Dalam produksi yang disutradarai oleh M. Akbar Saffari ini, Teater Saphalta mengangkat naskah “Tengul” karya Arifin C. Noer dalam rangka partisipasi pada event tahunan Festival Teater Jakarta. Pementasan ini menjadi bagian dari upaya eksplorasi artistik sekaligus interpretasi ulang terhadap karya sastra teater Indonesia yang sarat akan kritik sosial. Cerita berfokus pada tokoh Sang Korep, seorang rakyat jelata yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan tekanan lingkungan sosial. Ia digambarkan sebagai sosok yang naif, namun memiliki ambisi besar untuk mengubah nasib dan menjadi “orang kaya”. Dalam perjalanan hidupnya, Korep dihadapkan pada realitas masyarakat yang dipenuhi kepalsuan, ketimpangan, serta sistem birokrasi yang tidak rasional dan cenderung menindas. Seiring berkembangnya cerita, ambisi Korep semakin mendorongnya menjauh dari realitas yang rasional. Ketidakmampuannya menghadapi kondisi hidup yang keras membuatnya mencari jalan pintas melalui dunia pesugihan—sebuah praktik yang merepresentasikan keputusasaan sekaligus kritik terhadap mentalitas instan dalam masyarakat. Pilihan tersebut menjadi titik balik yang membawa Korep masuk ke dalam konflik batin dan konsekuensi moral yang semakin kompleks. Melalui pementasan ini, Teater Saphalta tidak hanya menyajikan alur cerita, tetapi juga menekankan penggambaran karakter, dinamika emosi, serta suasana panggung yang mendukung pesan yang ingin disampaikan. Pendekatan artistik yang digunakan berfokus pada penyampaian realitas sosial secara langsung kepada penonton, dengan penekanan pada interaksi antar tokoh dan visualisasi situasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Produksi ini diharapkan dapat menjadi media refleksi bagi penonton terhadap kondisi sosial yang ada, sekaligus membuka ruang diskusi mengenai ambisi, realitas, dan pilihan-pilihan yang diambil individu dalam menghadapi tekanan hidup.