapa mesti kau tumpahkan semua itu terhadapku? Apa salahku hingga aku harus menjadi korbanmu? Apa???

 

KARNOWO

(NAFSU MELENGGAK HAMPIR TUMPAH). Tidak!! Itu tidak benar, itu terkutuk! Tapi dengar oleh nuranimu yang tak berharga itu, kalau hanya untuk membalas perasaan sakit hati karena tersinggung oleh ucapan-ucapanmu, penilaianmu terhadapku tidak terlalu meleset! Aku sanggup menindihmu dengan bengis!

 

WIJASTI

Kau benar-benar akan merenggutku. Sesuatu yang hanya sekali berharga dalam hidup seorang wanita.

 

KARNOWO

Begitukah tekadmu menilaiku?

 

WIJASTI

Tidak lain!

 

KARNOWO

Aku tahu mengapa kau begitu keji menilaiku. Karena kau merasa diri tak berharga, dan karenanya kau berbuat begitu untuk mendapat harga. Atau karena kau tak pernah mendapat penghargaan laki-laki, itu makanya kau tuding aku secara kejam agar kau mendapat perhatian besar dariku!

 

WIJASTI

(MENAMPARNYA)

 

KARNOWO

Terimakasih! Sebuah tamparan yang manis.

 

WIJASTI

Kau seolah menelanjangiku hanya agar seluruh dunia tahu bahwa kau tidak bermaksud memperdayaku?

 

KARNOWO

Ya! (MENDEKAT DAN MERANGSANG). Karena kau amat berharga bagiku!

 

WIJASTI

(MENGELAK). Apa maksudmu?

 

KARNOWO

Tunjukkan bahwa kau juga menghargaiku! Tunjukkan bahwa kau membalas perasaanku!

(NAFSU KARNOWO TUMPAH-RUAH TAK TERBENDUNG. IA MENDEKAP WIJASTI SEKUAT TENAGA. WIJASTI MERONTA-RONTA TAK BERDAYA. DALAM KAMAR YANG SUNYI, WIJASTI TERKAPAR DALAM AMUK BIRAHI KARNOWO).

 

ADEGAN IX

 

WIJASTI

Mau kemana kau sekarang?

 

KARNOWO

Pulang!

 

WIJASTI

Sesudah kau puas mencabik-cabik harga kewanitaanku?

 

 

KARNOWO

Jangan berlagak bego! Kau juga menikmatinya!

 

WIJASTI

(PUTUS ASA). Ya, aku menikmati kehancuranku.

 

KARNOWO

Ya. Berdua kita telah merengguk kealpaan semesta. Kau jangan mengingkarinya!

 

WIJASTI

Tak ada pilihan bagiku, kecuali menyelinapkan hidupku dalam luapan dendam dan nafsu bejatmu!

 

KARNOWO

Apa maumu?

 

WIJASTI

Kawini aku! Aku harus sanggup hidup bersamamu.

 

KARNOWO

Kau menginginkan itu?

 

WIJASTI

Itu mesti kau lakukan kalau kau sungguh laki-laki!

 

KARNOWO

Kenapa mesti?

 

WIJASTI

Kau sudah berjanji seperti dikatakan ayahku!

 

KARNOWO

Ha, ha, ha…Buat apa berjanji dan bersungguh-sungguh terhadap anak penipu, penjudi, dan perusak perempuan?

 

KARNOWO

(MENEMPELENGNYA). Jangan kau bawa-bawa ayahku!

 

KARNOWO

Tapi kau memang anak Kardiman si buaya tua itu! (HENDAK PERGI).

 

WIJASTI

Kau tidak bisa pergi begitu saja!

 

KARNOWO

Dengar, sekarang kuceritakan yang sebenarnya! Ayahmu itu buaya. Buaya! Kekasihku telah dirusaknya dan dia seakan tak menanggung beban apa-apa. Kehancuran kekasihku adalah kehancuranku! 

Aku bisa dengan mudah membunuh ayahmu. Tapi itu tidak setimpal. Jalan terbaik untuk membalasnya adalah dengan melemparkanmu ke lembah nista seperti sekarang ini, agar dia tahu bagaimana rasanya tenggelam ke dalam lumpur sakit hati. 

Sangkamu aku saying padamu? Tidak! Melihat mukamu saja aku muak karena terbayang muka si buaya itu! 

Kau ingin tahu lebih banyak tentang apa yang paling berharga pernah dilakukan ayahmu dalam hidupnya? Ia merenggut gadis-gadis dan menyeretnya ke rumah pelacuran hanya untuk kepuasan dan dendam kesumat yang tak jelas! 

Sekarang, bagaimana mungkin kau mau menuntut harga lebih padahal darah sampah itu mengalir deras di sekujur tubuhmu? Sangkamu kau bisa mengangkat dirimu ke tempat yang lebih baik, oh sungai yang berasal dari mata air yang keruh, ha, ha, ha…

 

WIJASTI

Kau tidak tahu siapa aku sebenarnya!

 

KARNOWO

Semua orang tahu kau anak si jahanam tua itu!

 

WIJASTI

Apa kau melihat sendiri bagaimana aku dilahirkan oleh seorang ibu yang bersuamikan Kardiman?

 

KARNOWO

Kalau benar begitu, lebih buruk kodratmu, sebagai anak tak berbapak, anak haram!

WIJASTI

Anak buaya atau anak haram, siapa yang mau perduli. Kebusukan seseorang tidak ditentukan oleh kodratnya.

 

KARNOWO

Ha,ha,ha…Siapa mau memikirkan itu! Aku pergi!

(KELUAR. BERPAPASAN DENGAN SUMADIJO YANG HENDAK MASUK. KARNOWO TERTAWA-TAWA KECIL PENUH EJEKAN DAN KEBUASAN, MEMANDANG RENDAH SUMADIJO. SUMADIJO NAMPAK MARAH TAPI TAK BERDAYA DAN NYARIS MENGGIGIL KETAKUTAN. WIJASTI MENATAP KEDUANYA DENGAN PENUH KEBENCIAN. KARNOWO PERGI DENGAN LANGKAH PUAS YANG KEJI, SUMADIJO UNDUR DIRI TANPA KEPERCAYAAN DIRI).

 

ADEGAN X

 

SURTINI

Wijasti, tolonglah. Keadaanya sangat mendesak.

 

WIJASTI

Sudah saya katakana, urusan Nyonya tidak kena-mengena dengan saya.

 

SURTINI

Bukan begitu. Ia sudah dua malam di rumah saya.

 

WIJASTI

Bagus.

 

SURTINI

Tapi dia tidak mau pergi!

 

WIJASTI

Tentu itu menyenagkan Nyonya.

 

SURTINI

Tidak, Wijasti! Saya malah menjadi takut sekarang. Gunjingan tetangga sudah semakin santer.

 

WIJASTI

Kenapa mesti takut?

 

SURTINI

Tentu saja saya takut! Bagaimana nanti kalau saya dipaksa kawin?

 

WIJASTI

Bukankah itu yang Nyonya inginkan?

 

SURTINI

Tidak, Wijasti! Saya malu sekali…Anak saya sudah besar-besar. Mereka belum pada kawin. Mereka mulai marah-marah sama saya. Sudilah kamu menolong, Wijasti…

 

WIJASTI

Nyonya urus saja sendiri.

 

SURTINI

Aduh, tolonglah, Wijasti. Malam nanti mereka pasti akan ramai-ramai mengawinkan saya.

 

WIJASTI

Kawinlah!

 

SURTINI

Wijasti…Bagaimanapin Kardi itu ayahmu. Kamu tidak bisa berdiam diri begitu!

 

WIJASTI

Dengar! Kardiman bukan ayah saya. Nyonya boleh usir dia, atau kawin dengannya! Jangan harap saya mau menengoknya sekalipun! Sampaikan kepadanya!

 

SURTINI

Kamu mestinya malu, Wijasti jelek-jelek dia ayahmu!

 

WIJASTI

(MARAH). Dia bukan ayahku. Besok saya pergi dari rumah ini. Pergi untuk selamanya. Ibu saya pun sudah mati. Jadi tidak ada lagi urusan saya di sini.

 

SURTINI

Wijasti…

 

WIJASTI

Uruslah dia, Nyonya. Dia harga setimapal yang harus Nyonya bayar. Pergilah.

 

SURTINI

Wijasti…

 

WIJASTI

Kenapa masih menunggu?

 

SURTINI

Saya takut, Wijasti…Saya malu tertangkap basah.

 

WIJASTI

Kalau begitu panggil orang-orang untuk mengusir dia.

 

 

 

SURTINI

Kasihan Mas Kardi…

 

WIJASTI

Jadi apa mau Nyonya?

 

SURTINI

Tolonglah saya, Wijasti. (SUMADIJO MUNCUL).

 

 

ADEGAN XI

 

SUMADIJO

Nah! Ini si mata pantat yang dulu memaki-maki saya! Mau apa datang lagi kemari?

 

SURTINI

(MENANGIS). Iya, saya pernah memaki-maki Saudara karena saya tidak tahu. Maafkan saya, Mas…

 

SUMADIJO

Ya, sudah! Tidak apa-apa. Kenapa menangis?

 

SURTINI

Waduh, saya sedang kerepotan, Mas!

 

SUMADIJO

Kenapa?

 

SURTINI

Mas Kardi, ayah Wijasti, sakit keras. Telah dua malam di rumah saya. Saya tidak sanggup merawatnya. Saya takut para tetangga akan mengawinkan kami, kalau mereka menyangka kami ada hubungan gelap.

 

SUMADIJO

Kenapa tidak minta tolong Wijasti?

 

SURTINI

Sudah, Mas…Wijasti ‘ndak mau menerima kembali Mas Kardi di rumahnya. Tolonglah, Mas…

 

SUMADIJO

Bagaimana saya menolongnya?

SURTINI

Bantulah Mas Kardi menginap di tempat Mas untuk sementara.

 

SUMADIJO

Ya, baik. Kita bawa saja ke sana.

 

SURTINI

Selama dia sakit saja, Mas! Sesudah itu kita pikir sama-sama.

 

SUMADIJO

Ya, tentu.

 

SURTINI

Eh! Mas namanya siapa?

 

SUMADIJO

Sumadijo, Bu.

 

SURTINI

Sumadijo? Wah! Cocok sekali nama itu! Artinya selalu sedia menolong orang! Tidak macam Wijasti.

 

WIJASTI

Tentu tidak sama antara aku dengan dia. Dia baik budi. (KE SUMADIJO). Rawatlah dia agar kau mendapat hadiah anaknya. Tapi ketahuilah, sekarang aku bukan anak Kardiman.

 

SUMADIJO

Kenapa kau ini? Kok tidak boleh aku menolong ayahmu?

 

WIJASTI

Dia bukan ayahku. Kau harus tahu itu.

 

SUMADIJO

(TERKEJUT). Kamu kesurupan, ya? Aku mau menolongnya demi kau!

 

WIJASTI

Jangan mengharapkan sesuatu dariku. Dan aku tidak percaya perkataanmu itu benar setelah kau tahu siapa aku.

 

SUMADIJO

Aku tidak perduli riwayatmu.

 

WIJASTI

(TERSENYUM SINIS)

 

SUMADIJO

Bahkan kalau kau telah mengalami sesuatu apapun!

 

WIJASTI

Aku ingin menguji kelaki-lakianmu. Dengar! Kemarin malam aku telah tidur bersama dengan Karnowo.

 

SUMADIJO

(MELONGO)

 

WIJASTI

Sekarang sanggupkah kau membuktikan ucapanmu?

 

SUMADIJO

(TERPATAH-PATAH). Kau…tidur…dengan…dia?

 

WIJASTI

Ya.

SUMADIJO

(TERPATAH-PATAH). Tidur…dalam…arti…tidur?

 

WIJASTI

Ya. Kini aku sudah bukan perawan lagi.

 

SUMADIJO

Edan! Ini sudah keterlaluan!

 

WIJASTI

Aku sudah tahu kau tidak akan sanggup.

 

SUMADIJO

Tapi itu di luar batas perkataanku!

 

WIJASTI

Tidak seorangpun akan sanggup memegang kata-katanya kalau dia bukan seorang laki-laki atau perempuan sejati.

 

SUMADIJO

Kau…Wijasti…(PUNCAK KEMARAHAN).

(KARDIMAN MUNCUL SEPERTI MAYAT HIDUP. SURTINI SEGERA MENARIK SUMADIJO DAN MEMBAWANYA PERGI).

 

ADEGAN XII

 

KARDIMAN

(DENGAN BIBIR BERGETAR). Kudengar…kau tidak mau lagi menerimaku, Wijasti.

 

WIJASTI

Karnowo telah merenggutku. Kini aku hancur dan ibu sudah mati. Tidak ada lagi hubungan antara kau dan aku.

 

KARDIMAN

(NYARIS AMBRUK MENAHAN PERASAAN). Cepat benar segala sesuatu menghilang…

 

WIJASTI

Waktu akan segera melenyapkanku pula dari sini.

 

KARDIMAN

Ohhh…(MENANGIS). 

Tidak ada seorangpun yang dapat kuharapkan kini. Surtini menolakku setelah aku tak beruang dan tanpa daya. Kau harapan terakhirku, pupus sudah. 

Wijasti…kukerahkan tenagaku yang penghabisan untuk menggapaimu. Satu saja pintaku, maafkan aku…Aku makhluk biadab yang telah menghancurkan kau, ibumu, dan diriku sendiri!

 

WIJASTI

Semua sudah berlalu.

 

KARDIMAN

Karnowo pergi begitu saja setelah…

 

WIJASTI

…memperkosaku?

 

KARDIMAN

Ya…ya…

 

WIJASTI

Dia pergi setalah menceritakan riwayat kotormu sebagai manusia rendahan. Laki-laki tak bernurani!

 

KARDIMAN

Wijasti…Aku tahu. Kini aku harus menuai segala kekejianku, tanpa seorangpun yang sudi memaafkan. Aku harus terima kodratku ini.

 

WIJASTI

Aku bisa memaafkanmu, tapi tak sanggup. Maafkan aku. Kau bisa bermalam di sini, karena mala mini juga aku akan pergi, meniti kenistaan yang tak sanggup kuelakkan.

 

KARDIMAN

Semalam aku benar-benar melihat diriku macam hantu yang membayangi dengan muka busuk dan mengerikan. Tak kuasa aku menahan jantungku yang remuk dan paru-paruku yang berlubang-lubang. Memompa darah untuk kumuntahkan, aku harus melalui masa akhirku tanpa seorangpun disisiku.

 

WIJASTI

Tak ada yang bisa dimaafkan dalam kehidupanmu.

 

KARDIMAN

Wijasti…Limpahi aku sedikit ketenangan sebelum diriku menjadi suluh neraka. Maafkan aku…

 

WIJASTI

Penderitaan aku dan ibu tidak dapat ditebus dengan satu kata maaf. Apa arti kehadiranmu untuk kami? Aku akan senasib dengan ibu. Aku akan kawin hanya untuk menutup aib, kemudian makan hati karena suami tidak bisa mencintai. Itulah warisan berharga darimu.

 

KARDIMAN

Selamat tinggal, Wijasti…(PUTUS HARAPAN).

(KARDIMAN KE LUAR)

(BEBERAPA SAAT KEMUDIAN KARNOWO MASUK)

 

ADEGAN XIII

 

KARNOWO

Wijasti.

 

WIJASTI

Untuk apa kau kembali? Belum puas mencabik-cabikku?

 

KARNOWO

(DENGAN BERAT HATI). Ayahmu telah membisikkan sesuatu padaku.

 

WIJASTI

Tidak ada artinya.

 

KARNOWO

(TERPATAH-PATAH). Kau…bukan…anaknya…

(TERDUDUK). Aku datang untuk minta maaf. Aku dibutakan dendam, dank au sasaran yang salah dari dendamku.

 

WIJASTI

Lupakan. Simpan dendammu sampai busuk.

 

KARNOWO

Aku mohon kau memaafkan aku.

 

WIJASTI

Aku berhak membunuhmu atas perbuatanmu itu.

 

KARNOWO

Wijasti…(MENDEKAT)

 

WIJASTI

Jangan mendekati aku!!!

 

KARNOWO

Kau seorang yang sanggup membuatku mengenal kejahatanku sendiri.

 

WIJASTI

Bukan hanya kejahatan yang bersemayam dalam dirimu. Kelicikan dan tipu daya pun mendekam dalam lubuk hatimu. Kau sakit hati, tapi tak sanggup mebalas dan melawannya. Kau mencari alasan yang setimpal dengan memperkosa anaknya agar nampak berani. Itulah hantu dalam hidupmu. Lebih dari kejahatan yang sangat hina.

 

KARNOWO

Kata-katamu menorehkan luka di hatiku. Baik, bagaimanapun aku laki-laki. Aku harus menebusnya secara bertanggung jawab. Sudikah kau menikah denganku selekasnya.

 

WIJASTI 

(DIAM)

 

KARNOWO

Aku bisa memperbaiki. Beri aku kesempatan.

 

WIJASTI

(BERBALIK MENGHADAP KARNOWO DENGAN NANAR DAN TUBUH GEMETAR)

 

KARNOWO

Ayahmu telah mati di sudut gang.

 

WIJASTI

(GEMETAR DENGAN TATAPAN KOSONG)

 

SELESAI

 

Share to Infrastructure Team

Bagikan dokumentasi teknis ini melalui jalur koordinasi.

Bagikan ke WhatsApp

Jelajahi Lebih Lanjut

Temukan lebih banyak

Tentang Kami

Sejarah & pencapaian kami

Berita Terkini

Info terbaru kegiatan kami

Galeri Foto & Video

Dokumentasi kegiatan kami

Sekretariat

Kontak & info organisasi

Logo

Teater Saphalta

Berkarya melalui seni pertunjukan

Ikuti Kami

Instagram YouTube TikTok Facebook

Bagikan Halaman

WhatsApp
Teater Saphalta Teater Saphalta

Panggung kami adalah ruang bagi para seniman untuk bercerita, berekspresi, dan menghidupkan setiap karakter dengan jiwa.

Halaman

  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Galeri
  • Artikel & Materi
  • Sekretariat

Konten

  • Sejarah
  • Pencapaian
  • Riwayat Pementasan
  • Album Foto
  • Video
  • Kontak Kami

Semangat Kami

"Setiap pertunjukan adalah jiwa yang hidup di atas panggung."

— Teater Saphalta
Hubungi Kami
© 2026 Teater Saphalta. All Rights Reserved.
Beranda · Kontak · Privacy Policy · Ketentuan Layanan