Logo Teater Saphalta  Komunitas Seni Pertunjukan & Teater Jakarta

Teater Saphalta

Berkarya melalui seni pertunjukan

we are part of Teater Sapta

Beranda Tentang Artikel Berita Galeri Sekretariat
Masuk
Beranda Tentang Artikel Berita Galeri Sekretariat
Masuk
Kembali ke Materi Teater
Materi Teater

MATA SANG SUTRADARA

Diterbitkan: Rabu, 18 Maret 2026
Oleh: rijal
MATA SANG SUTRADARA

Serpihan Gagasan Tentang Sutradara Teater Oleh: Fathul A. Husein

Ciptalah metode-mu sendiri. Jangan terlalu bergantung padaku. Buatlah sesuatu yang akan berhasil untukmu! Pecahkanlah tradisi (kebiasaan-kebiasaan lama), aku mohon. (Konstantin Stanislavski)

Tatkala aku sampai pada kesimpulan bahwa masalah membangun sistem-ku sendiri adalah ilusi dan bahwa tidak ada sistem ideal yang bisa menjadi kunci kreativitas, maka kata ‘metode’ mengubah maknanya bagiku. Ada tantangan, yang masing-masing harus memberikan jawabannya sendiri. (Jerzy Grotowski)

 

Sutradara Melatih & Menumbuhkan Kemampuan Para Aktornya

Penggunaan waktu terpenting sutradara adalah untuk melatih para aktornya. Ia harus mengatur dan mengarahkan fokus seluruh pemeran sepanjang proses tersebut, karena medium sutradara yang sesungguhnya adalah aktor baik dalam ruang maupun waktu. Ruang ditentukan oleh area akting dan setting, sementara waktu ditentukan oleh durasi pertunjukan dan dinamika dramatiknya. Sutradara mesti mampu melihat aktor secara personal dan berjuang keras untuk dapat memunculkan seluruh potensi terbaik sang aktor. Konsekuensinya, sutradara secara konstan harus sangat sensitif atas apa yang diperlukan oleh seorang aktor, dan pada saat yang sama berpikir keras untuk menemukan cara-cara positif untuk memenuhi apa yang diperlukan aktor tersebut.

Setiap sutradara cenderung mengikuti sebuah proses yang sudah mapan sepanjang latihan. Mula-mula, mengharuskan para aktornya untuk membaca naskah lakon (proses reading). Sebuah pembacaan yang memungkinkan sutradara bisa mendiskusikan visinya, motivasi karakter, dan interpretasi yang akan membantu aktor untuk mulai dapat melihat tokoh-tokoh tersebut dalam sebuah pemahaman yang terpadu. Sutradara lantas memberikan garis-garis blocking untuk para aktornya. Blocking adalah kerangka dasar untuk menyangga gerakan-gerakan aktor yang mesti dilakukan sebagai fondasi fisik dari penampilan seorang aktor. Sutradara memberi indikasi untuk setiap gerak menyangkut keluar-masuknya aktor berikut posisiposisinya di atas pentas. Pengaturan blocking mesti mengisyaratkan motivasi tokoh untuk bergerak dan mengambil posisi di atas pentas. Pada tahap inilah kejelasan interpretasi sutradara akan mengemuka.

 

Tahap-tahap berikutnya, seperti dijelaskan Bruch, adalah mengungkap detail-detail, yang akan membantu aktor menemukan karakternya. Detail juga menyangkut gerakan-gerakan aktor dalam skala kecil yang disebut stage business (seperti gerakan 2 jemari, anggukan kepala, kerlingan mata, rangkaian gerak kecil dalam membuat secangkir kopi, mencopot sepatu, menjawab telepon, atau memasang dasi, dll.). Sangat dirindukan seorang aktor yang memiliki banyak stage business yang khas dan orisinal.

Sementara motivasi dan detail-detail terus berlanjut, lapis-lapis waktu terus tercurah habis. Menjadi tantangan tersendiri bagaimana interpretasi atas dialog bisa terkait erat, ‘nyambung’, dengan motivasi dan detail. Dalam tahap latihan seperti itu, sutradara akan risau dan menumpahkan perhatian penuh pada langkah-langkah untuk melakukan pencarian variasi tempo atau irama permainan. Jika seluruh langkah terasa sangat lamban, maka laku dramatik akan membosankan dan terseok-seok. Jika irama terlampau cepat, penonton tidak akan memahami apa yang berlangsung, mereka akan tertumbuk seabrek informasi yang harus diserap seketika.

Akhirnya, para aktor harus benar-benar lepas naskah (off-script). Sekali lepas naskah, maka garis-garis laku akan terpatri dengan baik dalam ingatannya sehingga seorang aktor tidak lagi harus repot berpikir:”apa garis laku berikutnya?”, sehingga rangkaian latihan akan memasuki tahap perkembangan yang sangat berdaya-guna; aktor akan menghentikan tahap pembacaannya dan akan menampilkan bagiannya dengan benarbenar hidup. Mereka akan menemukan jalan baru untuk memahami interpretasi setelah lepas naskah.

 

Dalam proses latihan terakhir, sutradara akan membiarkan para aktornya untuk memainkan laku dramatik dari awal hingga akhir tanpa diberhentikan, agar aktor bisa memperoleh sense of continuity dari satu adegan ke adegan yang lain. Arahan-arahan atau catatan-catatan sutradara akan diberikan saat adegan terakhir selesai dimainkan para aktor.

Hampir seluruh elemen pementasan—aktor, set-dekor, lampu, musik/suara,—tampil bareng dalam latihan teknis (technical rehearsal). Terutama stage-manager, kru pentas, penata lampu, dan penata suara/musik, semuanya melatih bagiannya masing-masing untuk keutuhan permainan. Isyarat-isyarat lampu dan musik/suara telah ditata sedemikian rupa sebelum latihan teknis pertama dimulai. Dress rehearsal adalah latihan teknis dengan kostum dan make-up. Saat itulah sutradara menyerahkan tampuk permainan kepada aktor dan elemen-elemen teknisnya. Dress rehearsal yang terakhir, atau disebut juga general rehearsal, kedudukannya sama dengan pementasan itu sendiri.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar kehilangan tugasnya di malam perdana pementasan kecuali sutradara. Tugasnya telah selesai saat itu. Ia boleh menghilang atau sendirian menekuri perasaannya. Saat gala-premiere itu (pentas perdana sebelum ditonton oleh penonton reguler), sutradara mesti telah menuntaskan seluruh fungsinya, dan secara esensial seluruh perhatiannya segera digantikan atau diteruskan oleh stage-manager. Hal terbaik yang dapat dilakukan sutradara setelah itu adalah mengharapkan masyarakat/penonton yang baik datang, duduk, dan menyaksikan pertunjukannya dengan menangkap setiap alur sepanjang pementasan, dan berkeringat dingin lantaran sergapan permainan yang berhasil.

 

*) Judul Tulisan ini terinspirasi oleh judul buku John Ahart, Director’s Eye: A Comprehensive Textbook for Directors and Actors (London: Paperback, Merriwhether Publishing, 2001).

3 BACAAN

Ahart, John. 2001

Director’s Eye: A Comprehensive Textbook for Directors
and Actors. London: Paperback, Merriwhether Publishing.

Anirun, Suyatna. 2002

Menjadi Sutradara. Bandung: STSI Bandung Press.

Fernald, John.1933

The Plays Produced: An Introduction to the Technique of
Producing Plays. London: H.F.W. Deane & Sons

Cole, Toby & Helen Krich Chinoy (ed.). 1963

Directors on Directing.
New York: The Bobbs-Merrill Company, Inc.

Cohen, Robert. 1988

Theatre, 2nd Ed. Mountain View, California:
Mayfield Publishing Company.

Crampton, Esme. 1972

A Handbook of the Theatre, 2nd Ed. Toronto:
Gage Educational Publishing Limited.

Hodge, Alison (ed.). 2000

Twentieth Century Actor Training. London & New York:
Routledge.

Sobel, Bernard (ed.). 1950

The Theatre Handbook and Digest of Play. New York:
Crown Publishers.

Bruch, Debra

Directing Theatre | www.danillitphil.com/base.html

Wikipedia, the free encyclopedia

Theatre Director | www.wikipedia.org/wiki/theatre_director

Trumbull, Eric W

Introduction to the theatre—The Director | www.novaonline.nvcc.edu/eli/spd130et/director.html

Materi Lainnya Bagikan

Jelajahi Lebih Lanjut

Temukan lebih banyak

Tentang Kami

Sejarah & pencapaian kami

Berita Terkini

Info terbaru kegiatan kami

Galeri Foto & Video

Dokumentasi kegiatan kami

Sekretariat

Kontak & info organisasi

Logo

Teater Saphalta

Berkarya melalui seni pertunjukan

Ikuti Kami

Instagram YouTube TikTok Facebook

Bagikan Halaman

WhatsApp
Teater Saphalta Teater Saphalta

Panggung kami adalah ruang bagi para seniman untuk bercerita, berekspresi, dan menghidupkan setiap karakter dengan jiwa.

Halaman

  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Galeri
  • Artikel & Materi
  • Sekretariat

Konten

  • Sejarah
  • Pencapaian
  • Riwayat Pementasan
  • Album Foto
  • Video
  • Kontak Kami

Semangat Kami

"Setiap pertunjukan adalah jiwa yang hidup di atas panggung."

— Teater Saphalta
Hubungi Kami
© 2026 Teater Saphalta. All Rights Reserved.
Beranda · Kontak · Privacy Policy · Ketentuan Layanan