Dalam kesempatan silaturahmi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Teater Jakarta Pusat (ATAP), Teater Saphalta bersama dengan Teater Sapta melakukan kolaborasi pementasan sebagai pengisi acara dengan membawakan sebuah kisah yang dalam tentang pengertian daripada hidup beragama dengan judul Robohnya Surau Kami yang diadaptasi dari sebuah Cerpen asli tanah minang karya dari seorang Seniman bernama A.A. Navis. Pada kesempatan produksi kali ini, pementasan Robohnya Surau Kami digarap langsung oleh Sutradara M. Fahmi Abdul Rasul yang juga tidak lain adalah Sutradara Teater Sapta serta pembina bagi Teater Sapta dan juga Teater Saphalta “Robohnya Surau Kami” mengisahkan ironi getir seorang manusia yang mengabdikan seluruh hidupnya pada ibadah, tenggelam dalam kesunyian doa dan keyakinan akan keselamatan akhirat, namun luput menautkan diri pada denyut penderitaan di sekitarnya; hingga pada suatu titik, kesalehan yang ia banggakan menjelma cermin retak yang memantulkan kehampaan—bahwa pengabdian tanpa empati hanyalah gema tanpa makna. Dalam runtuhnya surau itu, yang sesungguhnya roboh bukan sekadar bangunan rapuh, melainkan kesadaran akan hakikat beragama itu sendiri: bahwa iman seharusnya hidup, bergerak, dan berpihak pada kemanusiaan, bukan berdiam dalam sunyi yang menjauhkan diri dari dunia. Lebih jauh, kisah ini menyingkap luka sunyi dari kealpaan kolektif—tentang bagaimana manusia dapat terjebak dalam ilusi kesalehan personal, sementara di luar dinding-dinding doa, ketidakadilan dan penderitaan dibiarkan tumbuh tanpa sentuhan. Ia menjadi pengingat pahit bahwa langit tidak hanya menilai dari seberapa khusyuk kepala tertunduk, tetapi juga dari seberapa jauh tangan terulur untuk sesama. Dan pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya puing-puing surau yang lapuk dimakan waktu, melainkan gema pertanyaan yang tak kunjung usai di dalam batin: apakah arti ibadah jika ia tak mampu menumbuhkan kasih, dan untuk siapa sebenarnya kesucian itu dipertahankan, jika dunia di sekelilingnya dibiarkan runtuh tanpa kepedulian.